
Itu Dia
Dex berdiri lalu, mendekati Lintani, membelai pipinya sambil berkata, “Apa kau ingin aku membawamu ke mal dengan helikopter? Itu mudah sekal, Sayang!”
“Baiklah, kita pergi sekarang!” sahut Lintani sambil menyingkirkan tangan Dex dari pipinya.
“Sekarang?”
“Ya! Aku akan ganti pakaian dulu!”
Lintani pergi ke kamar, untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Sementara Dex melanjutkan menelepon.
“Lihat! Dia mulai berulah!” kata Dex setelah menempelkan ponselnya ke telinga. Dia masih berbicara pada Marka, sejak tadi teleponnya sebenarnya tetap tersambung.
“Apa ulahnya kali ini?”
“Dia menguji kesabaranku, dia mengajakku belanja? Kupikir bagaimana aku harus mengamankannya?”
“Kau tak seperti yang kukira, kupikir kau bisa!” kata Marka. Dia pria tua yang dulu saat muda pernah jatuh cinta pada Elliyat ibunya Askelan.
“Kau kira aku laki-laki penyabar? Tidak Mark! Aku tidak tahan lagi, katakan sekarang juga siapa gadis itu atau aku akan mencekiknya!”
“Sialan, kau Dex! Kalau dia menjadi istrimu dengan paksaan, dia tidak akan Sudi membagi semuanya dengan benar!”
“Siapa dia?”
“Aku juga perlu memastikannya. Dan satu-satunya cara adalah dengan melucuti pakaiannya!”
Marka sudah mencari Lintani selama bertahun-tahun, dan dia baru sadar jika ternyata gadis yang dia cari selama ini ada di pusaran kota Hill. Sementara dia mencarinya di pelosok negeri.
Namun, saat dia tahu, semua sudah terlambat, gadis itu ternyata menikah dengan orang yang sangat berpengaruh di kota dan rumornya, mampu menduduki puncak kepemimpinan dalam semalam saja.
Marka berpikir lawannya cukup tangguh, karena usaha penculikannya pada gadis itu gagal dengan mudah, oleh anak buah suaminya padahal jumlah mereka lebih sedikit.
__ADS_1
Dex tertawa keras saat mendengar ucapan Marka, tentang melepaskan pakaian Lintani hingga tubuhnya melengkung ke depan.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, kenapa aku tidak memberinya obat perangsang saja?”
“Jangan, dia akan semakin membencimu!”
“Ah! Atau pasang kamera cctv saja di kamanya? Tapi ... Apa yang ingin kau lihat di tubuhnya, Pak Tua?”
“Dasar anak kurang ajar! Aku memastikan dia memiliki sebuah tato tapi, entah di bagian mana!”
“Baiklah, aku akan ke mall hari ini, dan pengawal akan memasang kamera di kamarnya. Kita lihat apakah dia punya tato atau tidak di tubuhnya, atau bahkan dadanya? Ah! Aku semakin ingin mencicipinya!”
“Lakukan semaumu kalau kau mampu membuatnya pasrah padamu, itu lebih bagus, kita bisa menguasainya berdua!”
“Katakan apa yang kau tahu?”
“Aku akan memberitahumu kalau dia memiliki tanda itu! Sebab ini hanya rumor yang masih belum jelas!”
“Dasar kau Tua Bangka!”
Dex semakin penasaran, Marka tidak mau mengatakan hal apa yang dimiliki Lintani tapi, dia sudah menduga jika tanda yang ada di tubuh gadis itu, pasti berkaitan dengan harta. Mana mungkin Marka akan begitu antusias kalau bukan karena keuntungan besar, yang berguna untuk kelompok atau partainya. Dasar politikus kotor. Pikir Dex.
Tak lama setelah pembicaraan berakhir. Lintani keluar dengan dress warna putih yang elegan, bahannya berkilau dengan kerah tertutup rapat, lengan panjang dan rok menjuntai sampai batas lututnya. Rambutnya digulung ke atas dan hanya menyisakan beberapa helai di dekat telinga. Penampilannya sederhana tapi terlihat luar biasa.
“Apa kita jadi pergi, sekarang?” tanya Lintani dengan tatapan tegas tak tergoyahkan walaupun, penampilannya berubah menjadi lebih anggun dan kalem.
“Ya—ya!”
