Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 19. Tidur Nyenyak


__ADS_3

Tertidur Dengan Nyenyak


“Ikut aku!” kata Askelan sambil menarik tangan Lintani ke satu kamar yang tidak di gunakan yang terletak di antara kedua kamar mereka. Ternyata, di dalamnya, semua benda termasuk warna perabot juga tata letaknya, memiliki kesamaan dengan kamar yang ditempati Lintani.


Sampai di dalam, Askelan melemparkan ikat pinggangnya dan mengentakkan tubuhnya secara kasar ke tempat tidur yang luas lalu, menepuk bahunya sendiri.


“Ayo! Pijiti aku, sekarang!”


“Apa Anda tidak mengantuk, Tuan. Sekarang sudah malam.” Lintani berkata demi membela dirinya sendiri karena sebenarnya dia yang sudah mengantuk. Setelah kenyang makan makanan yang sangat enak, dia hanya ingin tidur tanpa memikirkan apa pun lagi.


“Jangan alasan! Atau uang kompensasimu kubatalkan!”


Lintani semakin kesal karena pria itu selalu mengancam dengan ancaman uang dan uang. Lintani melihat dan menepuk punggung lurus yang berkulit tebal milik Askelan. Pria itu memiliki bahu yang bidang dan lengan berotot. Punggungnya lurus dan bagus, kalau dia berdiri akan tampak tegap dan tinggi, pinggangnya yang ramping ditopang oleh bokong yang seksi.


Gadis itu tampak menelan ludah, sebelum berkata, “Tuan, dengar! Aku berjanji menikah denganmu karena aku ingin membahagiakan Bibi Elle, bukan karena uang! Kalau kau mau memberiku kompensasi itu, aku tidak pernah memintanya, jadi tidak masalah kalau kau ingin memotong atau menghapus kompensasi itu, terserah! Jadi, tidak ada lagi kesepakatan antara kita selain menyenangkan Ibumu!”


Askelan tidak melihat ke arah Lintani yang sudah hendak melangkah pergi tapi, dia seolah tahu jika Lintani akan meninggalkannya.


“Tunggu!” katanya.


“Apa lagi?”


“Kemarilah, tetaplah di sini sampai aku tidur.”


‘Enak saja, dasar sialan!’ umpat Lintani dalam hati.


Sebenarnya Askelan pun sudah sangat lelah, tapi, seperti biasanya dia sulit tidur apalagi saat lampu kamarnya mati, dia akan jauh lebih gelisah lagi. Dia serba salah karena dia membuat lampu kamarnya akan mati dengan sendirinya setelaj dua jam dia di dalam kamar. Awalnya dia ingin melatih menghilangkan perasaan ketergantungan dengan wanita yang selalu datang dalam mimpinya seperti hantu. Namun, apa pun usahanya, dia tetap tidak bisa menghilangkan kecanduan aroma menenangkan yang dulu menguar dari tubuh gadis itu.


“Aku tidak mau!” kata Lintani sambil berbalik kembali. Namun, belum sempat satu langkah dia berjalan, tangannya ditarik dengan cepat ke arah tempat tidur hingga saat sadar, tubuhnya sudah terjerembab dalam pelukan Askelan.


Pria itu sempat mencium aroma wangi yang sama dari rambut panjang Lintani dan juga dari tangannya. Lalu, saat ini dia menghirup aroma itu dengan rakus dari tubuh kurus dalam pelukannya yang kuat seolah tidak memberi ruang pada gadis itu untuk menghindar bahkan bergerak.


“Lepaskan aku!” pekik Lintani sambil berusaha meronta agar dilepaskan.

__ADS_1


“Diamlah, sebentar saja, kumohon ... biarkan aku tidur ...” suara Askelan serak berkata dengan perlahan dan penuh tekanan di telinga Lintani, membuat gadis itu melemah dan dia merasa kasihan hingga membuatka Askelan menggunakan tubuhnya sebagai guling.


Dia memohon, Ya Tuhan! Pria itu memohon pada seorang wanita hanya biar bisa tidur!


Kepala Askelan menempel di kepala bagian belakang Lintani membuat punggungnya melengkung dan bahunya bagai payung yang menaungi gadis itu dari semua pengganggu. Seolah dia adalah tempat ternyaman untuk menaruh beban, tempat terindah untuk berbagi kasih dan tempat terluas untuk berbagi cinta.


Selama belum nyenyak, Askelan terus meracau dan Lintani tidak bergerak karena dia khawatir membangunkan sesuatu yang lain hingga menuntutnya untuk dipuaskan dan dia tidak mau. Ini di luar perjanjian!


“Kenapa rambutmu panjang sekali, kenapa kau harus bekerja di tempat batu bata? Itu pekerjaan kasar. Apa sebenarnya yang ada pada dirimu ini sama sekali tidak menarik, tapi kenapa Ibuku bahagia bersamamu ... aku cemburu melihatnya bisa tersenyum bersamamu, aku benci itu!” ocehan Askelan berhenti saat dia seperti mengunyah sesuatu.


“Hmm ... Bu, tapi, aku tidak berdaya, aku ingin hanya aku yang bisa membuatmu tertawa. Lihat saja, Bu, kalau aku sudah memiliki anak seperti permintaan para tetua Harrad, aku akan memberimu kebahagiaan yang lain, Haifa sedang hamil dan aku akan segera menikahinya ... tapi Bu, aku pada gadis itu sebenarnya tidak—“ ucapan Askelan sudah terhenti karena sejenak kemudian pria itu sudah tertidur pulas.


