
Balas Budi 50 Ribu Dolar
“Jangan pura-pura bodoh, Mama! Aku sudah menggantikan anakmu dipenjara selama delapan tahun dengan penyiksaan dan sekarang kau mengatakan Aku tidak punya balas budi? Awas kalau kalian menggangguku lagi!”
“Hai, Lin! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari apabila suatu saat kita bertemu, aku tidak bisa janji untuk tidak mengganggumu, kecuali kau membayarku 50 ribu dolar sebagai balas budi, apa kau mengerti?”
“Benarkah, kalau aku membayarmu 50.000 maka, kalian tidak akan menggangguku, dan tidak akan mencampuri urusanku lagi dengan anakmu, itu?”
“Ya aku janji!” Kata Rauja penuh semangat. Lalu, dia kembali ke dalam rumah dan Lintani pergi ke percetakan batu bata dengan menumpang bis langsung dari sana.
Lintani bekerja di tempat itu seperti hari kemarin, dia kali ini membawa kantong plastik yang cukup besar berisi pakaian gantinya, makanan dan juga alat gambarnya. Seorang wanita yang kemarin membantu, kembali melakukan hal yang sama, dia memberikan bedak berbau tidak enak di pipinya.
Itu adalah bedak tradisional yang terbuat dari beras yang dihaluskan, menjaga agar kulit wajah tidak hitam saat berada di bawah terik matahari seperti ini. Semua wanita di sana memakinya, walaupun sudah menutupi kepala mereka dengan topi bulat yang lebar.
Lintani pulang setelah selesai bekerja dan menghabiskan makan malamnya di percetakan. Dia pun sudah mengganti pakaiannya di toilet bersama yang ada di sana. Dia berjalan seorang diri menyusuri trotoar karena semua teman-temannya pulang dengan jemputannya masing-masing. Dia tersenyum saat menghitung uangnya yang bertambah sedikit.
Tiba-tiba langkah kaki Lintani terhenti saat sebuah Mercy berhenti di sampingnya.
“Hai, Lin! Kebetulan macam apa ini?” kata sebuah suara seorang pria yang keluar dengan cepat dari kendaraan itu.
“Hai, Pet! Kau, kah itu?” sahut Lintani setengah terkejut.
“Ya. Ini aku! Dari mana saja kau? Aku mengantarmu tadi siang di rumah Tuan Lux dan sekarang kau sudah ada di sini sambil menghitung uang!”
“Ya, aku baru saja selesai bekerja!”
“Kau bekerja di sini?” Petra sedikit heran, karena dia tidak tahu kalau Lintani bekerja kasar di salah satu usahanya itu. Pabrik itu miliknya karena dia memilih menggeluti bidang yang berbeda dengan ayahnya, walaupun, dia tetap menjadi pewaris pusat pelatihan itu.
“Ya!”
Petra tidak ingin tahu lebih jauh, tentang gadis itu karena dia belum begitu dekat hingga dia tidak memaksakan diri.
__ADS_1
“Kau mau pulang? Ayo aku antar, Tuan Lux pasti tidak suka kau pulang larut malam.”
“Aku tidak tinggal di sana!”
“Di mana? Aku bisa mengantarmu ke mana saja, ayolah!”
“Tidak perlu. Aku bisa jalan kaki dari sini. Tidak jauh.”
Belum sempat Petra menjawab, sebuah Bantley hitam muncul dan berhenti secara mendadak tepat di depan mobil Petra. Lalu, terlihat Askelan turun dari sana. Tanpa permisi, dia menarik tangan Lintani dan membawanya masuk, setelah Jordan membukakan pintunya. Gerakannya lembut tapi begitu gesit hingga membuat Petra tidak bisa berbuat lebih.
‘Askel? Apa hubungannya dengan Lin? Ya Tuhan ... kalau pun aku harus bermasalah dengan seorang laki-laki, kenapa harus orang seperti dia!’ Petra mengumpat dalam hati.
Di dalam mobil
“Kau punya status sebagai istri orang tapi berani berduaan dengan lelaki lain di depan suamimu? Hah!” kata Askelan sambil mencengkram dagu Lintani dengan kuat, sementara satu tangan yang lainnya melingkar di punggung gadis itu.
