
Di Depan Pusara 2
Keesokan harinya, Lintani terbangun sangat kesiangan hingga dia terlambat untuk datang ke pemakaman. Saat gadis itu keluar kamar, dia mendapati keadaan rumah yang sepi, seolah ikut berduka dengan kepergian Elliyat.
Dia berpikir jika dia pergi ke makam saat ini mungkin tempat itu masih dipenuhi oleh keluarga Harrad dan juga kerabat Askelan yang lain, sehingga dia tidak punya waktu hanya berdua saja dengan ibunya. Dia kemudian memutuskan untuk mengunjungi makam Elliyat nanti saja, setelah dia selesai berkemas dan memasak membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
“Apa dia akan pulang hari ini?” gumam Lintani pada dirinya sendiri, sambil memakai apron lalu, membuka kulkas.
Dia berinisiatif membuat makanan yang sedikit awet, sehingga jika dimakan sampai malam hari pun tidak masalah. Seperti makanan yang digoreng dan dipanggang, hingga bila Askelan pulang malam nanti dia tetap bisa menikmatinya. Kalau laki-laki itu mau.
Dia pergi keluar rumah Setelah kenyang dan membersihkan diri, sambil membawa serta semua barang-barang miliknya. Pakaian dan juga perlengkapannya tidak terlalu banyak.
Jadi, dia hanya membawa tas berukuran sedang yang dulu pernah dibawanya ketika keluar dari penjara. Selebihnya, semua barang yang ada di kamar itu adalah milik Askelan. Jadi dia tidak berhak untuk memiliki, dan hanya merapikannya saja.
Lintani memandang kamar dan semua isi rumah dengan perasaan berat hati, banyak sekali kenangan dia tinggalkan di sana, selama lebih dari dua bulan menjadi istri pura-pura Askelan Harrad. Dia pernah mendapatkan sedikit kehangatan dari pemiliknya.
__ADS_1
Namun, sekarang dia harus pergi, setelah mengunjungi makam Elliyat. Dia tidak ingin berada di sana lebih lama lagi, menjauh dari Askelan dan segala kehidupannya adalah hal yang terbaik yang bisa Lintani pikirkan saat ini.
Dia merasa tidak memiliki hak apa-apa lagi, karena yang membuatnya bertahan tinggal di apartemen itu adalah, wanita yang kini sudah terkubur di dalam tanah. Elliyat seolah sudah membawa serta hatinya ikut terkubur bersamanya.
Lintani pergi ke toko Shane dan mengatakan bila hari ini, Ibunya sudah tiada. Dia akan pergi mengunjungi makamnya setelah berpamitan.
Tentu saja pemilik toko itu sangat bersedih, dengan kehilangan yang dikabarkan Lintani kepadanya. Dia ikut berduka cita dan juga memberikan sedikit pemberian untuk gadis itu sebagai hiburan. Dengan senang hati dia menerimanya karena tahu bila Shane dalah orang yang tulus.
Dia berpamitan saat itu juga untuk pergi karena dia memang tidak akan kembali ke tempat ini. Lintani mendoakan agar Shani mendapatkan pengganti, seorang yang lebih baik dari dirinya untuk bekerja.
Lintani pergi ke makam tempat Elliyat dan mencari di mana wanita itu dikuburkan. Dia membawa rangkaian bunga Lily di tangan. Selama ini dia tidak pernah tahu bunga apa yang disukai ibunya, tetapi, dia pernah melihat wanita itu merawat bunga lilinya dengan baik, hingga dia membeli beberapa tangkai.
“Maaf, Bu, aku baru datang mengunjungimu, jangan marah ... aku hanya tidak ingin bertemu dengan keluarga Harrad, tadi ...,” kata Lintani sambil berlutut di sisi makam dan mengusap batu nisan.
“Aku terlalu segan bertemu dengan mereka ... Aku merasa tidak cantik dan tidak pantas bersanding dengan putramu walaupun, kau berulang-ulang kali mengatakan jika aku, adalah wanita yang paling pantas untuknya, dan dia adalah yang terbaik untukku.”
__ADS_1
Intani tertawa kecil seolah-olah Elliyat ada di sana bersamanya dan ikut tertawa. Sementara angin memainkan beberapa helai rambut ke wajahnya. Dia memakai pakaian sederhana yang dia pakai saat baru keluar dari penjara.
“Bu, Aku akan pergi hari ini ... maafkan aku tidak bisa meneruskan apa yang kau inginkan, karena sepertinya bukan hanya putramu yang menginginkan aku menjauh. Tapi izinkan aku menengokmu kapan-kapan ya ... boleh, kan, kalau aku menengokmu suatu hari nanti? Bu, aku pasti merindukanmu!”
Setelah berkata demikian, gadis itu memeluk lututnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya, hingga bahunya terguncang keras.
Ini rasa perih yang lain, bahkan, lebih perih dari saat dia ditinggalkan ibunya di tepi danau. Lebih menyakitkan dari saat dia tengah di ruda paksa oleh seorang pria, yang tidak dikenal atau saat mendengar Luxor berulang kali berkata jika ibunya telah menjualnya.
Setelah puas menangis, Lintani bangkit dan berjalan meninggalkan makam setelah membersihkan bagian belakang tubuhnya dari tanah.
Dia tidak langsung mencari taxi untuk ke halte bis melainkan, berjalan kaki sambil menyelipkan kedua tangannya di saku celana. Dia menikmati suasana yang hampir senja, lalu, memutuskan menginap di motel yang murah, untuk menunggu esok hari tiba.
Dia merasa bebas karena tidak ada lagi pengawalan ketat pada dirinya, setelah kematian Elliyat hari itu. Dia mengerti dan semua pengawal pun tahu bahwa, setelah kematian ibunya maka, perjanjian antara dirinya dan Askelan berakhir.
Dia tidak berhak mendapatkan keistimewaan seperti itu karena dia bukan orang yang harus dikhawatirkan lagi oleh Askelan.
__ADS_1
Namun, ada seseorang yang diam-diam memperhatikan tingkah Lintani sejak di makam tadi.
Bersambung