
Pondok Kayu 2
Jordan pernah membawa Askelan dan Haifa ke pondok itu belum lama, baginya wajar tuannya membawa gadis itu ke sana karena bisa jadi napak tilas dari kejadian yang di alami mereka berdua, tapi, membawa Lintani ke sana? Sungguh dia tidak tahu alasannya, untuk apa?
Tangan Askelan terulur dengan lembut seraya menarik bahu Lintani, yang terguncang karena tangisnya, tapi, gadis itu menepis tangan suaminya.
“Tenanglah aku tidak akan menyakitimu!” hanya itu ucapnya.
Jalanan mulai menanjak, sementara Lintani mulai tenang dia pasrah dengan keadaannya karena menolak pun percuma. Askelan bukan memberi penawaran tadi malam, melainkan, memaksanya. Tidak ada cara lain selalu saja memaksa.
Sampai di jalan yang agak kasar, Jeep berguncang sedikit tapi, tetap nyaman, Lintani merasakan jalan yang pernah dilaluinya malam itu. Walaupun malam, tapi sorot lampu mobil membuatnya tahu, jalan ini tidak banyak berubah, masih sama seperti delapan tahun lalu.
Beberapa hal akan sangat membekas dalam ingatan manusia dengan begitu dalam, terutama tentang luka, kesedihan dan pengkhianatan. Setiap detailnya akan selalu diingat oleh kebanyakan wanita, yang pernah merasakan rasa sakit, kecewa, apalagi yang mengakibatkan trauma berkepanjangan.
Tiba-tiba Lintani menoleh kasar pada Askelan, lalu seperti kehilangan akal, dia menuduh jika pria ini adalah salah satu dari mereka. Ya! Mereka yang sudah menjebak dan mengancamnya akan mencabuti seluruh kuku jarinya jika dia menolak.
“Kau?” Lintani, tidak percaya, tempat itu benar-benar tempat yang sama saat dia di ruda paksa oleh seseorang sampai dia hamil. Dia pria yang sudah wafat bahkan dia melihat sendiri para polisi membawanya dalam sebuah kantong mayat.
Lintani mulai gemetar, matanya yang memerah karena tangisan, kini memerah karena takut, kulit wajahnya lebih dari sekedar pucat pasi, dia meringkuk di sudut kursi dan menggigil. Dia menggigit kuku jarinya sendiri, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan kini.
“Jangan!” teriaknya begitu melihat pondok itu masih dalam bentuk yang sama. Dia kembali menangis dan berlutut di kaki Askelan di bawah jok mobil itu.
“Tuan ... Tolong, turunkan aku di sini, ku mohon! Jangan bawa aku ke sana! Kumohon!” gadis itu merintih penuh permohonan.
Askelan melebarkan matanya, dia melihat keadaan Lintani yang kacau, karena saat meringkuk di sudut tadi Lintani menjambak rambutnya sendiri.
“Kau kenapa?” tanyanya heran.
Raut wajah Lintani berubah mengerikan seraya berteriak, “Apa kau bagian dari mereka yang menjebak ku? Hah!”
Lintani berada dalam pikiran antara sadar dan tidak, sehingga dia kadang trauma kadang sadar. Dia kembali duduk dan merasa putus asa karena tidak mungkin meminta apa pun pada pria yang selalu berhasil memaksanya itu.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” kata Askelan dengan menyeringai dan melirik Lintani aneh.
“Kau ...? Kau ....!” Lintani berpaling ke jendela, dia terus meracau tak tentu arah apa yang dikatakannya.
Askelan sedikit terkejut melihat reaksi yang berbeda antara Lintani dengan Haifa. Waktu itu, Haifa sangat senang dibawanya ke pondok. Dia mengatakan terus terang jika dirinya gembira diajak ke sana karena akan mengulang masa lalu mereka dan ingin kembali bercinta. Namun, nyatanya, Askelan hanya membawanya berkeliling dan tidak mengatakan sesuatu apa pun juga.
Jordan menepikan mobil di dekat tangga menuju pintu utama, lalu turun untuk membukakan pintunya untuk Askelan dan saat pintu terbuka, dia melihat Lintani dengan keadaan yang menyedihkan.
Rambutnya acak-acakan, mata merah dan pipinya basah oleh air mata. Jordan memberinya beberapa lembar tisu dan Lintani menerimanya dengan kasar lalu, mengusap wajahnya asal. Dia tampak sangat putus asa.