Jordan memperhatikan apa yang dilakukan Askelan dari kaca spion depan dengan wajah berkerut.
Kemudian Lintani melepas tangan Askelan dari dagunya sambil berkata, “Bukan urusanmu!”
“Selama kau tercatat sebagai istriku, maka akan jadi urusanku, apalagi kau bersama laki-laki itu!”
“Cukup!” Lintani mendorong Askelan dengan kuat dan dia berhasil melepaskan diri dan bergeser untuk duduk dekat jendela.
“Kita sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan masing-masing, termasuk keinginanmu yang akan menikahi Haifa, aku tidak perduli!”
“Apa kau cemburu, kalau aku menikahinya?”
‘Cih! Bagaimana mungkin? Mengarang saja dia!’ batin Lintani.
“Mana ada hal seperti itu, Tuan! Kau juga tidak berharap aku cemburu, kan?”
__ADS_1
“Ya, tentu saja ....” sahut Askelan sambil menyandarkan kepalanya, suaranya terdengar kecewa.
“Aku tahu, kau tidak mengharapkan hal itu dari wanita seperti aku, kan?” Lintani berkata sambil tertawa keras, seolah dia ingin melepaskan impitan di dadanya.
Sesampainya di rumah, ketiga orang itu keluar dari dalam mobil bagai tidak saling mengenal satu sama lain. Askelan berjalan di depan, di susul Jordan yang membawa bungkusan besar, lalu Lintani yang berjarak cukup jauh dari mereka.
Bibi Mo menyambut kedatangan para penghuni rumah dengan wajah lelah, dia sudah menunggu Lintani sejak sore hari karena mendapatkan tugas tambahan. Askelan melarang wanita itu pulang untuk membantu Lintani mencoba gaun pengantin.
Lintani melihat sesuatu yang di bawa Jordan, dia begitu terkejut melihat isinya dan langsung membawa baju pengantin itu ke kamarnya, sambil mendengar penjelasan dari Mo. Dia segera membersihkan diri, dan keluar hanya dengan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya.
Gerakan Mo sangat cekatan saat dia mempersiapkan gaun itu hingga Lintani dengan mudah mengenakannya. Dia tersenyum saat melihat pantulan dirinya di cermin, tampak begitu berbeda walaupun tanpa riasan, dengan kepala hanya dihiasi handuk kecil yang membungkus rambut basahnya.
“Bibi, sekarang coba tolong naikkan resletingnya, aku tidak bisa!” kata Lintani, setelah puas menatap cermin. Dia kagum dengan pakaian hasil rancangan Elliyat yang sangat indah itu.
“Bibi ...!” Lintani kembali memanggil Mo yang tiba-tiba saja hilang.
Tampa Lintani sadari, Mo keluar dari kamarnya dan memanggil Askelan yang tengah duduk di ruang tamu seorang diri.
Sementara Jordan sudah pergi sejak tadi, setelah menyerahkan bungkusan gaun pengantin kepada Lintani, itu artinya tugasnya hari ini sudah selesai.
Bibi Mo, sudah tidak sabar untuk memperlihatkan pemandangan indah pada Askelan, laki-laki yang sudah lama hidup hanya seorang diri.
Mo pun berkata, “Tuan, Anda harus melihat ini!” dia tersenyum sambil menuntun Askelan bersamanya masuk ke kamar Lintani yang belum selesai mengancingkan bajunya.
“Apa Nona butuh bantuan lagi?” tanya Mo, tanpa rasa bersalah sudah membuat Lintani malu setengah mati. Bagaimana tidak, baju itu terbuka bagian belakangnya sampai di pinggul, dan dia belum memakai pakaian dalam. Tentu saja Askelan bisa melihatnya, tapi dia tetap bersikap datar seolah pemandangan di hadapannya tidak ada artinya apa-apa.
Lintani paham jika laki-laki seperti Askelan tidak akan tertarik padanya, hingga dia menepiskan rasa malu, seraya berbalik, menghadap Askelan.
“Bibi, kenapa membawa Tuan ke sini, aku, kan malu!” dia berkata sambil tersenyum manis dan melirik Mo, dia tahu kalau apa pun yang terjadi di rumah, akan disampaikan oleh wanita itu pada Elliyat, hingga dia harus tetap berakting.
Bersambung
__ADS_1