Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 46. Kaki Yang Terluka


__ADS_3

Kaki Yang Terluka


Askelan sudah berdiri di samping sambil berkacak pinggang, dia yang menendang pintu mobil Dex dengan kasar. Sementara itu, beberapa anak buahnya yang ada di mobil lain sudah keluar dan mengepung mobil Dex.


“Paman! Buka pintunya!” kata Lintani berusaha keluar.


“Baiklah, aku tidak akan memaksa, tapi, ingat ... Pikirkan lagi tawaranku, hatiku akan selalu terbuka untukmu. Kau sangat cantik, sungguh kecantikanmu akan sia-sia kalau kau hanya menjadi seorang istri tapi diabaikan! Aku akan mengasihimu seumur hidup, percayalah!”


“Paman! Apa kau mau si waras bukankah kau masih memiliki istri juga? Maaf aku tidak bisa! Aku bukan wanita seperti itu!”


Mereka yang ada di dalam mobil sadar dengan melihat orang yang ada di luar itu, siap menjadi badai yang akan menghancurkan mereka yang tidak mengikuti keinginannya.


“Baiklah, buka pintunya!” Dex memberi perintah kepada sopirnya sehingga pintu itu pun bisa terbuka dan, Lintani segera keluar dengan tergesa-gesa. Gadis itu sangat takut karena memikirkan apa yang akan dilakukan Askelan padanya.


Begitu Lintani keluar, Askelan langsung membanting pintunya dengan kasar dan secepat kilat membawa gadis itu dalam gendongannya dan memasukkannya ke dalam mobilnya sendiri.


Setelah Linyani ada di dalam, dia pun kembali menutup pintunya dengan kasar lalu, kembali ke mobil Dex dan berkata kepada pria itu setelah jendelanya terbuka.


“Aku masih menganggapmu sebagai Paman, sekali lagi kau melakukan hal seperti ini kepada istriku—kau akan tahu akibatnya aku tidak akan memaafkanmu lagi, lain waktu!”


“Apa ada jaminan untuk itu, lima perusahaan misalnya?” Dex mengajukan sebuah penawaran.


“Tidak ada, semua perusahaan Harrad adalah milikku, seperti itu yang tertulis dalam perjanjian para ketua! Tidak ada satu pun dari 15 perusahaan itu menjadi tanggung jawabmu. Kalau kau memang menginginkan lima dari perusahaan itu, maka, mintalah pada ketua dan tunjukkan kalau memang kau mampu mengurusnya!”


Setelah berkata begitu, Askelan berbalik sambil merapikan jasnya dan memasuki mobil dengan cepat dan, langsung pergi meninggalkan Dex dalam mobilnya dengan seringaian menyeramkan di wajahnya.


Begitu Mobil Dex pergi, pengawal Askelan pun pergi mengikuti arah mobil tuan mereka.


Sementara itu di dalam mobil, dia mengabaikan Lintani, seolah tak ada orang lain di sampingnya.


“Jangan berpikir macam-macam, aku tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan kita,” kata Lintani dengan suara gemetar dan takut, badannya sudah berkeringat.


Askelan tidak menjawab, dia sama sekali tidak memikirkan soal pernikahan mereka, yang akan diketahui oleh orang-orang atau tidak, tapi, dia lebih mencemaskan gadis itu jika sampai tiada di tangan Dex. Dia tidak tahu apa yang harus di pertanggungjawabkan di hadapan ibunya.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi, percayalah! Kau jangan marah, ya?” kata Lintani, berusaha membujuk.


Askelan masih diam sedangkan, Lintani hanya melihat profilnya dari samping dengan takjub, betapa tenangnya pria ini seperti mercusuar di tengah lautan yang tak goyah diterpa badai. Gadis itu hanya melihat jakunnya yang turun naik dengan cepat menandakan jika Askelan sebenarnya tengah gelisah.


Lintani berinisiatif untuk mendekat dan meraih tangan Askelan lalu, menggenggamnya dengan erat lalu, membawanya ke depan dada sambil berkata, “Maaf ... Maafkan aku ...!”


Sontak saja Askelan menoleh dan melihat pada tangannya yang di genggaman. Begitu juga Jordan yang mencuri pandang dari kaca spion sambil menahan tawa. Ini lucu sekali.

__ADS_1


Askelan biasanya hanya mendapatkan sikap manja Lintani di hadapan ibunya karena berpura-pura, tapi kali ini hanya ada mereka berdua, membuatnya heran, hingga dia berpikir untuk mengerjainya.


“Apa yang akan kau lakukan kalau Dex mengunjungimu lagi?”


“Aku akan meneleponmu!”


Setelah berkata begitu, dia baru berpikir kalau dia tidak memiliki ponsel.


“Oh, tidak. Aku mungkin akan lari saja, aku tidak punya ponsel!”


“Kemarikan ponselmu, aku akan mengganti dengan yang baru!”


“Berjanjilah kau tidak akan melihat isinya!” kata Lintani sambil mengeluarkan ponsel yang hancur dari dalam tasnya.


