
Ciuman Hangat
Lintani, Pit dan beberapa empat orang pengawal menodongkan senjata ke arah kapal yang semakin mendekat dan di saat yang sama, mereka melihat sosok Askelan di kejauhan. Pria itu tengah berdiri di depan dek kapal dengan rambut yang tertarik ke belakang karena hempasan angin dari arah depan.
Dalam hitungan menit saja, dua kapal sudah merapat berjajar di sisi tebing dan Askelan melompat dengan cekatan ke arah di mana Lintani tengah berdiri menatap kedatangannya dengan takjub.
Pria itu tampak sudah mengganti pakaiannya yang kemarin dan terlihat segar. Dia berjalan sambil mengulurkan tangan, mendekati istrinya dan setelah dekat, langsung diraihnya tubuh Lintani dalam dekapannya.
“Apa kau merindukanku?” tanyanya.
“Tidak!” kata Lintani setengah mati menahan kesal, karena laki-laki itu tidak menanyakan bagaimana keadaannya, seolah tidak peduli jika semalaman bahkan sampai tadi pun, Lintani masih mengkhawatirkannya. Sebenarnya bukannya Askelan tidak peduli tapi, dia sangat percaya pada semua orang di sana yang pasti akan menjaga istrinya dengan mempertaruhkan nyawa.
“Tidak?” tanya Askelan seraya melepaskan pelukan dan menunduk melihat wajah Lintani lebih dekat.
“Ya! Aku Cuma khawatir padamu!”
“Oh!” Askelan terdengar kecewa karena sang istri tidak merindukan dirinya. Tiba-tiba saja wajahnya cemberut.
Lintani melihat perubahan wajah itu dan dia berkata, “Jangan cemberut begitu, kau tahu kan, khawatir itu tandanya apa?”
Seketika senyum Askelan pun terbit, lalu menciumi seluruh wajah Lintani, sekali lagi tanpa memedulikan keadaan sekitar di mana ada seorang laki-laki, yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjauh pergi, dan berkata, “Jode ... Jode, siapa yang kuat jadi dirimu kalau harus melihat hal ini setiap hari!”
“Ke mana saja kau ini? Dari kemarin aku mencarimu!” tanya Lintani sambil mengusap punggung Askelan karena pria itu kembali memeluknya.
Askelan tidak menjawab, tapi, dia melihat sekitar juga ke dalam perahu dan terlihat bila semua baik-baik saja, membuatnya tersenyum puas. Lalu, dia membawa Lintani masuk, ke dalam dek kapal.
“Apa kau sudah makan?” Katanya sambil menarik tangan Lintani dengan lembut dan mendudukkannya di sampingnya, “Aku lapar!” katanya lagi tanpa menunggu jawaban Lintani.
Pit berjalan ke dapur dan mengambil makanan yang sudah dia masak bersama para dokter tadi untuk Lintani dan sekarang disediakan pada Askelan.
Dua orang yang terlihat lapar menikmati makanan dalam diam, saling menyuapi dan saling melempar pandangan dengan penuh kasih sayang. Sementara Lintani masih penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi selama mereka berpisah.
“Apa kau tidak mau menceritakannya padaku?” kata Lintani lagi, sementara Askelan memasukkan satu sendok makanan terakhirnya ke mulut Lintani, dengan terpaksa gadis itu pun mengunyah padahal perutnya sudah kenyang.
Askelan menggeser piring ke samping, hingga dia bisa menyimpan kedua tangannya di atas meja, dan menyangga dagu sambil menatap istrinya.
“Apa yang harus aku ceritakan, bagian yang mana itu?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu! Kenapa tidak kau ceritakan saja semuanya?”
“Biarkan aku seperti ini dulu, aku tidak melihatmu dari kemarin!”
Lintani memalingkan muka, baginya Askelan sangat berlebihan, dan semua dimulai setelah mereka kembali bertemu di atap gedung waktu itu. Bahkan, sering mengumbar kata cinta dan rindu. Dia masih takut kalau kenyataan yang dilihat hanyalah fatamorgana, dia masih ragu kalau laki-laki itu hanya sedang bosan saja, hingga butuh mainan baru, dan bila suatu saat dia bosan, Askelan pasti akan membuangnya.
Lintani mencoba membenarkan hatinya dengan segala keraguan, karena untuk benar-benar yakin, itu sulit. Dia masih ingat bagaimana Askelan untuk pertama kali menciumnya di depan umum dengan paksa, itu sikap tidak manusiawi yang pernah dia rasakan setelah di paksa melayani orang yang hampir mati.