Dex gugup dan terpana melihat penampilannya saat itu, Askelan salah kalau tidak sampai jatuh cinta pada gadis ini, dia memang tidak begitu seksi, tapi, lebih anggun dari Yasmin atau Haifa, sekalipun. Tidak ada riasan tebal di wajahnya, tapi dia begitu enak dilihat.
Bagaimana Tuhan menciptakan makhluk seindah itu, hanya dengan menambahkan maskara pada bulu matanya. Atau mungkin Tuhan lebih menyayanginya? Pikir Dex. Aku harus memilki nya.
Apa pun yang ada di balik tanda pada tubuh gadis ini, aku tidak akan membaginya dengan siapa pun! Persetan dengan Si Tua Marka. Pikir Dex lagi.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar sambil bergandengan tangan, menuju Helikopter yang sudah di siapkan sejak pagi, untuk kepulangan Dex siang ini. Namun, karena Lintani ingin pergi belanja, dia membatalkan kepergiannya.
Sudah sejak dua hari yang lalu Dex tinggal di sana, karena dia kadang pulang kadang menginap, tergantung keinginannya saja. Dia betah berada di dalam bangunan itu selama ada Lintani bersamanya. Dan, bisa dipastikan kalau dia membohongi Nazaret.
Bangunan kubah putih itu adalah milik Marka yang sengaja di bangun sebagai tempat persembunyian rahasia. Hal yang terpenting dari bangunan itu bukan bagian atas melainkan bagian bawahnya.
Bagian atas hanya berfungsi sebagai fertilasi dan sirkulasi udara bagi ruang rahasia di bawahnya. Bila melihat lantai yang ada di sana seolah terbuat dari marmer berkilau yang biasa saja padahal, selama ini mereka injak adalah kaca blok yang di cat dengan cat khusus dan dilakukan oleh profesional sehingga menyerupai keramik.
Mereka pergi setelah Helikopter siap di posisinya.
\*\*\*\*\*\*
Sementara itu, Askelan tengah berada di kantor Harrad Tower seorang diri, dia duduk di kursi kerjanya, sambil melihat sebuah video dari situasi di sepanjang jalan menuju barat daya kota, secara saksama.
Dia dengan jelas melihat Lintani duduk di sisi pantai curam, sambil memeluk lututnya. Dia mendongak ke atas saat Helikopter lewat, seolah sedang menatapnya, wajahnya begitu pucat dengan rambut panjangnya yang, dia biarkan terurai dan acak-acakan tertiup angin.
Ah! Sial! itu dia, benar-benar dia! Bagaimana kau ada di sana, dasar bodoh! Batin Askelan, pria itu berdiri dan mengusap rambutnya kasar, dan meninju udara dengan kepalan kuat tangannya.
Dia melihat Lintani dikelilingi pengawal bersenjata lengkap di sebuah bangunan aneh, yang tidak bisa di jangkau dengan mudah kecuali, menggunakan helikopter!
Bagaimana ada tempat seperti ini di Hill? Mengapa dia tidak tahu, bahkan sepertinya tempat itu tidak terdeteksi oleh radar? Pikir Askelan.
Tidak lama berpikir, dia harus mengerahkan kekuatannya, memanggil Pit dan Jordan, untuk membuat sebuah rencana. Tentu saja kedua orang itu tahu, tentang video yang di kirim melalui kamera rahasia pada helikopter.
Askelan bekerja sama dengan pemerintah kota guna menyewa helikopter pemerintah, dengan mengirimkan banyak bantuan untuk negara tetangga. Tentunya di kemudian hari, mereka akan bisa bekerja sama antara negara, dengan lebih baik jika konflik sudah mereda.
Setelah berhasil mendapatkan rencana bagus, Askelan berjalan keluar dengan cepat sambil menyambar jaket kulitnya. Dia mendahului Jordan dan Pit dengan semangat
“Suruh Mat membawa Bombim ke sana!” kata Askelan sambil berjalan cepat, lalu, menekan lift.
“Tapi, Tuan. Apa itu mungkin?” tanya Jordan
Lift bergerak turun, berisi tiga orang yang sedang serius memikirkan sebuah tindakan hati-hati dan kemampuan penuh, hanya untuk membela seorang perempuan.
__ADS_1
Apa ini pertama kalinya terjadi di keluarga Harrad? Sepertinya iya.
Bersambung