
Rasevan Dan Sebauh Ingatan 3
“Tuan!” Jordan memegang bahu Askelan dengan kuat agar tidak memukul lagi, karena tangannya baru saja sembuh. Biar bagaimanapun juga, apa yang dikatakan sahabatnya itu benar. Lintani mungkin akan membenci, jika suatu saat dia tahu Askelan menyembunyikan banyak sekali kebohongan.
“Tidak, ini tidak benar .... maafkan aku!” kata Askelan pada Pit, sambil mengibaskan tangan.
Pukulan Askelan sebenarnya tidak mengejutkan dan Pit mengerti dengan ketidak setujuannya. Pria itu memang tidak mempunyai badan setinggi Askelan dan Jordan, tapi tubuhnya cukup kuat, serat memiliki keluasan pikiran dibandingkan sahabat lainnya. Kini, hatinya sedikit terluka karena orang yang sudah dianggap sebagai ketua sekaligus penolong, begitu marah hanya karena wanita.
‘Jangan sampai aku tergoda makhluk perempuan itu, aku tidak mau jadi idiot, banyak laki-laki seperti Tuan, yang tidak bisa berpikir dengan baik gara-gara wanita! Huh!’ batin Pit.
Pit tersenyum kecut, yang menyadari bila Askelan kali ini benar-benar jatuh cinta.
“Jujurlah pada Nona, karena akan jauh lebih baik mengetahuinya sekarang, aku yakin Anda akan semakin bahagia, Tuan!” Katanya sambil mengusap dada.
Askelan diam, dia masih ingin menikmati saat kemesraan dengan istrinya, tanpa di ganggu hal lain. Dia teguh pada pendiriannya semula, yang akan membiarkan Lintani sampai bertanya sendiri, barulah dia akan menceritakan semuanya.
Sementara itu di tempat yang berbeda dalam mal. Lintani dan Mo hampir saja selesai berbelanja, mereka membawa banyak kantung belanjaan di tangan, padahal sudah ada seorang asisten lain yang membantunya.
“Nona, sekarang sudah waktunya makan siang, apa Nona mau mencicipi makanan di sini atau kita pulang saja?” Mo bertanya hati-hati, sebab dia tahu kalau Lintani hanya akan makan kalau disuapi tuannya.
Mereka baru saja selesai memesan daging dan ikan untuk di timbang dan di bungkus. Lintani memilih beberapa ikan bersirip merah, yang dulu sering dia temui di tepi danau Rasevan. Selama tinggal di kota Hill, dia tidak pernah menikmati makanan yang dibuat ibunya.
“Aku lihat ada makanan enak tadi, kita pesan saja untuk dibawa pulang.”
“Baik!”
“Bibi, aku ingin ke toilet dulu, tunggu aku di sini, ya!” kata Lintani sambil mencium tangannya setelah memilih ikan segar. Sambil berjalan dia membayangkan makanan yang akan dia masak setelah di rumah.
Lintani masuk ke Toilet yang kebetulan sepi, dia hanya mencuci tangan, tapi, karena ada aroma tidak sedap yang tiba-tiba muncul, membuatnya muntah di wastafel. DI saat yang bersamaan ada seorang wanita bertopi hitam dan berjaket tebal ikut mencuci tangan di sebelahnya.
__ADS_1
“Apa kau hamil?” tanya wanita itu.
“Ya.” Lintani menjawab setelah mencuci mulut dan tangannya.
“Apa suamimu bahagia dengan anak itu?”
“Tentu saja.”
“Kau beruntung! Tidak seperti aku, setelah aku hamil, aku dicampakkan begitu saja dan dia mengingkari semua janjinya setelah aku kehilangan bayiku!”
“Maaf, aku turut prihatin atas semua itu.”
“Huh! Kau Cuma Prihatin, padahal kau yang melenyapkannya!”
Lintani mengamati wajah orang yang baru saja berkata kasar padanya.
“Haifa? Kau!”
“Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku!”
“Kau ini memang bodoh atau pura-pura tidak tahu? Kami sekarang sekarat Lin! Dan, apa kau masih belum puas dengan membongkar semuanya pada suamimu yang bodoh itu?”
“Apa maksudmu, Askelan bodoh?”
“Ya, karena dia justru memilih wanita seperti dirimu! Kalian sama bodohnya!”
Plak!
Lintani menampar Haifa cukup keras, membuat gadis itu meradang, dia menatap nanar sambil tertawa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Kau bahkan semakin berani menamparku?” kata Haifa, sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Lintani.
Sebelum terjadi hal lain, Tiba-tiba seorang perempuan lain masuk sambil menelepon, dia berkata dengan suara cukup keras.
“Sialan kau pembohong! Aku tidak akan mengampunimu!” katanya sambil melemparkan tas pada meja wastafel. Tanpa di duga, keluar pistol kecil dari dalam tasnya, membuat Haifa dan Lintani menoleh secara bersamaan dengan mata terbelalak.
Haifa segera merapatkan topinya lebih dalam hingga wajahnya tak terlihat, meninggikan kerah jaket lalu, keluar tanpa permisi. Setelah Haifa pergi, wanita itu segera memasukkan pistol dan ponselnya ke dalam tas. Lalu, membungkuk pada Lintani.
“Maafkan saya, Nona, kalau membuat Anda terkejut. Saya hanya harus menjaga Anda.”
“Kau?” kata Lintani tak berdaya, dia keluar toilet sambil menggelengkan kepalanya. Setelah sampai di luar, dia melihat beberapa orang sambil mengerutkan keningnya, karena baru sadar, jika selama dirinya dan Mo berbelanja, para wanita itu selalu berada di antara mereka.
Lintani menghela napas berat saat melewati mereka dan tak lama kemudian, para pengawal mengikutinya. Dia tidak nyaman diperlakukan demikian. Namun, di sisi lain dia sangat senang, karena perhatian yang diberikan padanya walaupun, sedikit berlebihan.
Lintani belum menyadari mengapa Askelan menjaganya demikian, dia hanya berpikir jika penjagaan itu, karena dia pernah diculik Dex yang ingin menjadikannya istri.
Dia tersenyum sambil berkata dalam hati, “Dia pencemburu sekali. Dex, sudah mati, tidak ada lagi yang akan menjadikanku istri!”
Lintani ingin sekali menghubungi Askelan, tapi, dia kemudian sadar kalau dirinya tidak memiliki benda itu, dia berinisiatif untuk membelinya sendiri.
Dia tidak tahu telepon yang bagus, hingga dia meminjam ponsel Mo, menghubungi Askelan. Dia hanya ingin bertanya merek ponsel padanya.
Begitu ponsel tersambung.
“Halo Bibi, ada apa menghubungiku, apa istriku baik-baik saja, atau ada sesuatu yang terjadi padanya? Cepat katakan!” Suara Askelan terdengar gusar dari balik telepon.
"Ini, aku ...."
Bersambung
__ADS_1
❤️lanjut uwu besok lagi ya, jangan lupa like dan komennya 🙏❤️