Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 47. Pondok Kayu 1


__ADS_3

Pondok Kayu


Lintani tidak tahu apa yang dimaksud dengan pondok kayu oleh Askelan. Dia belum pernah mendengar tempat seperti itu sebelumnya apalagi dia harus bekerja. Jadi, dia menolak dengan halus.


“Maaf, Tuan, saya tidak bisa ikut dengan Anda karena saya harus merawat ibu dan juga saya harus bekerja!”


Mereka bercakap-cakap di depan pintu kamar Lintani


“Apa pekerjaanmu?” tanya Askelan, itu sebenarnya pertanyaan yang tidak perlu karena dia sudah tahu.


“Aku hanya menjadi buruh di toko ikan!”


“Kenapa kau bekerja di tempat seperti itu?”


“Aku menyukainya!” Lintani menjawab semuanya dengan terpaksa karena dia tidak mungkin mengatakan apabila dia melakukan itu karena terpaksa. Tidak mungkin bagi wanita seperti dirinya yang baru keluar dari penjara, bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, menjadi buruh seperti itu memang layak untuknya.


“Aku pikir kau suka mendesain dan menggambar?”


“Ya, itu juga!”


“Kalau begitu kau bisa mendesain untukku, kan?


“Menggambar untukmu? Membuat apa misalnya?”


“Apa saja, pakaianku misalnya!” kata Askelan lagi.


Lintani pun heran karena seingatnya, Askelan sama sekali tidak berminat dengan gambarnya saat dia memperlihatkan hasil karyanya pada Elliyat. Pria itu terlihat biasa saja.


“Ya, baiklah. Mungkin besok!” sahut Lintani sambil masuk ke kamarnya dan kemudian menutup pintunya rapat-rapat.


*****


Pagi itu Askelan duduk di meja makan, dengan pakaian yang sudah rapi, dia mengenakan setelan jas rapi, seperti biasanya. Dia seperti menunggu sesuatu, saat Lintani sedang memasak.


Sementara Lintani tidak tahu, apa yang membuat pria itu duduk di sana, saat dia sudah selesai membuat sarapan dan menghidangkan makanannya di dua tempat yang berbeda. Selama ini hanya sesekali saja dia melihat Askelan di pagi hari sebelum berangkat bekerja.


Gadis itu tidak menyapa saat dia menyediakan makanannya begitu saja. Namun, dengan cepat Askelan mendekatkan satu piring yang berisi penuh makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya secara perlahan, Dia terlihat menikmati makanan itu.


Lintani tidak mengira jika Askelan akan menghabiskan makanan di piringnya, hingga dia sadar jika selama ini makanan yang ,dia sediakan untuk dirinya sendiri sebenarnya dihabiskan oleh pria itu, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih.


Lintani tidak berkomentar dan hanya melihat Askelan menyeka bibinya dengan tisu, ketika dia selesai mengemas makanan. Mungkin dia pikir Lintani sengaja memasak untuk dirinya selama ini.


“Kenapa kau tidak makan?” kata Askelan tanpa rasa bersalah sedikit pun, tapi, tidak masalah bagi Lintani.


“Aku biasa makan sarapanku dengan Ibu di rumah sakit!”

__ADS_1


“Kenapa kau tidak bilang?”


“Bilang apa, maksudnya?”


“Ya, bilang kalau kau akan sarapan dengan ibu, aku juga tidak akan makan di sini kalau tahu!”


Saat itu Lintani pun tercengang karena tidak menyangka apabila laki-laki itu ingin makan bersama dengan dirinya.


“Kau sudah selesai?” tanya Askelan lagi saat berdiri dari kursinya dan, melihat Lintani yang hendak melepaskan celemek dari badannya. Askelan mendekat, ingin membantu gadis itu, tapi, Lintani sudah selesai dan mengangguk saat Askelan tiba di belakangnya.


“Ayo!” katanya sambil membawa kotak nasi yang sudah di bungkus rapi oleh Lintani. Gadis itu merasa tidak enak membiarkan pria seperti Askelan membawa bekal makanan saat menaiki lift.


“Berikan padaku, aku bisa membawanya sendiri, kita naik mobil yang berbeda bukan?”


“Kita berangkat bersama hari ini, Ibu yang memintanya!”


Ternyata semua karena Elliyat, ibunya. Kalau bukan karena wanita itu mungkin selamanya mereka tidak akan pergi bersama dan, bersikap seperti sepasang suami istri yang sesungguhnya.


“Ikut aku nanti setelah menengok Ibuku!” kata Askelan setelah mereka berjalan ke arah mobil. Jordan hampir meledakkan tawa saat melihat Askelan membawa sesuatu di tangannya.


“Ke mana?”


Askelan tidak menjawab, mereka memasuki mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh Jordan.


“Ke tempat yang aku katakan kemarin!” kata Askelan saat mereka sudah berada di dalam dan kendaraan itu melaju kencang ke rumah sakit.


“Kenapa?”


“Aku harus bekerja!”


