
Memotong Rambut
“Halo!” kata Lintani begitu telepon genggam itu menempel di telinganya.
“Kau ada di mana?” tanya Askelan di ujung telepon.
“Aku masih bekerja.”
“Cepat pulang dan jangan mempersulitku!”
“Toko belum tutup, mungkin nanti sore.”
“Bukannya sekarang sudah sore?”
Lintani melihat keluar, dan melihat jam di tangannya.
“Bukan, ini bukan sore, hanya saja sedikit mendung.”
“Baiklah, mungkin aku bisa bersabar kali ini.”
Telepon di tutup sepihak, tapi, membuat Lintani tidak enak hati dan merasa khawatir jika pria itu berbuat yang tidak-tidak pada toko Shane, hingga akhirnya dia berpamitan untuk pulang lebih dahulu.
Dia maklum bila Askelan khawatir sejak kejadian kemarin, dia merasa jika pergi dari Askelan akan jauh lebih baik karena berada di dekatnya berarti sama saja siap bertaruh nyawa.
Dia pernah bertekad untuk memotong rambutnya sebelum melihat sendiri kuburan dari pria yang sudah mengoyak tubuhnya malam itu atau siapa ayah dari bayinya. Akan tetapi, dia akan memotong rambutnya nanti malam. Sebab tanpa kemampuan lebih dia tidak akan menemukan makamnya, kalau memang benar pria itu sudah tiada.
Lintani pergi ke rumah sakit sebelum pulang, berharap ada perkembangan pada Elliyat, tapi, wanita itu masih berada di tempat yang sama. Namun, dia tetap berdiri dan melihatnya dari balik kaca.
Saat dia masih menangis, sebuah suara berdehem mengejutkannya. Lintani menoleh dan mendapati seorang bertubuh tinggi namun sedikit gempal berdiri di belakangnya. Gadis itu tahu jika pria itu adalah, salah seorang dari pria yang ada di gedung Harrad waktu itu.
Lintani hendak pergi begitu saja setelah membungkukkan badan, tapi, pria itu menahannya dengan mengacungkan tongkatnya ke depan, hingga gadis itu tidak bisa berjalan.
“Bukankah kau pelayan yang waktu itu?” tanya Tetua Harrad Ketiga, dia salah satu orang yang tidak menyukai Lintani.
“Maaf, Anda mungkin salah orang!” kata Lintani perlahan. Namun, pria itu masih menahan tongkat kayu di depan dadanya.
“Kau tidak sopan! Kau tahu siapa aku, kan? Sebaiknya jauhi Askelan atau Petra, dua pria itu tidak cocok denganmu.”
“Saya rasa itu sama sekali bukan urusan Anda, sebab Anda bukan orang tua mereka!” kata Lintani menebak asal sebab kalau dilihat-lihat dari usianya, maka Askelan atau Petra pantas menjadi cucunya.
“Nah, inilah sebabnya keluarga terhormat seperti keluarga Harrad tidak boleh menikahi sembarang wanita karena mereka tidak mengenal tata Krama, dasar pelayan! Seharusnya kau tahu diri saat Askelan menciummu, kenapa kau tidak menolaknya? Dasar murahan!”
__ADS_1
“Saya juga tidak tahu mengapa Tuan Askelan mencium saya, kenapa tidak Anda tanyakan langsung padanya saja?”
“Kau?”
“Oh, iya, satu hal lagi, seharusnya Anda ingat berapa umur Anda saat ini, tidak sepantasnya kata-kata mengumpat seseorang dengan sebutan murahan dan pelayan, itu tidak pantas keluar dari mulut orang terhormat seperti Anda!”
“Tutup mulutmu, pelayan!”
“Dan satu hal lagi, jangan hina pekerjaan seorang pelayan ... sebab Anda tidak akan bisa berpenampilan sebagus ini, dan Anda tidak akan bisa menyiapkan apa pun sendiri tanpa seorang pelayan!”
Lintani pergi setelah puas mengatakan banyak hal, baginya kebanyakan pria akan egois karena ambisi Q ada keinginannya yang harus dipenuhi.
Keluarga Tetua Harrad akhirnya menengok Elliyat malam itu, mereka datang bergiliran satu persatu.
Setelah kedatangan Ketua ke tiga, Askelan pun datang, tanpa sedikit pun menoleh pada Lintani, yang dengan setia menunggu kesempatan melihat Elliyat di ujung koridor, dia sama sekali tidak berniat pergi dari sana.
Setiap ada keluarga yang menengok Askelan menerima dan berbincang hangat dengan mereka. Namun, keadaan Elliyat masih sama seperti sebelumnya.
