
Merasakan Hal Yang Sama
Lintani merasa bosan karena sudah terlalu lama berada di mobil hanya seorang diri saja. Dia menyusul ke dalam ingin melihat apa yang terjadi dengan Haifa, karena semua orang yang masuk tadi, tidak ada satu pun yang keluar untuk memberinya kabar. Dia bertekad mencari informasi sendiri setelah menguatkan hati.
Gadis itu menuju meja informasi untuk mencari tahu di kamar mana Haifa berada, dan setelah mendapatnya, dia pun melangkah ke sana.
Setibanya di depan pintu yang setengah terbuka, dia mendengar suara seorang wanita menangis, membuat langkahnya terhenti seketika. Dia baru saja hendak masuk, saat mendengar wanita dalam kamar itu meratapi kepergian anaknya.
“Askel Sayang, kau harus berbuat sesuatu, Lin sudah membunuh anakku! Dia yang tadi mendorongku, dan sekarang ... uuh!” Suara Haifa begitu nyaring terdengar di ruangan itu, menarik perhatian beberapa orang.
“Jadi, dia kehilangan bayinya? Ah yang bener saja! Kau akhirnya merasakan seperti yang aku rasakan juga,” batin Lintani sambil menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding.
“Bayiku! Askel Sayang, aku kehilangan bayiku ... dia belum melihat aku dan dunianya, tapi dia sudah pergi mendahului kita, Sayang ... apa kau tidak sedih?” kata Haifa lagi dengan suara yang menyayat pilu.
“Ya! Aku sedih ....” kata Askelan terdengar suaranya rendah dan tertahan. “Istirahatlah, aku akan di sini, menemanimu!”
Askelan terlihat mengepalkan tangannya dan rahang di wajahnya pun mengeras, gurat kekecewaan terpancar jelas, lewat sorot matanya.
“Askel Sayang, berjanjilah kau akan selalu ada di sampingku apa pun yang terjadi,” kata Haifa lagi.
Sejenak suasana hening, Lintani yang ada di luar pun ingin mendengar jawaban pria itu.
“Ya, dan sekarang tidurlah! Kau membutuhkan istirahat!” kata Askelan pada akhirnya.
Setelah melewati waktu yang cukup lama dan Haifa sudah tertidur, Lintani memberanikan diri berjalan ke depan pintu, melihat ke arah wanita yang terlihat lemah itu sedang tertidur, di balik selimut rumah sakit yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dia tahu seperti apa rasanya kehilangan buah hati, terlepas dari anak siapa yang ada di dalam perut Haifa, tetap saja dia telah kehilangan bayinya. Lintani menjadi kasihan, dan merasa bersalah sebab dia tidak menduga, kalau gerakannya yang tidak terlalu kuat itu, bisa membuat Haifa keguguran.
“Bagaimana bisa?” gumam Lintani, sambil melihat telapak tangannya sendiri. Apakah karena kejadian delapan tahun yang lalu, membuatnya benar-benar menjadi seorang pembunuh.
Lintani tidak tega melihat Haifa, yang pasti sedih kehilangan bayinya. Meskipun wanita itu selama ini begitu licik padanya, tapi perasaannya sebagai sesama perempuan tidak bisa memungkiri. Tiba-tiba Lintani berbalik ke belakang pintu, sebelum Askelan menyadari kehadirannya, karena tangisnya hampir saja pecah di sana.
Lalu, dia berjalan kembali ke mobil dengan langkah gontai. Namun, sampai di lobi rumah sakit, dia bertemu dengan Jordan yang datang entah dari mana sambil membawa minuman bersoda dalam kaleng.
“Nona, kau dari mana saja? Aku mencarimu!” kata Jordan sambil mengulurkan Setu buah minuman segar itu
Lintani menerima, membuka dan meminumnya beberapa teguk. Lalu, dia berkata.
__ADS_1
“Tidak usah mencariku, aku mau pulang sekarang, aku tidak akan mengganggu kalian! Oh ya, kalau Tuan Askel mau menuntutku ke pengadilan, dia bisa mencariku di rumah!”
“Apa yang Nona bicarakan? Siapa memangnya yang akan menuntut?” Jordan tertawa kecil.
“Ya, mungkin saja Tuan Askelan Harrad akan menuntut balas atas kematian anaknya!”
“Sudah-sudah, Anda tidak perlu kuatir soal itu, ayo! Aku antar Nona pulang!”
Lintani mengikuti langkah kaki Jordan sambil menenggak minumannya dan berkata, “Oh ya! Untuk apa kau mencariku, Jode?”
“Untuk mengantarkan Nona pulang agar bisa istirahat!”
“Apa Tuan Askel yang menyuruhmu?”
“Ya! Siapa lagi?”
Mereka berjalan hingga tiba di halaman parkir, tapi, belum sampai di mobil, Lintani sudah diteriaki seseorang dengan panik, sambil berlari ke arahnya.
