
Turut Berdukacita
Lintani melewati hari-hari nya di rumah sakit bersama Mo.
Saat kejadian itu dia pingsan selama beberapa jam, tapi dokter telah menyuntikkan obat tidur padanya agar bisa istirahat dengan baik. Oleh karena itu, dia langsung tertidur hingga keesokan harinya.
Mo merawat dengan telaten, seperti mengurus anaknya sendiri, mengingat dia wanita yang tidak memiliki suami ataupun anak. Dia merasa sayang pada Lintani, seperti pesan Elliyat agar menjaga menantunya dengan baik.
Elliyat waktu itu pernah mengatakan jika Lintani adalah wanita yang mau merawatnya, bila dia sakit atau kelak menjadi tua. Seandainya istri Askelan bukan Lintani, mungkin Mo akan hidup sebatang kara, karena istri Askelan pasti akan mengusirnya karena sudah tua.
Ternyata ucapan majikannya yang sudah tiada itu benar, Mo mendengar sendiri pengakuan Lintani saat dia merawat rambut panjangnya.
“Bibi, kau tidak perlu melakukan ini padaku, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Nona, Tuan Askel yang menyuruhku untuk merawatmu dengan baik sampai kau pilih dan segar!”
“Kenapa begitu? Justru aku ingin melihatnya sekarang, ini sudah lebih dari sepekan dan lukaku sudah kering!”
Lintani menunjuk plester kecil di keningnya, sebagai pengganti perban sejak dua hari yang lalu.
“Mungkin bagi Tuan tidak cukup. Aku sendiri tidak tahu!”
“Di mana dia di rawat, Bi? Apakah di rumah sakit ini juga?”
“Ya, Tuan di rawat di samping kamarmu!”
Lintani merasa hatinya seolah di cubit, mereka berdekatan, tapi tidak diizinkan untuk melihat, dia keluar kamar pun pengawal melarang, dia merasa seperti berada dalam kubah putih waktu itu. Jadi, apa bedanya tinggal bersama Dex atau Askelan. Sama saja!
Lintani mengusir prasangka buruk demi hatinya sendiri, lalu, dia berkata, “Bibi, aku tidak punya siapa-siapa di sini, aku tidak akan mengerjai Ibuku sendiri!”
Hanya Mo seorang, yang membedakan rasa antara di penjara di kubah putih atau di rumah Askelan. Adanya Mo di sisinya, lebih membuatnya bahagia.
“Apa maksudmu, Nona?”
“Sekarang, panggil aku, Lin Dan kau akan kuanggap sebagai Ibuku, oke? Jadi, sudah cukup mengurusku.”
“Nona, mana bisa begitu? Itu tidak boleh!”
“Ingat, ini hanya antara kita berdua!”
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu, sekarang kau harus menurut, aku akan merapikan rambutmu dan melulur tubuhmu.”
Lintani menurut, selama beberapa hari pun terus berlangsung seperti itu, ada saja yang dilakukan Mo, memberi masker di wajah, memijatnya, dan meminyaki rambut panjangnya.
“Kenapa kau membiarkan rambutmu sampai sepanjang ini?”
“Aku ingin memotong kalau sudah menemukan makam ayah dari bayiku. Tapi rasanya tidak mungkin, namanya saja aku tidak tahu, apa lagi makamnya?”
“Jadi kau sudah pernah hamil dan melahirkan sebelumnya?”
“Ya. Tapi anakku sudah tiada, dia menyusul ayahnya!”
“Aku ikut sedih mendengarnya, Lin!”
“Apa Bibi Elle tidak pernah menceritakannya padamu?”
“Seingatku, tidak!”
“Oh, itu artinya Tuan Askel pun tidak tahu kalau aku pernah punya anak?”
“Sepertinya begitu.”
“Baiklah, jangan katakan apa pun padanya,”
“Jangan, aku belum rela.”
“Sebenarnya apa hubungannya rambutmu dengan ayah bayi itu?”
“Tidak ada, hanya saja sebelum bayiku tiada, dia terus memegangi rambutku hingga tangannya dingin. Oh, ya, Bi ... apa mungkin orang yang mati bisa hidup kembali?”
“Omong kosong macam apa itu? Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu!”
“Ya! Aku pun berpikir sama!”
Setelah semua rangkaian perawatan Lintani selesai, hari itu, Mo memberi Lintani dres wana hitam tanpa lengan dengan panjang di atas lutut, dan leher yang rendah, membuat penampilan Lintani begitu ceria. Dia mengepang rambutnya ke samping dan menyematkan dua jepitan rambut.
Para pengawal dan Mo, membawanya keluar dari rumah sakit setelah suasana tegang dalam keluarga Harrad mereda. Lintani kini di bawa menuju villa di mana dulu Elliyat tinggal sendirian di sana.
Sejak suasana duka cita berlangsung, keluarga besar Harrad dan Barseba saling menyalahkan. Keadaan semakin panas setelah melihat rekaman dari Askelan. Video itu akan menjadi bukti, siapa yang lebih malu jika mereka tetap saling menuntut sebuah pertanggungjawaban.
Namun, akhirnya para Tetua memutuskan untuk mengubur masalah itu rapat-rapat dan tidak boleh ada yang mengungkitnya kembali. Barulah kemudian keadaan menjadi tenang. Apabila kejadian itu sampai terbongkar keluar, maka akan mencoreng nama dua keluarga besar.
__ADS_1
Bagaimana bisa, Dex Barseba sebagai anak dan menantu yang dibanggakan, bahkan menjadi kandidat pemimpin puncak, memiliki perbuatan demikian buruk menurut hukum dan moral manusia.
Jadi, mereka benar sudah menjadikan Askelan pimpinan perusahaan.
Apalagi di kalangan keluarga yang tumbuh dengan mengandalkan nama baik dan, hubungan kekerabatan, sungguh perbuatan Dex sangat di luar batas toleransi standar keluarga Harrad.
Mengenai masalah Lintani, semua orang merasakan hal yang sama, jika gadis itu memiliki sesuatu hingga Dex menyekapnya. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan, menjadi pergunjingan seru di kalangan keluarga selama lebih dari sepekan.
Oleh karena itu, Askelan menutupi keberadaan Lintani untuk sementara waktu, hingga keadaan benar-benar tenang bagi mereka. Dia tidak ingin istrinya mendapatkan serangan pertanyaan dari banyak pihak jika dia muncul begitu saja.
Askelan bertanya pada Ketua Kedua saat mereka bertemu setelah pemakaman Dex waktu itu. Walaupun, bukan tempat yang tepat untuk bicara, tapi, ketua kedua tetap mau meladeni Askelan dengan baik.
“Apa kau penasaran denganku?” Ketua Kedua balik bertanya saat Askelan selesai bicara.
“Ya, aku ingin tahu apa istimewanya istriku, sampai Paman ingin mengambilnya sebagai menantu jika aku menceraikannya?”
“Aku hanya mendengar sebuah rumor bahwa gadis itu adalah pemilik tanda Cemiton Shaw!”
“Bagaimana Paman bisa tahu?”
“Aku pernah mendapat sebuah Foto dari orang gila di pantai Loyola, tanda di tangan wanita dalam fotonya, adalah rajah dari Keluarga Shaw. Lalu, aku melihat istrimu begitu mirip dengan wanita dalam foto itu!”
Pantai Loyola adalah pantai indah milik keluarga Harrad juga, ada banyak bangunan villa mewah di sana serta resort Loyola yang sangat terkenal dipenjuru kota. Tentu saja Askelan pun beberapa kali pernah ke sana. Namun, dia tidak ingat kalau di sana terdapat orang gila.
“Oh. Jadi begitu?” kata Askelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada
“Ya! Apakah kau pernah melihat tanda itu di tubuhnya?”
“Entahlah!”
“Jangan bilang kau belum pernah menyentuhnya! Dasar bodoh! Kau harus memastikannya walau dia wanita murahan sekalipun!”
Kata Ketua Kedua sambil melangkah pergi dan menggelengkan kepalanya. Meninggalkan Askelan yang termangu di atas kursi rodanya.
Sementara Haifa dan keluarga Lux yang, mendengar kabar ini dari mata-mata mereka, ternyata hanyalah simpang siur belaka.
Mereka ikut menghadiri pemakaman, tapi tidak mendengar kabar yang berarti soal Lintani. Sebenarnya mereka penasaran dengan apa yang menjadi sebab wanita itu, bisa berada di mal dengan penampilan berbeda, dan kebetulan kematian Dex terjadi.
Mereka hanya menemukan berita di internet jika kematian Dex adalah, karena salah sasaran tembak bagi orang bodoh yang berlatih di sana. Tidak ada berita yang lain, dan terkesan menutupi keadaan yang sebenarnya.
Mereka juga tahu jika Lintani di sembunyikan di suatu tempat dan di jaga keamanan dengan ketat, karena dia menjadi wanita yang diperebutkan banyak orang. Hal ini membuat keluarga itu geram serta menyesal telah mengusirnya.
__ADS_1
Bersambung