“Baik, akan ku antar nanti kalau sepulang dari sana!”


“Kau ...?” Lintani geram, dia mengepalkan kedua tangannya, dia tidak bisa pergi ke mana pun karena dia merasa punya tanggung jawab dan, juga kasihan pada Shane kalau sampai dia tidak datang. Wanita itu akan sangat kerepotan.


Mereka semua diam, Jordan sendiri tidak tahu apa yang dibicarakan kedua orang berlawanan jenis di belakangnya. Tempat seperti apa yang Askelan maksudkan, dia hanya meminta agar disiapkan sebuah Jeep.


Saat berada di rumah sakit, Lintani mendapatkan Elliyat dalam perawatan intensif, di tubuhnya ada beberapa selang yang menempel, dan memakai tabung oksigen. Seketika gadis itu menjadi prihatin, apakah karena ini dia memintanya datang bersama dengan putranya kali ini.


Lintani menoleh pada Askelan dan bertanya, “Apa kau tahu tentang semua ini, dan tidak mengatakan padaku?”


“Kenapa kau tidak bertanya?”


Mendengar jawaban seperti itu, Lintani terpejam demi menahan agar air matanya tidak tumpah, dia menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri. Kemudian dia berlutut di sisi ranjang pasien.


“Ibu ... aku datang ....” kata Lintani dengan suara lembutnya, dia mengusap pipi Elliyat hingga wanita itu membuka matanya dan tersenyum. Tidak ada kata yang terucap di bibirnya selain senyuman itu dan melihat anak serta menantunya dengan tatapan bahagia.

__ADS_1


“Ibu, aku memasak untukmu, tapi, apa kau bisa makan, kalau begini?”


Elliyat mengangguk, lalu membuka penutup oksigen di mulutnya, Lintani membantunya.


“Bisa, biarkan aku mencicipinya sedikit,” kata Elliyat dengan suara pelan dan patah-patah.


Lintani menurut dan menyuapinya sedikit, wanita itu tersenyum dan kembali mengangguk.


“Ini enak, apa Askel juga memakannya?”


“Ya!”


Elliyat kembali tersenyum penuh arti, sinar matanya menunjukkan kepuasan. Lalu, wanita itu kembali terpejam sebentar dan terbuka lagi saat dia berkata.


“Biarkan aku istirahat, pergilah kalian bekerja, aku sudah puas melihat kalian berdua seperti ini.” Elliyat merasa jika dirinya sekarat, tapi, tidak mengatakan apa pun pada Lintani karena tidak ingin gadis itu khawatir.


Lintani kembali memasangkan penutup oksigen, lalu berdiri setelah yakin Elliyat benar-benar tertidur. Saat keluar, dia melihat Askelan sedang bicara dengan beberapa dokter yang menangani ibunya selama ini. Lalu, memberi instruksi pada penjaga.


Pria itu melihatnya keluar dan langsung menggamit tangannya begitu saja menunjukkan arogansinya.


“Ayo!” katanya sambil terus berjalan, diikuti Jordan di belakangnya.


Gadis itu masih enggan pergi meninggalkan bangsal karena keadaan Elliyat, dia prihatin sekaligus bersedih. Ditambah rasa kecewa pada Askelan karena tidak memberitahukan keadaan ibunya.


“Apa kau sudah menyiapkan Jeep yang kuminta?” tanya Askelan tanpa menoleh pada Harrad, yang ditanya menjawab dengan tegas. “Ya! Sudah ada di depan, silakan, Tuan!”


Kedua orang itu mempercepat langkahnya termasuk Lintani, yang tanpa sadar terlibat dalam urusan mereka. Pikirannya masih tertuju pada Elliyat, dia tidak bisa membayangkan jika wanita itu pergi maka dia tidak mempunyai siapa pun lagi, Cuma wanita itu yang menjadi keluarganya saat ini.


Askelan membawa Lintani masuk ke dalam Jeep, dan dia sadar setelah kendaraan besar itu sudah melaju kencang. Dia melihat ke sekeliling nya dengan gelisah.


“Keluarkan aku dari sini, aku tidak mau ikut dengan kalian, ke mana pun kepergian kalian bukan urusanku!”


“Diamlah!”


“Untuk apa kau membawaku ke sana, tidak ada hubungannya denganku!”


“Sudah kubilang, diam!” kata Askelan suaranya mulai merendah. Itu artinya dia sedang menahan amarah.


“Diam, diam, kau yang diam! Dan turunkan aku sekarang juga!”


“Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan, tahu!”


“Aku tidak mau!” Lintani memukul bahu Askelan sekuat tenaga, yang pasti hanya akan terasa seperti gigitan semut saja, dia bingung memikirkan pekerjaannya, dan bagaimana memberi kabar pada Shane, bahkan, nomor ponselnya pun dia tidak punya.


Askelan membiarkan Lintani memukul lalu, menangis menyesali nasibnya. Dia tidak bisa membuatnya diam bertekuk lutut karena sedang memastikan sesuatu, bahkan, Jordan pun tidak tahu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2