Wanita itu terlihat marah, dia datang seorang diri ke rumah sakit, karena Lux sedang bekerja. Haifa yang sudah menghubunginya, hingga dia tahu kalau anak perempuannya mengalami keguguran. Dia tidak menduga hal itu akan terjadi, mengingat kehamilan Haifa adalah satu-satunya cara agar Askelan tetap terikat.
“Lin! Dasar pembunuh kau ya!” Itu suara Rauja yang berteriak sambil menarik rambut di kepala Lintani hingga sanggul rambut itu terlepas begitu saja.
“Kau pikir aku percaya, hah?” kata Rauja sambil kembali menarik rambut Lintani yang sudah terburai.
“Terserah Bibi akan percaya atau tidak!”
“Kau harus mengaku di pengadilan, kau apakan anakku? Hah!” Katanya lagi sambil melayangkan tamparan, tapi, secepat kilat Jordan memegangi tangan Rauja.
“Cukup, Nyonya! Nona kami tidak melakukan apa pun pada Haifa, tanyakan saja pada putri Anda sendiri, apa yang sudah dia lakukan, hingga begitu saja mengaku kehilangan bayinya?”
“Apa maksudmu?” kata Rauja, sambil mendengus kasar dan membuang muka.
“Aku pikir kau pasti tahu maksudku! Apa perlu aku mengatakannya pada semua orang agar kalian lebih terkenal?” Jordan menjawab Rauja dengan ucapan yang terdengar kasar, karena wanita itu pun tidak lagi menghargainya. Rauja marah karena tertutup emosi pada Lintani.
Rauja kembali menghadap pada Lintani dan menunjuk tepat di wajahnya.
“Awas kau, ya! Kalau nanti Haifa gagal menikah dengan Tuan Askel, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!” katanya lagi, sambil berbalik badan dan memasuki rumah sakit.
__ADS_1
“Hai Bibi! Kenapa aku yang kau salahkan, dan akan kau bunuh?” teriak Lintani, tapi, sekeras apa pun dia berteriak, Rauja tidak akan memedulikannya.
“Sudahlah, Nona ...silakan masuk!”
Lintani duduk di kursi belakang dan Jordan yang kini sedang mengemudikan mobilnya, menuju ke villa keluarga, yang dulu ditempati oleh Yardo Harrad. Mereka saling diam untuk sesaat sebelum akhirnya Lintani membuka suara.
“Apa maksud dari ucapanmu tadi, Jode?”
“Ucapan saya yang mana, Nona?”
“Soal aku tidak melakukan apa pun pada Haifa.”
“Ya! Saya sedang merekam video saat itu, jadi ... saya hanya tahu Nona tidak bersalah!”
“Terima kasih!”
“Tidak masalah, Nona.”
Lintani senang ada orang yang membela bahwa dirinya tidak bersalah. Dia yakin Jordan pun sudah mengatakan kebenaran itu pada Askelan, hingga pria itu tidak akan menyalahkan dirinya atas kehilangan bayinya. Apalagi Elliyat sudah tiada, hingga tidak harus kecewa, karena kepergian calon cucunya bahkan sebelum sempat melihat dunia.
Jordan sengaja menghentikan mobil sampai di depan teras, setelah sampai di kediaman tuannya agar Lintani bisa memasuki rumah lebih cepat. Perempuan itu turun sendiri tanpa menunggu Jordan membukakan pintu, sambil memegangi kepalanya.
“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Jordan yang tahu-tahu sudah berada di belakang Lintani.
“Hanya sedikit pusing,” jawabnya sambil melangkah gontai, tiba-tiba kakinya lemas hingga hampir roboh. Jordan yang masih ada di dekatnya, dengan sigap memapahnya. Membuka pintu dan masuk sambil memanggil Mo dengan suara keras.
Jordan meminta Mo untuk membantu Lintani ke kamar, sementara dia sendiri menelepon dokter keluarga yang biasa menangani mereka.
“Ini sudah terlalu malam, kau seharusnya tidak mengikuti mereka pulang selarut ini.” Mo berkata sambil membantu Lintani merebahkan diri di kamar yang tadi dia gunakan bersama sang suami. Walaupun, dia heran karena Lintani tidak pulang bersama Askelan, dia tidak berani menanyakannya.
“Bibi, ini belum tengah malam.”
“Tidurlah, aku akan membuatkan jahe untukmu.”
Mo membuat minuman hangat, lalu dia membawanya ke kamar, dia mendekatkan minuman itu pada Lintani, tapi, setelah mencium aromanya, gadis itu justru mual. Dia dengan cepat berlari ke kamar mandi dan menumpahkan semua yang dia makan tadi.
“Nona ... Aah! Sepertinya aku harus menghubungi Tuan!”
__ADS_1
Bersambung
❤️JANGAN LUPA LIKE🙏❤️