
Peristiwa Penjebakan Delapan Tahun Yang Lalu
Satu pekan sudah Askelan berjibaku dengan pencarian ini, dia hanya merasa sakit setiap kali mengingat Lintani, walaupun sudah berusaha melupakannya tetap saja tidak bisa. Terkadang dia masuk ke kamar yang digunakan gadis itu, selama dua bulan lebih menjadi istri pura-puranya. Lalu, tidur di sana, menghirup aroma bunga Lily dari bantalnya pun, dia lakukan untuk menghibur diri.
Seolah dia hampir mati kalau lebih lama lagi tidak menemukan gadis itu hidup-hidup.
“Tuan, jejak Nona tidak ada di sini!”
“Tuan, tidak ada yang pernah melihat wanita seperti Nona!”
“Tuan, saya sudah sampai, tapi tidak ada Nona di sini!”
Itulah laporan-laporan dari anak buahnya yang semakin membuatnya frustrasi.
Rasa kebas di ulu hatinya lebih dari saat dia ditipu Dex, untuk pertama kalinya sebelum tahu siapa pamannya itu sebelumnya.
Kejadian itu bermula saat Askelan berhasil meraup keuntungan besar, setelah pengacara Hardo, secara resmi, berhasil membawanya pulang ke tengah-tengah keluarga Harrad.
Saat itu Askelan tampil menjadi seorang pemuda pandai dan cekatan, yang mendapat bagian saham karena surat wasiat Hardo yang dia tulis sebelum kematiannya.
Hardo, Ayah Askelan itu meninggal karena serangan jantung yang sudah lama dideritanya. Lalu, menjadi lebih parah setelah dia mendengar kabar tentang Elliyat, seorang yang dia cintai itu masuk penjara.
Pria itu sangat merasa bersalah karena tidak melakukan apa pun untuk membantu Elliyat membesarkan buah cinta mereka. Saat istrinya hamil muda, para tetuanya memisahkan mereka dan, membuang Elliyat jauh dari kota yang dia sendiri tidak tahu di mana keberadaannya.
Dia tidak bisa melakukan apa pun pada wanita itu, karena kekuatan dari para ketua lebih besar, untuk dilawan seorang diri. Pada akhirnya dia hanya mampu membuat surat wasiat untuk anak Elliyat yang tidak pernah dilihatnya.
Bukankah beberapa pria terlahir dalam kepribadian, riang, lembut dan penurut. Seperti Hardo, dia adalah seorang pria yang ceria, lembut dan penurut.
Selama satu tahun Askelan mendapatkan bagian sahamnya secara rutin sesuai surat wasiat ayahnya. Kemudian, dia menggunakan uang yang menjadi bagiannya itu, untuk membangun minimarket. Dia pemuda yang mengerti bagaimana balas budi, hingga dia tetap menjadikan bangunan itu sebagai bagian dari Harrad Tower.
Begitu lah awal usahanya di mulai, hingga dia meraup keuntungan berlipat dari bisnis yang dia buat dengan sistem waralaba. Hal ini menarik hati para ketua Harrad, sebagai komisaris pemegang saham tertinggi dan, akhirnya mereka mempercayakan semua bisnis Harrad Tower padanya.
Tentu saja kesuksesan Askelan tidak dia dapatkan begitu saja.
Dex adalah orang yang paling mengincar kedudukan ini, membuat sebuah rencana penjebakan. Tujuannya adalah agar Askelan tiada atau setidak-tidaknya mempunyai citra buruk, hingga penobatannya sebagai CEO, digagalkan para Ketua.
“Hai, Askel! Ayo! Bergabung bersama kami di pesta!” kata Dex waktu itu.
“Pesta apa, Paman?”
__ADS_1
“Pesta para lelaki! Aku yakin, kau akan suka!”
“Baiklah! Ayo!”
Tidak ada pikiran buruk pada Dex waktu itu, walau dia seorang yang sangat waspada karena biasa hidup keras dibanyak tempat.
Dia menikmati pesta di sebuah ruang pribadi yang di pesan Dex dan diperkenalkan pada beberapa teman serta rekan bisnis.
“Ayo! Kau harus minum yang banyak, kami menghormatimu, Askel!”
“Ya! Tambah lagi, kau sepertinya kuat, Askel!”
“Kami akan sangat berterima kasih karena kau mau menghargai kami, Askel. Ayo! Minum lagi!”
Itulah beberapa ucapan para anak buah Dex dan Mork, yang sengaja membuat Askelan tak berdaya.
Mereka memberi banyak minum, hingga dia mabuk berat, lalu para preman membawanya ke pondok kayu di atas bukit. Sesungguhnya Askelan hanya mabuk, tapi, racun yang dimasukkan ke dalam salah satu botol anggur, sama sekali tidak mempan ditubuhnya.
Rumah berukuran sedang yang terbuat dari kayu berkualitas itu, berdiri di atas tanah yang menjadi bagian Hardo Harrad dan tentu saja menjadi milik Askelan juga. Di sanalah tubuh Askelan yang sudah lemah di lemparkan dengan kasar. Lalu, di iris urat nadi pada salah satu tangan agar terkesan bahwa pria itu mengakhiri hidupnya sendiri.
