
Seseorang Yang Cocok
Lintani harus menunjukkan jika hubungan dirinya dengan Askelan baik-baik saja, toh wanita itu tidak akan tahu kalau sebenarnya mereka tidur di kamar yang terpisah. Sekarang pria itu dan asistennya ada di sana secara bersamaan, hingga dia menunjukkan wajah manis dan menghilangkan rasa enggan saat punggungnya terlihat jela oleh Askelan.
“Untuk apa kau malu, Nona, dia suamimu! Kemarilah aku akan membantumu.” Mo berkata sambil memasang pengait praktis di baju pengantin itu, hingga tubuh Lintani tertutup seluruhnya dan hanya bagian bahunya yang terbuka.
“Tuan, istrimu sangat cantik! Nyonya tidak salah memilihnya untuk Anda, aku mendoakan agar kalian punya banyak anak dan aku berharap, Tuhan memberkatiku dan ibumu panjang umur agar bisa melihat semua anak-anak kalian lahir nantinya.”
“Bibi! Kau ini senang menggoda, ya? Ayo! Sekarang lepaskan lagi, dan bilang pada Ibu, gaun ini pas di tubuhku dan aku menyukainya.”
Mendengar tanggapan Lintani, Mo terkekeh sambil melirik Askelan yang terpaku seperti ada magnet di antara kaki dan lantai yang dipijaknya hingga dia tidak bisa bergerak dari sana. Pemandangan yang dilihatnya seperti mimpi seorang pertapa yang menjadi kenyataan.
Dia pernah melihat Elliyat dari tahun ke tahun merawat baju pengantinnya dengan baik. Itu adalah setiap hari di mana pernikahan ibunya dengan Yardo Harrad terjadi, di rumah tokoh adat tempat Elliyat dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Saat itu, ibunya selalu berkata, “Aku harap suatu saat nanti, kau akan menikah baik-baik, dan wanita yang akan memakai baju ini, adalah kesayanganku, dia akan sangat pantas memakainya. Aku ingin ada orang yang memakai rancanganku, dan dia adalah menantuku.”
Sedangkan Askelan tidak mengira jika Lintani, wanita yang memakainya adalah orang yang memang cantik juga cocok dengan gaunnya, hanya saja statusnya adalah mantan narapidana, dari kasus pembunuhan. Saat bertemu di rumah Lux siang tadi, dia memerintahkan Jordan dan yang lainnya untuk menyelidiki tentang Lintani, dan pembunuhan seperti apa yang telah dilakukannya.
Laki-laki itu suatu saat akan menikah dengan Haifa, gadis yang menolongnya serta bermartabat. Namun, dia tidak akan memakai pakaian ibunya karena dia, sudah memesan sebuah gaun pengantin spesial yang saat ini sedang dalam pengerjaan.
Mo sudah pergi setelah membantu Lintani melepas pakaian pengantinnya di kamar mandi karena dia malu pada Askelan yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
“Aku sudah selesai, jadi keluarlah dari kamarku, Tuan!” kata Lintani sambil memasukkan baju itu pada tempatnya semula. Dia sudah berpakaian lengkap dan hanya rambutnya yang masih belum di rapikan.
Sikap Lintani kembali seperti semula dan Askelan sangat memakluminya.
Pria itu berkata, “Tidurlah setelah kau membereskannya!”
“Ya! Kau tidak perlu mengingatkanku.” Lintani berkata sambil mendorong tubuh Askelan keluar.
“Langsung tidur, jangan begadang!”
“Apa urusanmu?”
__ADS_1
Askelan kesal setiap kali gadis itu menunjukkan kearoganan sikapnya yang terus mengingatkannya tentang janjinya sendiri. Dia ingin sekali mencabut perjanjian itu tapi, dia tetap harus sesuai batasannya.
“Ingat, baik-baiklah pada Ibuku dan temui dia lagi besok!”
“Ya!”
“Aku tidak akan pulang malam ini mungkin sampai besok!”
“Terserah!”
Memangnya aku perduli? Pikir Lintani. Dia tidak boleh jatuh hati padanya, tidak boleh. Masalah hati adalah area terlarang baginya karena tidak ada pria, yang pantas bersanding dengan wanita narapidana seperti dirinya. Bagaimana kalau suatu saat dia memiliki anak dan anaknya tahu kasus apa yang pernah menjerat ibunya. Alangkah memalukan masa depan anak itu kelak.
Lintani duduk di tepian Ranjang dan menyandarkan tubuhnya. Lalu, bagaimana kalau dia hamil? Namun, dia juga berharap anaknya akan tetap hidup dan lahir dengan selamat, menjadi ganti peri kecilnya yang memilih pergi dari pada bertahan.
Dia menghitung uang, dan akan membeli alat tes kehamilan sepulang dari rumah sakit besok.
