
Tepi Danau, Tempat Pergi Dan Kembali
Pagi itu Lintani berdiri di dekat Pinot sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia jelas-jelas melihatnya penuh dengan kebencian tapi, tidak akan membunuhnya. Askelan sudah mengatakan bila laki-laki itu siap menjadi budaknya, sehingga dia kemudian berpikir apa yang akan dilakukannya pada laki-laki itu kalau nanti sudah sembuh.
Saat melihatnya tergolek lemah dengan tangan dan kaki yang dibalut asal pun, rasanya ingin sekali menginjak luka itu. Dia tahu, Pinot sudah menyelamatkan dirinya dan ibunya tetapi, karena dia pulalah semua keluarga dan tempat yang sangat disukainya hancur.
Askelan mendekati Lintani dan melingkarkan satu tangan di pinggang, kepalanya menunduk untuk mencium pucuk kepala istrinya itu.
“Apa kau kurang puas melihatnya? Kau masih bisa melenyapkannya sekarang juga!”
“Cukup ... biarkan dia menjadi budak seumur hidupnya!”
“Hmm... “
Askelan semalam hendak memotong lidah pria itu, dia bahkan sudah menekan belati yang di bawanya ke pipinya. Namun, sejenak kemudian dia mengurungkan niatnya karena berpikir jika suatu saat nanti, Pinot mungkin bisa bercerita beberapa hal menarik pada istrinya tentang masa kecilnya.
Dia pun akhirnya berkata, “Ayo! Kita berangkat sekarang!”
Tanpa menyahut atau melihat pada suaminya, Lintani mengikuti Askelan berjalan ke halaman vila. Sementara tangannya masih tetap berada di depan dada terlipat dengan erat, seolah menunjukkan keengganan terhadap segala sesuatu yang ada di hadapannya.
Lintani memakai setelan kemeja dan jeans hitam, dan membiarkan rambutnya diikat ke belakang, dilengkapi dengan sepatu boot, membuatnya tampak begitu kuat dan elegan.
Sinar matanya menunjukkan sebuah semangat untuk melunasi rasa penasaran, tetapi, otaknya berpikir apakah dia sanggup melihat apa yang ada di Rasevan nanti.
Saat mendengar cerita dari Askelan dan melihat video tentang pemandangan di Rasevan saja, sudah membuatnya merinding waktu itu, apalagi dia akan melihat kenyataannya sekarang.
Tiba-tiba Askelan menggantikan langkahnya, mengeratkan pelukannya lebih dalam.
__ADS_1
Lalu, dia berkata, “Kita masih bisa membatalkannya sekarang, kalau kau tidak siap.”
“Tidak, tidak, aku tidak masalah!” katanya sambil membungkuk dan masuk ke dalam mobil lebih dahulu setelah Jordan membukakan pintunya. Askelan mengikutinya dan duduk masih saling berpelukan.
Lintani menggelengkan kepalanya saat membayangkan betapa sakitnya rasa yang harus dihadapi oleh saudara-saudaranya sebelum nyawa mereka melayang.
Perbuatan yang sudah dilakukan oleh Marka, tidak ada yang tahu. Bahkan, satu-satunya saksi yang masih hidup sampai sekarang pun tidak tahu, justru Pinot menjadi gila.
Ada beberapa orang yang menerjang segala etika hanya demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Padahal keinginan manusia hanya tumpang tindih antara keinginan satu dan yang lainnya, dan itu tak akan pernah usai, kecuali manusia itu sudah tidak mampu lagi untuk berharap selain untuk hidup.
Rombongan kecil menaiki dua mobil sport menuju tepian Danau tanpa hambatan. Selama perjalanan, pengawal yang ada di mobil depan dan belakang, tidak mengendurkan pengawasan sedetik pun. Mereka sengaja mengambil waktu keberangkatan hari itu karena menunggu pihak musuh lengah, dan setelah memastikan Marka pergi ke Kota Mortal bersama istrinya.
Lintani menatap Askelan dengan heran karena sampai saat ini, pria itu tidak juga mengungkit masalah harta atau menanyakannya. Ini adalah satu tanda, jika laki-laki itu tidak akan memaksanya. Walaupun, tidak dipungkiri di sudut hatinya masih menginginkan apa yang memang menjadi haknya. Bukankah seluruh keluarganya sudah berkorban untuk dirinya, apakah dia akan membiarkan nyawa mereka melayang begitu saja?
Demikianlah Lintani berpikir bahwa semua yang ada di Rasevan itu hancur hanya demi mempersembahkan bukit Shaw kepadanya. Namun mengingat betapa terkutuknya bukit itu, sehingga membuat beberapa nyawa melayang sia-sia, membuatnya enggan bahkan, merasa jika lebih baik menghancurkannya saja.
Sesampainya di tepi danau, Lintani turun dengan perasaan penuh keharuan, ini adalah tempat yang sama saat dia terakhir bersama Ibunya, 29 tahun yang lalu.
“Apa kau masih ingat tempat ini?” tanya Askelan, tangannya tidak lepas dari pinggang Lintani sejak tadi. “Apa masih sama saat kau berpisah dengan Ibumu di sini?”
“Tidak sama!” kata Lintani sambil menyentuh semak yang tidak jauh dari dirinya, memetik ujungnya dan menghancurkan dengan tangan, “Pohon-pohon di sudah besar-besar pemerintah rupanya melindungi tempat ini dengan baik dan jalan di sini pun sudah bagus ... aku tidak melihat pondasi sebelumnya di tepi danau, tapi, lihatlah sekarang ... ada pondasi di sini.”
Lintani menunjukkan beberapa tempat yang sampai sekarang masih tetap dijadikan kawasan resapan air, oleh pihak pemerintah sehingga dilarang mendirikan bangunan di sekitar Danau.
Tempat di mana Lintani berdiri adalah bagian tanah yang paling landai dan bisa dilalui oleh manusia atau kendaraan. Selain itu, sekeliling danau berupa perbukitan atau tebing yang curam. Kalaupun lebih landai dan bisa dilalui, maka, tempat itu ada di sebuah timur danau, tapi, dipenuhi dengan batu-batu cadas yang tajam dan terjal. Tidak ada tempat yang mudah untuk menepikan perahu selain tempat itu.
“Ya! Kupikir ini tidak mengherankan karena kau sudah meninggalkannya sejak 29 tahun yang lalu!”
__ADS_1
“Hmm ... Aku hanya manusi yang tidak bisa berbuat apa-apa!”
“Kau ingin membuat tempat ini seperti apa?”
“Entahlah, mungkin biarkan saja tempat ini apa adanya. Biarkan semak-semak dan hutannya. Biarkan kupu-kupu dan binatang lain tinggal dengan nyaman di sini, seperti sebelumnya.”
Lintani kembali mengamati sekeliling tempat itu, dulu ada sebuah rumah kecil, tak jauh dari sana, yang menjadi tempat para penduduk beristirahat sebentar sebelum kembali berlayar, setelah pulang dari kota. Namun, sekarang tempat itu sudah tidak ada, mengingat sudah tidak ada lagi manusia yang berlaku lalang ke pulau terpencil di tengah danau Rasevan.
Sejak ledakan itu terjadi, pemerintah melarang semua penduduk kembali menempati pulau, karena akan dijadikan sebagai kawasan hutan lindung dan resapan air, hingga keadaan alam akan jauh lebih baik. Apalagi belum bisa di pastikan, apakah tempat itu masih aman dijadikan pemukiman atau tidak.
Lintani menaiki kapal kecil yang menurutnya cukup mewah kalau hanya dijadikan sebagai alat untuk menyeberangi Danau menuju pulau kecil di Rasevan. Walaupun demikian, gadis itu tetap naik dengan hati penuh warna, uang kompensasinya kini berubah menjadi sebuah kendaraan mewah untuk ukuran penduduk pulau terpencil.
Tiba-tiba perjalanan terasa begitu singkat bagi Lintani, karena bila dia menumpang bis dan menunggu perahu yang lewat, akan memakan waktu lebih dari lima jam untuk sampai ke seberang. Namun, Askelan dan rombongannya memakai mobil sport lalu, menggunakan kapal mewah. Mereka tidak harus menunggu giliran naik perahu, hingga bisa sampai di pulau dengan cepat.
Lintani berdiri di depan perahu besar itu, sambil memeluk Askelan. Ada sedikit guncangan yang membuatnya harus tetap memeluk suaminya.
“Apa kau takut?” tanya Askelan, sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Lintani menggeleng sambil terus menatap pria yang memperlakukannya bak putri raja.
“Kalau kau takut, kita bisa duduk di dalam, ada kamar dan juga makanan yang aku siapkan untukmu, Sayang!” kata Askelan.
Lintani tahu kalau Askelan pasti sudah menyiapkan semuanya, dia sempat melihat sekilas tadi saat naik, ada meja dan sebuah ruangan lain dalam dek perahu berwarna putih dan biru itu.
“Kau tidak bohong, kan?” tanya Lintani sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Askelan.
“Soal apa?”
Bersambung
__ADS_1
❤️❤️🙏🙏 Jangan lupa like dan hadiahnya ... Terima kasih