
Tidak Bisa Berkata Tidak
Askelan melangkah mendekati makam ibunya dan melihat rangkaian bunga Lily, yang baru saja diletakkan Lintani di atas rangkaian bunga lainnya. Banyak sekali jenis buket bunga bertumpuk di sana.
Pria itu belum berniat untuk pergi meninggalkan makam walaupun, keadaan sudah sepi, dia hanya ingin sendirian di sana bersama ibunya, setelah semua orang pergi. Bahkan dia mengusir Jordan serta semua pengawal karena benar-benar ingin sendirian.
Namun, tadi dia ingin ke toilet hingga meninggalkan makam itu untuk sejenak. Ketika kembali, dia melihat seorang gadis yang sedang memeluk lututnya di sisi makam, menangis keras sampai bahunya terguncang.
“Benarkah dia begitu dekat dengan ibuku selama ini? Apakah perasaannya itu tidak dibuat-buat? Atau dia hanya berusaha menipuku?” gumam Askelan pada dirinya sendiri.
Dia terus memegangi bunga Lily, bunga itu adalah kesukaan Ibunya. Kini dia mengerti bahwa, Lintani memang orang yang pengertian pada wanita yang sudah melahirkannya, buktinya dia yang membawa bunga itu ke makam, karena memang tahu kesukaan Elliyat selama ini.
Hari beranjak semakin tua dan mulai gelap. Askelan pun pergi meninggalkan makam setelah mengucapkan banyak hal yang, hanya diucapkan seorang anak laki-laki kepada ibunya.
Setelah itu, dia mengendarai mobilnya sendiri untuk kembali ke apartemen, dia berharap menemukan Lintani di sana. Ada banyak hal yang ingin dia katakan kepada gadis itu sekarang.
Setelah tiba di rumah, Askelan mendapati rumah itu kosong, bahkan barang-barang gadis itu pun sudah tidak ada di kamarnya. Dia meninggalkan semua pakaian yang ada di lemari, yang sebenarnya sengaja Askelan beli sekaligus untuk gadis yang akan menjadi pengisi hatinya.
Hai! Bukankah sebenarnya Lintani sudah mengisi hatinya selama ini? Apa kata ibunya? Askelan akan menyesal jika menelantarkannya. Sebenarnya dia tidak tahu apa istimewanya gadis itu.
Ada keraguan yang besar menyeruak di dadanya setelah bercinta dengan Lintani kemarin. Dia merasakan hal yang sama dengan saat bergumul dengan gadis itu sebulan yang lalu. Dia hanya perlu memastikan kebenarannya, hingga dia bisa melihat siapa yang layak antara Lintani atau Haifa.
Askelan hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat lalu, meninju tempat tidur yang biasa di tempati oleh Lintani dengan kasar. Dia tidak menyangka begitu beraninya gadis itu pergi tanpa seizinnya, bahkan kontrak mereka pun belum berakhir.
Sebenarnya dia begitu letih dan mengharapkan hadis itu bisa kembali, dan membuatnya tertidur nyenyak. Namun, justru dia sangat kecewa karena ternyata, gadis itu sudah tidak ada di sana.
Akhirnya, dia berkata pada dirinya sendiri, “Ya, kalau memang itu keputusanmu pergi meninggalkan aku, ya, sudah aku tidak akan peduli!” Baginya, setelah ibunya tiada maka Lintani bukanlah siapa-siapa lagi.
__ADS_1
Pria itu kembali ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Sementara itu di tempat penginapan murah yang disewa Lintani untuk semalam ....
Gadis itu merebahkan diri di tempat tidur yang sempit, dan hanya cukup untuk satu orang saja. Dia berusaha keras menahan mulas di perutnya karena merasa lapar. Namun, dia akhirnya pergi juga keluar kamar untuk mencari makanan.
Lintani melihat tenda sederhana saat berjalan di trotoar. Lalu, mesan makanan termurah yang disediakan pedagang kaki lima itu, kini dia duduk menunggu makanannya, sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku jaketnya dan mengedarkan pandangannya.
Saat itu dia dibuat terkejut ketika melihat Haifa tengah dipeluk seorang pria berjalan dengan sempoyongan dari arah hotel yang tidak jauh dari penginapan yang disewanya.
Gadis itu berharap Haifa tidak melihatnya, hingga dia merapatkan topi yang menyatu dengan pakaiannya. Dia menikmati ramen kuah telur sambil menunduk.
Di sana dia melihat Haifa yang diperlakukan dengan mesra oleh seorang laki-laki dengan pakaian yang serba mahal. Mereka secara sembarangan berciuman, sambil berjalan sempoyongan, karena mabuk. Kedua orang itu menuju mobil yang terparkir di sisi jalan diselingi gelak tawa dan cumbu rayu. Lintani bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
‘Apa mereka melakukannya di mobil? Apa mereka tidak bisa menyewa tempat?’ kata Lintani dalam hati saat tak lama kemudian dia melihat mobil itu bergoyang.
Ah, semua orang juga tahu pergumulan seperti apa yang terjadi di dalam sana.
Haifa adalah wanita yang memiliki gejolak tinggi kepada lawan jenisnya. Sebenarnya sudah sejak dulu Lintani sering memergokinya, berdua dengan seorang pria di kamar. Dia tidak tahu apakah Rauja dan Lux tahu akan perbuatan anaknya, tapi, dia tidak punya kekuatan untuk bicara.
Suatu kali dia pernah menegur Haifa, tapi, yang dia dapatkan dari saudara angkatnya adalah, cakaran di tangannya hingga berdarah. Sepertinya, Haifa tidak pernah memotong kuku, yang begitu tajam melukainya, bahkan Rauja saat itu tidak bertanya mengapa tangannya terluka.
Sama saja dengan saat ini Lintani memilih menutup mulut dan seolah-olah dia buta, tidak melihat apa yang diperbuat oleh calon istri Askelan, walaupun, wanita itu mengaku tengah hamil anaknya.
Lintani tidak akan meninggalkan masalah sebelum kepergiannya.
Tiba-tiba hatinya merasa sedih mengingat Askelan adalah laki-laki yang setia. Selama ini dia tidak melihat pria itu bermesraan ataupun menggandeng wanita lain ke rumahnya, padahal dia bisa membawa seratus wanita dalam satu bulan saja.
__ADS_1
Dia seolah masih mengingat sentuhan lembut di sekujur tubuhnya. Askelan memperlakukannya secara berbeda dengan saat berada dalam mobil waktu itu. Bulu kuduknya tiba-tiba saja meremang, ketika dia mengingat bagaimana pria itu membuatnya bersimbah peluh. Saat itu, dia tidak bisa berkata tidak.
\*\*\*\*\*\*
Lintani pergi ke halte bis pagi itu dan kemungkinan dia akan sampai di Rasevan sore harinya, dia masih belum tahu akan berada di mana dia nantinya. Akan tetapi, dia masih ingat saat dia pergi ke tepi danau untuk menangkap kupu-kupu, dia melihat seorang wanita dalam rumah sederhana di sana. Dia berharap rumah itu masih ada dan dia bisa bertanya-tanya, tentang pulau di seberang danau, yang menjadi tempat tinggal keluarganya.
Namun, dia menjadi kesal saat melihat ke dalam tasnya, mengapa dia bisa melupakan hadiah yang dia beli untuk Askelan. Oleh karena itu, Lintani segera menaiki bis yang menuju ke arah apartemen. Dia tidak akan pergi ke rumah itu lagi dan, hanya menitipkan kotak hadiahnya pada penjaga pintu gerbang.
“Bisakah kau membantuku, Sir?” tanya Lintani kepada penjaga yang berbadan gendut berusia sekitar setengah baya, dia memberikan kotak kecil yang bertuliskan nama Askelan Harrad, padanya.
“Tentu saja, tapi, kenapa Nona tidak langsung memberikannya, kepada Tuan?”
“Apa Kau bercanda, Sir? tentu saja jam segini dia sudah pergi ke kantor bukan?”
“Ya, Anda mungkin benar!” Laki-laki itu menjawab dengan sedikit ragu.
“Aku sebenarnya ingin menyampaikan langsung padanya, tapi aku lupa dan sekarang aku harus pergi!”
“Baiklah! Jangan kuatir aku pasti akan menyampaikannya kalau melihat Tuan, nanti!”
“Terima kasih!”
“Sama-sama, Nona, semoga harimu menyenangkan!”
“Ya. Kau juga!”
Setelah kepergian Lintani, pria penjaga menyimpan benda imut itu di laci mejanya.
__ADS_1
Sementara itu, Lintani kembali ke halte bis dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Haifa yang tampak sangat segar. Dia sudah mengganti pakaiannya dari yang dia pakai semalam. Ada beberapa paper bag di tangannya. Sepagi itu dia sudah berbelanja, karena baru saja keluar dari pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari sana.
Bersambung