“Apa ada foto pacarmu? Atau kau yang sedang telanjang?” kata Askelan sambil menerima kepingan benda itu.


“Bukan!”


“Lalu?” Askelan berkata sambil memasukkan potongan ponsel ke saku bagian dalam jasnya.


“Aku merekam beberapa percakapanku dengan Tuan Lux, aku tahu kau mampu melakukan apa pun pada hp-ku, tapi itu memalukan!”


“Kau sudah tahu?”


“Belum.”


Askelan menggeleng untuk hal lain, padahal dia sudah tahu semuanya. Dia tahu betapa kasarnya keluarga Lux pada Lintani dan beberapa perintah yang tidak masuk akal.


Semua ada dalam rekaman itu tapi, Askelan untuk saat ini tidak berdaya mengingat keluarga itu adalah, keluarga wanita yang sudah berjasa padanya bahkan, sekarang Haifa sedang hamil benih darinya sehingga dia tidak akan mungkin membalas apa pun atas perbuatan mereka pada istrinya.


Di tengah perjalanan, handphone Askelan berdering dan itu dari Haifa, yang menghubunginya. Wanita itu meminta bertemu setelah kekasihnya mengatakan halo dengan lembut.


“Askel Sayang, bisakah kita bertemu hari ini aku ingin menanyakan beberapa hal padamu ini penting, Sayang!” kata Haifa dari balik telepon. Sepertinya laki-laki itu sengaja membiarkan orang yang ada di dalam mobil mendengarnya.


“Apa yang penting menurutmu, belum tentu penting menurutku bukan?”


“Ya. Aku tahu engkau sibuk ... maaf, sudah mengganggu, kalau begitu aku akan menanyakannya lain kali.”


“Kalau memang kau mau bertanya sesuatu tanyakan saja sekarang!”


“Baiklah! Aku penasaran kenapa tiba-tiba kau menanyakan apakah aku terluka atau tidak di gubuk itu?”

__ADS_1


“Aku hanya sekedar bertanya karena aku menemukan bukti baru.” Askelan berbohong padahal bukti itu sudah dia temukan beberapa tahun yang lalu.


“Apa bukti itu?”


“Ada darah orang lain di sana yang sepertinya kakinya terluka, itu saja, tidak lebih!”


“Oh itu ... mungkin aku lupa aku memang waktu itu sedang terluka, tapi, aku tidak ingat bahkan bekasnya pun tidak ada!”


“Baiklah aku hanya sekedar memastikan saja. Apa ada yang lain?”


“Tidak, terima kasih Sayang atas waktumu!”


Sebelum menutup telepon terdengar suara Haifa yang memberikan ciuman jarak jauh kepada Askelan


Lintani tersenyum seperti mengejek dirinya sendiri sambil memalingkan muka karena betapa lemahnya dirinya. Haifa mengaku menjadi dirinya, seorang wanita yang sedang bersamanya di dalam mobil. Dia bertanya-tanya, apakah Haifa juga mengaku menjadi umpan di pondok kayu? Ini sangat menggelikan.


Namun, setelah mendengar percakapan tadi Lintani mengerti memang orang seperti Haifa bisa saja melakukan penipuan seenak hati. Dan, yang membuatnya heran adalah, bagaimana mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali?


Dia benar-benar melihat laki-laki itu tak bergerak bahkan dibawa oleh polisi dalam kantong mayat. Bagaimana dia bisa berubah menjadi laki-laki yang ada di sampingnya ini?


Apabila sekarang dia mengakui semuanya pada Askelan, mungkinkah dia akan percaya? Oleh karena itu Lintani memilih diam.


Memang saat itu, Haifa tidak mengatakan secara detail tetapi, dia bisa menyimpulkan beberapa hal, tentang kenyataan yang sebenarnya. Dahulu, sebelum Haifa mengakui penipuannya dan mengatakan siapa Askelan sebenarnya, dia merasakan sesuatu pada diri pria itu yang mirip dengan laki-laki di pondok kayu atau pria di dalam mobil. Namun, setelah Haifa mengatakan semuanya barulah dia sadar, pantas saja dia merasakan hal itu.


Sekarang, dari percakapan tadi, sepertinya Askelan mulai meragukan sesuatu, tapi, Lintani tetap tidak mau mengatakannya karena dia berharap agar pria itu sadar dengan sendirinya.


‘Tuhan! Bagaimana aku harus mengatakannya dia tidak akan mungkin langsung percaya begitu saja!’ batin Lintani.


Saat sudah berada di dalam rumah Lintani dibuat terkejut dengan ucapan Askelan, dia membatalkan langkah untuk masuk ke kamarnya dan menoleh.


Pertanyaan Askelan adalah, “Apa kau tahu Pondok Kayu?”


“Apa kau bilang? Pondok kayu?”


“Ya! Aku akan jalan-jalan ke bukit pondok kayu besok ... itu tempat yang bagus. Apa kau mau ikut?”


“Tidak!”


“Kenapa?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2