
Paman Dex
Wanita itu melayang tangannya ke udara membuat gerakan hendak menampar wajah Lintani, tapi, kemudian bertahan di udara karena sebuah tangan kekar menahannya.
Seketika Lintani dan wanita yang tidak dikenalnya itu, menoleh kepada si pemilik tangan. Lintani diam tanpa ekspresi karena dia tidak mengenal laki-laki itu, sementara wanita yang hendak menampar, justru terkejut. Dia segera menurunkan tangannya dan kemudian membungkuk hormat padanya.
“Tuan Dex, maaf ... Apa Anda juga mengenalnya?” katanya wanita itu sambil menunjuk Lintani.
Dex, laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menggerakkan dagunya memberikan isyarat pada wanita itu, untuk segera pergi.
“Pergilah Ini bukan urusanmu lagi!”
“Baiklah!”
Wanita pergi dengan sesekali masih menengok ke belakang melihat ke arah Lintani, yang kini didekati oleh teks dengan senyum yang cukup menggoda.
Sebaliknya Lintani merasa tidak punya urusan dengan laki-laki itu walaupun, dia sangat berterima kasih kepadanya karena membatalkan tamparan tangan, dari wanita yang tidak dikenalnya. Namun, dia merasa tidak meminta pertolongan pada siapa pun hingga dia hendak berlalu begitu saja.
“Tunggu!” kata Dex pada Lintani yang seketika menoleh, wajahnya masih saja tidak menunjukkan ekspresi berarti.
“Bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku?” kata Dex sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Oh, baik. Terima kasih Tuan siapa pun Anda, sudah membantu saya!” kata Lintani datar dia sama sekali tidak ingin memperpanjang urusan dan, setelah berkata dia pun kembali berlalu.
Dek seorang pria dewasa yang serius dan hati-hati, dia juga cukup tahu siapa Lintani bagi Askelan, yang hanya seorang wanita bayaran agar bersedia dinikahi demi ibunya, sebelum wanita itu wafat.
Dia tidak terburu-buru untuk mendekati ataupun melakukan kekerasan pada Lintani karena dia pikir akan sangat bermanfaat di kemudian hari, apabila dia bisa menjalin sebuah hubungan baik dengannya. Bukankah wanita seperti ini adalah wanita miskin yang membutuhkan uang tapi, dia terlalu membanggakan harga diri hingga tidak mau menjadi seorang wanita malam. Pikirnya.
“Apa kau tidak mau mengenal siapa Aku? Aku tahu siapa dirimu dan hubunganmu dengan Askelan!” kata Dex setengah berteriak karena Lintani sudah beberapa langkah di hadapannya.
__ADS_1
Seketika gadis itu berbalik dan kembali mendekat kepada Dex. Dia berkata, “Apa memangnya yang Anda tahu?”
“Ayo! Aku akan mengantarmu!” kata Dex lagi sambil menarik tangan Lintani dan menuntunnya ke mobil, pria itu mendorong Lintani secara paksa, seorang sopir sudah membukakan pintu, untuk mereka berdua sehingga gadis itu terpaksa masuk, dia menurut karena tidak berdaya. Dia duduk di jok belakang bersama Dex di sampingnya.
Sopir itu membungkukkan badan sebelum menutup pintu lalu, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Aku Dex Paman Askelan, seharusnya kau tahu ... istriku adalah sepupu dari ayahnya Askelan. Aku juga Paman sepupu Petra, kamu juga mengenalnya bukan?”
“Ya. Kami berteman, maksudku ... aku dan Petra berteman!”
“Ya. Aku tahu kalian berteman tapi, bagaimana bisa engkau menikah secara paksa dengan Askelan?”
“Aku rasa itu bukan urusan Anda ... dari mana Anda tahu saya menikah secara paksa, saya menghormati Ibu Elle, jadi, saya bersedia dengan tulus karena beliau.”
“Sebenarnya pernikahanmu yang sembunyi-sembunyi itu, sudah menjadi rahasia umum di kalangan keluarga Harrad!”
“Ya makanya aku heran kenapa kau menyamar sebagai pelayan? aku pikir dia akan mengajakmu walaupun, dia mencintai Haifa. Bukankah seharusnya begitu?” ucapan Dex terdengar lembut di hati Lintani sehingga dia tersenyum tipis.
Kemudian pria itu berkata lagi, “Seharusnya begitu ... biar bagaimanapun juga, kamu adalah istrinya yang dinikahi secara sah, dia tidak boleh memperlakukan kamu seperti itu ... membiarkanmu memakai pakaian pelayan tapi menciumnya, apa-apaan itu? Bukankah dia pengecut?”
Sekali lagi Lintani menyetujui ucapan Dex dia akhirnya tersenyum lebar pada pria ini.
“Bolehkah aku memanggil Anda paman?”
“Tentu saja ... Kita saudara bukan? Aku juga pamanmu!” mereka berdua kemudian berjabat tangan secara hangat.
Dex berkata lagi sambil menyeringai segala rencana licik ada di dalam otaknya saat ini, “Aku tahu kamu butuh uang ... Bagaimana kalau kau menjadi simpananku, daripada kamu menjadi istri terpaksanya Askelan tapi dia tidak memberimu uang, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Jadi, kau tidak perlu bekerja di toko sayuran itu!”
Lintani tidak percaya, kalau Dex, salah satu keluarga Harrad mengetahui pekerjaannya, ini akan memalukan bagi mereka.
__ADS_1
Namun, dia juga heran, bagaimana mungkin seorang yang baru saja dianggapnya sebagai paman, tapi, di saat yang sama mengajaknya menjadi seorang istri simpanan.
Dia memang tampak begitu menyedihkan, menjadi seorang istri dari Askelan tetapi, hidup dalam kekurangan bahkan menjadi buruh pekerja kasar. Bahkan, bisa jadi hidupnya jauh lebih buruk dari pada menjadi seorang istri simpanan.
“Maaf Paman, saya tidak bisa ... tidak mungkin saya menjadi seorang istri simpanan dari Paman suami saya sendiri!”
“Kenapa tidak bisa?”
Lintani dalam kebingungan apakah dia harus jujur atau tidak jika saat ini, dia tinggal bersama Askelan sehingga tidak mungkin, untuk menjadi istri simpanan bagi seseorang. Apalagi dia harus merawat ibunya di pagi hari sebelum dia berangkat bekerja. Dia tidak akan bisa selalu berbohong pada wanita baik yang sangat dia cintai. Apalagi permintaan itu sangat merendahkan dirinya.
“Maaf, Paman, saya bukan wanita seperti yang Anda harapkan! Turunkan saya di sini, saja!” pinta Lintani berteriak kepada sopir yang ada di hadapannya.
“Apa kau tinggal di sekitar sini?”
“Ya!”
Sopir tidak akan berhenti kecuali atas perintah dari majikannya, yaitu Dex sehingga dia tetap melajukan mobil itu dalam kecepatan tinggi.
Namun, beberapa saat kemudian mobil itu berhenti secara mendadak. Lintani tidak memakai sabuk pengamannya hingga kepalanya terbentur kursi di depannya.
“Aw!” pekiknya sambil mengusap keningnya yang memar, sambil mendongak dan melihat ke sekeliling.
Ternyata, ada dua mobil lain yang mengapit mobil mereka, satu mobil di depan dalam posisi miring, persis melintang di depan mobil Dex. Pantas saja sopir mengerem dengan mendadak dan dalam. Sementara mobil lain ada di belakangnya seperti menjadi penghalang agar mobil Dex tidak bisa mundur.
Brak!
Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu tepat di samping Lintani.
Bersambung
__ADS_1