Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 77. Bertemu Haifa 1


__ADS_3

Bertemu Haifa 1


Askelan kembali merebahkan diri dan menarik Lintani yang tengah terlelap itu dalam pelukannya, dia mencium pucuk kepala gadis itu saat matanya terbuka.


“Tuan ...” gumam Lintani lirih, sambil menatap Askelan yang berjarak cukup dekat dengannya, wajahnya merona merah jambu karena malu.


“Apa aku membangunkanmu?” tanya Askelan dengan wajah datarnya.


“Tidak masalah.”


Lintani hendak menjauh karena risi, apalagi mereka dalam keadaan tidak berbusana, tapi Askelan menahannya, padahal dia hanya tidak ingin membuat sesuatu kembali bangkit. Apalagi mereka terus berdekatan seperti itu, sedangkan tubuhnya masih terasa begitu lemas.


“Apa kau masih lelah?”


Setiap kata yang keluar dari bibir Askelan terdengar lembut, membuat hati Lintani menjadi hangat sekaligus heran, apa yang menyebabkan pria di sampingnya itu bersikap demikian.


Lintani mengangguk.


“Kalau begitu tidurlah lagi, aku akan membangunkanmu makan malam nanti.”


Namun, saat gadis itu mencoba untuk tidur, justru dia memikirkan hal lain dan mencoba untuk bangun.


“Mau ke mana, kau bilang masih lelah?”


“Tapi, aku tidak bisa tidur, Tuan!”


Lintani berkata sambil menyibakkan selimut, melepaskan tangan Askelan yang ada di perutnya. Lalu memungut pakaian dalamnya yang berserak di lantai. Dia memakainya dan berlari ke kamar mandi.


Namun, sebelum masuk ke sana, dia menoleh pada Askelan yang masih menatap dirinya dengan tatapan mata yang rumit, pria itu menyimpan dua telapak tangannya sebagai bantal di bawah kepalanya.


Lintani tidak tahu arti tatapan itu tapi bisa membuat hatinya berdesir hebat.


“Tuan, apa aku nanti boleh meminjam bajumu?” Katanya gugup.


Askelan mengangguk, seraya berkata, “Tentu!” Lalu, dia tersenyum manis.

__ADS_1


Ini senyum yang amat menggoda nalurinya sebagai wanita dewasa, yang mencintainya secara diam-diam. Pesonanya tidak bisa ditolak, walaupun, dia takut kecewa dan patah hati. Seperti hatinya yang dipatahkan oleh ibunya sendiri. Dia merasakan sakit di ulu hati setiap kali Lux mengatakan ‘Ibumu menjualmu padaku dengan harga murah!’ dan dia tidak ingin mengalami lagi hal yang sama untuk kedua kali.


“Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Ah!” Lintani bergumam sendiri di kamar mandi sambil mengguyur tubuhnya dari shower di atas kepalanya. Sejak kehujanan tadi, rambutnya dia biarkan kering sendiri.


Setelah selesai, Lintani keluar dan tidak menemukan Askelan di mana pun, hanya ada satu setel baju berwarna kuning di atas tempat tidur. Itu pakaian yang cantik dan dia menyukainya. Dia pergi ke dapur setelah memakainya.


Setelah di dapur, dia menemui Mo yang tengah membuat mafin yang manis dan lembut.


“Bi, apa kau melihat Tuan Askel? Apa dia pergi keluar?” tanya Lintani sambil menunggu kue matang di panggangan.


“Tidak, Nona, Tuan tidak mungkin keluar tanpa Jordan.”


‘’Kalau dia tidak ada, lalu, di mana dia?” gumam Lintani sambil keluar dapur dan menyusuri rumah untuk sekali lagi.


Saat dia melintasi sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat, dia mendengar seseorang sedang berbicara di dalam. Suaranya seperti milik laki-laki yang selama ini dia kenal, siapa lagi kalau bukan Askelan.


“Kau pasti cantik mengenakan apa pun ... ya, baiklah, aku akan menjemputmu nanti malam,” kata Askelan, suaranya terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Lintani mendengar dari balik pintu sambil menahan napas dan sesak di dadanya. Dia memegang dadanya sambil menarik napas dalam berulang kali.


