
Lakukan Dengan Baik
Lintani menempelkan telinga ke dada Askelan dan mendengarkan detak jantung yang tidak beraturan saat menggendong dirinya. Tangannya mengusap lembut dada suaminya yang bidang, lalu, mendongak sambil berkata, “Apa kau kuatir padaku?”
“Tentu!”
“Kau tidak bertanya mengapa aku tidak membunuhnya?”
Askelan membawa tubuh istrinya dengan tenang seolah tidak keberatan sama sekali, dia menggelengkan kepala, menanggapi pertanyaan Lintani.
“Tidak perlu, aku yakin kau punya alasan sendiri ... tapi, aku sebenarnya penasaran juga!”
“Aku biarkan dia hidup dengan rasa bersalahnya seumur hidup, sepertinya justru itu hukuman yang paling tepat, dari pada melenyapkannya sekarang dan dia bisa bertemu Ibuku!”
“Kau Tuan Putri yang sangat pintar, aku tidak salah mencintaimu!”
Lintani mencubit dada Askelan karena gemas, tapi, pria itu hanya sedikit mengerutkan kening seolah tidak merasakan sakit. Dia kembali mencubitnya hingga mereka sampai di kamar.
Demi melihat reaksi Askelan, yang biasa saja, Lintani pun bertanya, “Apa tidak sakit?”
Askelan merebahkan tubuh istrinya secara perlahan di tempat tidur, lalu mengurungnya dengan kedua tangan dan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya.
“Kau ingin aku kesakitan? Ah! Sakit ....!” Askelan berteriak sambil menjatuhkan diri di samping Lintani dan memegangi dadanya, di mana wanita itu tadi, mencubit.
Lintani tertawa kecil, “Bercandamu tidak lucu, Elan!”
__ADS_1
“Tidak masalah ... kau boleh mencubit dan melakukan apa pun pada tubuhku—aku bisa menahannya—selama kau menyukainya!”
“Benarkah?”
“Ya!”
Tanpa permisi, Lintani bangkit dan duduk di atas perut Askelan, mengusap pundak dan leher, lalu menggigit di bagian itu cukup keras. Lagi-lagi Askelan diam dan tersenyum, membuat Lintani kembali menggigit di bagian lain.
“Apa kau membenciku? Sampai tidak puas mencubit dan menggigit? Huh!”
“Kau bilang bisa menahannya selama aku suka, kan?”
Askelan mengangguk dia menarik Lintani hingga tertidur di atas tubuhnya lalu, memeluknya erat.
“Tidurlah ... Besok kita berangkat ....”
“Apa yang akan kau lakukan jika ternyata suatu hari nanti aku terpaksa menyakitimu?” Tiba-tiba Askelan bertanya.
Lintani mengangkat kepala, mencoba melihat wajah Askelan sambil berkata, “Entahlah, mungkin aku akan membunuhmu.”
“Baiklah, lakukan itu dengan baik dan jangan ragu, sebab bisa saja aku yang akan berbalik membunuh diriku sendiri!”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Karena duniaku penuh dengan tipu daya, intrik dan muslihat demi membuat lawan tak berkutik.”
__ADS_1
“Ya! Aku mengerti soal itu. Tapi, aku tidak suka seorang pembohong!” kata Lintani, sambil meletakkan kepalanya di dada Askelan lagi.
“Aku tahu ...” kata Askelan, sambil mencium ubun-ubun dan menghela napas panjang. Lalu, mengusap kepala Lintani dengan lembut sampai gadis itu tertidur.
Setelah cukup lama dan memastikan Lintani tertidur dengan nyenyak, Askelan memindahkan wanita itu di sampingnya dengan cara menggeser tubuhnya sendiri, menyelimutinya, dan meninggalkannya sendirian di kamar setelah mematikan lampu.
Dia menemui anak buahnya di teras belakang yang masih disibukkan dengan mengeluarkan peluru dari tangan dan kaki Pinot. Setelah selesai, Askelan kembali duduk di kursi lipatnya, menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada. Mereka membiarkan laki-laki itu bebas karena dalam kondisi seperti itu, dia tidak mungkin bisa kabur.
“Jadi, kau mengetahui semuanya tentang bukit Cemiton Shaw dan juga istriku?”
Pinot meringis menahan sakit, karena mereka melakukannya tanpa anastesi. Dia menatap Askelan ketakutan, lalu mengangguk.
Askelan memainkan sebilah pisau ditangannya, dan tampak sangat tajam.
“Apa kira-kira yang bisa membuatmu menahan untuk tidak bicara pada siap pun soal istriku, harta dan stempel itu, apa aku harus memotong lidahmu?”
Mendengar ucapan Askelan, seketika Pinot pun duduk, mengabaikan rasa sakit pada kaki dan tangannya. Dia yakin, jika Askelan akan memotong lidahnya tanpa anastesi lagi. Ini akan sangat menyakitkan, bukan?
Namun, mengapa dia tidak ingin ada orang yang tahu soal harta itu, apa dia memang tidak menginginkannya, atau dia terlalu menyayangi anak Viana hingga tidak ingin gadis itu terluka? Pikirnya.
“Tuan! Anda bisa memegang sumpahku, aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun, kalau bisa aku lupa ingatan saja!”
“Cih!” Askelan meludah, “Kau pandai bicara! Aku akan memegang janjimu, tapi ingat ... selama hidup, kau harus bekerja padaku tanpa mendapat bayaran apa pun, aku masih mengampunimu karena kau sudah membantu Ibu istriku hingga dia selamat, sampai sekarang.”
Bersambung
__ADS_1
❤️ Terima kasih atas dukungannya, tanpa dukungan kalian aku bukan apa-apa 👍🙏❤️
Bersambung