Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 68. Meluluhlantakkan Gudang Senjata


__ADS_3

Meluluhlantakkan Gudang Senjata


“Bawa saja, siapa tahu Bombim akan diperlukan, aku curiga kalau sebenarnya bangunan itu berisi sesuatu!” kata Askelan saat pintu lift sudah terbuka, kini mereka berada di lantai dasar.


Bombim yang dimaksud Askelan adalah sebuah mobil khusus yang, memiliki senjata di kiri kanannya dan bazoka besar di atasnya.


Tanpa menunggu lama, Jordan menghubungi anak buah sebelum kepergiannya. Semua ada lima orang selain Pit.


Saat mereka tiba di lobi kantor, semua karyawan yang berpapasan dengan mereka, menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Namun, di antara ketiga orang itu mengabaikan mereka, tidak membalas sedikit pun, seolah mereka lalat yang terbang selintas saja.


Askelan mengendarai mobil bersama Jordan sedangkan Pit menaiki mobilnya sendiri menuju arah apartemen. Mereka hendak mengambil senjata masing-masing dan kembali bertemu dengan beberapa anak buah yang lain di markas helikopter milik keluarga Harrad. Tentu saja Askelan sebagai penanggung jawab divisi itu, hingga dia bebas memakainya.


Askelan hanya mengambil senjata yang sudah dia persiapkan, sedangkan Pit dan Jordan mengambil senjata pilihannya sendiri.


Setelah selesai, mereka menaiki mobil yang sama menuju ke markas. Lalu, terbang ke pesisir barat daya kota, dalam satu helikopter besar, Askelan, Jordan, Pit, Jou, Max dan Leo. Sementara Mat dan Greg membawa mobil dobel truk yang sudah di modifikasi dengan senjata Tomahawk, dan bazoka di atasnya melakukan perjalanan darat, yang mungkin akan sampai di pesisir setelah satu jam lebih karena perjalanan ke sana tidak mudah.


Helikopter tidak turun di sekitar tempat itu, melainkan berhenti pada radius kurang lebih dua ratus meter dari kubah putih di pinggir hutan. Dari sana mereka turun dengan tangga tali dan menyusuri semak dan pepohonan dengan berbagai strategi.


Askelan memimpin Pit dan Max di sayap kanan sedangkan Jordan dan Leo di sayap kiri. Mereka menggunakan senapan angin berperedam terlebih dahulu, untuk membungkam beberapa orang yang menyendiri demi mengurangi jumlah musuh secara diam-diam.


Askelan mendekat sementara Jordan terus menghubungi Mathieu, atau biasa dipanggil Mat, tentang keberadaannya, sebab mereka harus tiba di lokasi dalam waktu bersamaan.


“Kami sudah dekat, bos! Jangan kuatir, kita akan tiba tepat waktu!” Jawab Mat dengan santai, sementara Greg menerbangkan drone.


“Aku pikir kau akan menaruh bom di sana dan kau bisa meledakkannya!” kata Mat pada Greg, dalam mobil yang mereka kendarai.


“Lalu, kau akan melihatku dipenggal, Tuan Askel karena kekasihnya mati di tanganku?”


“Haha! Sepertinya itu seru!”


“Kau gila, pembunuh berdarah dingin, pantas saja Bos selalu memintamu membawa senjata itu!”


“Aku hanya membawa Tomahawk, tapi Pit atau Jode yang sering menggunakannya!”


Mereka melihat melalui kamera pengintai pada drone hingga Mat menghentikan laju mobil dan menghubungi Jordan.


“Bos! Kami sudah berada di antara kalian lima puluh meter saja, apa kami maju lebih dulu?”


“Jangan, tunggu perintah Tuan Askel. Musuh lebih dari lima puluh orang di luar!”


“Ya, kami sedang menghitung!”

__ADS_1


Sementara itu, Askelan di sayap kanan sudah menembak mati seorang yang sedang pipis di dekat pohon, lalu seorang lagi yang tengah tertidur, atau seorang lagi yang melakukan sesuatu dengan alat kelaminnya sendiri di belakang gedung, serta dua orang yang tengah minum. Ada dua lagi yang bermain kartu. Total tujuh orang yang sudah terbunuh di tangan Askelan dan Pit.


Sementara bagian lain gedung, dipastikan tidak ada penjagaan karena berbatasan langsung dengan tebing bibir pantai yang curam.


Jordan menghadapi situasi yang sulit, hampir tidak ada penjagaan yang menyendiri, mereka seperti tersiaga dengan baik karena berada di sekitar jalan masuk area. Semua orang yang ada di sana berkelompok minimal 3 orang.


“Lebih baik kita pancing dengan sesuatu, Jode!” kata Leo.


“Oke!”


Jordan mengambil minuman di saku jaket anti pelurunya, sampai habis lalu melemparkannya ke sisi kirinya hingga bisa menjauhkan beberapa orang yang berkerumun.


Tiga orang memeriksa suara aneh yang ditimbulkan oleh botol pecah, lalu, beberapa detik kemudian mereka tewas.


