Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 91. Rasevan 2


__ADS_3

Rasevan Dan Sebuah Ingatan 2


 


Hari itu Lintani ingin pergi ke mall yang tidak jauh dari vila untuk berbelanja, dia yang memaksa ikut bersama Mo  memenuhi kebutuhan sehari-hari, walaupun, ada seorang pelayan yang sudah di tugaskan untuk keperluan itu.


Selama beberapa hari ini Askelan menjaganya seperti menjaga seorang anak kecil, mengikuti semua keinginannya kecuali, yang berbahaya.  Dia tidak pernah mengizinkan gadis itu untuk melakukan apa pun, termasuk melayani gairahnya, hingga beberapa malam ini pria itu begitu tersiksa.


Saat Lintani membujuknya pagi itu, pun tanpa sengaja dia telah meningkatkan gairah kelelakian Askelan. Namun, lagi-lagi pria itu tidak dapat melakukannya. Bagaimana tidak, Lintani bersikap manja dan mesra, agar bisa pergi, hingga suaminya pun akhirnya luluh juga.


Askelan sedang berdiri di depan cermin setelah selesai berpakaian, sambil menyisir rambutnya, ketika tiba-tiba Lintani mendekat dan mencium bibirnya.


Namun, Askelan diam karena tidak ingin membangkitkan sesuatu yang lain, sedangkan dia harus setengah mati memadamkan gejolaknya.


“Aku, bosan. Jadi, biarkan aku pergi ke mal hari ini, oke?” kata Lintani masih bergelayut manja di leher Askelan, kedua tangannya melingkar di sana.


“Apa kau tidak takut muntah? Mal baunya tidak enak!”


Lintani tertawa kecil, lalu mencium bibir Askelan lagi seperti tadi, karena suaminya tidak membalas, dia cemberut.


“Kau sudah bisa pergi ke kantor, kenapa aku tidak boleh ke mal? Ada yang Bibi menemaniku!”


“Aku ke kantor cuma sebentar, sambil melihat pesanan perahumu. Lagi pula aku takut kau muntah-muntah di sana.”


“Tidak, aku sudah makan dari tanganmu, aku janji tidak akan muntah. Asal aku tidak memakan sesuatu.”


“Baiklah, tapi ... aku lebih senang kau menggambar dan membuat desain, bagaimana, aku akan menyuruh Jordan membelikan alat lukis untukmu!”


Lintani melepaskan pelukannya, dan menatap Askelan lurus. “Kau mendukungku membuat desain, untuk apa?”


“Desainmu bagus, Sayang! Baju yang kau pakai waktu itu, bukankah itu desainmu?”


Lintani melirik ruang pakaian lalu melihat pada Askelan dan memukul dadanya.


“Apa kau mencurinya? Kau mencuri desainku!”


Hap!


Askelan menangkap tangan Lintani yang memukulnya lalu menciumnya beberapa kali.


“Lepas!” kata Lintani sambil menarik tangannya.


“Kau marah? Maaf ... aku tidak sengaja menemukannya ... lalu aku membeli bahannya, seperti yang kau tulis dan meminta penjahit profesional yang melakukannya sesuai ukuran mu!”


“Bagaimana kau bisa menemukannya, aku sudah mencarinya kemana pun!”


“Bibi yang memasukkan kertas itu ke dalam saku jaketku, dia pikir itu milikku!”


“Oh!” akhirnya Lintani memakluminya, dia tahu kalau saat itu dirinya belum akrab seperti sekarang. Bahkan bisa di bilang mereka seperti musuh. Meskipun begitu, Askelan selalu ada saat dia membutuhkan.

__ADS_1


Lintani tersipu malu, saat mengingat bagaimana untuk pertama kalinya dia menyerahkan diri pada pria itu, di apartemen. Dia berniat akan memberinya kenangan untuk pertama dan terakhir sebelum ibunya tiada. Sungguh dialah yang mendapatkan banyak kenikmatan dan keuntungan, karena dia memang diam-diam menginginkannya.


