Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 53. Bertemu Nazaret


__ADS_3

Bertemu Nazaret


Keesokan harinya, saat Lintani membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah Askelan tengah tidur nyenyak di sampingnya sedangkan tangan pria itu melingkar di perutnya.


Laki-laki itu tertidur seperti bayi yang tidak tidur selama berhari-hari saja. Saat Lintani mencoba membangunkannya dengan menekan-nekan jari telunjuknya ke dada dan pipi, pria itu tidak bergerak sama sekali.


Namun, saat bangun tadi Lintani merasa nyaman menempel di dada Askelan. Namun, tiba-tiba saja dia kesal mengingat dirinya di manfaatkan. Seharusnya Askelan lebih menyayanginya kalau memang sangat tergantung, sebab tanpa memeluknya, pria itu tidak akan bisa tidur.


Lintani bangun secara perlahan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu, mengganti pakaiannya tanpa berniat untuk, membangunkan pria itu dari tidurnya. Dia tidak memasak sarapan seperti biasanya karena masih kesal.


Saat di rumah sakit, Lintani bertemu dengan Petra dan, dia masih tetap tidak bisa masuk ke kamar perawatan Elliyat, karena penjaga. Dan, ini akan terjadi selama beberapa lama, sampai kesudahan nasib wanita itu nanti.


Lintani menyesali nasibnya mengapa harus bertemu lagi dengan Petra. Sejak di pesta waktu itu, dia merubah kesan baik padanya karena ternyata pria itu begitu naif serta, tega menyebarkan statusnya pada orang lain hingga membencinya.


Saat dia ingin menghindar, Petra memanggilnya dari ujung koridor.


“Kau mau melihat Bibi Elle, bukan?” kata Petra saat Lintani hampir saja pergi. “Kenapa menghindar, apa kau takut padaku?”


Lintani diam.

__ADS_1


“Ada Paman Dex dan Bibi Nazaret di sana ... sayang, ya, Ibu mertuamu itu hampir tidak bisa bicara! Ayo, akan aku perkenalkan kau pada mereka!” kata Petra lagi.


Lintani merasa sedih mendengar ucapan itu dia merasa Petra tidak tulus berteman dengannya, karena dia, kini semua orang di keluarga Harrad tahu bagaimana kedudukannya.


Lintani mengikuti langkah Petra ke dalam kamar, para penjaga mengizinkannya dan untuk itu dia berterima kasih pada Petra.


“Hai, Lin!” kata Dex, saat Lintani masuk bersama Petra. Tidak sembarang orang bisa masuk kecuali setelah melakukan sterilisasi.


Pria itu tidak segan merangkul bahunya ketika bicara, tapi, Nazaret—istrinya mengabaikannya, membuat Lintani heran. Apa mereka sedang tidak akur? Batinnya.


“Selamat pagi!” kata Lintani sambil menunduk hormat dan, melepaskan diri dari rangkulan Dex Dia melihat Elliyat masih sama seperti sebelumnya, dia bahkan seperti tidak bergerak dan hanya dadanya saja yang turun naik untuk bernafas.


“Kenapa kau datang sendiri, mana suamimu?” tanya Nazaret, dia wanita yang lembut dan ramah, rambutnya ikal sebahu dan riasan wajahnya sedikit pucat. Tubuhnya montok tapi seksi serta kulit yang putih seperti susu. Dex sangat beruntung memiliki wanita itu apalagi dia kaya. Namun, manusia tidak pernah puas.


“Aku datang terlalu pagi, jadi dia belum bangun, Bibi,” kata Lintani sopan.


“Dan kau meninggalkannya? Istri macam apa, kau ini? Ah ya! Aku lupa, kalau kau hanya istri sementara sampai ibunya pergi!” kata Nazaret lagi membuat Lintani begitu kuatir jikalau Elliyat mendengarnya, sebab wanita itu pasti akan kecewa.


Namun, setelah diperhatikan, raut wajah dan alur napas ibunya tidak berubah hingga dia bernapas lega. Elliyat tidak perlu mendengar hal aneh ini. Dia sungguh-sungguh melakukan pernikahan untuk membahagiakannya. Kalaupun harus sementara atau tidak, itu bukan urusan mereka.

__ADS_1


“Lin, sebenarnya aku kasihan denganmu, kau sangat cantik, dan tidak harus melakukan pernikahan seperti ini kalau kau memang tidak suka.” Petra berkata sambil menarik Lintani ke sisinya agar menjauh dari Dex. Mereka berempat mengelilingi ranjang Elliyat untuk, menunggu Askelan atau melihat wanita itu bangun dari tidurnya.


“Aku suka, apa pun yang aku lakukan bukan urusan kalian.” Lintani menyanggah semua ucapan yang menyudutkan dirinya.


“Kurasa aku masih punya kesempatan, kan?” kata Petra lagi, dia bermaksud mengambil hati Lintani agar mau menjadi kekasihnya, saat berpisah dengan Askelan nanti.


Lama kelamaan gadis itu merasa muak, hingga dia memilih untuk pergi.


Sebelum Lintani pergi meninggalkan rumah sakit, dia melihat Askelan, tengah berbincang-bincang dengan para penjaga dan sesekali meliriknya, tapi, dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


“Lin!” Petra kembali memanggilnya dan Lintani menoleh. “Apa kau akan bekerja? Aku akan mengantarmu!”


Lintani diam saja, namun entah dari mana datangnya beberapa orang menghalangi Petra dan seperti memagari Lintani lalu, membawa gadis itu dengan mobil mereka.


Petra yang melihat hal itu, menoleh dan mendekati Askelan.


“Dia bukan istri sah, dia hanya kau nikahi karena ibumu, kan? Kenapa dia mendapatkan pengawalan seperti istri sungguhan?” katanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2