Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 112. Aku Menyerahkannya Padamu


__ADS_3

Aku Menyerahkannya Padamu


Pagi itu, rombongan kecil bersiap turun ke kapal setelah selesai sarapan, ditemani cuaca yang sedikit berawan dan angin sejuk bertiup menerbangkan beberapa helai anak rambut Lintani, yang tersisa di dekat telinga. Mereka berjalan beriringan, menuruni dataran rendah di mana kapal tertambat, Greg sudah bersiap di sana, sejak pagi buta menunggu perintah.


Aroma bunga kamemild yang tumbuh di tepian danau, menyeruak ke dalam Indra penciuman semua orang, mereka merasakan keharuman alami yang menawan, seolah berada di daerah dongeng istana.


Namun, berbeda dengan Lintani yang tiba-tiba menjadi mual. Semakin mendekati kapal dia pun semakin mual hingga kemudian dia memuntahkan semua isi perut, yang mungkin tersisa sejak dari semalam. Tubuhnya menjadi lemas karena itu, bahkan tidak kuat berjalan.


Askelan memapah dan menggendongnya seperti biasa, dan meneruskan perjalanan sampai ke tepi danau.


Jordan menghubungi seseorang hingga sepuluh menit kemudian sebuah kapal lain mendekat. Beberapa petugas medis yang ada di dalamnya pun bersiap. Mereka sudah menerima perintah untuk menangani Nona muda yang mengalami sesuatu pada tubuhnya saat ini.


Tanpa diduga secara bersamaan dengan hadirnya kapal medis itu, sebuah drone kecil terlihat mengapung di udara.


Jordan yang tengah melangkah mendekti Greg, mendekatkan ear phone di telinga dan segera berkata dengan tegas, tentang keadaan mereka, apa yang dikatakannya, bisa di dengar oleh semua penjaga yang juga memakai alat yang sama.


Askelan yang sedang menggendong Lintani itu mendongak ke atas, tapi hanya sekilas dan kembali terlihat tenang, seolah tidak akan tergoyahkan walaupun datangnya badai.


“Kita lakukan rencananya sekarang!” katanya sambil memasuki kapal yang memiliki peralatan medis di dalamnya.


“Jaraknya dekat, Tuan. Kemungkinan mereka bisa melihat kita hanya dai dua mil saja!” kata Jordan masih melalui ear phone.


“Sedekat itu?”


“Ya!”


Askelan yang berada dalam kapal medis, mengangguk pada seorang pria yang berpakaian serba putih, dan sebuah stetoskop menggantung di lehernya. Dia seorang dokter.


Askelan memberi satu isyarat, sambil memindahkan tubuh Lintani pada kedua tangan dokter itu.


Setelah Lintani yang lemas dengan mata yang terus terpejam itu berada dalam gendongan ala bridal style di tangan sang dokter, Askelan menendang tulang kering pada betisnya. Dia tampak meringis sebentar, tapi tidak merubah posisi tubuhnya, hingga Lintani tetap nyaman.

__ADS_1


“Aku menyerahkannya padamu,” kata Askelan sambil mengambil sebuah liontin berbentuk hati di leher dokter dan menggoyangkan kalung itu di depannya.


“Apa ini foto keluargamu?” tanya Askelan.


“Ya!”


“Ingat keluargamu yang ada dalam bingkai foto ini ada di tanganku seperti istriku yang sekarang ada di tanganmu apa kau mengerti?”


Dokter itu tidak menjawab dan hanya mengangguk patuh, lalu, membawa Lintani masuk ke satu ruangan di mana sudah ada tabung oksigen dan beberapa alat standar medis lainnya.


Dia memakaikan Lintani rompi anti peluru sebelum membaringkannya di atas tempat tidur, yang cukup nyaman serta mewah untuk ukuran kapal seperti itu.


Beberapa saat berlalu, dokter itu memerintahkan untuk menjalankan kapal, setelah Askelan pergi.


“Ayo! Lakukan tugas kalian, bawa Nona ini pergi!”


Dokter itu berkata sambil meletakkan selang oksigen di hidung Lintani. Beberapa orang di sana mengangguk. Mereka berada di kapal yang ukurannya lebih kecil dari kapal lainnya, warnanya lebih pudar dan tidak layak di tempati seorang tuan putri seperti Lintani. Namun, kapal itu pergi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari kapal lainnya, dan kembali berada di posisi sebelumnya.


“Tuan, apa Nona baik-baik saja?” kata Jordan sambil melirik wanita yang di papah oleh Askelan dan seorang dokter di sampingnya. Dia sedikit heran, karena wajah wanita itu ditutupi dengan syal.


“Ya!” sahut Askelan sambil meminta Lintani masuk ke dalam kamar yang sengaja dia siapkan untuk istrinya itu, “Masuk dan istirahatlah di dalam!” katanya lagi.


Kapal mereka berjalan dengan kecepatan sedang, mengikuti rute awal di mana mereka berangkat kemarin. Di sana mereka menepi dan mengambil beberapa foto, karena masih ingin menikmati suasana. Lintani tampak sudah segar kembali, meski tetap menggunakan syal. Udara memang sedikit lembab.


Mereka akan meninggalkan danau dan entah kapan akan kembali, hingga mereka membuat beberapa momen yang diabadikan dalam gambar.


Kelak, perahu yang membawa mereka akan tetap berada di sana, dan akan selalu siap kapan saja Lintani ingin pergi melihat kampung halamannya.


Semua armada terdiri dari lima kapal yang bisa membawa banyak orang berkeliling menikmati keindahan danau dan pulau karena akan menjadi satu destinasi wisata yang menarik.


Sebelum rencana yang mereka lakukan sekarang, Askelan membawa beberapa bagian menggunakan helikopter. Semua badan kapal di rakit di tepi danau, oleh semua pekerjaannya yang setia.

__ADS_1


Semua proses karoseri ituz sudah dia persiapkan setelah mengetahui kawasan Rasevan menjadi masa lalu Lintani.


Semula dia hanya merakit dua kapal motor biasa. Namun, setelah dilakukan penyelidikan yang lebih detail, dan berencana menjadikan tempat itu sebagai awal dari penjebakan, Askelan pun menyiapkan kapal lainnya, bahkan tiga kapal di antaranya dilengkapi senjata.


“Alpha satu, Alpha satu, siapkan helikopter untuk pergi ke Bukit Shaw sekarang!” Suara itu di kirimkan Jordan melalui radio phone standar yang menempel pada badan kapal. Suaranya bisa di dengar oleh beberapa kapal yang terhubung, karena di sampaikan melalui sinyal biasa juga sinyal pada radar.


Bahkan Askelan yang terlihat merangkul bahu Lintani itu ikut menghubungi seseorang, bahwa dirinya membutuhkan sebuah helikopter. Saat itu, mereka tengah berdiri di ujung luar, dekat pagar pembatas kapal.


Tentu saja semua suara itu bisa tertangkap oleh drone kecil yang tak terlihat di udara.


Tidak lama setelah suara Jordan terkirim, dan saat Askelan tengah membuat swa foto, keheningan dan ketegangan tercipta, kewaspadaan secara penuh menyelimuti mereka.


Sesuai perkiraan, kemudian tampak ada sebuah kilatan kecil jauh di langit yang berawan. Beberapa detik setelah itu ....


Duaar!


Terdengar letusan besar di udara di mana dua bom ukuran standar dari bazoka atau Tomahawk meledak secara bersamaan. Satu bom milik musuh dan berhasil di tangkis oleh bom yang sama dari arah kapal yang dikepalai oleh Max.


Pihak musuh merasa serangannya gagal, hingga tak lama setelah ledakan usai, sebuah helikopter berwarna biru muncul di kejauhan.


Dor! Dor! Dor!


Helikopter itu memberi beberapa tembakan, ke arah Askelan dan kapalnya yang tertambat di tepi danau.


Askelan segera melepaskan rengkuhannya pada bahu Lintani, dan gadis itu langsung mengambil sebuah senapan panjang dari balik pakaiannya.


Dua orang itu memberi tembakan balasan, pada Helikopter yang terus terbang mendekat.


Jordan seketika keluar, mendekati Askelan, seraya menoleh pada wanita di sampingnya.


“Kau!” katanya penuh emosi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2