Melihat raut wajah Lintani yang berubah, Askelan memegang dagunya agar menatap padanya.


“Anggap saja, aku sudah mencurinya, dan sekarang aku akan membayarnya, seharga tancanganmu kalau di jual pada Deondra!”


“Kau pernah menjualnya pada perancang itu? Berapa? Apa itu mahal?”


“Ya!” Askelan melepaskan tangannya dari dagu Lintani, lalu memasuki ruang ganti, membuka brankasnya, mengambil kotak kecil dan memberikan cincin dengan batu biru pada Lintani.


“Elan! Ini bagus sekali!”


“Pakailah, itu milikmu.”


Lintani tersenyum, “Ini terlalu berlebihan!”


“Tidak, ini harga tancangkanmu!” kata Askelan sambil menyelipkan cincin itu di jari Lintani.


“Benarkah? Kalau begitu aku harus mendesain lagi.”


“Itu bagus!”


“Tapi, tidak hari ini, aku akan belanja dulu dan menghabiskan uangku!” kata Lintani sambil tertawa kecil. Dan, Askelan pun mengangguk.


“Baiklah, pergilah dengan Bibi. Asal kau hati-hati!”


Cup! Lintani mengecup bibir Askelan lagi, seraya berkata, “Terima kasih Sayang!” lalu, pergi meninggalkan Askelan yang masih termangu, tapi hatinya senang, mendengar panggilan sayang.


“Bersiaplah kalian menjaganya, aku tidak ingin terjadi apa pun padanya, kalau seujung rambut saja dia terluka, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua!” Tanpa menunggu jawaban Askelan menutup telepon.


Askelan pergi menggunakan mobil yang berbeda dengan Lintani, karena arah mereka berlawanan. Namun, iring-iringan mobil di belakang maupun di depan Lintani lebih banyak.


Askelan sudah mempercayakan keselamatan istrinya pada semua pengawal yang,  beberapa orang di antaranya terdapat perempuan. Merekalah yang akan berada di posisi paling dekat dengan Lintani dan Mo. Prioritas mereka adalah dua wanita itu.


Askelan tampak gelisah di dalam mobil, karena ini untuk pertama kalinya perempuan itu pergi ke luar, dengan statusnya yang sudah resmi menjadi istri Askelan dan, diakui oleh keluarga besar. Namun, tetap saja belum terekspos di hadapan publik, karena memberitahukan hal itu, membutuhkan pertimbangan yang matang.


Jordan melihat kegelisahan Askelan dari kaca spion kecil di depannya, hingga dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Sementara dia terus mengemudikan kendaraan.


“Tuan, apa Anda sudah mempersiapkan Nona untuk tahu hal yang sebenarnya?”


“Apa kau gila? Bagaimana kalau dia syok nanti?”


“Bagaimana kalau Nona justru lebih syok saat berada di sana? Itu akan lebih merepotkan, Tuan.”


Askelan diam, mengatakan tentang kenyataan keluarga istrinya, secara pribadi dia belum siap. Dia tidak sanggup melihat Lintani kembali terluka dan bersedih lagi. Namun, semua yang dikatakan Jordan ada benarnya, jika Lintani tahu sebelumnya, maka dia akan mempertimbangkan kembali, akan pergi ke Rasevan atau tidak.


“Bagaimana kapal yang kau pesan, sudah siap berapa persen?” tanya Askelan, sambil merubah posisi duduk.


“Soal pemasangan senjata, tinggal membuat penutupnya saja!”

__ADS_1


“Lebih lama lebih baik, aku tidak bisa membohongi istriku!”


Mendengar ucapan Askelan, Jordan ingin sekali menertawakannya, banyak yang ditutupi dari istrinya, tapi, sekarang dia berkata tidak bisa membohonginya.


