Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 114. Adu Kekuatan 1


__ADS_3

Adu Kekuatan 1


 


“Jangan bilang kalau kau tidak tahu betapa berharganya istrimu, itu?” Marka balik bertanya.


“Ya istriku memang berharga, dan apa yang akan kau lakukan padanya? Hah!”


Marka duduk sambil menumpangkan kaki menatap Askelan dengan tajam dan memainkan sebuah pistol di tangannya, menunjukkan jika dia bisa menembak semua orang yang ada di hadapannya, kapan pun dia mau atau bila terjadi kesalahan.


“Apa kau mencintai istrimu karena bukit emas itu?”


“Tidak! Aku mencintainya bukan karena emas, aku tidak peduli soal bukit itu atau apa pun tentang masa lalunya! Kita tidak sama ... Sebab kau akan mencintai wanita, karena harta yang dimilikinya, bukankah begitu, Mari? Orang sepertimu tidak pantas memiliki wanita seperti istriku!”


Marka tidak merasa perlu menjawab pertanyaan Askelan sebab apabila Lintani ada di tangannya, itu terserah dia, akan berbuat apa saja pada Lintani. Dia justru menyeringai sambil memalingkan muka, menatap ke area sekitar danau yang tampak lengang dan mulai sedikit panas. Awan sepertinya sudah tersibak oleh angin, menghembuskan aroma mesiu yang masih tercium.


“Kalau saja kau tidak membuat gara-gara denganku, mungkin aku akan tetap mencintaimu!” katanya, penuh penyesalan sebab dia memang hendak melepaskan Lintani, untuk Askelan, asalkan anak muda itu tidak membuatnya kesal.


“Aku tidak butuh cinta dari laki-laki sepertimu!” Askelan berkata bukan tanpa alasan, sebab ibunya memilih untuk meninggalkan Marka, karena pria dengan watak keras itu tidak bisa dijadikan panutan yang bisa dicontohkannya.


“Haha!” Marka tertawa, lalu kembali berkata, “Apa kau pikir dirimu berharga? Aku pun tidak ingin dicintai seorang anak sepertimu! Perempuan itu juga tidak berharga walaupun, kau menyerahkannya, aku tetap akan membunuhnya!”


“Kau!” Askelan berkata dengan gram dia berusaha berdiri dengan tangan yang sudah terkepal siap untuk menjatuhkan pukulan, tapi ketiga anak buah Marka yang berdiri dengan waspada, langsung menahan pundaknya, agar tetap duduk dengan menggunakan senjata laras panjang.


Marka lalai, dia tidak mengikat tangan para sandera, membuat Jordan tersenyum saat menunduk. Rencana mereka akan lebih mudah berhasil dengan cara seperti ini, apalagi kekuatan lawan terpecah, hingga semua pasukan Askelan bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, secara diam-diam.


“Kau pikir apa yang memang sebaiknya aku lakukan? Aku tidak mencintainya! Tidak ada yang harus aku buktikan untuk memiliki bukit Shaw, tanpa harus dicintai wanita seperti itu!” kata Marka lagi.


Mendengar ucapan Marka, Askelan mengerutkan kening, dia tidak tahu maksud pembuktian cinta seperti apa yang dikatakan oleh Marka, jika ingin memiliki tanah di bukit itu. Namun, dia juga merasa tidak perlu bertanya tentang apa pun padanya.

__ADS_1


Marka tidak berdaya walaupun, berhasil mendapatkan Lintani, tapi tidak mencintainya. Seandainya dia bisa berpura-pura pun, tetap saja percuma, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai bukti cinta, dan tidak mungkin juga menipu Aston, pria tua itu tetaplah pamannya.


“Geledah tempat ini!” Pinta Marka tanpa merubah posisi duduk dan ekspresi wajahnya semakin menunjukkan kebencian, pada sepuluh orang yang ada di hadapannya.


Semua pengawal yang ada di sekitar markas, bersenjata lengkap terdiri dari pria kekar, berwajah sangar dan berbadan tegap.


Hanya sepuluh orang dari mereka yang bergerak memeriksa dua kapal lainnya, sedangkan sebagian lagi tetap berada di sekitar Marka. Mereka merasa aman karena tidak ada pasukan lainnya pada semua kapal yang ada, sehingga terlihat kewaspadaan mereka sedikit mengendur.


“Kau sudah sangat hebat sekarang, ya? Apa kau pikir, bisa menyaingiku?” kata Marka. Dia sepertinya tidak puas untuk meremehkan Askelan, “Aku heran, bagaimana keturunan pria lemah seperti dirimu bisa memiliki semuanya, ini kapal yang bagus!”


“Aku memiliki semuanya dengan cara yang baik, tidak seperti politikus kotor sepertimu!” bentak Askelan.


“Haha!” Marka kembali tertawa mendengar dirinya disebut politikus kotor oleh Askelan, “Kalau aku politikus kotor, lalu akan kau sebut apa seorang laki-laki, yang tega membuat keturunannya menderita dan di tato dengan cara yang sadis, termasuk pada istrimu itu? Hah! Dia lebih kejam dariku, tahu?”


