
Uang Kompensasi
Askelan menjalankan kursi roda menuju kamarnya, dia tidak langsung masuk melain, diam di depan pintu, sambil memejamkan mata untuk sejenak.
Mo memberinya laporan kalau Lintani baik-baik saja sejak di antar pulang dan sekarang masih tidur.
Villa itu tidak bertingkat sehingga dia bisa dengan mudah menjelajah ke semua ruang. Bukan berarti di sana tidak ada lantai dua, hanya saja, bagian atas tidak terlihat dari luar dan hanya berfungsi sebagai ruang bilyard dan gym. Sementara itu semua ruang vital ada di bawah, termasuk kamar yang berjumlah tujuh pun, berada di lantai dasar.
Pria itu tampak menarik napas panjang sebelum akhirnya masuk, setelah menempelkan sidik jari pada pegangan pintu yang berbentuk bulat. Benda itu bisa membuat pintu terbuka dan tertutup kembali, secara otomatis. Hanya Askelan dan Lintani yang bisa masuk ke sana dengan bebas. Orang lain tidak akan bisa, kecuali Askelan ada di dalamnya.
Askelan menenangkan hati dan pikirannya sebelum menemui Lintani. Menyimpan rasa kecewa, melebur rasa bersalah dan mengesampingkan dendamnya, lalu, menguncinya rapat-rapat di dasar hati.
“Maaf ....” kata pria itu berulang kali, sambil menciumi lembut kaki Lintani yang terdapat bekas luka. Dia sekarang tahu, bagaimana gadis itu mendapatkan luka di kakinya.
Dia duduk di samping tempat tidur, melihat wajah istrinya yang masih terlelap dalam keadaan miring, dengan satu tangan di pinggang dan satu lagi bebas ke samping, di mana Askelan menggenggamnya lembut, dan menciumnya secara perlahan beberapa kali.
“Maafkan aku atas segalanya, aku benar-benar memohon maaf darimu ....!” kata Askelan lirih, hingga hanya dirinya saja yang bisa mendengar.
Beberapa kali raut wajah Lintani berubah-ubah seperti tengah bermimpi. Lalu, tak lama kemudian gadis itu membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat Askelan yang juga tengah menatapnya.
Tiba-tiba Askelan gemetar, dan refleks melepas genggaman tangannya dia tidak sanggup bertatapan mata. Dia terlalu malu, merasa bersalah dan kerdil di hadapannya.
“Uhuk! Uhuk!” Askelan terbatuk beberapa kali hingga matanya berair dan memerah.
Lintani menggeser tubuhnya mendekat, lalu meraih tangan Askelan dan menepuk-nepuk dadanya, dalam keadaan berbaring.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Lintani penuh kekhawatiran, dan berkata lagi, “Matamu sampai berair!” sambil menunjuk ke arah mata Askelan.
“Hmm ....”
Askelan mengangguk, mengambil tisu dan menghapus air matanya, yang tanpa kompromi menetes hingga dia harus pura-pura batuk. Dia kembali berhasil menenangkan diri, dan mengusap pipi Lintani yang masih berbaring dengan lembut.
“Apa dia perempuan dan kau memberinya nama Pearly?” Askelan memberanikan diri menatap Lintani tepat di bola matanya yang masih sedikit mengantuk.
“Siapa?”
“Bayimu, bukankah kau bilang pernah melahirkan?”
Lintani mengangguk dengan tatapan kosong.
“Itu nama yang bagus! Pasti dia cantik, seperti ibunya.”
Hati Askelan benar-benar tersayat saat menanyakannya. Sementara hati Lintani berbunga-bunga sebab untuk pertama kalinya Askelan memuji kecantikannya.
“Kau sering memimpikannya, kenapa dia pergi, apa dia sakit?”
Aneh bagi Askelan yang sudah bertekad untuk tidak menanyakan apa pun, soal bayi itu, yang pasti akan melukai hatinya sendiri. Namun, dia mendengar Lintani kembali bergumam dalam tidurnya, membuat pendiriannya goyah sebab bukan hanya sekali, nama itu disebut saat istrinya tidur.
“Ya! Dia sakit,” kata Lintani sambil mengusap hidungnya yang tiba-tiba tersumbat, membuat hati Askelan kembali seperti tersayat.
__ADS_1
Lalu, Lintani bercerita bagaimana kejadian saat bayi itu lahir hingga tiada.
Di akhir cerita dia berkata, “Dia tidak mau hidup bersamaku di penjara ... dia lebih memilih jadi malaikat di surga. Kau tahu, setiap kali dia datang ke dalam mimpiku, dia menjelma menjadi gadis kecil yang manis dan terus saja menyuruhku untuk bangun!”
“Dan kau pun bangun?”
“Ya. Saat itu juga aku—“ ucapan Lintani terjeda, dia selalu saja tidak ingat apa yang diucapkan gadis itu selanjutnya, tapi, setiap kali terbangun dia melihat Askelan di sisinya. Ini sudah beberapa kali terjadi, bahkan, saat mereka masih berada di apartemen waktu itu.
“Kau, apa?” tanya Askelan.
“Aku ... terbangun dan melihatmu!”
“Lalu, apa lagi yang dia katakan?”
“Tidak ada, aku hanya lupa, kalimat selanjutnya.”
“Oh!”
Askelan tidak tahu apakah dia harus bersyukur atau mengeluh, karena Lintani lupa akan mimpinya. Dia takut kalau ternyata, kata yang diucapkan gadis kecil itu selanjutnya adalah untuk membunuhnya.
“Maaf, kau pasti bersedih kalau mengingatnya!” kata Askelan lagi.