Namun, dia juga ingat ucapan Elliyat jika Askelan tidak akan mengabaikan wanita yang dicintainya, sebab dia memiliki pengalaman pahit soal itu dan tidak akan menjadi pria seperti ayahnya. Dia menganggap laki-laki seperti itu, pengecut.
Tanpa setahu Lintani, Askelan akan melakukan apa pun demi dirinya, termasuk jika harus meninggalkan semua yang sudah dia dapatkan dengan susah payah. Sebab dia adalah wanita yang telah membuatnya jatuh cinta, apalagi akan memiliki seorang anak.
Askelan mempunyai cita-cita ingin membesarkan anaknya, menjadi lebih baik dari dirinya sendiri. Dia akan menjadi ayah yang sempurna, karena dia pernah hidup tanpa seorang ayah yang mendampinginya. Oleh karena itu, dia tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama.
“Kalau belum mau cerita, aku akan meninggalkanmu di sini!”
“Kau mau ke mana?”
“Berenang!”
“Apa?”
“Benarkah? Kau pernah berenang sampai ke tempat ini waktu kecil?”
“Ya!”
“Dengan siapa?”
“Milo!”
Ah! Anak itu lagi. Askelan kembali cemberut, dia merasa benar-benar kalah oleh seorang pria yang bahkan sudah tiada. Dia kembali cemburu.
Sebelum Lintani sempat berdiri, Askelan sudah menarik tangannya dan membawanya ke atas pangkuan.
“Baiklah, aku akan ceritakan semuanya!”
Lintani diam menyiapkan telinga untuk mendengar hal yang terburuk atau yang terbaik sekalipun. Namun, setelah beberapa saat menunggu, pria itu tetap diam, dia hanya menatap istrinya dengan lembut, sambil membasahi bibir. Caranya menjilat sungguh sangat menggoda membuat gadis itu terpana.
__ADS_1
“Ayo! Lakukan! Ayo! Cium aku! Kau harus memulai lebih dulu!” Kata Askelan dalam hati.
Lintani mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menangkap isyarat itu. Dia sungguh tergoda, tidak bisa melewatkan hal manis itu begitu saja.
“Tuhan! Dia seperti anak kecil, tapi apa benar dia ingin aku menciumnya? Ah! Yang benar saja!” batin Lintani.
Beberapa detik kemudian, ciuman itu pun terjadi. Beberapa orang yang semula berada di sekitar mereka, sudah menyingkirkan diri sejak Askelan dan Lintani mulai saling menyuapi saat makan.
Setelah Lintani menyelesaikan ciumannya, Askelan masih sedikit membuka mulutnya karena tidak puas.
“Jadi, apa yang terjadi padamu kemarin?” tanyanya.
Askelan kemudian menceritakan bagaimana kejadian di tepi danau kemarin.
“Jadi, kau berhasil menangkap bedebah itu?” Tanya Lintani lagi.
“Ya!”
Lintani terlihat puas, dia tersenyum dan kembali memberi mencium hangat pada pria itu.
Askelan berhasil menangkap Marka dan menjadikannya sanderanya.
Setelah dia dan pasukannya bisa mengalahkan musuh, dia tetap harus berada di sana karena memastikan anak buahnya bekerja sesuai keinginannya. Hari sudah menjelang sore ketika mereka selesai mengurus Marka.
Namun, keadaan yang semakin gelap dan cuaca yang berangin membuat pekerja sedikit lambat. Angin dingin menusuk tulang di luar sana, tanpa adanya pemanas yang memadai kecuali api unggun, tapi berlawanan dengan angin kencang.
Oleh karena itu, Askelan menunda pekerjaan hingga keesokan harinya. Mereka mengubur semua korban dari anak buah Marka yang sudah tewas. Menutupi ceceran darah dengan tanah, dan membersihkan sisa ledakan helikopter, hingga keadaan danau kembali bersih seolah-olah tidak pernah terjadi pertempuran sebelumnya.
“Apa kau sudah selesai menciumku?” katanya setelah Lintani melepaskan ciumannya.
Dengan cepat, gadis itu mengangguk. Padahal, maksud Askelan adalah, kenapa ciuman itu harus berhenti, sedangkan dirinya masih ingin melakukannya.
“Ayo! Aku ingin melihat seperti apa laki-laki itu, Elan?” kata Lintani sambil berdiri dan menggamit tangan Askelan.
“Apa yang akan kau lakukan padanya?”
Bersambung
__ADS_1
❤️ Jangan lupa like dan dukungan lainnya, terima kasih 🙏❤️