
Rencana Di Atas Rancangan
Lintani menunjukkan beberapa desain yang digambarnya malam kemarin saat dia tidak bisa tidur. Dia mengeluarkan beberapa rancangan sambil terus mengobrol, tapi, dia baru sadar bila kehilangan satu rancangan gaun malam yang dia pikir bentuknya paling indah.
“Kau mencurinya, lalu, tertinggal di tempat kejadian perkara!” kata Askelan saat melihat semua rancangan itu.
“Aku tidak mencurinya!” sanggah Lintani.
“Lin! Aku belum pernah melihat rancangan seindah ini, coba kau tunjukkan ini pada Dondra atau Hasafa, mereka perancang terkenal dan hanya menyukai desain orisinal seperti ini!” kata Elliyat sambil mengamati gambar Lintani satu persatu.
“Tidak, Bu! Impianku tidak setinggi itu, aku hanya mengisi waktu luang dan untuk menghiburmu! Ayo! Kita bisa mendesain bersama,” Kata Lintani.
“Omong kosong! Kau punya suami yang bisa dengan mudah mengenalkanmu pada mereka!”
Lintani melirik Askelan yang menyunggingkan senyum misterius.
“Kalau kau tidak kehilangan desain gaun malam, kau bisa memesan rancanganmu sendiri lalu, bisa kau pakai di pesta keluarga Harrad!”
“Uhuk!” Askelan terbatuk sedikit, saat ibunya bicara. Dia pernah melihat satu rancangan bagus yang keluar dari dalam tas Lintani saat dia berlari ke kamar, untuk menyelamatkannya, tapi, dia tidak tahu di mana Mo menyimpan benda itu saat membereskannya.
“Apa ada waktu, Bu? Tapi, aku tidak punya rancangan itu lagi?” kata Lintani dengan sedih.
“Askel! Kau bisa membawa rancangan Lin pada Deondra atau Hasafa!”
“Tidak akan cukup waktuny, Bu. Pesta itu akan diadakan kurang dari dua pekan, bayangkan saja sudah berapa perempuan yang mengantri gaun pesanannya?”
“Ah, iya. Kau benar juga!”
“Kapan anakmu ini pernah salah, Bu?”
__ADS_1
“Kau? Aku akui kau selalu membuktikan kebenaran padaku, ah! Seandainya rumor tentang Afturifes bisa kau buktikan sebelum aku tiada!”
“Ibu ... Afturifes itu tidak ada! Doaku adalah, kau akan panjang umur, aku ingin membuat baju kembar. Jadi, tunggu aku sampai bisa menjahit sendiri untuk kita. Bertahanlah!”
“Lin, kau selalu membuatku bahagia, apa lagi kejutanmu untukku?”
Lalu, Lintani berbisik di telinga Elliyat hingga wanita itu kembali tertawa. Sekali lagi Askelan cemburu! Tuhan! Kenapa aku harus cemburu pada seorang wanita! Pekiknya dalam hati. Kalau saja yang membuatnya cemburu seorang pria, maka, orang itu akan dihancurkan layaknya meremukkan seekor semut.
Lintani tidak bekerja, hingga dia bisa menemani Elliyat sampai siang. Sementara Askelan sudah pergi sejak mereka saling membisikkan kalimat rahasia. Setelah wanita lebih dari paruh baya itu selesai makan siang, minum obat dan tidur, barulah dia pergi juga meninggalkan rumah sakit, dengan membawa banyak rancangan yang sudah berhasil mereka buat bersama dan, akan dibawanya pulang.
Saat Lintani sampai di halaman rumah sakit, dia sempat bingung, hingga akhirnya memilih kembali pulang ke apartemen karena dia sudah tidak lagi bekerja di percetakan batu bata. Dia tidak mau mengulang nasib sialnya dijebak oleh Petra. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Petra, pikirnya karena dia tahu perusahaan batu bata itu miliknya.
Dia akan memilih berada di rumah karena dia pikir, tidak lagi membutuhkan uang untuk mempertahankan bayinya, atau membeli alat tes kehamilan. Dia tidak hamil setelah hubungan kedua itu. Meskipun, masa haidnya memang tidak teratur sejak dia melahirkan, dia tetap saja ragu kalau hasil tes kemarin adalah negatif.
Dia sempat berpikir kalau memang tidak ada sesuatu di rahimnya, ini aneh, karena dia tidak haid selama beberapa waktu. Dan yang lebih mengherankan lagi, saat dia membaca di internet tentang penyebab haid yang tidak teratur pada seorang wanita yang bisa dikarenakan stres, dan tekanan jiwa. Ah, dia seolah seseorang dalam gangguan mental saja.
Namun, nasib sialnya kali ini bukan bertemu Petra, atau bertemu pria dalam rumah kayu yang jadi hantu, melainkan bertemu dua orang yang selalu memusuhinya.
Haifa berkata seperti itu bukan tanpa sebab, dia tahu kalau hanya orang-orang tertentu saja yang bisa di rawat inap di sana.
