Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 84. Apa Dia Percaya


__ADS_3

Apa Dia Akan Percaya


Askelan mendekati tempat tidur setelah menutup pintu, dia beralih meninggalkan kursi roda, setelah menatap kedua kakinya dengan kesal. Lalu, melepas jas dan berbaring di sisi Lintani serta, memeluknya dari belakang. Dia menciumi rambutnya penuh kelembutan. Tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipinya.


‘Haruskah aku meminta maaf padanya?’ Batin Askelan sambil memejamkan mata. Lalu, dia tertidur dengan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya pada siapa pun juga, termasuk pada ibunya.


Beberapa saat yang lalu, dokter tiba begitu cepat setelah mendapat perintah dari Jordan, untuk memeriksa Lintani di Villa. Dokter yang sudah memutih rambutnya itu memeriksa Nyonya mudanya, penuh kehati-hatian baik secara modern atau pun, cara tradisional yaitu dengan memeriksa denyut nadinya.


“Kapan, terakhir kali Anda haid, Nona?” tanya dokter itu, membuat Lintani diam dan berpikir. Namun, haidnya memang tidak teratur sejak melahirkan anak pertamanya, oleh karena itu dia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dokter memberinya alat tes kehamilan, yang sengaja dia bawa sebagai bentuk perhatian dan berjaga-jaga karena diberi tahu yang akan ditanganinya adalah istri Askelan.


Setelah Lintani menggunakannya sesuai permintaan dokter, dia keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh ketidak berdaya, dia tidak tahu apakah harus bersedih atau gembira. Dia khawatir jika Askelan tidak mau menerimanya karena menganggap dirinya wanita murahan dan kotor.


Lintani mendengar nasehat dokter dengan baik setelah mengetahui hasil tesnya. Pria tua itu mengatakan tentang apa yang harus dilakukannya selama trimester pertama, dan memberinya beberapa vitamin serta obat penguat rahim.


Lintani memikirkan kehamilan yang berbeda kali ini, sebab dahulu, dia tidak merasakan apa pun pada kehamilannya, dan dia seperti wanita yang tidak hamil saja. Langit saat itu memihaknya, dia dalam posisi yang tidak bisa memanjakan diri, hingga dia menjadi wanita kuat yang luar biasa.


Keesokan harinya, Askelan terbangun lebih dahulu, dia hanya tidur sebentar karena pikirannya tidak tenang. Dia menggeser tubuhnya ke kursi roda dengan hati-hati, karena tidak ingin membangunkan Lintani. Lalu, keluar dari kamar menuju ruang kerjanya, sambil menghubungi seseorang lewat ponsel.


Askelan memeriksa beberapa file dari surelnya, berpikir dengan cermat dan menyimpulkan satu hal, hingga dia memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam lalu, membuangnya perlahan.


“Anda memanggil saya Tuan?” Itu suara Pit, yang masuk setelah mengetuk pintu dan dipersilakan oleh Askelan.


Askelan mengangguk, sambil menerima berkas dari tangan Pit. Selama ini, dia hanya mengandalkan Jordan dan Pit dalam urusan mengolah data. Namun, tadi malam Jordan sudah bekerja keras bersamanya, hingga dia menugaskan Pit untuk membawa berkas yang sebenarnya, sudah siap sejak sepekan yang lalu. Ya, mereka berhasil menghimpun semua informasi tentang Lintani.


Mereka baru berhasil mengumpulkannya karena keterbatasan data dan lenyapnya keluarga gadis itu sebelum diadopsi oleh keluarga Lux. Namun, dari pengakuan Lintani dan juga informasi dari Luxor sendiri saat pria itu dibuat mabuk, membuat semuanya menjadi mudah.


Sebenarnya Lux sudah bersumpah tidak akan mengatakan informasi apa pun pada orang lain, soal anak saudaranya itu. Dikarenakan, dia memiliki pendirian yang sama seperti anak buah Dex dan Marka pada umumnya, yang lebih baik mati dari pada membocorkan sebuah rahasia.


Askelan perlu mempersiapkan diri untuk membacanya, dia belum mau melihat kenyataan buruk, yang selama ini mengganggu pikirannya.


Dia sudah melihat sendiri kenyataan saat Lintani dibawanya ke rumah kayu. Kenyataan yang dialami seorang wanita jika mengalami hal yang mengerikan, maka akan menunjukkan gejala seperti gadis itu, dia begitu ketakutan dan trauma.

