
Menjadi Saudaramu
Saat melihat itu, Aston meminta seorang pelayan yang sedari tadi hanya diam menunduk, untuk memeriksa keaslian tato. Ternyata dia bukan pelayan, melainkan seorang ahli forensik yang sengaja di bayar untuk datang.
Setelah beberapa lama melakukan pemeriksaan, perempuan itu berkata, “Tanda ini asli, tuan. Bahkan ini sudah ada sejak dia masih kecil. Beberapa tanda luka yang berbekas cukup lama sampai bertahun-tahun memiliki ciri khusus yang sangat jelas.”
“Kau bisa memperkirakan sejak usia berapa tahun dia mendapatkannya?” Askelan bertanya dengan geram. Walaupun dia menilai tato itu bagus, tapi, mengingat bagaimana cara Lintani kecil mendapatkan lukanya, membuatnya semakin kasihan saja.
“Maaf, saya tidak bisa, karena saya tidak membawa alatnya. Saya hanya di minta memastikan keaslian sebuah tanda. Itu saja. Saya permisi!”
Setelah tugasnya selesai, maka dia merasa tidak perlu lagi berada di tempat itu hingga keluar dari rumah, seperti pelayan yang tadi diminta untuk melukai Askelan. Kedua orang itu tidak memiliki kepentingan lagi sesudahnya.
Yasmin tertegun dan dia merasa terpukul dengan kenyataan yang ada. Dia tidak tahu sekarang harus bagaimana. Apakah dia harus menyerah atau melawan kakeknya. Mengingat bukti itu nyata dan tidak terbantahkan.
“Jadi, ini tujuanmu kemari? Kau sengaja datang untuk menunjukkan semua bukti, setelah aku mengumumkan secara resmi tentang kepemilikan Bukit Shaw, di hadapan dunia dan kau akan menghancurkannya, begitu?” kata Yasmin dia mencoba membela diri.
“Sudah aku katakan aku yang mengundangnya ke sini!” Aston membela Lintani.
“Yasmin, tidak bisakah kita berteman? Pada kenyataannya kita adalah saudara, bukan? Lupakan masa lalu kita yang buruk, aku sama sekali tidak merebut Askelan dari siapa pun.” Lintani akhirnya bersuara.
“Siapa yang menginginkan Askelan! Dasar bodoh, aku tidak menginginkan dia tapi, dialah yang menginginkan aku!” Tandas Yasmin.
Lintani memalingkan muka sambil tersenyum, orang yang membenci mungkin selamanya akan membenci kecuali langit sudah runtuh. Maka semua orang akan melupakan kebenciannya dan, berubah menjadi ketakutan akan keselamatan dirinya sendiri.
Percakapan kini terjadi antara Yasmin dan Lintani.
“Ya! Maaf kalau aku salah, aku hanya ingin berhubungan dengan baik, setelah tahu kalau kita saudara!”
“Selamanya kita tidak akan pernah jadi saudara, apa kau tahu itu?”
“Walaupun, kau tidak menganggapku saudara, tapi kenyataannya kita punya satu buyut yang sama, kan?”
__ADS_1
“Kau naif sekali!”
“Yasmin!” kata Aston.
“Sudahlah, Sayang!” ujar Askelan.
“Apa semua karena Bukit Shaw, hingga kau tidak mau menganggapku saudaramu, kau takut aku merebutnya?” Lintani terlihat sangat kecewa.
Semula Lintani begitu gembira menyadari bahwa, dia masih memiliki saudara lainnya dan, berharap bila Yasmin tidak sama seperti Haifa atau keluarga Lux.
Namun, sekali lagi dia harus menghadapi kenyataan yang berbeda, mengingat semua saudara baiknya telah tiada dan, ia hanya bisa menghela napas dalam dalam.
Semua karena harta dan kepentingan pribadi, hingga beberapa orang seenaknya saja menentukan siapa yang berhak menjadi lawan ataupun kawan. Menilai orang lain hanya berdasarkan kekayaan dan materi. Tidak ada artinya bila kebaikan atau pertolongan yang bersifat jasa.
“Ah, aku tidak berpikir sampai sejauh itu, naif!” Yasmin berbohong, sedangkan hatinya mengatakan sebaliknya.
“Yasmin ... Semula aku senang saat mengetahui bahwa, kau adalah saudaraku tetapi, seandainya kau menilaiku akan merebut apa yang sudah kau miliki, maka kau salah ... dan kalau kau tidak mau menjadi saudara, tidak apa-apa ... tapi, aku tetap menganggap Tuan Shaw adalah Kakekku!”
