Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 35. Sebuah Tato


__ADS_3

Sebuah Tato


Pernyataan Askelan yang berkata jika anak buah Dex itu harus mati, hanyalah sebuah kiasan karena mereka hanya harus pura-pura tiada. Mereka kemudian akan mengganti identitas. Lalu, akan menjadi anak buah Askelan dengan jaminan keluarga mereka akan aman. Apabila mereka berkhianat sedikit saja, maka, keluarga merekalah yang akan menebusnya.


Jordan, dan lima anak buah Askelan yang setia menyeret ‘mayat' ketiga orang itu dan membuat sebuah kuburan massal di belakang markas mereka, jika sewaktu-waktu ada yang mencari buktinya, maka mereka akan melihat bukti itu tak terbantahkan dan nyata bahwa mereka telah tiada.


Namun, tak lama setelah itu, Jordan kembali ke tempat Askelan yang masih berdiri di dekat jendela. Dari sana dia bisa melihat pondok kayu, walaupun, cukup jauh tapi, karena letaknya di dekat bukit, membuat bangunan sederhana itu sangat jelas.


“Tuan, mungkin Anda ingin melihat rekaman cctv di rumah sekarang?”


“Tidak! Apa kau akan mengajakku melihat wanita itu telanjang sambil berjalan bebas di tengah rumah? Tidak akan!”


Demikianlah Askelan, sejak Lintani tinggal di rumah itu dia sangat enggan melihat area rumah yang tersorot CCTV, padahal sebelumnya, dia rutin memeriksanya. Semua karena dia tidak mau melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat dari gadis itu.


‘Dasar! Pikiran Anda kotor, Tuan!’ batin Jordan kesal.


“Bukan! Tapi ... apa kartu emas Anda bawa?” tanya Jordan.


Askelan memeriksa semua sakunya dan dia tidak menemukan kartu emas itu bersamanya. Kartu itu Emas membuat pintu tertutup secara otomatis jika Askelan keluar rumah. dengan membawa kartu bersamanya, tapi, jika tidak, maka pintu akan tetap terbuka, kecuali Askelan yang menutupnya sebelum pergi.


“Apa Anda lupa dan kartu Emas tertinggal, atau terjatuh di rumah?”


Mendengar pertanyaan Jordan, dia segera melihat layar ponselnya dan memeriksa CCTV hingga membuatnya terkejut.


“Apa yang mau dia lakukan dengan masuk ke kamarku? Dasar Bodoh!” gumam Askelan sambil beranjak, dia meraih kunci mobil dan berjalan dengan cepat, sambil berkata, “Selesaikan tugasmu, kalian harus sudah selesai sore ini dan, hapus jejaknya!”


“Baik, Tuan!”


Askelan bergegas menuju apartemennya dengan menekan gas mobilnya sangat dalam. Saat dia menemukan lampu merah dan atau kemacetan, maka dia akan memukul setir di tangannya yang tidak bersalah.


Begitu sampai di apartemen, dia memarkirkan mobilnya sembarangan dan masuk dengan setengah berlari, lalu menaiki lift, hingga tiba di kamarnya dengan terengah-engah.


Dia melihat Lintani yang meringkuk di lantai dengan kartu emas di tangannya, membuat Askelan tahu jika gadis itu hanya berniat mengembalikan padanya. Tentu saja dia mengira jika dirinya masih ada di kamar lalu, masuk hingga inilah yang terjadi.

__ADS_1


Setelah Askelan berada di dalam, suasana yang membekukan berangsur-angsur normal. AC otomatis berubah, alat itu hanya akan mendingin begitu obyek tak dikenal dalam kamar tidak bergerak.


Tanpa sadar, Askelan melebarkan jasnya, lalu, mendekqp Lintani yang hampir beku di dada, lalu, kembali merapatkan jas hingga menutupi sebagian tubuhnya. Bibir gadis itu membiru dan rambutnya yang panjang itu terasa kaku karena hipotermia.


Sadar jika kakinya tidak tertutup, Askelan membawanya ke tempat tidur dan menyelimutinya rapat-rapat. Saat itu dia melihat bekas luka yang cukup besar di kaki Lintani, dan dia tahu luka sebesar itu pasti diakibatkan oleh tusukan yang dalam, tapi, tidak diobati dengan benar hingga infeksi cukup lama. Kalau luka yang langsung sembuh, tidak akan menyisakan bekas terlalu mencolok.


Setelah itu, dia menciumi bibir Lintani yang beku serta menerobos masuk ke sela giginya yang merapat, sedangkan gadis itu masih menggigil.


Askelan terus melanjutkan hingga lidahnya berhasil masuk ke mulut yang dingin. Dia sengaja menjeda beberapa kali hingga akhirnya bisa memberi kehangatan, tanpa sadar dia terus menautkannya hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara lenguhan lembut, barulah dia berhenti.