“Kalau ada kenapa? Apa kalian pasti pingsan seketika? Aku yakin!” sahut Lintani dan dia belum selesai bicara saat Rauja mendekat.
“Kau bersikap tidak sopan sekali lagi pada calon istri Tuan Askelan? Awas kau ya!” kata Rauja sambil mengepalkan tinjunya.
Lintani pada dasarnya ingin berteriak jika dialah istri sah yang sudah dinikahi suaminya, tapi, dia sadar bahwa pernikahan dirinya hanya sebuah lelucon.
“Ibu, dia menikah dengan Askel hanya karena Ibunya, tapi, kalau Ibunya meninggal, dia pasti akan gagal. Dan akulah penggantinya!”
“Jangan gegabah! Dari mana kau tahu soal itu? Aku tulus pada Ibunya dan kalau bisa, selamanya aku tidak akan menipu Bibi Elle walaupun, dia sudah jadi abu dan dikuburkan!”
__ADS_1
“Coba saja, kalau bisa, Askel lebih mencintaiku walaupun, dia menikah denganmu!” kata Haifa dengan pongah.
“Berjanjilah kau tidak akan mengatakan pada siapa pun, jangan sampai Bibi Elle mendengarnya dari orang lain, itu akan sangat melukai hatinya! Kumohon!” kata Lintani menghina, sambil mengatupkan kedua tangannya.
Sebenarnya saat Mo dan Haifa bertemu waktu itu, wanita paruh baya itu tidak mengatakan soal perjanjian pernikahan sementara waktu, antara Askelan dan Lintani, tapi, Haifa berasumsi sendiri dan sialnya lagi, asumsinya benar
“Beri aku 50 ribu dollar, maka kita akan kuanggap tidak saling mengenal, sudah kubilang dari dulu, kan? Kalau kau ingin aku tidak mengganggumu setiap kali kita bertemu, maka, beri aku sejumlah itu, besok!”
“Apa?” Lintani tercengang, bagaimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam dan dia hanya bisa mengandalkan Askelan, bagaimana kalau laki-laki itu menolaknya?
Tanpa menunggu jawaban Lintani, dua orang itu pergi, dan gadis itu dengan cepat kembali ke kamar perawatan Elliyat karena dia khawatir akan terjadi sesuatu padanya atau Haifa mendatangi ibu Askelan untuk mengatakan semuanya. Pasti wanita itu akan kecewa.
Lintani berjaga di dekat pintu sampai larut malam, setelah merasa aman dari ancaman Haifa yang kemungkinan akan mengganggu wanita itu di malam seperti ini, maka gadis itu pun pulang. Dia tiba di rumah dalam keadaan sangat lapar, tapi, dia tidak kuatir kekurangan makanan karena Mo selalu menyimpan banyak bahan makan di lemari pendingin.
Askelan sudah ada di dalam rumah begitu dia membuka pintu.
“Dari mana saja, kau! Dasar Pela cur!” ucapan kasar itu keluar begitu saja dari bibir Askelan membuat bulu kuduknya berdiri. Dia pernah mendengar ucapan seperti ini, tapi, itu sudah lama sekali, sekitar 8 tahun yang lalu.
Pria itu cepat pulang karena penasaran dengan apa yang dibicarakan Lintani dan ibunya, tapi, dia tidak mendapati wanita itu di mana pun. Dia pikir ucapan Haifa tentang Lintani seorang pel acur sepertinya benar. Apalagi ibunya yang menjual anak tanpa alasan, karena Lintani anak di luar nikah!
“Beri aku 50 ribu dolar, aku berjanji padamu tidak akan pulang terlambat lagi!” kata Lintani tanpa berniat menjawab pertanyaan Askelan. Pria itu mana percaya kalau dia bilang sudah bertemu Haifa yang mengatakan ini dan itu? Pikirnya.
“Ternyata Haifa benar ... Ah!” Askelan melemparkan cangkir kopinya hingga pecah, lalu, pergi ke kamarnya, sepertinya dia sangat kecewa. “Pegilah tidur, jangan lupa besok temui ibuku lagi!”
“Baiklah! Tuan!”
Bersambung
“Salam para readers! Maaf kalau ada yang kecewa karena Lin tidak hamil, karena kebanyakan cerita “Cinta satu malam” hasilnya pasti hamil, terus menghilang dan bertemu lagi saat anaknya sudah besar, tapi bapaknya gak kenal. 🙂 Tapi, di ceritaku, Lin hamil saat percintaan mereka yang ketiga karena Askel membuktikan tanda tato di pinggul, itu berhubungan dengan masa lalu Lin Dan Cemiton Shaw. Saat hamil itulah nanti baru ketahuan kalau ternyata, Lin pernah hamil sebelumnya, di sinilah teka-teki mulai terbongkar. Jadi agak sedikit berbeda ya soal kehamilan 🙂. Terima kasih sudah setia!❤️
__ADS_1
Bersambung