‘Hai! Sialan! Teruskan ucapanmu, kau tidak apa?’ batin Lintani sambil berusaha menoleh, karena dia dipeluk dari belakang dengan kuat oleh pria itu. Namun, dia tidak bisa bergerak, tangan dan kaki Askelan begitu berat menindihnya tubuh bagian sampingnya.


Lintani berusaha untuk tidur walaupun susah karena dia merasa beberapa bagian tubuhnya kebas.


‘Ah! Ini pegal sekali tidak bisa bergerak! Sialan kau Askelan! Aku mengutukmu! Hidupmu akan sial kalau kau memilih bersama Haifa, bahkan sampai kau tiada!’ Lintani mengutuk Estevan berulang kali tapi, hanya dalam hati sampai dia tertidur.


Askelan membuka mata saat merasakan semilir angin yang masuk dari celah fentilasi udara membelai pipinya, tidak biasanya dia bisa tidur begitu nyenyak malam itu. Lebih dari delapan tahun terakhir, insomnia adalah masalah paling parah yang tidak bisa dia selesaikan baik dengan otak, strategi ataupun dengan semua senjata yang memenuhi gudang di rumahnya.


Tiba-tiba dia mencium aroma yang akrab di hidungnya ini adalah aroma yang sama seperti saat di pondok kayu. Namun, bukan dia karena wanita itu adalah Haifa.


Askelan melihat Lintani menempel di dadanya seperti lem dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Dia segera melepaskan pelukan secara perlahan karena tidak ingin membangunkannya.


Seandainya gadis itu bangun sekarang, maka, dia akan sangat malu sudah menggunakan dirinya sebagai alat yang bisa membuatnya tidur. Diam-diam dia berterima kasih, karena tidurnya sangat nyenyak malam ini berkat Lintani.


Askelan segera pergi ke kamarnya sendiri dengan berjingkat namun dia baru sadar kalau ternyata pintu kamar yang dia pakai tidak tertutup apalagi terkunci. Begitu dia keluar, sudah ada Jordan yang menunggunya di meja makan lebih dari tiga jam. Sementara Bibi Mu sedang bekerja di dapur dan mencuci pakaian.


Biasanya Bibi Mu datang saat Askelan sudah pergi, tapi saat dia datang tadi masih ada Jordan di rumah dan betapa terkejutnya dia saat melihat pintu kamar yang terbuka. Ada majikannya masih tidur dengan nyenyak dan memeluk seorang wanita.


“Kau terlambat, Bos!” kata Jordan setengah kesal, karena Askelan mengusirnya semalam dan ternyata karena tuannya akan segera tidur dengan wanitanya, kenapa dia tidak bicara saja terus terang?


“Diam!” Askelan berkata sambil memberi isyarat agar tidak keras bersuara.

__ADS_1


Jordan mengangguk dan meneruskan menikmati sarapan yang dibawakan ibunya. Sementara Askelan pergi ke kamarnya sendiri untuk segera bersiap dan pergi tanpa menikmati sarapan yang sudah di buat oleh asistennya.


Sesaat setelah Askelan pergi, Lintani membuka mata dan dia bergerak ke sana-kemari karena sekarang tuan penguasa tempat tidur sudah pergi, dia bisa ke Villa sebentar lagi, setelah tubuhnya sudah pulih. Ah! Syukurlah pria itu sudah pergi sebab kalau tidak dia bisa mati berdiri karena dia yakin pria itu akan terus memerintah ya sekehendak hati.


“Nona, apa Anda sudah bangun? Ini makanlah sup dan bubur, biar tubuhmu lebih bugar, Anda pasti lelah, kan?”


Lintani mengerutkan alisnya dan mengingat jika perempuan itu adalah orang yang akan mengurus rumah Askelan. Jadi, maklum saja kalau wanita itu mengira jika Lintani adalah istri yang dicintai Askelan dan sudah kelelahan karena melayaninya semalaman.


“Terima kasih, Bi. Apa Tuan Askel sudah berangkat?”


“Sudah, belum lama dia pergi. Tuan berpesan agar saya membantu Nona. Jadi, panggil saya kalau Anda membutuhkan sesuatu.”


“Baik, tapi, sebenarnya aku butuh pakaian, apa kau membawa baju lainnya selain yang kau pakai, apa aku bisa meminjamnya?”


Asisten wanita itu tersenyum dan berkata, sambil mendekatkan makanan ke arah Lintani.


“Saya akan menyiapkan pakaian Anda, silakan makan, apa ada lagi yang Anda perlukan?”


“Tidak, terima kasih.”


Meskipun agak heran dengan sikap Lintani yang terlalu sopan, Bibi Mo senang karena dia bertemu seorang wanita yang tidak sombong padahal dia sudah menjadi istri sah bagi Askelan. Dia mendengar semua cerita dari Jordan mereka sudah lama mengobrol setelah terlalu lama menunggu tuannya bangun dari tidurnya.


Baik Jordan dan Bibi Mo bersyukur dengan kehadiran gadis itu, yang bisa membuat Askelan tidur sampai kesiangan.


Wanita itu pergi, sebentar kemudian dia datang lagi sambil membawa setelan pakaian bergaya China dengan celana panjang hitam menjadi bawahannya.


“Apa ini bajumu, Bibi?”


“Bukan! Ini baju dari Tuan Askelan!”


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2