Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 150. Melakukan Seperti Yang Dia Lakukan


__ADS_3

Melakukan Seperti Yang Dia Lakukan


Lintani diam saja, tidak menanggapi suaminya yang tampak sedang bercanda.


“ Aku bisa memaksamu untuk melakukannya kapan pun aku mau, tapi, aku tidak melakukannya, kan? Itu karena aku mencintaimu!” kata Askelan lagi.


“Ya! Aku percaya kau mencintaiku, tapi bukan seperti itu maksudku ...”


“Lalu?”


“Elan, jangan mengumbar kata cinta, jangan mencintai seseorang terlalu besar, karena kau akan sangat sedih saat dikucilkannya. Jangan berharap terlalu tinggi sebab akan sangat sakit, kalau suatu saat kau dijatuhkannya!”


“Aku tidak akan dikucilkan olehmu dan kau tidak akan menjatuhkan aku, kan?”


“Ya. Bukan hanya padaku, pada siapa pun itu, maka jangan terlalu berlebihan!”


“Berlebihan bagaimana, kalau aku cuma mencintai satu orang?”


Tiba-tiba Lintani menjadi gemas, dan dia pun berkata, “Elan ... Keluar! Atau aku akan membencimu sekali lagi!”


Askelan bergeming untuk sejenak, lalu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang cemberut. Dia menunggu sampai istrinya selesai dan setelah Lintani membuka pintu, dia kembali menggendongnya ala bridal style, sampai ke tempat tidur.


“Apa lagi yang kau inginkan?” tanya Askelan sambil menyelimuti Lintani sebatas pinggang.


“Aku akan memompa air susuku!”


Askelan mengerutkan kening ketika mendengar permintaan istrinya. Sekali lagi ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah, yang menghadapi kelahiran prematur buah hati mereka, menyebabkan pria itu harus lebih banyak berpikir tentang segala sesuatu, yang harus dilakukan. Sangat berbeda dengan saat ia mengelola perusahaan.


Lintani pun segera memberikan penjelasan kepadanya, jika anak mereka yang ada di inkubator itu, tidak bisa dibawa untuk menyusu kepadanya. Dia harus mengeluarkan air susunya sendiri dengan cara memompa dan, memasukkannya ke dalam botol. Setelah itu diberikan kepada anaknya, dia harus melakukan itu, setidak-tidaknya setiap dua jam sekali.


Askelan membantu Lintani dengan senang hati, meskipun ia harus menelan ludahnya beberapa kali, ketika menyaksikan buah dada istrinya lebih besar dari sebelumnya.


Seperti itulah sehari-hari yang dilalui Askelan sampai waktunya keluarga kecil itu pulang. Baby boy sudah sehat, dan kondisi tubuhnya bisa menyesuaikan diri dengan udara sekitar. Itulah yang terpenting bagi seorang bayi, begitu keluar dari perut seorang wanita. Oleh karena itu mereka menangis, karena kulitnya bersinggungan dengan udara yang berbeda, dari saat dia berada dalam rahim ibunya.


Lintani menuruti keinginan Askelan untuk tetap tinggal di vila Hardo dan menjalani kehidupan mereka selanjutnya. Tanpa terasa satu bulan sudah berlalu, dan kedua pasangan suami istri tersebut, selalu bekerja sama dalam segala hal. Mereka mengurus sang buah hati, penuh kasih sayang. Bahkan, ada kesibukan yang berbeda mewarnai kesibukan mereka di pagi hari, sejak Lintani kembali.


Seperti pagi itu, saat Lintani tengah menyusui baby boy dan Askelan makan sambil menyuapi istrinya.

__ADS_1


“Sudahlah, Elan, aku bisa makan sendiri nanti, kalau dia selesai!” kata Lintani sambil menunjuk Ceryo dengan dagu, bayi itu masih sibuk menghisap cairan manis dari buah dada ibunya. Mereka sudah sepakat untuk, menamai anak mereka dengan nama buah itu.


“Tapi, kau belum makan. Aku tidak mau kau kurus karena dia terus menghisap nutrisi dari tubuhmu!” kata Askelan sambil memasukkan sesendok makanan ke mulut Lintani.


“Ck! Jangan kuatir, itu tidak akan terjadi. Seorang ibu tidak akan tiada, hanya karena menyusui bayinya!”


Askelan diam dan terus melihat aktivitas ibu dan anak itu dengan perasaan cemburu, karena dia sudah berbulan-bulan tidak melakukan hal yang dia sukai, pada benda kenyal dan indah milik istrinya itu. Namun, bayi kecilnya datang secara tiba-tiba dan merebut miliknya, bahkan dengan sesuka hati dia menghisap lebih banyak setiap hari.


“Kapan aku bisa melakukan seperti yang dia lakukan padamu?”


Lintani menatap wajah Askelan yang terlihat lucu, lalu tertawa setelahnya.


“Apa kau cemburu pada anakmu sendiri? Ya Tuhan ... Elan, aku akan membencimu lagi, kau tahu?”


“Hish! Kau selalu mengancamku dengan itu, kau pikir bisa melakukannya? Aku jamin tidak akan bisa membenciku!”


Kata Askelan sambil berdiri dan pergi, bahkan meninggalkan sisa makanannya di meja dalam kamar, di mana mereka selalu menikmati sarapan di sana.


“Apa dia secemburu itu, pada Ceryo?” kata Lintani sambil menahan tawa, karena dilihatnya baby boy sudah tertidur dengan nyenyak, dia tidak ingin membangunkannya.


Lintani, baru saja hendak menidurkan bayinya dalam box, saat dia kembali mendengar suara Askelan di belakangnya. Padahal baru saja pria itu marah padanya.


“Hmm ....” sahut Lintani sambil membalikkan badannya. Kini mereka berhadapan.


“Kenapa kau kembali, bukannya kau sudah berangkat tadi?”


“Ya! Tapi ada Bibi Nazaret di depan. Dia ingin bertemu denganmu, karena itu aku kembali.”


“Oh, baiklah, tunggu sebentar.”


Askelan memang sudah memasuki mobilnya saat berada di luar rumah tadi, tapi, dia melihat sebuah mobil mewah masuk melewati halaman. Tak lama setelah itu, dia melihat Nazaret turun, dari kendaraan itu.


Mereka tidak saling menyapa, Askelan hanya mempersilakan salah satu bibinya itu masuk. Ada kenangan yang tidak enak antara mereka karena kematian Dex, membuat suasana canggung selalu terjadi pada mereka seperti ini.


“Mana istrimu?” tanya wanita berusia 40 tahunan itu, setelah duduk di kursi ruang tamu. Askelan tidak menjawab, dia hanya melirik wanita itu sekilas, dan berlalu ke kamar untuk menemui Lintani, yang sedang menidurkan buah hati mereka.


Setelah Askelan mengabarkan kedatangan Nazaret, Lintani langsung berpakaian rapi, memosisikan diri sebagai nyonya rumah keluarga Askelan dengan baik, dia sudah banyak belajar akhir-akhir ini, tentang bagaimana para wanita kalangan atas bersikap. Namun, kepribadiannya yang ramah dan lembut tidak hilang dari dirinya.

__ADS_1


“Bibi,” kata Lintani sambil mendekat dan menjabat tangan Nazaret lalu, duduk di hadapannya. Demikian pula dengan Askelan. Mereka duduk bersebelahan.


“Apa kau puas sekarang sudah menjadi istri yang sesungguhnya bagi Askel?” kata Nazaret ketus. Dia duduk di salah satu sofa, sambil menyilangkan kaki, berseberangan dengan Lintani dan Askelan.


"Pertanyaan yang aneh, bukankah dari dulu aku selalu menjadi istri sah Askelan? Aku tidak pernah mempermainkan pernikahanku!" pikir Lintani.


“Ya! Tentu, aku bersyukur memilikinya," sahut Lintani dengan bangga. Dia tidak lupa bagaimana dirinya diperlakukan oleh Nazaret waktu itu, tapi, dia tidak menyimpan dendam, karena dia sadar siapa dirinya saat itu, bagi keluarga Harrad. Apalagi, kejadian terakhir antara dirinya dengan Dex. Kematian pria itu, membuat Lintani lebih sungkan lagi, pada Nazaret. Biar bagaimanapun juga, wanita itu tidak bersalah.


“Apa tujuan dan maksud Bibi mencariku? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Lintani dengan lembut dan sopan.


"Kau besar kepala, siapa yang mencarimu?" kata Nazaret sambil tersenyum kecut. Dia melihat Lintani dari ujung rambut sampai ujung kaki, menatap dengan meremehkan.


"Oh, maafkan aku, kalau begitu, bagaimana kalau kita sarapan bersama? Aku merasa bahagia sekali wanita berkelas seperti Bibi datang ke rumah kami yang sederhana ini." ucapan Lintani membuat Nazaret tersenyum lagi.


"Rupanya kau pandai sekali bersilat lidah!"


Mendengar ucapan Nazaret, Lintani menjadi serba salah, tapi dia hanya menghela napas dalam-dalam.


"Oh iya, Bibi. aku lupa menanyakan bagaimana kabarmu?"


"Aku baik! Kau lupa diri hanya karena gunung emas yang kau miliki?"


"Maaf, aku tidak bermaksud lupa menanyakan kabar!"


Pembicaraan masih antara Nazaret dan Lintani.


"Kau ternyata wanita kaya, apa kau tidak berniat berbaur dengan kami? jangan sombong!"


"Maaf, Bibi. Aku baru saja sembuh dan anakku baru keluar dari inkubator, mungkin lain waktu aku akan bergabung dengan Bibi!"


"Kau dari dulu seperti ini, atau hanya berpura-pura padaku? padahal kau seperti yang mereka katakan?"


Lintani bisa saja menanyakan tentang apa saja yang orang katakan tentang dirinya, tapi, dia tidak ingin menambah masalah, hingga dia membawa obrolan pada hal lainnya.


"Bibi, Aku dan Askelan sebenarnya punya rencana mengadakan pesta, apa kau punya ide pesta seperti apa yang sebaiknya kita lakukan?" kata Lintani membuat Nazaret menaikkan alisnya. Secara tak langsung dia merasa tersanjung.


Keluarga Harrad dan juga Askelan memang sudah merencanakan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan Lintani. Mereka merencanakan untuk menyelenggarakan pesta atas desakan keluarga Harrad, meskipun awalnya Lintani menolak, tapi, akhirnya dia menyetujui keinginan keluarga besar suaminya, yang akan di laksanakan bulan depan, tepat di saat baby boy Ceryo berusia dua bulan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2