Mork adalah orang yang diberi tugas oleh Dex, untuk membunuhnya. Mereka menggunakan obat-obatan yang membuat seseorang kehilangan nyawa secara perlahan.
Ini adalah percakapannya dengan Mork, rencana mereka sekitar delapan tahun yang lalu.
“Ya. Katanya dia pria yang kuat!” sahut Mork. Dia adalah pria yang ditembak dengan cara sadis oleh Jordan setahun kemudian.
“Cari wanita penghibur dan ambil foto mereka ketika melakukannya!”
“Kau benar, jadi, saat dia tidak mati, gunakan foto mesum itu untuk menghancurkan namanya di depan para Ketua!”
“Kau kenal seorang wanita penghibur yang bisa di panggil ke mari?”
“Itu soal mudah, tapi aku punya seseorang yang bisa aku manfaatkan. Dia sedikit bodoh, tapi berguna!”
“Siapa dia?”
“Kau pikir siapa lagi kalau bukan Lux?”
“Kau pintar, dia pasti mau mengumpankan anaknya, aku jamin itu!”
__ADS_1
“Ya!”
Itulah rencana jahat mereka, demi menghancurkan Askelan Harrad. Namun, di saat mereka hampir berhasil, menjalankan rencana. Askelan merasakan hal yang tidak wajar pada dirinya.
Dia menekan perut sekuat tenaga agar muntah, saat para algojo sudah menyingkir dari pondok. Mereka mengira Askelan pingsan, padahal pria itu masih kuat berdiri, membebat tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah dengan bajunya sendiri.
Dia berhasil merusak lampu dan kamera dengan cara menggunakan pisau, yang dipakai anak buah Mork untuk menyayat kulitnya.
Dia tahu ada kamera pengintai yang mereka pasang di sana bertujuan untuk, merekam apa pun yang terjadi setelahnya. Namun, rencana mereka gagal total. Semua sudah dalam kendali, tapi, soal, bubuk perangsang yang terlanjur dia teguk terlalu cepat bereaksi. Dia tidak mampu menahan gejolak perasaannya.
Sekali lagi, Askelan menduga jika nama baiknya akan di hancurkan jika dia selamat dari konspirasi itu. Dia pikir mereka akan mengirimnya seorang wanita malam.
Namun, siapa yang menduga jika Haifa yang seharusnya berada di sana, justru memaksa Lintani menggantikan dirinya.
Bahkan, gadis itu memaksa saudaranya sendiri dengan ancaman yang mengerikan. Tidak akan ada orang yang menduga jika Haifa mampu berbuat kasar, karena dia cantik, lembut dan anggun, artis yang baru saja naik daun.
Malam telah sangat larut saat seorang gadis yang dipaksakan masuk ke rumah kayu, dia berteriak dan menangis, menunjukkan ketakutan dan bahkan meminta keluar karena ingin muntah.
Saat itu Askelan sempat heran, mengapa seorang wanita malam bertingkah seperti itu, bukankah biasanya mereka akan tetap menggoda walau di ruang gelap sekalipun? Pikirnya.
“Kemarilah!” kata Askelan saat itu.
“Siapa kau!” teriak gadis itu dengan suaranya yang gemetar dan ketakutan.
Namun, karena dia tidak bisa lagi menahan keinginannya, dengan terpaksa dia menikmati gadis yang sama sekali tidak memberontak, sangat lemah, bahkan menjerit kesakitan saat dia menekannya.
“Apa kau wanita murahan yang dikirim mereka? Ah, mereka sungguh baik hati mengirimkan wanita yang masih perawan padaku, karena aku hampir mati!” kata Askelan sambil terus menghentak.
Askelan menyeringai dan dia justru berpikir jika para algojo itu berbaik hati, karena menyangka dirinya akan tiada.
Pria itu benar-benar lemas setelah selesai, energinya terkuras habis justru karena gadis itu. Dia memiliki wangi yang lembut dan mirip wangi tubuh ibunya, itu aroma bunga Lily.
Biasanya, wanita penghibur memiliki aroma parfum yang menyengat, sedangkan gadis dalam kekuasaannya malam itu, tidak seperti mereka.
Askelan masih sadar dan dia harus berpura-pura tiada agar tahu rencana Dex selanjutnya. Lalu, dia mendengar gadis itu berteriak. Suasana sangat gelap, hingga dia tidak tahu apa yang di alami gadis itu saat dia berteriak.
Terlukakah dia? Pikir Askelan.
Kemudian, para petugas keamanan pun datang setelah Mork mengadu yang tidak-tidak soal Askelan di pondok kayu, tentu saja itu sebuah kebohongan. Waktu itu dia mengira jika wanita malam yang, di percaya untuk menggoda Askelan sudah pergi. Namun, dia justru mendapati seorang wanita yang berbeda dan terlihat sangat menyedihkan ada di sana.
__ADS_1
Bersambung