Suara itu mengartikan bahwa, gadis itu sudah sadar dan akan baik-baik saja. Dia menggosokkan kedua telapak tangan hingga panas lalu menempelkan di pipi Lintani, demikian dia lakukan berulang kali, hingga pipi gadis itu mulai menghangat.


Seandainya Askelan terlambat sedikit saja, mungkin Lintani akan benar-benar menjadi es di kamarnya dan, apa yang akan dia katakan pada ibunya kalau wanita itu bertanya, ke mana menantunya pergi. Dia tidak mungkin megaku kalau istrinya itu tiada di kamarnya sendiri.


Askelan tetap di sana, mengompres kening Lintani dengan kain hangat, di tidak berani mengganti pakaiannya yang basah hingga meminta Mo datang dan menggantinya. Bahkan, dia tidak percaya saat asisten paruh baya itu mengatakan ada tato yang bagus di pinggulnya.


“Kau ini, mana mungkin gadis desa seperti dia memiliki tato?” kata Askelan.


“Baiklah terima kasih, kau bisa memasakkan sup untuknya sekarang!”


“Kau tidak perlu memintaku, Tuan! Aku akan membuatkan sup daging untuk Nona!”


Saat Lintani sadar dua jam kemudian, dia melihat Askelan yang sudah mengganti kemejanya, sedang duduk tenang di sofa tunggal dekat Jendela, ada secangkir kopi di tangannya, tampak anggun seperti seorang aktor sedang memainkan perannya.


Cukup lama Lintani melihat pemandangan itu hingga baru mengalihkan pandangan saat pria itu berdehem cukup keras.


“Kau sudah bangun?” kata Askelan tanpa mengalihkan tatapannya dari luar jendela. Lintani mengangguk.


“Apa kau senang melihatku begini? Kalau kau senang, aku akan bertahan dalam posisi ini untukmu!”


Lintani di buat bingung, ini seperti dia sedang mengayuh sepeda tanpa melihat, lalu, terjatuh saat tidak ada halangan apa pun di depannya membuatnya sangat malu.


Lintani berusaha bangkit dengan perlahan karena dia malu tertidur di kamar seorang pria yang sama sekali tidak menginginkan dirinya.

__ADS_1


“Tidurlah kalau kau belum bisa bangun, kau kedinginan dan hampir beku seperti es batu!”


“Eum ... benarkah?” tentu saja Lintani tidak ingat apa yang terjadi karena begitu dia duduk dengan lemas, dia menghirup aroma mirip bunga lyli tapi lebih kuat lagi, bercampur aroma asap dupa hingga membuatnya sangat mengantuk. Dia tertidur tidak lama setelah dia mendengar suara nyanyian malaikat mengelilingi kastil, itu halusinasi, bukan?


Askelan benar-benar tidak merubah cara duduknya dan Lintani masih pula menatapnya. Dia kembali berkata, “Kalau kau membeku, pasti jadi hiasan paling bagus dan sangat mahal melebihi batu bulan dari selatan Afturifes.”


“Ah, batu bulan itu hanya mitos, seperti itu yang kutahu. Apalagi. Afturifes terletak di bukit Cemiton Shaw. Kata Ibuku, itu kota yang tidak pernah ada di dunia dan itu hanya dongeng karangan kakek Syahrain saja!” kata Lintani masih berbaring tapi kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang kaku, sudah bisa dia gerakkan.


Askelan tersenyum, baginya gadis seperti dia yang hanya sementara tinggal bersamanya tidak perlu tahu soal Afturifes.


“Apa kau sudah bisa bergerak?” Askelan bertanya sambil berdiri dan menyimpan cangkir di meja kecil sebelah kursinya. “Ayo! Sekarang makan supmu! Mo sudah memasak dari tadi.”


“Bibi Mo, ada di sini?”


“Ya! Kau pikir siapa yang mengganti pakaianmu?”


Lintani seketika bangkit, dan melihat ke badannya sendiri. Dia baru sadar kalau dia sudah tidak memakai pakaian yang sama lagi.


“Maaf, Tuan Askel. Aku hanya mau mengembalikan kartumu, sepertinya itu benda yang berharga!”


“Ya. Itu memang berharga tapi, kau juga tidak perlu masuk ke kamarku untuk mengembalikannya! Apa kau mengerti?”


“Ya. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi!”


“Mulai sekarang kau harus tahu apabila kau menyentuh barang-barang pribadiku maka itulah yang akan terjadi!”


“Baik! Aku tidak akan menyentuhnya!”


Askelan berpikir apa sebenarnya yang ada dalam otak gadis itu, tentang kata-kata 'tidak akan menyentuhnya’...?


Tiba-tiba dia merasa geli, seandainya saja Lintani tahu bagaimana Askelan tadi mencium bibirnya mungkin gadis itu akan mengutuknya barulang kali.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2