Ah! Tiba-tiba dia menyesal mengapa harus mendengarkan semua itu kalau hanya akan membuat hatinya terbakar. Bukankah lebih baik tidak tahu dari pada harus menyakiti dirinya sendiri. Siapa yang diajak bicara Askelan kalau bukan Haifa.


Namun, hati siapa yang tidak sakit saat seorang wanita baru saja memberi kekasihnya kepuasan, tapi, beberapa jam kemudian pria itu sudah bermesraan dengan wanita lainnya?


Hatinya tidak bisa diajak kompromi, walau dia sudah pergi menjauh dan tidak mendengar kata-kata yang menyakitkan lagi, tetap saja terbakar. Panas sekali rasanya di dalam sana dan segelas air dingin pun, tidak mampu menyejukkannya.


“Nona, apa kau baik-baik saja?” tanya Mo yang melihat Nona Mudanya kembali ke dapur dengan ekspresi wajah seperti habis melihat hantu.


“Aku baik, Bi.” Bohong Lintani sambil duduk di dekat Mo, di mana wanita itu tengah menghias kue hasil kreasinya.


“Kau harus selalu baik, karena kita sebagai wanita adalah benteng terkuat keutuhan sebuah keluarga.” Kata Mo setengah menasihati majikan wanitanya.


Lintani mengangguk.


“Tapi, bukankah setiap manusia berhak punya pengecualiannya sendiri?”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Misalnya, setiap orang biasa sarapan, kecuali aku, tidak pernah!”


“Benarkah, kau tidak pernah sarapan?”


“Dulu, iya. Bahkan, setiap hari di penjara hampir tidak pernah sarapan dan aku sering sarapan saat ada Bibi di apartemen Tuan.”


“Oh. Kalau seperti itu aku juga punya pengecualian, biasanya orang akan senang berendam air hangat, tapi aku tidak!”


“Benarkah?”


“Ya!”


“Begitu juga dengan cinta, kalau mungkin orang lain akan senang kalau jatuh cinta, tapi aku tidak. Aku justru sangat takut!”


“Apa kau takut mencintai Tuan? Apa dia tidak layak untuk mendapatkan hatimu, Nona? Dia laki-laki yang akan sangat tulus jika dia mencintai seseorang.”


Lintani tersenyum lalu, menikmati kue yang dihidangkan Mo di piring kecil di hadapannya.


“Bibi, ini enak!” katanya sambil mengunyah.


Mo menatap wajah Lintani lekat, dia tahu bagaimana kejadiannya dua majikannya itu, bisa tinggal bersama. Dia hanya berharap kalau hubungan yang di pertemukan karena Elliyat itu akan bertahan selama usia mereka.


Sementara Lintani meyakinkan dirinya sendiri tentang kata pengecualian dalam perasaannya, dan tidak membiarkan hatinya terus jatuh dalam cinta. Walaupun, ini untuk pertama kali baginya mencintai seorang pria, tapi, dia tidak akan tergiur oleh kemanisannya.


Dia tetap mewaspadainya, sebab akan sangat sakit jika sudah berhasil melayang tinggi tapi, kemudian dihempaskan dari ketinggian rasa yang sudah tercapai.


Tiba-tiba kedua wanita yang tengah sibuk mengunyah itu, dikagetkan dengan kedatangan Askelan yang mendekati meja dapur, dengan kursi rodanya. Mo langsung meninggalkan tempat duduk, setelah memberi Askelan sepotong kue dalam piring kecil.


“Silakan, Tuan!” katanya.


Sebelum Mo meninggalkan meja, Askelan berkata, “Bibi, siapkan gaun buat Nona, aku akan mengajaknya makan malam!”


“Baik, aku akan menyiapkannya.”


Sejenak Lintani tertegun dan menatap Askelan tak percaya, sebab dia mendengar sendiri jika dia mengajak Haifa dinner, malam ini.

__ADS_1


“Kau mengajakku, Tuan? Apa kakimu sudah sembuh?”


Bersambung


__ADS_2