
Wanita Yang Tidak Ternilai 3
Dek memajukan punggung dan membuka kedua pahanya lebar-lebar, yang dia gunakan untuk menopang tangannya, seraya tersenyum. Sebenarnya itu senyum yang lembut dan manis, tapi, bagi Lintani Dex tengah menyeringai.
“Tergantung, apakah kau mau menjadi istriku atau tidak!”
“Kau masih memiliki istri!”
“Jadi, kalau aku bujangan, kau mau menikah denganku?”
Lintani diam, dia semakin jijik.
“Baiklah, kau diam berarti kau mau, dan aku akan segera menceraikan Nazaret!” Dex berbohong demi Lintani.
“Aku masih sah menjadi istri Askelan! Aku masih menjadi bagian dari keluarga Harrad!” Lintani berkata dengan suara yang bergetar.
Tiba-tiba hati Lintani menjadi sedih dan emosional, saat menyebutkan nama Askelan dengan bibirnya sendiri. Dia sebenarnya menyukainya, bahkan dia masih ingat bagaimana sikap pria itu, saat terakhir kalinya mereka bersama, mereka berciuman seolah lapar dan haus dan, tidak akan hilang kecuali saling menghisap bibir. Ini gila! Dia ingin menciumnya lagi.
“Apa kau berpikir begitu? Kau akan menjadi bagian dari keluarga Barseba kalau kau menikah denganku. Ya ... memang keluarga besar kami tidak sekaya keluarga Harrad, tapi, aku jamin kekayaanku cukup untuk membuatmu bahagia!”
“Kau pikir kebahagiaanku hanya seperti itu? Anda naif sekali!”
Dex pindah duduk, masih dengan senyum mendekati Lintani.
“Lalu, dengan apa lagi aku bisa memuaskanmu. Katakan padaku? Apa dengan membelai dan berciuman bisa menambah kebahagiaanmu? Aku dengan senang hati akan melakukannya sekarang!”
Lintani semakin muak. Dia berdiri dan berkata, “Maaf, Tuan Dex! Aku tidak bisa. Aku tidak mencintaimu!”
“Jadi, kau memilih terkurung di sini selamanya?”
Lintani diam, kalau menolak, maka, dia akan kehilangan kebebasannya seperti saat di penjara, dia pernah merasakan hal lebih keji dari orang lain lebih dari ini. Lalu, apa susahnya di penjara seumur hidup di sini, dia tidak takut.
__ADS_1
“Awas kata-katamu bisa berbalik, apa kau mencintai Askel? Bukankah dia membuangmu?”
Lintani tidak tahu apakah Askelan mencintainya atau tidak, atau dia hanya dijadikan pelampiasan karena Haifa tidak ada. Dia tidak tahu. Dia hanya tahu, orang yang tidak menyukai tidak akan mencium seperti itu.
Yang jelas, sekarang dia sangat menginginkan pria itu datang menjemput atau menyelamatkan dirinya. Tapi, mana mungkin, tempat itu sangat terpencil.
“Aku akan mudah meminta Askelan menandatangani surat cerai, kalau kau membuat pernyataan bahwa siap menjadi istriku, katakan kapan saja, aku akan menunggu!”
Lintani melangkah ke kamarnya sendiri. Kamar yang di dekorasi seperti kamar seorang putri. Dia bisa menikmatinya seandainya bersama Elliyat. Dia tahu, Dex tidak akan memaksa, hingga gadis itu pergi begitu saja dan menutup pintunya rapat-rapat.
Dex kesal, hingga dia butuh pelampiasan, dia memanggil seorang penghibur setiap kali gagal melampiaskan keinginan pada Lintani.
Wanita yang datang sesuai pesanan, harus ditutup matanya selama perjalanan menuju ke sana, hingga sampai di kamar Dex dan, pintu kamar di tutup, barulah penutup matanya akan dibuka. Tentu saja si penghibur tidak bisa melihat arah ke mana dia di bawa. Apalagi mereka diantar dan dijemput dengan helikopter.
Dan, Hari ini, seorang penghibur datang seperti biasanya saat Lintani mengurung diri di kamar. Dia tidak tahu untuk apa helikopter itu sering mondar-mandir terbang di atas atap gedung. Dia pikir mereka membawa logistik atau bahan makanan, tapi, dia tidak peduli.
“Tuan Askel? Apa Anda tahu di mana saya, seperti waktu itu?”
Lintani bergumam sendiri, sambil meremas seprai dengan kuat, air mata sudah berlinang di pipi.
Sementara itu, di kamar yang bersebelahan dengan kamar Lintani, Dek sedang bersama seorang wanita penghibur. Tidak banyak perabot di sana walau cukup luas, hanya ada tempat tidur berukuran besar, sebuah nakas berukuran sedang, dua buah sofa dan satu televisi flat besar menempel di dinding. Ada aroma lembut dan suara musik memenuhi ruangan.
Wanita itu sedang berdiri di hadapan Dex, sambil melucuti pakaiannya sendiri atas pemintaannya. Dia gadis manis yang berkulit putih dan tersenyum genit, sambil menggigit bibirnya sendiri dengan cara yang sensasional.
Sesekali dia mengelingkan mata dan melenggak-lenggok dengan gerakan erotisme. Semua juga atas permintaan Dex. Pria itu butuh hiburan. Dia penari yang di bayar, hingga dia sangat profesional dalam melakukan membangkitkan minat pria.
Dex sudah membuka semua pakaiannya dan duduk di sisi ranjang, lalu, wanita itu membelai dada, punggung, perut dan semua bagian dengan cara menggoda. Lalu, setelah Dex benar-benar meninggi gejolaknya, dia mulai melakukan hal yang sama pada wanita itu.
Permainan cinta pun berlangsung, tangan mencari kesenangan sendiri di dada, di bokong dan pada lekukan sela kaki, bibir pun harus mendapat bagiannya sendiri. Pada ujungnya berakhir dengan menyatunya, bagian tubuh yang paling inti, dan bisa membuat sekujur tubuh mereguk sensasi.
Deburan ombak, kedapnya suara dalam kamar, mengubur suara kecapan bibir saat tengah berpagut dan suara dari tenggorokan yang keluar tiada henti, karena hentakan bertubi-tubi dari dua orang yang saling memberi dan menerima dalam satu irama.
__ADS_1
Sesekali mata sang gadis terpejam karena gerakan kasar Dex, namun dia kadang melihat ke bagian perutnya di mana pria besar itu memainkan miliknya di dalam.
Pria itu kasar, tapi, tetap harus menerimanya, dia tahu Dex bukan orang sembarangan hingga dia diperlakukan demikian.
Setelah puas Dex melempar sebuah amplop. Wanita itu melihat isinya dengan mata melotot, serta tersenyum girang. Dia tidak pernah mendapat sebanyak itu. Dia buru-buru menulis nomor hp, dan meletakkan di atas meja. Setelah memakai pakaiannya.
“Ini nomorku, panggil aku lagi kalau Tuan mau!”
“Tidak akan!”
Dex menyahut dengan cepat, kalau dia membawa wanita yang sama akan mudah di lacak. Sehingga dia selalu memesan wanita berbeda dari mucikari yang berbeda pula.
“Keluar dari sini! Dan tutup matamu sendiri!” perintah Dex sambil menarik selimut. Wanita itu pun menurut.
“Baiklah! Tidak masalah!”
Dua jam lebih pertempuran sengit di atas tempat tidur, dengan berbagai gaya dan tarian erotisme itu berlangsung, hingga mereka sama-sama mendapatkan kesenangan dari puncak kehidupan, yaitu penyatuan hasrat. Namun, kini sudah berakhir.
Dex menekan sebuah tombol hingga anak buahnya datang, dia sudah tidur di balik selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke dada.
Pengawal datang dan menutup mata wanita untuk sekali lagi, hanya untuk memastikan jika dia benar-benar tidak bisa melihat.
******
Sementara itu, Askelan tengah duduk, berdiam diri di sebuah cafe, setelah menemui di Jordan dan seorang mucikari yang mereka percayai untuk ikut menyelidiki keberadaan Lintani.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
Semua adalah usaha mencari Lintani. Pria itu mencari di mana-mana, melalui kamera cctv dan juga semua restoran, rumah makan, pasar, semua tempat yang kemungkinan Lintani bekerja di sana.
Seorang anak buah sudah di utus untuk masing-masing tugas itu.
__ADS_1
Askelan sendiri pernah pergi ke Rasevan menggunakan helikopter tapi, hampir tidak ada kehidupan di sana, hingga dia berpikir jika Lintani masih belum keluar dari Kota Hill.
Bersambung