Askelan membuang muka ke arah yang lain, tidak Sudi menatap wajah pria arogan di hadapannya.


“Aku tidak akan mati dengan mudah ... Tidak seperti yang kau pikir! Demi Ibuku, kau sungguh akan mati ditangan ku!”


Marka mengangkat bokongnya dari kursi, membungkuk mendekati Askelan dan berkata, “Kau sudah terkepung seperti ini dan masih bilang tidak akan mati dengan mudah? Kau harus merasakan kemarahanku karena telah menghancurkan markasku!”


“Markas itu memang harus hancur!” sahut Askelan, lalu meludah.


“Ah, tidak masalah, kalau aku mendapatkan bukit Shaw, aku bisa membangun kembali markas seperti itu seratus kali lebih besar!” Marka kembali menegakkan punggungnya.


 Setelah beberapa menit dari kepergian anak buah Marka.


“Bos, kau harus melakukan sendiri pekerjaanmu di dalam, mulai dari sekarang!” kata sebuah suara dari balik ear piecenya.


Namun sayang, ucapan itu tidak bisa terdengar di telinga Askelan dan semua anak buah yang lain karena saat penggeledahan tadi, alat canggih itu pun di sita dan hancurkan dengan sekali injakan oleh pada anak buah Marka. Padahal, ucapan ini menandakan jika keadaan di luar sudah bisa mereka lumpuhkan.

__ADS_1


Pasukan Marka yang berada di luar kapal dan di sekitar kendaraan, mereka tengah bersenang-senang dan bersantai dengan menenggak minuman keras yang mereka bawa, tanpa mengetahui bahaya yang mengancam di atas kepala.


Di antara beberapa pohon besar di sekitar pinggir danau, ada beberapa manusia yang bertengger seperti burung. Mereka memakai pakaian seperti rerumputan. Dengan menggunakan senjata panah yang tidak mengeluarkan suara, mereka berhasil mengatasi keadaan. Mereka melemparkan besi tajam yang runcing itu secara diam-diam dari sana, hingga semua orang yang ada di bawah termasuk mereka yang menjaga bom, bisa mereka lumpuhkan dengan mudah.


Saat anak-anak panah itu melesat dari busurnya, dan menancap di dada semua musuh, terdengar teriakan yang sangat keras, tetapi, baik Marka maupun pasukan yang ada di dalam kapal, tidak tahu, karena jarak mereka terlalu jauh untuk mendengar teriakan kesakitan itu.


Setelah semua orang yang ada di bawah dipastikan tewas barulah mereka turun dari atas pohon dan melepaskan atribut penyamaran, lalu, mereka menikmati makanan dan minuman yang dibawa oleh pasukan Marka. Hanya itu tugas mereka.


Setelah memastikan semua musuh di darat tewas, sang pimpinan pasukan pohon pun memberi kabar kepada Askelan yang menunjukkan bahwa tugas mereka sudah selesai. Namun, karena tidak juga mendengar balasan, beberapa detik kemudian dia sadar jika mungkin alat komunikasi mereka terputus. Dan, artinya, dia harus memberikan sinyal yang lain, sebagai upaya gerakan selanjutnya bisa di lakukan.


“Sst! Ayo!” kata ketua kompi, sambil melambaikan tangan pada anggotanya yang semuanya membawa busur otomatis, untuk mengikuti.


Saat tiba di dekat speed boat itu, ketua kelompok panahan pun bersiul cukup keras dengan suara yang mirip burung. Seandainya ada yang curiga, itu adalah dari posisinya. Mana ada burung dengan suara merdu dan bagus terbang serendah itu.


Biasanya semua burung yang menjadi incaran banyak orang karena kebagusan suaranya, adalah burung yang selalu berada di puncak pepohonan, yang sulit dijangkau manusia.


Mendengar suara itu, Askelan memberi isyarat dengan tangan di atas kepalanya, hingga teman-teman yang di sekitarnya bisa melihat isyarat, tentang apa saja yang harus mereka lakukan. Dan itu di mulai dari gerakannya.


Di hadapan Askelan, hanya ada Marka yang duduk sambil memegang senjata, dua pria di sisi kiri kanannya. Tiga orang di dekat pintu sedang merokok, tiga lagi mondar-mandir dan seorang lagi ada di belakang mereka.


Semua gerakan untuk melumpuhkan lawan, harus dilakukan secara bersamaan sebab kalau tidak ... bisa memungkinkan lawan, menghunuskan senjata dan menembak mereka semua. Melihat jumlah orang yang ada, itu artinya mereka harus bertanding satu lawan satu, sebelum teman-teman yang lain dari pihak pemanah turun membantu. Atau beberapa penyelam yang bersembunyi, naik kembali ke kapal.


Tiba-tiba Askelan maju lalu ...


Brakk!


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2