
Merasa Gagal
Lintani bungkam saat segerombolan perempuan yang melihatnya berjalan hampir bersamaan dengan Askelan, menariknya menjauh, lalu, mereka membuat kerumunan.
“Hai! Apa kau pikir sudah jadi pelayan paling cantik hingga berani berjalan di depan Tuan Askelan?” kata salah satu dari mereka.
“Maaf, saya tidak bermaksud begitu, tapi saya memang lebih dulu berjalan sebelum dia!” jawab Lintani membela diri.
“Kau harusnya mengalah dan menyingkir, dasar! Tidak sopan!” kata yang lainnya.
“Baik! Akan saya ingat!” ucap Lintani.
“Kau pikir masih ada kesempatan untukmu, lain waktu? Aku rasa tidak!”
Semua tertawa.
Lintani menggelengkan kepalanya hendak menjawab saat tiba-tiba Petra datang dan menyibakkan kerumunan, lalu, berkata.
“Jangan halangi dia bekerja! Kalau kalian tidak ingin semakin kecewa!”
“Hai, Pet! Apa maksudmu dia bisa mengecewakan kami? Dia cuma pelayan!” kata orang yang pertama bicara tadi.
Memang Lintani adalah pelayan, tapi kecantikannya melebihi wanita yang sedang bicara.
Semua yang hadir di sana adalah wanita dan pria dari kalangan petinggi kota, anak-anak dari pengusaha kaya dan keturunan para bangsawan kota, serta para tokoh terkenal yang semuanya masih lajang, datang untuk mencari pasangan.
Petra merangkul bahu Lintani, untuk menghindari kerumunan, lalu, mempersilakannya untuk kembali bekerja. Namun, baru saja pria itu melepaskan tangan dari bahunya, Askelan membawanya ke tengah aula dengan gerakan cepat dan mengajaknya berdansa.
“Tuan! Lepaskan aku, aku tidak bisa berdansa!”
“Ikuti saja iramanya dan ikuti gerakan tubuhku!” saat berkata, Askelan sudah melingkarkan lengannya ke pinggang dan mengaitkan jari tangan mereka. Tatapan matanya tidak teralihkan pada mata jeli gadis manis dalam pelukannya.
“Aku tidak mau!” Lintani berusaha melepaskan diri, tapi, sia-sia hingga pasrah dan membiarkan tubuhnya dibawa ke sana kemari dan diputar oleh Askelan.
Para gadis yang melihatnya pun benar-benar kecewa dan patah hati!
__ADS_1
Semua orang melihat dan seketika mereka menjadi pusat perhatian yang sebenarnya. Para tetua pun bangkit dari duduk dan melihat dengan tatapan nanar, sambil menggelengkan kepala.
“Sungguh! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!”
“Biarkan saja, yang penting dia bisa membawa kita lebih berjaya!”
“Ya! Kau benar, biarkan saja dia!”
“Haha!” Mereka terbahak. Mereka menilai wanita yang di bawa Askelan tadi bukanlah kelas mereka, tapi, melihat siapa yang di ajaknya berdansa, sungguh lebih rendah lagi kelasnya.
Saat itu, salah satu tetua Harrad yang berjanggut lebat, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya dan, memasukkannya lagi dengan hati-hati.
Setelah musik berakhir, Askelan tetap berdiri di sana dan mencium Lintani dengan ciuman yang kuat sebelum melepaskannya.
Melihat perbutan pria itu, Yasmin berpaling dengan kesal, dia sebenarnya tertarik dengan Askelan, sangat! Tapi, demi melihatnya mencium seorang pelayan di muka umum, membuatnya menilai pria itu berselera rendah. Baginya Askelan tidak pantas untuk dirinya yang bangsawan, bahkan calon pewaris dari bukit emas, keluarga Shaw.
Lintani pergi dari lantai dansa dengan berlari, dia menuju dapur untuk membuat teh dan, saat kembali, dia berpapasan dengan Yasmin di pintu keluar aula.