Air mata lintani seketika menetes lagi padahal, baru saja pipinya itu kering. Dia menoleh pada Askelan lalu, meraih tangan dan menciumnya.
“Elan ... kalau kau menilaiku sama seperti apa yang dikatakan Yasmin padaku, maka kau boleh menceraikan aku kapan pun kau mau, bolehkah aku mengakui satu hal padamu?”
Askelan kemudian mengangguk dan Lintani berbisik kepadanya dengan malu-malu.
“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kau memegang tanganku di restoran waktu itu! Apalagi saat Bibi Elle memperkenalkan kita, kau sangat tampan waktu itu! Bahkan aku tidak mengenal siapa dirimu.”
Ini adalah sebuah pengakuan cinta, bukan?
Mendengar ucapan Lintani di telinganya, Askelan menyeringai, dia memiliki sebuah misi di hatinya dan akan dia lancarkan ketika nanti, berada di kamar mereka.
“Ayo! Kita pulang sekarang, untuk apa memperdebatkan sesuatu yang tidak penting!” Askelan berkata sambil meraih pundak Lintani, lalu, menoleh pada Yasmin.
__ADS_1
“Dari sejauh pembicaraan kalian, aku bisa menyimpulkan siapa yang sebenarnya menginginkan harta itu, apa kau pikir aku tidak tahu tentang keadaan perusahaan kalian sebenarnya? Aku tahu, kau menjebak semua infestor untuk berlomba-lomba memberikan investasi di sana. Aku tidak bodoh ... dan aku tidak setengah-setengah memberikan investasi itu karena ada sebagian hak istriku di sana.”
Askelan menoleh lagi pada Aston dan berkata, “Tuan Aston, kau seorang pengusaha yang sudah lama malang melintang dalam dunia bisnis, tentu kau tahu apa yang harus kau lakukan ... dan kau tidak akan melanggar janji yang sudah kau sepakati dengan adikmu sendiri. Dia sudah berkorban banyak agar tidak terjadi pertumbuhan darah karena emas ini. Baiklah ... aku akan memberikan file ke surelmu, tentang bagaimana keluarga istriku tiada di pulau itu!”
Lalu, Askelan menoleh pada Yasmin, dan berkata, “Aku juga akan mengirimkan file-nya padamu! Kalau kau sudah membacanya maka kau tidak akan lagi diam seperti ini!”
“Kakek, aku pulang dulu, sungguh aku datang hanya untuk memenuhi undanganmu ... sama sekali aku tidak memiliki niat untuk merebut Bukit saw dari tanganmu, bahkan aku tidak mengetahui apa-apa sebelumnya. Biar bagaimanapun tempat itu akan berguna untuk semua orang, bukan? Itu sudah cukup bagiku!”
Lintani menjeda ucapannya.
“Kakek ... Aku tidak ingin terjadi pertumbuhan darah lagi hanya karena Bukit itu. Jadi, biarkan Yasmin mengelolanya dengan baik ... sudah cukup, semua keluargaku pergi hanya untuk mempertahankannya!”
Aston tidak berdaya karena dia sudah memberikan sertifikat tanah itu seluruhnya kepada Yasmin, kalaupun dia harus membaginya sesuai perjanjian semula, maka, sertifikat itu harus dikembalikan kepada Lintani. Tiba-tiba air mata Aston menetes.
“Bolehkah aku memelukmu sekali lagi, Nak?”
“Tentu!” Lintani melepaskan rengkuhan dengan Askelan di pundaknya, kemudian menghamburkan diri untuk memeluk Aston.
Dia berkata, “Kakek harus menjaga kesehatan, agar aku bisa sering bertemu denganmu, oke?”
“Aku tidak tahu ... sampai kapan aku bertahan untuk hidup!”
“Kakek akan panjang umur dan kita bisa sering ketemu walaupun, hanya di rumah sakit ... kau bisa memanggilku kapan saja, karena aku tidak mempunyai kesibukan selain mengurus suamiku!”
“Aku tidak perlu kau urus, aku sudah bisa mengurus diriku sendiri!” sahut Askelan kesal karena dirinya dijadikan alasan.
“Apa Kakek dengar itu? Nah, artinya aku bisa bersamamu sepanjang hari!”
Mendengar apa yang diucapkan Lintani, sudut bibir Askelan berkedut seolah dia ingin mengumpat, tapi, dia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Dia jadi serba salah.
Bersambung
__ADS_1
🙏👍❤️❤️❤️🥰❤️❤️🙏