“Tidak, aku tidak sedih dan kau tidak perlu minta maaf, kau tidak ada hubungannya dengan anakku ... ini masalahku. Lagi pula, aku pikir dia lebih baik berada di surga ... bayangkan saja, apa yang harus dia alami kalau masih hidup dan, harus menanggung semuanya bersamaku!”
Saat berkata, Lintani terduduk, sambil menghapus setetes air matanya yang tiba-tiba jatuh. Sementara Askelan, tubuhnya sudah melorot ke lantai dan berlutut.
Lintani segera turun dan memintanya untuk berdiri, tapi, pria itu justru menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, mendongak ke arah wajah Lintani yang berdiri lebih tinggi darinya.
“Maaf ... maukah kau memaafkan aku?”
“Untuk apa kau meminta maaf?”
“Untuk semua yang sudah aku lakukan dulu kepadamu, aku sering menyakiti, pernah menuduhmu, mengejekmu dan membiarkanmu kelaparan!”
Lintani diam sebentar, lalu memalingkan muka.
“Apa kau sudah lama datang dan menungguku bangun, tadi?” tanya Lintani mengalihkan pembicaraan, dia berjalan dan duduk di sisi jendela, membiarkan Askelan tetap dalam posisinya.
Semua yang diungkapkan Askelan adalah bagian dari hal-hal yang ingin dia lupakan, karena termasuk menyakitkan. Oleh karena itu, dia mengalihkan pembicaraan mereka.
‘Tidak ada yang perlu di ingat lagi dari kesedihan itu sekarang, karena dalam hidup, adakalanya manusia mengubur beberapa hal yang akan merepotkan jika diungkapkan’ batin Lintani.
“Tidak terlalu lama ... Apa ada yang ingin kau makan? Aku akan ke dapur sekarang ...,” jawab Askelan.
“Tidak, aku belum lapar!” Lintani, lalu, mendekati Askelan lagi, “Bangunlah, aku tidak enak kau memohon seperti ini!”
“Tidak, sebelum kau memaafkanku”
Lintani ikut berlutut di hadapannya hingga sejajar, mengulurkan tangan ke pipi Askelan, lalu mencium bibirnya lembut.
__ADS_1
“Ya, aku memaafkanmu!”
Askelan tersenyum, berdiri dengan perlahan sambil menarik tangan Lintani lembut. Dia duduk di kursi roda dan membawa gadis itu dalam pangkuannya, memeluknya dan menempelkan kepala di dadanya.
“Terima kasih ....” kata Askelan, sambil menahan Lintani agar tetap duduk di atas pahanya.
Askelan menjalankan kursi ke meja dekat sofa, lalu mengambil sebuah amplop yang menggembung dan meletakkannya di atas pangkuan istrinya.
“Apa ini?” tanya Lintani.
“Ini, uang yang aku janjikan sebagai kompensasi ....”
Lintani terbelalak, dia berdiri dan melihat isinya, itu uang yang banyak, lalu, kembali meletakkannya di meja.
“Semuanya utuh, 300 ribu dolar.” Askelan berkata sambil tersenyum dan menatap Lintani penuh kasih sayang.
“Tidak, aku tidak bisa menerimanya! Bukankah aku sudah mengambilnya 50 ribu?”
“Kenapa? Itu uangmu, lagi pula aku sudah berjanji! Lupakan soal uang 50 ribu itu! Jadi, terimalah ....” Kata Askelan sambil menggenggam tangan Lintani.
Laku dia berkata lagi, “Tahukah, kau ...? Aku mencarimu waktu itu, tapi kau tidak ada di mana pun, aku frustrasi! Dari situlah aku sadar, kalau ternyata sudah jatuh cinta padamu! Aku tidak peduli, apakah kau pernah hamil atau punya anak, aku benar-benar mencintaimu .... dan terima kasih atas hadiahnya, aku suka!” sambil menciumi tangan beberapa kali.
“Benarkah? Apa kau juga mencarimu di sebuah bangunan di mana Dex mengurungku? Aku tersiksa lebih dari seminggu di sana, dan aku berharap kau datang menolongku!”
“Aku datang ke sana, setelah menemukanmu, tapi, kau tidak ada dan aku sudah menghancurkan tempat itu!”
“Menghancurkannya, aku sangat kecewa karena kau tidak ada.”
“Lalu, bagaimana kau tahu aku ada di mal itu?”
“Aku melihat tayangan kau sedang bertengkar dengan Haifa.”
“Apa ada tayangan seperti itu?”
“Ada, tapi aku sudah menghapusnya dari internet saat itu juga. Aku sangat merindukanmu waktu itu, tapi, aku hancur saat melihat Dex menahanmu, aku khawatir dia akan menembak kalau aku tidak menurutinya. Keselamatanmu adalah yang terpenting bagiku.”
Lintani memeluk Askelan hangat, sambil berkata, “Elan ... aku tidak berniat mengambil uang itu, karena aku tulus menikahimu sebagai janjiku pada Ibu, dan aku lihat kau ....”
“Aku apa?” Askelan mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah Lintani.
“Kau sangat tampan, apalagi saat kau memberiku 50 ribu, walau kau mengatakan hal buruk padaku, tapi ...” ucapan Lintani berhenti sejenak dan tersenyum, “Kurasa aku mulai menyukaimu!”
Askelan tanpa sadar berdiri dan memeluk Lintani dengan segenap perasaannya, seolah ingin menyatukan tubuh mereka, Lintani membalasnya dengan hangat.
“Lalu, bagaimana dengan Haifa?” Lintani berkata di sela pelukan mereka.
Bersambung
❤️ Keuwuan masih berlanjut, kasih like biar semangat 🙏❤️
__ADS_1