
Wanita Murahan
Jordan mengerutkan alisnya dan berpikir tentang mereka yang dimaksud Lintani adalah, orang yang sudah menurunkan dirinya dari mobil tadi.
“Saya tidak akan pergi ke mana-mana, percayalah, saya bukan orang seperti mereka yang menurunkan orang lain sembarangan,” kata Jordan mantap.
Akhirnya Lintani menurut, dia masuk ke mobil melalui pintu bagian penumpang. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang pria bertopeng yang bertelanjang dada, duduk di sana dan langsung memeluknya.
Gadis itu meronta sekuat tenaga dan berusaha membuka pintu, tapi percuma, semua karena dirinya bodoh yang baru menyadari jika pintunya sudah terkunci dari luar. Ia benar-benar jadi umpan untuk yang kedua kali.
Jordan melihat semua dari spion depan dan melajukan kendaraannya menuju sebuah tempat yang tidak terlalu jauh. Ia tahu Askelan sudah tidak kuat lagi menahan gejolak di dalam dirinya.
Jordan menghentikan mobil dan keluar dari sana , serta mengunci pintunya dari luar seperti sebelumnya. Ia lega saat melihat Askelan baik-baik saja, bosnya itu tidak muntah saat Lintani berada dalam pelukannya.
Sementara Lintani termenung, ia diam saat merasakan sentuhan tangan pria itu ditubuhnya seolah ia pernah merasakan sentuhan yang sama.
Saat gadis itu sadar jika dirinya kembali diumpankan, ia sudah tak berbusana dan pria itu melakukan apa yang ingin ia lakukan di atas tubuhnya. Bahkan, dalam kendaraan! Air yang keluar dari mananya sama sekali tidak bisa menjadi penolong baginya dan ia resmi menjadi wanita murahan.
Namun, anehnya dia seolah mendengar suara tawa kecil riang yang datang entah dari mana.
Hai, ini di dalam mobil dan ia melakukan dengan gerakan seberingas itu hingga Lintani seolah dicabik-cabik dan hatinya ditumbuk menjadi abu, ia hancur oleh cinta yang tak kasat mata, ia terluka oleh perlakuan orang yang tidak dikenalnya. Hingga ia tak tahu harus marah pada siapa.
Dendamnya pada keluarga Lux sudah berada di ambang batas dan dia akan melampiaskannya entah dengan cara apa. Sekarang ia jadi pemuas napsu, memangnya ia bisa apa?
‘Ah iya, bukankah laki-laki itu tadi akan memberiku rumah dan uang?’ batin Lintani, ia hanya mengharapkan rumah dan uang tunai sebagai imbalannya kali ini.
Lintani menyeringai dalam kepedihan saat pria itu mengentakkan pinggul di atas perutnya berulang kali, sambil mengucapkan kalimat yang tidak jelas karena wajahnya tertutup topeng badut lucu hampir menutupi seluruh wajah. Ia mencoba melihat matanya lewat celah kecil pada topeng, tapi tidak berhasil, yang bisa ia rasakan hanyalah sentuhan dan hentakan hingga pria itu lemas setelah menghunjamnya lebih dalam.
__ADS_1
Lintani memungut pakaian dan mengenakannya kembali, ia melihat ke arah pria yang tertidur secara tiba-tiba seolah nyawanya hilang, lalu, berniat membuka topeng di wajahnya, tapi tiba-tiba ...
Ceklek! Suara pintu mobil yang terbuka dari luar, pria yang tadi memintanya masuk, telah berdiri di samping mobil dengan ekspresi yang sulit diartikan, tapi, terlihat jakunnya naik turun pertanda ia menelan ludah beberapa kali.
“Terima kasih Nona,” kata Jordan setelah Lintani keluar sambil merapikan bajunya.
Wajahnya Lintani masih jelek, hampir tidak bisa dikenal dan tubuhnya bau keringat, ia belum sempat mandi setelah keluar dari penjara kemudian Rauja dan Haifa memaksanya berdandan dan melakukan pekerjaan melayani laki-laki, membuat letih.
“Mana uangnya!” kata Lintani sambil mengulurkan tangannya.
Jordan menyerahkan sejumlah uang dalam sebuah amplop warna gelap dan sebuah ID card akses masuk sebuah apartemen. Sudut bibir pria itu berkedut tertarik sedikit ke atas, saat menyadari sesuatu. Ini kabar baik dan ia yakin wanita itu tidak akan bisa ke mana-mana. Siapa pun yang masuk di apartemen itu, maka, setiap gerak geriknya akan terpantau dengan mudah.
“Apa ini?” tanya Lintani menunjuk kartu di tangannya.
