Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 52. Pergi Dari Kamarku


__ADS_3

Pergi Dari Kamarku


“Tidurlah Tuan Askel! Aku juga mau tidur!” Hanya itu yang akhirnya Lintani katakan pada Askelan sambil membuka pintu kamarnya sendiri.


Askelan menahan pintu kamar Lintani hanya dengan sebelah tangan saat gadis itu akan menutupnya. Lalu, dia mendorong dan masuk tanpa bisa dicegah karena tenaganya lebih kuat, apalagi rumah itu adalah miliknya.


Askelan memeluk Lintani secara tiba-tiba, setelah mendorong pintu dengan kakinya hingga tertutup. Namun, gadis itu menolak dengan cara menahan agar dada mereka tidak saling menempel.


“Ayo! Layani aku dan aku akan membayarmu, kau tidak perlu bekerja!” kata Askelan, sambil mengendurkan pelukan lalu, mencengkeram kedua tangan Lintani dalam satu kepalan.


“Lepaskan aku! Aku bukan wanita seperti itu, kalau kau merasa laki-laki terhormat, tidak seharusnya kau bersikap seperti ini! Kau bisa bicara baik-baik, kan?”


Maksud Lintani adalah bahwa mereka adalah suami istri dan tidak masalah jika melakukan hubungan badan, tapi, tentu dengan cara yang baik dan tidak mengatakan bahwa dirinya wanita murahan.


Askelan tertawa.


“Kau seperti perempuan terhormat saja!”


“Ya, aku memang bukan wanita murahan kalau bukan karenai ancaman untuk melayani orang yang hampir mati!”


Askelan diam dan melepaskan pelukannya, tapi, kemudian mencengkeram dagu dan mencium bibir Lintani dengan ciuman panas tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk menolak.


Lintani pasrah dan menerima ciuman itu tanpa membalas sedikit pun, sampai pria itu mengakhiri ciumannya. Setelah itu, bukannya pergi ke kamarnya sendiri, Askelan justru merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


“Pergi dari kamarku!” kata Lintani kasar, sambil menarik tangan Askelan.


“Ini kamarku, kenapa kau mengusirku?” Askelan melepaskan tangannya.


“Kalau kau tidur di sini, aku akan tidur di kamar sebelah!”


“Baiklah, aku akan ikut!”


“Kau?” kata Lintani kesal.


Akhirnya Lintani membiarkan pria itu sesuka hatinya, sedangkan dia sendiri melakukan kebiasaannya sebelum tidur, mengganti pakaian dan merawat kulit.


Askelan memperhatikan semua yang dilakukan wanita di hadapannya. Dia turun dari tempat tidur dan mengangkat tubuh gadis itu dengan cepat, tanpa permisi, seperti mengangkat benda yang ringan saja. Lalu, membaringkannya di ranjang, sedangkan dia sendiri ikut merebahkan diri di samping Lintani dan memeluknya dari belakang. Gadis itu sempat terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba, tapi dia tidak berdaya.


“Apa kau begitu mencintai rambutmu? Eum ...” kata Askelan, sambil menyusupkan wajahnya di sela-sela rambut Lintani yang terurai panjang.

__ADS_1


“Apa itu penting bagimu?” tanya Lintani sambil menolehkan kepalanya.


“Hmm .... Aku suka baunya, biarkan aku tidur malam ini, oke? Aku lelah ....”


“Memangnya apa yang kau kerjakan sampai kau lelah? Kau bisa tidur di kamarmu sendiri, kan?”


“Hmm .... aku hampir tidak pernah bisa tidur sejak malam itu ....” Lalu, terdengar tarikan napas yang sangat panjang setelah pria itu bicara.


Kata-kata Askelan membuat Lintani heran, karena tidak mengerti dengan maksudnya.


“Kalau begitu, potong saja rambutku dan bawa ke kamar untuk menemanimu tidur!”


Tidak ada jawaban. Hening.


“Tuan! Tuan! Potong saja rambutnya, dan bawa ke kamarmu kalau memang kau suka!” berkata sambil menggerakkan badan.


Tetap tidak ada jawaban hingga Lintani merasakan napas berat dan teratur, dari belakang kepalanya, seperti membelai rambutnya halus, menunjukkan jika orang di belakangnya sudah tidur.


“Tuan, kau bilang tidak bisa tidur sejak malam itu, malam yang mana maksudmu? Apa kau benar-benar lelah sampai secepat ini kau tertidur? Tuan, aku sangat menghawatirkan Bibi Elle. Aku menganggapnya sebagai ibuku sendiri dan aku tidak ingin uang kompensasi pernikahanku karena aku tulus melakukannya karena ingin membahagiakan dia ....” Lintani banyak bicara tapi, tentu saja tidak ada yang mendengar hingga dia pun akhirnya tertidur.


Askelan benar-benar kelelahan malam itu setelah seharian berjibaku, untuk menelisik penyerangan yang terjadi di pondok kemarin.


Belum lagi soal tawanan yang tidak mau mengaku untuk siapa mereka bekerja. Semua ini sangat menguras energinya.