__ADS_1


Kemudian dari hasil tes DNA sehelai rambut yang ditemukan Jordan menempel di dinding kayu. Membuat Askelan bagai terhempas ke dalam jurang yang menganga.


“Apa semua teman tahu tentang hal ini?” tanya Askelan sambil membuka berkas di meja tanpa melihat ke arah Pit sedikit pun, tapi kemudian, meletakkan kembali berkas itu di atas meja.


“Ya! Kami membahasnya dan mengaitkan semua kejadian bersama!”


Askelan mendongak melihat Pit yang berdiri di seberang mejanya.


“Berjanjilah padaku, kalian tidak akan membocorkan rahasia ini sampai kapan pun, dan jangan ungkit soal tanda misterius itu di depan istriku! Aku tidak akan membuatnya berurusan dengan keluarga Shaw! Kecuali, dia sendiri yang menginginkannya!”


“Baik, Tuan.” Pit berkata sambil mengangguk.


“Siapa lima orang yang kau rekrut untuk selalu dekat dan menjaganya?”


“Saya akan membawa mereka ke markas kapan pun, Anda siap mengetes kemampuan mereka!”


“Baik, siapkan mereka sepekan lagi, setidaknya kakiku sudah kuat menendang!”


“Hmm!”


Askelan kembali ke kamar setelah kepergian Pit. Di sana Lintani masih tertidur dengan nyenyak, hal ini wajar, sebab dia baru tertidur setelah lewat tengah malam, tepat sebelum kepulangan Askelan.


Pria itu menyempatkan untuk membersihkan diri dengan handuk basah di kamar mandi, dan mengganti pakaian. Dia biasa melakukannya sendiri kecuali, ada Jordan yang datang membantunya.


Askelan kini duduk di ujung pembaringan, menunggu Lintani bangun, sambil memegang tangan wanita itu di atas pahanya. Sedang tangan yang lain, mengusap kepala dan menyibakkan anak rambut di pipinya.


“Pearly! Pearly!” gumam Lintani tanpa sadar, membuat Askelan menautkan alisnya begitu dalam.


Dalam mimpinya, Lintani melihat seorang anak kecil dalam pangkuannya yang tersenyum manis sambil berkata, “Ibu! Dia ayahku! Apa Ibu ingin melihat Ayah? Bangunlah Bu, dia Ayahku! Dia ada di sini, Bu!”


Namun, anak itu kemudian turun dari pangkuannya dan berlari meninggalkannya.


“Pearly! Pearly!” Panggilnya, tapi, anak itu tetap pergi hingga bayangannya hilang entah ke mana.

__ADS_1


Lintani membuka mata secara perlahan dan yang pertama dia lihat adalah, kedua tangannya yang digenggam seseorang. Tatapan matanya terus naik hingga mendapatkan Askelan, yang juga menatapnya sambil tersenyum penuh arti.


“Kau sudah bangun, Tuan Putri?” tanya Askelan dengan suara yang lembut, suara yang biasanya hanya dia berikan saat bicara pada Haifa, membuat bulu kuduk Lintani berdiri.


Gadis itu menggeser kepalanya hingga bisa melihat Askelan dengan jelas dan, mengabaikan panggilan aneh itu.


“Jam berapa sekarang?”


“Hampir tiba waktunya makan siang.”


“Ah!” pekik Lintani sambil bangkit menegakkan punggungnya, “Aku kesiangan!”


“Apa kau akan pergi, atau ada janji dengan seseorang atau ... Kau punya sesuatu untuk dilakukan?” Askelan tiba-tiba saja terlihat begitu perhatian dan cerewet, bertanya tentang banyak hal.


“Tidak.” Lintani menggeleng. “Aku hanya mau membantu Bibi, semalam aku sudah membuat kekacauan.” Kata Lintani lagi, mengingat semalam dia sudah membuat lantai kamar mandi dan pakaian penuh dengan bekas isi perutnya.


“Tetaplah di sini, jangan melakukan aktivitas apa pun!”


“Kenapa?”


“Aku ingin kau tetap menemaniku!”


“Oh. Hanya karena itu?”


“Ya!”


Lintani menatap Askelan penuh tanda tanya, dia ingat kalau dokter dan hasil tes semalam, menunjukkan dia hamil, dengan usia yang belum diketahuinya.


“Apa kau akan percaya padaku, kalau aku hamil anakmu?” tanya Lintani dengan raut wajah yang serius. Padahal, dalam hati dia tahu, kalau Askelan pasti sudah tahu.


Bersambung


❤️Jangan lupa Like dan Vote biar Author semangat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2