Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 14. Tinggal Tunggu Waktu


__ADS_3

Tinggal Tunggu Waktu


 


Dua wanita itu mengobrol di ruang tengah, lalu, Lintani mengajak Elliyat untuk berjalan berkeliling, taman hingga tak terasa dua jam terlewat begitu saja untuk mereka habiskan bersama.


Saat mereka kembali, seorang asisten menghampiri Elliyat dengan menampakkan raut wajah khawatir.


“Nyonya Elli, apakah Anda baik-baik saja?” Tanya asisten itu dan dijawab anggukan saja oleh wanita tersebut dengan penuh senyuman. Lalu, mereka terus melangkahkan masuk kembali ke ruang tengah.


Sementara Lintani terus melihat ke arah Elliyat dengan heran, kenapa asisten itu menanyakan keadaan Eliat yang menurutnya baik-baik saja. Selama mereka bersama di penjara pun, wanita paruh baya itu tidak terlihat mengalami masalah serius, hanya sering kelelahan dan tubuhnya lemas, atau wajahnya selalu pucat tanpa sebab.


Tak lama setelah mereka bercakap-cakap, datang seorang dokter yang rutin memeriksa kesehatan Elliyat.


Dokter itu diantar ke tempat Elliyat dan Lintani berada oleh seorang pelayan. Akhirnya Lintani tahu kalau sebenarnya ibunya itu sedang sakit parah. Hanya saja dia tidak pernah menunjukkan semuanya pada banyak orang termasuk Lintani.


“Tenanglah, aku tidak apa-apa,” kata Elliyat saat dokter sudah selesai memeriksa.


Dokter itu seorang pria muda, dia tersenyum pada Elliyat dan Lintani dengan ramah, “Apa kalian bersenang-senang?” tanyanya.


“Ya.” Jawab Elliyat dengan semangat.


“Wah, Anda terlihat bersemangat hari ini, Nyonya Elli, apakah karena Nona ini? Anda sangat beruntung di temani gadis yang cantik!” kata dokter itu lagi sambil membereskan perlengkapannya.


“Kau tidak boleh menggodanya, dia menantuku!”


“Oh, benarkah? Itu artinya Tuan Askel sudah menikah?”


“Ya.”


“Selamat Nona, sudah menjadi bagian dari keluarga Harrad. Jaga Nyonya dengan baik, dia memang butuh teman yang bisa mengajaknya gembira, Semoga berumur panjang.”

__ADS_1


Lintani tidak berkata apa-apa, dia prihatin dan sedih karena Elliyat menderita penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, tumor di dalam tubuhnya sudah menyebar, dia hanya berharap kalau wanita itu bisa berumur lebih panjang seperti yang Dokter itu katakan.


Mereka kembali berbincang membicarakan banyak hal, hingga Elliyat sudah terlihat lelah hingga Lintani menunggu sampai wanita itu meminum obatnya dan tertidur. Setelah itu, dia menurut saja saat para pelayan mempersilahkannya makan.


Lintani pergi begitu perutnya sudah kenyang, tapi, begitu sampai di sisi jalan, dia kebingungan akan pergi ke mana. Honu sang sopir menawarkan tumpangan, tapi gadis itu menolak keras karena dia tidak ingin apa pun pekerjaannya nanti, diketahui oleh orang-orang yang tinggal di rumah keluarga Harrad.


Mencari pekerjaan di kota sangat sulit, apalagi dia tidak menyelesaikan kuliahnya, sedangkan umurnya kini sudah 28 tahun, masa-masa mudanya dihabiskan dalam penjara, bahkan sertifikat kelulusan sekolahnya pun ada di rumah keluarga Lux.


Saat melihat perempatan jalan, dia sempat berpikir untuk kembali ke rumah keluarga itu demi mengambil beberapa barang pribadinya, tapi dia tidak tahu apakah semua benda miliknya itu masih ada, atau mereka membuangnya.


Pandangan matanya kembali ke arah perempatan jalan, belok ke kana dari sana adalah jalan menuju rumah keluarga Lux. Namun, tatapan mata sedikit teralihkan oleh rombongan para wanita paruh baya yang berjalan melintasi dirinya.


“Kenapa Bibi Mo, tidak ada?” kata salah satu dari rombongan wanita yang terdiri dari enam orang dan merek memakai pakaian mirip laki-laki. Dengan jelas Lintani mendengar ucapan mereka.


“Ya, lalu siapa yang akan mengerjakan bagiannya?” kata yang lain lagi.


“Entahlah!” kata seorang lainnya.


“Bagaimana kalau aku yang menggantikannya?” kata Lintani menyela ucapan mereka.


“Apa kamu bisa mengerjakan pekerjaan kami, lihat saja pakaianmu tidak cocok?”


“Memangnya, apa yang harus aku kerjakan?” tanya Lintani penasaran dan mengabaikan pandangan mencemooh dari para wanita itu.