“Ayo turunlah!” kata Askelan saat di sudah turun dan meminta Lintani yang duduk di sudut sambil memeluk lututnya itu agar ikut bersamanya.
Gadis itu menggeleng kuat sambil mengedarkan ke sekelilingnya.
“Apa kau akan mencabuti kukuku, kalau aku tidak mau?”
Pertanyaan Lintani sangat mengherankan bagi Askelan dan Jordan. Tentu saja kedua pria itu menggeleng karena mereka tidak akan melakukannya.
“Kalian memang sama saja! Kalian semua pembohong! Kalian bilang kalau kalian akan memberikan alamat ibuku kalau aku menuruti kalian, kan?” kata Lintani sambil menggigit kuku jarinya sendiri.
“Tuan, apa mungkin Nona pernah di ancam dengan hal seperti itu?”
“Mungkin, apa ada dalam rekaman teleponnya tentang apa yang dia katakan tadi?”
“Sayangnya tidak ada Tuan!”
Askelan kembali menatap Lintani, misinya belum selesai, hingga dia harus membawa gadis itu sampai di dalam.
“Ayo! Ikut aku dulu, baru aku akan memberi tahu di mana Ibumu!”
“Benarkah?”
__ADS_1
“Benar! Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau sudah bertemu Ibumu, Nyonya Viana Hims?”
“Aku ingin tahu, kenapa dia menjualku pada keluarga Lux!”
Apa yang diucapkan Lintani membuat Jordan dan Askelan sama-sama menelan ludahnya kasar. Ini kenyataan lain yang lebih menyakitkan, dari perundungkan keluarga Lux.
Kenyataan tentang Lintani yang dijual oleh ibunya adalah rahasia antara keluarga itu yang tidak akan bisa diketahui oleh siapa pun kalau Lintani tidak mengatakannya pada Askelan dan Jordan.
Seketika Jordan menjadi sadar jika dia tidak akan mendapatkan informasi awal yang membantu kecuali, dari Lintani sendiri. Dia sudah mengikuti keinginan Askelan untuk mencari latar belakang keluarga Lintani tapi, data apa pun tentangnya tidak ada. Dia hanya menemukan data bila sebelumnya gadis itu menjadi anak adopsi bagi keluarga Lux. Sedangkan data tentang siapa kedua orang tua kandungnya tidak ada.
Beberapa saat kemudian, Lintani meraih tangan Askelan yang terulur sejak tadi, dengan gemetar, lalu, mengikutinya melangkah menaiki tangga pondok. Kini kedua tangan mereka saling menggenggam dengan erat lalu, Askelan membuka pintu yang sudah dibuka kuncinya oleh Jordan.
Tidak ada apa pun di sana, ruangan kosong dengan perapiannya pun bersih dari abu dan jelaga. Dinding kayunya bersih termasuk beberapa ruangan lain di dalamnya hanya ada satu balai-balai berukuran sedang di setiap runag sebagai tempat duduk atau bersandar.
Namun, dalam bayangan Lintani ruangan itu tampak berbeda, suram dan kotor, bau anyir darah itu masih tercium. Dan, dia ingat betul bagaimana ketakutan itu menyergap saat sebuah suara memanggilnya.
Tiba-tiba Lintani merapat ke dinding, tangannya bergerak seperti mencari sesuatu. Keringat sudah membanjiri tubuhnya serta kaki tangan yang gemetar. Dia mengulang rasa takutnya.
“Jangan!” katanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa kau baik-baik saja?” kata Askelan
Mendengar suara itu, secara spontan Lintani menoleh karena terkejut, lalu, matanya terpejam seiring dengan tubuhnya yang melorot ke lantai.
Askelan membungkuk untuk meraih tubuh Lintani yang tiba-tiba pingsan, di saat yang sama, Jordan melihat sesuatu yang menempel di dinding kayu, di sisi yang berbeda dari sisi di mana tadi Lintani bersandar.
“Tuan! Apa sebelumnya benda seperti ini ditemukan menjadi barang bukti? Apalagi ini sudah delapan tahun yang lalu, ap—“ Jordan berkata tapi ucapannya terjeda karena dia melihat Askelan yang, sibuk menggosok pipi Lintani dengan kedua telapak tangan agar segera sadar.
Do! Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar gubuk.
Bersambung
__ADS_1