Kemudian dia terpaksa menemui para utusan keluarga yang datang menengok ibunya. Dia orang yang tidak pandai berbasa-basi hingga menemui mereka satu-persatu, karena mereka tidak datang secara bersamaan, membuatnya sangat kelelahan.


Dia begitu menyesali mengapa masalah ini datang, disaat dia ingin meyakinkan hatinnya pada Lintani. Dia sedang bingung pada debaran jantungnya saat dia berdekatan dengan dengan gadis itu.


******


Sementara itu di tempat yang berbeda, Jordan dan Pit melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda tadi siang bersama Askelan. Mereka sibuk menghubungkan hasil temuan Pit di lapangan, tentang fakta bila di dalam salah satu mobil musuh yang berhasil mereka lumpuhkan, ditemukan sebuah gambar dalam secarik kertas. Anehnya, itu gambar yang sama dengan tato yang ada di tangan Viana Hims.


Pit sudah berhasil membakar satu mobil, dan menembak mati semua lawannya. Satu lagi yang mengikuti mobil anak buah lainnya, hancur bersama semua orang di dalamnya karena tabrakan. Sementara yang sudah ditembak bannya oleh Askelan, kendaraan mereka berhasil dibuat ringsek, dua orang lawan sudah berhasil jadi tawanan sedangkan lainnya pun tewas seketika.


Ada dua orang tawanan yang, untuk saat ini masih di kurung karena bungkam. Hal ini wajar karena mereka bekerja dengan taruhan nyawa, hingga dilarang keras untuk membuka rahasia orang yang ada di balik mereka. Jadi, sekeras apa pun siksaan yang harus mereka terima, mereka tidak akan membuka mulut karena lebih baik mengorbankan nyawa dari pada keluarga menjadi taruhannya.


Dua orang itu sedang mengamati dua gambar logo dan foto Lintani yang dipeluk ibunya yang sudah dicetak dan diperbesar.


“Aku kira serangan mereka berhubungan, apa Tuan Askel tahu tentang ini?” tanya Pit. Laki-laki botak itu justru lebih penasaran dengan Jordan.

__ADS_1


“Tahu apa maksudmu?”


“Maksudku, mungkin saja, Nona memiliki tato yang sama di tubuhnya, sebab ini aneh kalau tidak ada hubungannya, kenapa mereka menginginkan Nona?”


“Ya, aku pikir juga begitu, mereka bukan musuh dari kalangan Dex!”


“Dex tidak akan gegabah melakukan itu tanpa alasan seperti saat kekuasaan jatuh ke tangan Tuan, perbuatannya rapi sampai-sampai keterlibatannya dalam menjebak kalian di pondok itu, tidak ada bukti.”


“Hmm ....”Jordan mengangguk. Dia mengharapkan Askelan mengetahui tentang tato itu malam ini, dengan berhubungan badan atau setidak-tidaknya berhasil melucuti pakaian Lintani demi melihatnya.


Jordan berpikir bahwa, satu-satunya cara untuk menjelaskan masalah ini adalah, dengan membuktikan ada atau tidaknya tato itu di tubuh Lintani. Namun, dia khawatir tidak berhasil mengingat, betapa keras kepalanya Askelan yang menganggap Lintani itu kotor, dia pernah mengaku hamil anak pria lain. Apalagi sekarang Elliyat sedang kritis, rasanya tidak mungkin mendesak Askelan.


“Kalau memang ini ada hubungannya dengan Nona, itu artinya dia adalah wanita yang tidak ternilai, hingga ada komplotan tidak dikenal memburunya! Aku akan melipatgandakan pengawasanku untuk dia!”


“Kau punya anak buah tambahan?”


“Ya, bisa saja, mungkin aku akan melibatkan Jabie!”


“Apa kau gila? Kau boleh menyukainya, tapi ... sekali saja kau melibatkan dia dalam misi, aku akan membunuhmu!”


Pit terkekeh lalu menggelengkan kepalanya, “Kau terlalu khawatir tapi, kemampuan adikmu itu dalam menembak, patut diacungi jempol!”


“Kau bohong! Dia pegang senjata saja tidak pernah!”


“Kau pikir begitu? Lalu dari mana aku bisa mengatakan sesuatu kalau dia jago menembak tanpa bukti?”


“Baiklah, baiklah, kita singkirkan dulu masalah adikku, itu akan aku urus nanti! Sekarang kita harus memikirkan kaitannya antara musuh baru, gambar tato dan Nona Lin!”


“Ya, aku tahu. Selidiki saja masa lalu Nona!”


“Masa lalu Nona tidak bisa kita mulai selain dari Nona Lin sendiri, dan sekarang, sepertinya Tuan mulai melakukannya. Tapi, tampaknya kita harus bersabar karena Nonya Elle sedang kritis.”


“Ya, aku tahu.”


Jordan beranjak ke kamarnya sendiri setelah melihat Jabie yang sudah tidur, dia sedikit mengernyit saat teringat ucapan Pit jika adik perempuannya itu jago menembak.


Kapan dia berlatih, apakah dia tahu tempat penyimpanan senjata rahasia itu? Pikirnya. Namun, saat dia memeriksa gudang senjatanya, tidak ada apa pun perubahan di sana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2