“Kau pikir siapa dirimu, mau saja menerima ciuman Askelan yang terhormat itu?” kata Yasmin pada Lintani. Secepat kilat dia mengambil teh panas di atas nampan, lalu, menyiramkannya ke tubuh gadis itu hingga mengenai pakaian dan tangannya.
Dia menyadari jika ciuman itu bukan karena cinta, melainkan agar dirinya mendapatkan perbuatan buruk, dari para wanita menyukai suaminya. Benar saja, setelah Yasmin pergi memasuki mobilnya, seorang wanita lain datang, lalu menyiram kepalanya dengan jus, termasuk orang yang tadi menyeretnya pun mendekat dan melemparkan mangkuk sup.
Lintani segera berlari kembali ke dapur dan meminta maaf pada ketua pelayan yang pasti akan menanggung akibatnya.
“Maafkan aku, ketua, aku tidak mungkin pergi ke atas dengan pakaian seperti ini!”
“Ya! Aku tahu, pergilah! Kau sudah cukup membuat kekacauan dan membuatku dalam masalah!”
“Maaf!”
Lintani pergi menaiki bis malam sampai ke rumah, dengan berurai air mata dan dia menyesali dirinya sendiri. Bukan karena mendapatkan perlakuan buruk, dia sudah biasa mendapatkannya, tapi dia bersedih karena tidak dapat memenuhi keinginan ibu mertuanya.
Bahkan dia tidak tahu, apakah kameranya masih berfungsi atau tidak karena terkena tumpahan sup. Dia harus membayar denda untuk ini.
Setelah tiba di rumah, dia memasukkan baju pelayan Mo ke mesin cuci, membersihkan diri dan tidur, sambil menangis.
__ADS_1
“Maafkan aku Ibu ....!” lirihnya, dia merasa bersalah pada Elliyat.
Sementara di pesta, Haifa mendekati Askelan dengan marah karena merasa begitu di rendahkan. Dia yang datang bergandengan tangan dengan Askelan, tapi wanita lain yang justru dibawa ke lantai dansa dan diciumnya. Bahkan, sama saja menunjukkan siapa rivalnya meskipun hanya seorang pelayan. Ini seperti sebuah drama, siapa yang dicintai adalah berbeda dengan siapa yang di perlihatkan.
“Askel Sayang! Apa maksudmu mencium Lin seperti itu?”
Mereka bercakap-cakap setelah duduk di dalam mobil. Jordan menjadi sopir mereka kali ini. Pria itu hanya mengikuti ke mana pun majikannya pergi, kecuali saat Askelan berdansa dengan Lintani.
“Apa itu masalah bagimu? Semua yang kau inginkan sudah aku berikan, yang penting kau pasti akan aku nikahi suatu saat nanti!”
“Ya, aku tahu, tapi itu sama saja kau merendahkan diri dengan mencium seorang pelayan!”
“Itu, biar jadi urusanku!” kembali Askelan berkata cukup keras.
Ini untuk pertama kalinya Askelan berkata dengan suara keras kepada Haifa, membuat wanita itu diam karena dia sadar posisinya. Lebih baik seperti itu, dari pada menambah kesal dan memilih menahan perasaannya.
Mereka pulang dengan lebih dulu mengantarkan Haifa hingga sampai ke rumahnya dengan aman. Wanita itu turun tanpa mengucapkan apa-apa.
Kini hanya ada dua orang pria yang tengah bicara.
“Apa itu tadi, Tuan? Sadarkah Anda dengan apa yang Anda lakukan pada Nona Lin?”
“Entahlah, aku tidak suka melihat Petra menyentuhnya!”
“Apa itu artinya Anda cemburu?”
“Kata cemburu tidak ada dalam kamusku!”
CK! Jordan mendecak kesal, dia tahu apa yang Lintani dapatkan karena kelakuan majikannya. Dia kasihan pada gadis itu, tapi, tidak berdaya.
“Tuan, apa Anda melihat gerak gerik Ketua Harrad kedua?”
“Apa itu?”
Bersambung
__ADS_1