“Itu, pintu masuk apartemenmu, kamu bebas tinggal di sana. Bukankah aku sudah janji akan memberimu tempat tinggal?” sahut Jordan tenang.
Lintani melirik kedua benda di tangannya dengan tatapan berbinar, ia bisa pergi dengan menggunakan uang itu. Ia ingin bersembunyi hingga tidak ada siapa pun yang mengenalinya. Seandainya dirinya hamil lagi seperti kejadian waktu itu pun, ia tidak harus merasa malu karena berada di lingkungan yang baru, yang tidak ada seorang pun tahu siapa dirinya, bahkan keluarga Lux.
Sementara itu, Jordan memasuki kendaraan, menutupi tubuh Askelan dan melepaskan topeng dengan perlahan. Setelah itu dia duduk di kursi kemudi dengan sabar, menunggu sang majikan bangun dari mimpi indahnya hari ini.
*****
“Lin! Kemari, kau!” teriak Rauja, begitu Lintani sudah berada di sisi jalan hendak mencari taxi. Gadis itu benar-benar berniat untuk pergi dan tak akan tinggal di apartemen yang disediakan oleh Jordan. Ia tidak akan bersikap bodoh sebab jika ia tinggal di sana, maka, bisa saja pria itu akan lebih mudah mendatanginya lalu kembali memaksa.
Lintani mendengus kasar, menyadari jika ternyata dirinya dikuntit oleh dua wanita jahat yang sudah menjebaknya. Seolah tahu maksud dari panggilan Rauja, gadis itu mengeluarkan semua uang dalam amplop dan menghamburkan di hadapannya.
“Kalian menginginkan ini? Ambillah!” kata Lintani sambil tersenyum sinis, ia hanya menyisipkan sedikit uang yang ia rasa cukup baginya bertahan hidup selama satu bulan penuh.
__ADS_1
Ia harus segera mendapatkan pekerjaan dan uang lagi.
“Kurang ajar, kau! Dasar murahan! Pela cur!” Rauja berteriak kasar dan kuat hingga menarik perhatian beberapa orang yang ada di sekitar mereka.
Rauja melihat jumlah uang yang sangat banyak di trotoar secepat harimau menerkam mangsa, ia memunguti kertas bergambar itu lalu, memasukkannya ke dalam tas di tangannya.
“Hah! Ternyata kalian lebih rendah dari pela cur sepertiku! Memunguti uang dari hasil keringatku melayani pria hidung belang? Kalian lebih memalukan!” Lintani berkata sambil tertawa renyah. Ia tidak harus merendahkan mereka tapi, merekalah yang merendahkan diri sendiri.
“Apa lagi yang ada di tanganmu?” tanya Rauja setelah selesai memunguti uang, dan berdiri seraya menatap Lintani tajam.
“Ini, kartu apartemen. Silakan ambil juga dan tinggallah di sana sesuka hati kalian.” Lintani berkata sambil melemparkan kartu akses itu ke tanah.
“Kau ini!” Rauja menggerutu sambil berjongkok mengambilnya. “Dasar perempuan bodoh!”
Di saat yang sama, sebuah taxi lewat dan Lintani menaikinya, sambil berkata, “Sekarang aku tahu, serendah apa kalian! Dan bilang pada Tuan Lux aku tidak membutuhkan alamat Ibuku!” Setelah berkata demikian, ia meminta sopir taxi menjalankan kendaraannya pergi ke tempat yang tidak diketahui.
Sementara itu, Haifa tengah sibuk mengganti pakaian yang mirip dengan baju Lintani. Gadis itu menolak ikut ibunya untuk mengambil uang saudaranya karena ia sedang mengamati mobil edisi khusus yang digunakan memadu hasrat oleh pemiliknya.
Saat Lintani dibawa mobil itu pergi, Rauja dan Haifa mengikutinya karena tidak ingin kehilangan kesempatan mengambil uang dari apa yang telah dikerjakan gadis malang itu.
Mereka tidak menyangka jika pria hidung belang yang membawa Lintani justru menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ini gila, mereka sangat tidak sabar untuk sekedar menyewa hotel dan menikmati tubuh Lintani di sana. Seberapa hebatnya gadis itu hingga si penyewa ingin segera mengeluarkan benihnya!
Sesaat kemudian mereka melihat mobil mewah itu bergoyang dengan dahsyat. Anehnya, sopir yang berdiri di dekatnya tampak begitu tenang, ia bersikap seolah patung dan tidak ada apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Haifa begitu penasaran melihat plat nomor khusus yang menempel di badan mobil, dan ia terkejut setelah mengetahui dari internet tentang siapa pemilik kendaraan edisi terbatas dengan harga puluhan juta dolar.
Bersambung
__ADS_1