‘Ah, membohongi soal apa Tuan? Bukankah selama ini Anda sudah menjadi pembohong?’ pikir Jordan.


Sejak Lintani meminta untuk melihat tempat kelahirannya di Rasevan, Askelan berusaha mewujudkan, dengan persiapan yang cukup matang. Dia sudah menerjunkan beberapa orang untuk menyelidiki kejadian puluhan tahun lalu.


Tentunya tidak mudah, tapi, setidaknya-setidaknya mereka tahu, jika keluarga Lintani sudah tidak ada di tempat itu. Askelan belum melihat sendiri keadaannya, karena dia menunggu kakinya pulih terlebih dahulu. Namun, dia bisa menarik kesimpulan bahwa, kemungkinan besar Viana Hims, berusaha menyelamatkan anaknya dari hal ini.


Menurut seorang ahli yang disewanya, bahwa ada pembantaian sebelumnya pada sejumlah orang, yang masih memiliki genetik sama, atau berasal dari satu keturunan. Sedangkan peledakan yang mengakibatkan gelombang besar mirip badai itu, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi kejahatan yang sebenarnya.


Sesampainya di kantor, Pit sudah menunggu kedatangan Bosnya itu, sambil menikmati secangkir kopi.


“Kau pikir ini kedai kopi mu? Hah!” sapa Askelan sambil duduk di kursinya.


“Maaf, Bos. Aku hanya mau memberikan ini.” Pit berkata sambil mendekati meja Askelan, sedangkan Jordan duduk di mejanya sendiri dan memberikan sebuah foto.


“Ini, foto yang sudah diperbesar, tanda ini adalah ciri khas Marka dalam setiap tindakannya, bukti yang kuat bukan kalau dialah pelakunya?”


“Bukankah tempat itu sudah hancur?” kata Askelan sambil melihat foto dengan seksama, sebuah gambar yang memperlihatkan gagang pisau dengan ukiran huruf M dalam lingkaran.


“Ya, ini keajaiban, mungkin Tuhan memberkati Anda. Jadi, bisa membalaskan dendam untuk keluarga Nona!”


Sebaik apa pun seseorang menutupi kejahatannya kalau memang takdir membuat kejahatan itu terbongkar, maka, pasti akan terbongkar juga.


“Bagaimana jika kita melakukan penjebakan, kalau kita ke sana nanti?” kata Jordan.


“Apa kau akan membunuh istriku juga, bagaimana kalau dia tertangkap?”


Jordan dan Pit diam, ada perasaan tidak enak, sebab mata-mata Marka pasti tidak akan tinggal diam.


“Tujuan mereka memang membunuh semua keturunan Syahrain, penembakan di pondok bukit itu adalah satu upayanya, tapi, kita tidak bisa menghindari mereka. Cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak.” Kata Jordan.


“Aku punya rencana lebih bagus!” kata Askelan


“Apa?” kata Pit dan Jordan bersamaan.


“Hancurkan saja Bukit Shaw! Bukankah itu yang menjadikan pertumpahan darah?"


Dua orang anak buah Askelan cemberut, mereka tahu apa yang dikatakan tuannya itu pelanggaran negara dan pasti akan merugikan Nona mereka.


“Ya ... hancurkan saja, dan jangan sampai istriku tahu!” kata Askelan lagi sambil bersandar.


“Bagaimana kalau suatu saat Nona tahu, saya pikir Nona akan membenci Anda!” kata Pit, lalu ...


Brak! Sebuah tinju melayang ke ke atas meja menimbulkan suara yang cukup keras. Pit yang berada paling dekat, terkejut bukan kepalang, membuat pria bertubuh semampai dan berkulit hitam itu menghentakkan tubuhnya ke belakang.


 

__ADS_1


Bersambung


❤️siapa yang masih ingin adegan uwu, atau sudah penasaran dengan latar belakang Lintani? silakan like dan komennya🙏❤️


__ADS_2