“Kami mencetak batu bata!”


Lintani tersenyum mendengar jawaban dari mereka. Dia pikir mencetak batu bata tidaklah sulit karena dia sudah pernah mengerjakan pekerjaan yang paling kasar sebelumnya, yaitu menjadi pengemis dan dikerjai oleh banyak orang setiap hari dari siang sampai malam. Itu lebih kasar dari pekerjaan yang para wanita itu lakukan.


“Baiklah, aku bisa,” kata Lintani penuh percaya diri.


“Sebaiknya ganti pakaianmu kau akan menangis kalau pakaianmu kotor atau rusak seperti anak-anak manja lainnya!” kata beberapa wanita sambil tertawa.

__ADS_1


Lintani hanya diam saja dan kemudian mengikuti ke mana arah para wanita berjalan. Mereka itu tidak tahu apabila sebelumnya dia memakai pakaian yang sama seperti mereka. Sebelumnya dia memakai pakaian seragam pelayan hingga kemudian setelan memaksanya menggunakan pakaian yang lain dan sekarang ini pun pakaian yang diberikan oleh Elliyat dan dia tidak berdaya untuk menggantinya sekarang. Dia tidak punya pakaian yang lainnya.


Rombongan para wanita terus menyusuri jalanan hingga sampai di sebuah belokan yang tidak terlalu lebar, mereka berhenti di depan sebuah tempat yang dipenuhi gundukan tanah liat dan pasir asap hitam mengepul di beberapa tempat pembakaran batu bata yang di penuhi kayu-kayu kering.


Setelah rombongan Lintani datang, rombongan yang lain pergi, rupanya mereka bekerja secara bergiliran, dan kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki, hanya sebagian kecil saja ada para wanita dan salah satunya adalah rombongan yang Lintani ikuti.


Seorang wanita menghampiri dan menarik Lintani ke tempat sepi, dia memberikan topi bulat dan sebuah celana panjang yang lusuh, serta sepasang sepatu boot, termasuk sarung tangan.


“Pakai ini, memang tidak bagus, tapi masih bisa kau pakai, sepertinya cukup. Cobalah!” kata wanita itu.


“Terima kasih,” kata Lintani sambil mengenakan topi dan sarung tangan, lalu celana dan sepatu, semua agak kebesaran, tapi masih bisa di pakai.


Gadis itu mulai bekerja dan belajar dengan cepat bagaimana mencetak batu bata. Beberapa wanita sangat sabar mengajarkan dan menceritakan pengalaman mereka saat pertama kali bekerja.


Tidak ada yang mengira jika nasib yang hampir sama menimpa para wanita yang memaksa mereka harus bekerja kasar. Mereka hanya memiliki kemampuan dasar yang rendah serta tuntutan biaya hidup yang tinggi membuatnya bekerja melakukan apa saja asalkan mereka mampu melakukan.


Setelah selesai jam kerja mereka, hari sudah menjelang malam, tinggal sekarang mereka harus mengantre untuk mendapatkan bayaran. Hampir selama enam atau tujuh jam mereka bekerja dan bayaran yang mereka terima sesuai dengan lamanya mereka mencetak batu bata di perusahaan pencetak batu bata terbesar di kota. Mereka hanyalah buruh lepas, hingga tidak ada pendaftaran pegawai atau semacamnya.


Seoran pria membagikan uang di pintu keluar dan saat Lintani mendapatkan giliran, pria itu melihat lekat-lekat ke arahnya.


Seorang wanita di belakang Lintani menepuk pundaknya dan berkata, “Dia keponakan Bibi Mo, dia sakit dan mengirimkan gadis ini, jadi berikan saja bayarannya!”


“Oh!” sahut pria itu sambil kembali menatap Lintani dan tersenyum menyeringai. “Dia terlalu cantik untuk pekerjaan seperti ini, apa Mo tidak punya hati?”


“Sudah, jangan bicara soal hati, yang penting Mo tetap mendapatkan uang walau dia Cuma tidur di rumah!”


Lintani segera pergi setelah dia mendapatkan uangnya, dia tidak peduli pada wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai keponakan seseorang, dia tengah berbohong tapi kebohongannya itu membantunya.


Hari ini dia mendapatkan uang 14 dolar untuk bekerja selama enam jam. Betapa melelahkan ya menjadi buruh pekerja kasar, ini tidak cukup untuk membeli pakaian dan makannya selama sehari. Harga satu buah burger saja bisa mencapai sepuluh dolar dan itu tidak mengenyangkan. Dia harus mencari pekerjaan lainnya.


Sesampainya di jalan besar, rupanya para wanita itu tidak pulang berjalan kaki, melainkan pulang dengan dijemput beberapa pria, mungkin mereka adalah pasangannya. Keadaan ini membuat Lintani berjalan seorang diri.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2