Tentu saja hal ini mengundang kecurigaan yang lain, bahwa teman mereka tidak muncul, dan begitu mengetahui jika ternyata teman mereka sudah tidak bernyawa, kegaduhan pun terjadi. Mereka menjadi waspada dan menyebar ke sekitar tempat di mana rekan mereka tewas. Tak lama kemudian, baku tembak pun terjadi.


Sementara Askelan dengan senjata di tangan dan pundaknya, sudah berhasil melubangi jendela kaca besar yang ada di sisi kanan gedung, menggunakan peralatan pemotong kaca yang sengaja dibawanya. Setelah itu dia masuk secara mengendap-endap di susul Pit dan Max.


Askelan mendapatkan semua ruangan di dalamnya kosong. Mereka sudah mendobrak semua pintu secara paksa dan menembak mati tiga orang di dalam rumah yang tengah memasang kamera pengintai di kamar Lintani. Dia menendang mayat yang tergeletak di dekat kakinya dengan sekuat tenaga sebagai pelampiasan kekesalan.


Lintani tidak ada di sini, lalu, kemana dia? Pikir Askelan marah.


Mat sudah berhasil membobol pintu kaca berteknologi tinggi dengan menghancurkannya, lalu mereka keluar menyusul baku tembak yang sedang terjadi di luar antara musuh, Jordan dan Leo.


“Lindungi aku!” katanya pada Max dan Pit.


“Baik!” kata mereka secara bersamaan.


Setelah sampai di mobil, Askelan naik ke bagian belakang, berdiri dan mengarahkan bazoka ke bangunan.


“Jode, Leo, Kalian ada di mana?” kata Askelan Melalui earphone yang menempel di telinga.


“Kami ada di dekat Anda, kami bisa melihat!”


“Apa kalian baik-baik saja?”


“Leo terluka, tapi tidak masalah!”


Askelan tidak menjawab lagi, tapi, menekan senjata di tangannya setelah Greg memasukkan bom ke dalam. Sedetik kemudian ....


Bum! Duarr!

__ADS_1


Suara ledakan keras terjadi dan menghancurkan bangunan itu. Seketika semua pasukan musuh bergelimpangan.


Namun, melihat Askelan masih membidikkan senjata itu ke sana, Greg menjadi heran.


“Bos, apa kau mau menghancurkan lagi?” tanyanya.


Hai! Tempat itu sudah hancur!


“Masukkan saja bomnya!” perintah Askelan.


“Baik!” sahut Greg sambil melakukan perintah Askelan yang llangsun mengarahkan bazoka ke bagian tanah yang di cor dengan ukuran yang cukup luas.


Sementara itu Jordan dan Leo berjalan mendekat dengan kaki yang pincang.


“Ada sesuatu di sana!” kata Askelan lagi, “Mat! Mundurkan mobilnya!” kata Askelan lagi.


“Baik!” sahut Mat.


“Kalian semua naik!” teriak Askelan.


Dengan gesit Max dan semua anak buah mengikuti perintah Askelan lalu, setelah berada pada posisi yang cukup aman, Askelan membidik.


Bum! Kembali terdengar suara senjata berat ditembakkan kali ini ke arah tanah. Setelah itu terdengar letusan yang tidak hanya sekali dari dalam tanah itu hingga semua anak orang dalam mobil menundukkan tubuh mereka.


“Apa itu?” tanya Greg yang kembali berdiri setelah letusan berhenti.


“Sepertinya ada gudang senjata di bawahnya!” kata Askelan.


“Tuan! Kau luar biasa! Bagaimana kau bisa tahu?” kata Greg lagi.


“Aku melihat kontur tanah yang tidak biasa dan bangunan itu seperti menutup sesuatu di bawahnya. Saat aku masuk tadi, sepatuku tidak menginjak lantai marmer, tapi kaca!”


Pit, yang mengikuti Askelan terheran-heran karena mereka tidak merasakan apa pun pada kakinya.


“Jode! Kau sudah menghubungi helikopter kita?”


“Sudah, Tuan. Sebentar lagi mereka sampai!”


Jordan tahu, Askelan tidak menemukan Lintani di dalam rumah itu tadi, hingga dia nekat meluluh lantakkan tempat itu. Tiba-tiba dia merasa kasihan dengan Bosnya. Dia tidak tidur selama berhari-hari, hanya untuk mencari orang yang dia kira akan dibuang setelah kematian ibunya. Nyatanya majikannya justru kelimpungan seperti ini. Sayangnya Askelan tidak mau berbagi perasaan padanya, hingga Jordan penasaran kenapa dia berubah demikian.


Bukankah dia berjanji akan menikahi Haifa kalau ibunya sudah tiada? Tapi sekarang justru repot-repot menghancurkan bangunan bagus hanya karena tidak menemukan wanita yang katanya tidak disukainya. Ah! Pikir Jordan, sambil membalut luka di kaki dan tangan Leo.

__ADS_1


Saat itu, Max yang terlihat paling santai saat menunggu Helikopter mereka datang, tengah melihat tayangan sebuah video life streaming dari salah satu akun di media sosialnya, di mana Haifa, sang artis yang tengah naik daun tengah bertengkar dengan seseorang.


Bersambung


__ADS_2