Lintani sangat bersedih dengan keadaan itu, apalagi dia tidak bisa melihatnya kecuali keluarga saja yang dibolehkan masuk, kini protokoler keluarga Harrad di tetapkan sesuai standar keluarga kaya itu, dengan memberikan pengawasan ketat di sekitar area kamar. Oleh karena itu, Lintani hanya bisa melihat dari luar dan menghindari kerumunan setiap kali keluarga itu datang dengan membawa pengawalan mereka masing-masing.
Saat sudah tengah malam, dia melihat Askelan keluar dari bangsal perawatan dan dia berani mendekat karena tidak ada lagi pihak keluarga yang datang.
“Tuan, apa kau tidak bisa mengakui aku sebagai istrimu agar aku bisa melihat Ibu?”
Askelan menoleh pada Lintani dengan pandangan yang sedikit kaku karena dia pikir gadis itu hanya berpura-pura sedih dengan keadaan ibunya. Dia hanya butuh uang sebagai kompensasi belaka.
Jordan cepat mengikuti di belakangnya dan berkata, “Kenapa Anda cepat sekali memutuskan hal demikian, bagaimana kalau ternyata Nyonya akan sadar dan bisa hidup lebih lama karena Nona?”
“Apa itu, mungkin? Dokter bilang waktunya tidak lama lagi!”
“Beri Nona kesempatan untuk menengok hari ini.”
“Besok saja, memangnya dia tidak lelah apa dari tadi duduk di sana!”
Jordan mengerti dan menghampiri Lintani saat itu juga.
“Nona, pulanglah malam ini, besok Tuan Askelan akan membawa Anda masuk ke ruangan itu!”
“Baiklah!” Lintani bangkit dan mengikuti langkah Jordan sambil sesekali melihat ke arah kamar perawatan Elliyat.
Kini mereka berada dalam satu mobil dalam perjalanan pulang.
“Kau masih ingat tempat di mana kau tinggal?” tanya Askelan setelah mobil dalam perjalanan keluar dari area rumah sakit.
__ADS_1
“Dulu aku masih kecil, umurku baru sepuluh tahun saat Ibu menjualku! Kalau tidak salah mereka menyebut tempatku Danau Rasevan.”
“Apa kau yakin Ibumu begitu pada dirimu?”
“Ya, Tuan Lux yang mengatakannya padaku!”
“Oh!” kata Askelan sambil mengangguk -anggukkan kepalanya.
Jordan melirik ke belakang dari kaca spion dan merasa jika Bosnya, akan mulai mencari informasi dari Lintani sendiri.
“Apa nama Syahrain adalah nama belakang semua keluargamu?”
Lintani berpikir, dia kakak lelakinya, sepupu, ayah dan kakeknya semua memiliki nama belakang yang berbeda. Dia pun menggelengkan kepalanya karena bagi keluarganya nama belakang tidak penting.
“Tidak, hanya aku yang bernama Syahrain, sama dengan Kakek!”
“Apa nama kakekmu Syahrain Shaw?”
“Entahlah! Tapi ... dari mana kau mengarang nama itu?”
“Bukankah nama itu cocok?”
“Ya, itu bagus, bisa saja memang itu nama Kakek!”
Kemudian suasana hening dan mereka tidak bicara lagi, hingga tiba di rumah. Jordan tidak mengantarkan majikannya sampai di dalam karena sepertinya, Askelan tidak membutuhkan dirinya walau, dia juga penasaran dengan informasi yang akan digali Askelan dari Lintani.
“Kau dulu pernah bilang kalau kau hamil dari seorang laki-laki, apa kehamilanmu baik-baik saja?”
Mendengar ucapan Askelan, Lintani bingung, apakah harus menangis atau tertawa, karena tiba-tiba laki-laki itu menaruh perhatian padanya. Apakah karena ibunya pernah ditinggal oleh pria yang menghamilinya.
“Jangan kuatir, Tuan. Ternyata saya tidak hamil.”
“Tidak? Apa kau berbohong waktu itu hanya untuk menolak menikah denganku?”
“Ya, tapi aku memang bukan wanita suci!”
Askelan tertawa dan berkata, “Ya, aku tahu! Apa kau ingat pria mana saja yang pernah kau tiduri?”
“Aku tidak tahu!”
“Apa aku ada di antara laki-laki itu?”
Lintani menoleh dan menatap Askelan lekat-lekat tapi, dia tidak menjawabnya karena pria itu tidak akan percaya bahwa, dirinyalah wanita dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung