Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 54. Pulanglah Lebih Cepat


__ADS_3

Pulanglah Lebih Cepat


“Bukan urusanmu!” Sahut Askelan sambil memasuki ruangan, saat dia melihat Dex di dalam, rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal. Pria licik ini berani muncul di sini, kalau bukan karena Nazaret, mungkin dia sudah babak belur.


“Hai, Ponakan! Apa kabar?” tanya Dex penuh basa-basi. Askelan mengangguk.


“Askel, maaf aku baru bisa datang hari ini ... aku turut prihatin atas apa yang menimpa Ibumu!” kata Nazaret pun penuh dengan basa-basi. Kalau bukan karena ketua kedua yang menyatakan secara resmi jika Askelan, diterima menjadi anggota keluarga Harrad beberapa tahun yang lalu, mungkin mereka sangat malas menjenguk wanita miskin seperti Elliyat itu.


“Tidak masalah,” sahut Askelan datar.


“Iya, Askel. Seandainya kami tahu lebih awal kalau Ibumu sekarat, aku mungkin akan jadi orang pertama yang menjenguknya!” kata Dex, sekali lagi dia tidak sungguh-sungguh. Ucapannya terdengar kasar di telinga Askelan. Bagaimana mungkin ada orang yang berani mengatakan jika ibunya sekarat di depan matanya. Ini sungguh keterlaluan.


“Aku berharap Ibuku baik-baik saja!”


“Aku tahu kau akan berkata begitu karena kau tidak punya siapa-siapa lagi kalau dia tiada, kan?”


Sekali lagi ucapan Dex terdengar begitu kasar hingga Askelan berinisiatif untuk menekan Nazaret.


“Bibi, coba bayangkan kalau Nenek berada dalam kondisi seperti ini?” Askelan menoleh pada Petra yang sedari tadi, hanya berdiri di pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Dan, kau, Pet ... bagaimana kalau Bibi San, menderita penyakit yang sama, apa kalian akan membiarkan Paman Dex berkata seperti itu?”


Bibi San Ul adalah nama ibu Petra.


“Dex! Diamlah! Atau aku akan meninggalkanmu!” kata Nazaret. Sementara Petra hanya mengangkat bahu, lelaki identik dengan tak berperasaan, sepertinya benar.


Semua orang sakit dan keluarganya membutuhkan motivasi, bukan kalimat menyudutkan seperti tadi


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Sayang!” kata Dex pada Nazaret.


“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Kurasa sudah cukup karena kita sudah bicara dengan Askel!” Nazaret berkata sambil berjalan keluar dan para pengawalnya menyimpan banyak bingkisan serta bunga segar di atas meja.


Sepeninggal Dex dan keluarganya, Askelan duduk di sisi pembaringan sambil terus memegang tangan Elliyat yang, tidak dia lepaskan sejak dia tiba.


\*\*\*\*\*


Hari sudah menjelang sore saat Lintani menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal, tapi, pesan itu dari Jordan.


“Nona Lin, ini aku Jordan. Aku mendengar kabar kalau Nyonya Elle sudah bangun, kau bisa menengoknya sekarang, kalau kau mau. Aku yakin dia sangat merindukanmu setelah beberapa hari tidak bertemu.”


Demikian pesan itu, membuat Lintani segera menemui Shane dan, meminta izin untuk pulang lebih cepat karena ibunya sadar. Dia tidak meminta Shane untuk membayar secara penuh, tapi dia tetap mendapatkan 70 dolar.


Lintani meminjam kamar untuk mengganti pakaiannya dan dia memoles wajahnya sedikit hingga membuatnya tampak lebih manis.

__ADS_1


“Kau berdandan?” tanya Shane dan Lintani mengangguk.


“Kau seperti ingin bertemu kekasih!”


“Ya! Ibuku adalah kecintaanku, dialah satu-satunya orang yang aku menyayangiku saat ini.”


“Aku tahu bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu, kehadirannya adalah sesuatu yang harus kau syukuri, pergilah ... semoga Ibumu baik-baik saja.”


“Tentu.”


Para pengawal membukakan pintu mobil dengan cepat untuk Lintani dan, segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Elliyat dengan perasaan bahagia.


Semua itu tidak lepas dari tatapan Shane membuatnya heran, bagaimana mungkin seorang yang memiliki pengawal seperti Lintani, masih bekerja paruh waktu di tokonya? Bahkan, mobil yang membawanya tadi adalah, kendaraan yang tidak biasa.


Namun, begitu Lintani tiba di depan kamar perawatan, dia hanya melihat pemandangan yang sungguh menyedihkan. Dia tidak masuk karena melihat Haifa—kekasih Askelan itu pun datang menemui ibunya.


Sebelum Elliyat kritis, penjagaan di kamar itu biasa saja, karena Askelan yang bertanggung jawab sepenuhnya. Kemudian, setelah dia mulai kritis, penjaga mulai berubah apalagi saat beberapa keluarga Harrad mulai berdatangan. Para Tetua memberi penjaga tambahan hingga Lintani tidak bebas mengunjunginya.


Namun, kedatangan Haifa mungkin sesuatu yang berbeda hingga dia bisa dengan mudah masuk ke sana bersama dengan Rauja pula.


“Apa kau pikir aku percaya, kalau putraku mencintaimu dan kau mengandung benihnya?” kata Elliyat dengan nada keras. Sungguh, berbicara seperti itu bagi orang yang sakit adalah sebuah perjuangan yang sulit.


“Lalu, apa kau tahu kalau putraku sudah menikah?”


“Ya. Aku memaklumi itu ... kau menginginkannya, bukan? Dia laki-laki yang sangat baik, oleh karena itu dia tidak mengatakan padamu hal yang sebenarnya tentang aku!”


“Jadi, maksudmu kalau selama ini putraku hanya pura-pura menikah demi aku?”


“Bukan seperti itu, aku hanya ingin kalau anak ini lahir kelak, dia akan diakui sebagai anak Askelan dan cucu dari keluarga Harrad, itu saja!”


“Baiklah, jadi kau tidak meminta putraku menikahimu, kan?”


“Ya, tentu saja tidak untuk saat ini, Nyonya.”


“Baiklah, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menikah dengan Askelan, karena putraku hanya untuk Lin!”


Haifa dan Rauja sangat kesal karena Elliyat menyebutkan nama Lin lagi, Lin lagi.


“Lalu, bagaimana dengan anak ini, Nyonya!”


“Aku akan meminta pengacaraku untuk membuat surat wasiat bahwa anakmu akan dirawat oleh putraku, setelah melakukan tes DNA dan terbukti jika dia adalah darah dagingnya!”

__ADS_1


Tentu saja ucapan Elliyat membuat Rauja meradang, dia tidak rela diperlukan seperti itu. Dia mengharapkan Askelan menikahi anaknya dan segera menceraikan Lintani suatu saat nanti.


“Kau seharusnya tahu, kalau Askelan lebih mencintai Haifa dari pada anak yatim piatu itu? Anakku lebih pantas bersanding dengannya!” kata Rauja.


“Siapa bilang dia yatim piatu, dia adalah anakku. Dan cepat kalian pergi dari sini atau aku suruh penjaga diluar itu untuk menyeret kalian!”


“Kau tidak pantas menjadi Nyonya Harrad karena kau lebih mengutamakan anak tidak jelas dari pada seorang terhormat seperti kami!”


“Aku lebih tahu mana sebuah kehormatan yang sesungguhnya atau kehormatan karena mencuri keuntungan dari orang lain!”


“Kau! Aku sama sekali tidak takut padamu karena kau sebentar lagi akan mati!” kata Rauja lagi penuh dengan amarah.


“Penjaga!” Elliyat berteriak hingga para penjaga menyeret mereka keluar dengan kasar sampai menarik perhatian beberapa orang.


Lintani masuk setelah beberapa saat kemudian, dan saat dia masuk, Elliyat langsung tersenyum lebar, dia bersikap seolah tidak terjadi sesuatu dan begitu juga Lintani yang bersikap seolah dia tidak tahu sesuatu.


Dia ingin sekali membela dirinya sendiri di depan Elliyat dan kedua perempuan itu, tapi, dia khawatir jika tindakannya justru akan menambah masalah menjadi lebih sulit lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap berada di luar dan bersembunyi di sisi dinding.


“Lin, bertahanlah di sisi putraku walau apa pun yang terjadi, karena aku yakin kau adalah wanita terbaik dan paling pantas mendampinginya dan, suatu saat kau pun akan membutuhkan dia!”


“Begitukah, Bu?”


“Ya, jangan ragukan keyakinanku. Seperti aku dulu begitu yakin kalau suatu saat anakku akan bisa menduduki singgasana Harrad. Terbukti, aku benar!”


“Ibu, kau sungguh luar biasa. Aku beruntung memilikimu!”


“Aku juga beruntung menemukanmu di penjara dan kita berada dalam satu sel. Kalau tidak, aku tidak akan pernah menemukan wanita paling berharga seperti dirimu!”


Lintani tergelak dia begitu tersanjung dengan ucapan Elliyat yang berlebihan.


“Ibu, hanya dirimu yang menilaiku berharga!”


“Tentu, Lin ... aku berharap besar padamu!”


“Jangan khawatir, aku akan mengikuti saranmu, Bu!” Lintani mencium kening Elliyat yang kurus dia semakin hari semakin kurus.


Lintani tidak menduga jika pertemuannya saat itu adalah, pertemuan mereka yang terakhir. Setelah sehari kemudian dia kembali ke rumah sakit tidak ada Elliyat di ruangannya.


Wanita itu kembali dinyatakan koma dan dimasukkan dalam ruang ICU. Dan tentu saja, Lintani tidak bisa melihat kecuali dari balik kaca.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2