\*\*\*\*\*\*
Seorang manusia hanya mampu berteman dengan hidup nyaman tapi, mereka akan memusuhi ujian hidup walau itu akan membuat mereka lebih kuat.
Tiba-tiba dia merasa kesepian itu nyata, dia punya status tanpa hak apa-apa pada Askelan. Namun, semua yang laki-laki itu katakan semalam terkesan seperti mereka adalah suami istri.
Di posisinya sekarang tidak mungkin rasanya kalau dia meminta untuk dimengerti atau dirinya dijadikan tempat untuk pria itu mengeluh. Bukankah setiap pribadi punya sisi lemah dan dia ingin tahu apa kelemahan Askelan.
Gadis itu melihat keluar jendela dan dia melihat Askelan yang berjalan menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Jordan. Namun, sebelum masuk, pria itu sempat mendongak dan melihat ke arah tirai jendela kamar Lintani yang tersibak.
Lintani tahu, dirinya tidak boleh lancang menyimpan satu rasa pada pria itu, tapi ada sisi hatinya yang menolak dan menyembunyikan rasa sukanya di sana.
Saat berada dalam pelukan Askelan waktu itu, dia merasakan nyaman dan sebenarnya dia ingin membalikkan badan dan membalas pelukannya. Namun, dia tidak melakukannya karena tidak ingin di sebut sebagai wanita murahan seperti kata Haifa.
Dia hanya istri palsu, yang dinikahi karena ibunya akan tiada, tapi, sungguh, dia benar-benar terpesona pada Askelan saat pertama kali melihatnya, di restoran kecil dekat hutan waktu itu. Dia hanya sebatas pelayan yang semua sikapnya berbatas, sedangkan Askelan adalah seorang pelanggan istimewa. Siapa yang menduga kalau sekarang dia terjebak dalam keadaan seperti ini.
Tinggal dalam satu rumah tapi kamar mereka terpisah. Menjadi suami istri tanpa bisa menggauli. Berada dalam apartemen yang sama tapi kasta yang berbeda. Dipandang sebagai pasangan serasi tapi, nyatanya surat nikahnya hanya basa-basi.
__ADS_1
Jadi, untuk apa peduli kalau pada akhirnya nanti, dia harus kehilangan dan suatu hari nanti pun dia akan pergi.
Lintani segera bersiap dan pergi ke rumah sakit, mengunjungi orang yang dianggapnya ibu di kamarnya seperti biasa dan, dia terkejut saat melihat Elliyat tertidur dengan alat-alat kesehatan yang kembali terpasang di tubuhnya. Menurut para dokter yang menanganinya, kanker di tubuhnya sudah menyebar dan dia harus mulai menjalani kemoterapi. Namun, dia tidak tahu apa yang terjadi.
Dia melihat rambut yang mulai rontok dari kulit kepalanya, membuat Lintani menitikkan air mata, saat itu dia pun menggenggam tangan Elliyat dengan erat.
“Ibu, aku berdoa untuk kesehatanmu, besok aku akan menikah dan kau, harus hadir bukan?”
Lintani diam hanya untuk menjeda suaranya yang mulai gemetar karena menahan tangis.
“Bu, aku tidak punya teman selain dirimu, maka, bertahanlah! Bukankah kau ingin melihat seorang bayi kecil lahir dari rahimku?”
Sejenak kemudian isakan tangisnya mulai terdengar.
“Ibu, kau harus hadir besok, karena itu kau harus sembuh sekarang, oke?”
Lintani mulai terguncang dan dia keluar kamar, menutup pintunya dan menangis di luar ruangan karena kuatir jika suara tangisnya mengganggu Elliyat. Dia tidak sanggup kalau harus kehilangan teman satu-satunya saat ini.
Sementara itu di kejauhan dari ujung koridor, Askelan dan Jordan berjalan dengan tenang menuju tempat Elliyat terbaring lemah, dia sudah tahu jadwal kemoterapi ibunya hari ini, dan dia berniat mengunjunginya nanti siang, tapi menurut dokter dia tiba-tiba kondisi wanita itu justru memburuk.
“Apa yang dia lakukan di sana? untuk apa dia menangis?” pikir Askelan, dia masuk tanpa diketahui Lintani dan dia melihat ibunya tengah tersenyum kepadanya.
“Askel! Ternyata kau datang, aku tadi bermimpi kau akan menikah besok dan berjanji padaku akan segera memberiku seorang cucu dan aku harus bertahan untuk melihatnya!”
“Itu mimpi yang sangat bagus, Bu.”
“Tentu saja, akan jadi lebih bagus kalau aku menerima kabar Lin, hamil anakmu! Mana dia? Apa dia tidak bersamamu?”
“Tidak. Dia harus bekerja.”
“Ah, ya. Dia bilang punya pekerjaan baru. Apa kau tahu di mana dia bekerja, kau yang mengantarkannya, kan?”
Askelan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung