
Hati Yang Kembali Terluka
Gadis itu terpejam tapi mulutnya masih meracau, menggumamkan kata-kata.
“Aku benci dia, aku benci laki-laki yang sudah merusakku, dia memperlakukan aku seperti sampah dan dia juga yang membuatku masuk penjara!”
Sementara tangannya terus memukul dada pria yang membopong tubuhnya.
Askelan membawa tubuh Lintani ke tempat tidur, seraya berbisik dengan lembut.
“ Maaf ... Maafkan aku ... Tolonglah, maafkan aku ... Aku mencintaimu! Sungguh aku sudah jatuh hati padamu sejak saat itu, aku tidak bisa tidur, selalu mengingatkan dirimu, bahkan aku selalu muntah kalau ada wanita yang menyentuhku, karena aku begitu terobsesi olehmu! Sungguh, percayalah!”
Dia membaringkannya secara perlahan. Melihat wanita yang dicintainya seperti itu, membuatnya bagai kehilangan separuh nyawa. Dia duduk di sisi tempat tidur sambil memijat pelipisnya. Memikirkan apa yang akan dia lakukan ketika istrinya bangunan nanti.
Dia menduga beberapa kemungkinan jika Lintani tidak ingin melihatnya lagi, atau benar-benar membunuhnya. Disebabkan kebencian yang dipendam selama bertahun-tahun. Kebenciannya memang tidak ditujukan kepada Askelan saat ini, melainkan pada laki-laki yang telah menyakitinya di masa lalu tetapi mereka adalah orang yang sama dan itu adalah dirinya.
Dia kemudian bangkit dan mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi seseorang, yang dekat dengan lingkungan penjara serta keamanan kota. Dia meminta agar orang itu menyelidiki siapa saja yang berada dalam satu sel bersama istri dan ibunya, dalam penjara selama delapan tahun silam.
Dia mengeluarkan perintah di telepon dengan menggertakkan rahang, menahan rasa geram, karena ingin melampiaskan kemarahan kepada orang-orang yang telah memperlakukan istri dan ibunya dengan sewenang-wenang.
Delapan tahun memang bukan waktu yang sebentar, apalagi bagi orang yang mengalami penderitaan atau hal menyakitkan. Seperti Lintani yang mendapatkan tindakan kasar dari sesama narapidana dalam kurun waktu tersebut, pasti ingatannya sangat berbekas.
Setelah Askelan selesai memberikan instruksi kepada orang yang dihubunginya melalui telepon itu, dia tidak segera beranjak dari tempat tidur. Tatapan matanya tidak lepas dari istrinya yang tertidur karena kelelahan. Dia merem mas ujung rambut Lintani dengan perasaan hancur, seolah dirinya sendiri yang dilukai dan mengalami penyiksaan di penjara.
Pria itu terus menciumi kaki Lintani, di mana terdapat bekas luka yang begitu jelas di sana. Dia menunjukkan cinta yang besar, tapi khawatir pembangunan istrinya itu, sehingga dia hanya mencium telapak kakinya saja.
Dia akan menunggu sampai gadis itu bangun dan akan melihat bagaimana reaksinya. Setelah melihat bagaimana sikap Lintani padanya, barulah dia bisa memutuskan apa yang akan dilakukan seandainya kelak Lintani akan membencinya.
Askelan akan menghindar dengan suka rela sampai Lintani mau memberi ruang pada hatinya untuk, memaafkannya atau sedikitnya menerima bahwa, orang yang telah dibenci dan dia yang sekarang dicintai adalah, orang yang sama.
Namun apabila Lintani tidak membenci dan tetap menerima dirinya atau setidaknya mau menatap matanya saja, maka dia akan bertahan di sana, walaupun gadis itu akan terus meluapkan kemarahan dengan memukul dengan senjata.
Askelan memakai pakaian dan keluar kamar menemui Mo, di ruang makan, dia duduk di tempat biasanya di makan bersama Lintani.
__ADS_1
Mo mendekat dan bertanya dengan heran, “Tuan kenapa kau hanya sendiri, mana Nona? Tiba-tiba dia tidak nafsu makan tadi, padahal aku sudah memasakkan sup tofu dan kacang merah untuknya!”
“Apa yang kau katakan padanya tadi?”
Askelan bertanya bukan tanpa sebab, dia menebak jika apa yang terjadi pada Lintani sepagi ini, adalah karena satu hal, tidak mungkin dia bersikap demikian tanpa pemicu. Pria itu hanya mengkhawatirkan kandungan dan juga kondisi wanitanya saja. Dia tidak peduli mengenai diri atau masa lalunya yang akan terbongkar atau tidak.
Selama ini dia sengaja menutupi masalah itu pun, karena khawatir dengan kondisi mental Lintani jika mengetahuinya dan dia tidak ingin di benci oleh gadis yang dia cintai.
“Apa maksud Tuan, tidak ada hal penting yang kami bicarakan pagi ini.”
“Apa kau yakin?”
Mo menarik satu kursi dan duduk tak jauh dari Askelan, lalu berkata, “Kau tahu, Tuan! Ternyata, Nona Lin juga seorang yang di jebak, Nona mengatakannya sendiri padaku, kalau ternyata dia di penjara selama itu, padahal dia tidak bersalah!”
“Oh ya? Apa lagi yang dia katakan padamu?”
“Tidak ada ... dia pikir aku sudah mengetahui kisahnya dari Elle, dia heran karena aku pun tidak tahu. Apa kira-kira penyebabnya, mengapa Elle tidak mengatakannya pada kita, Tuan? Atau Nona yang tidak menceritakannya kepada Ibumu?”
“Mana aku tahu, Ibu pasti punya alasan sendiri mengapa dia tidak menceritakan semuanya pada kita, dan kita tidak bisa bertanya padanya, sekarang kan?”
“Lalu apa yang kau katakan pada istriku, saat dia menceritakan masa lalunya?”
“Maaf Tuan, aku menceritakan bahwa kau pun mengalami sesuatu di waktu yang sama, delapan tahun yang lalu!”
“Hmm ... Lalu?” Askelan tidak bisa marah pada wanita yang sudah sangat berjasa padanya itu. Dia sadar, cepat atau lambat semua yang disembunyikannya akan terbongkar, hanya saja dia tidak berharap kalau akan secepat ini Lintani tahu.
“Aku katakan sejujurnya bahwa Dex pelakunya dan dia sudah tewas, dan kau hampir tiada kalau aku tidak menemukanmu di rumah sakit waktu itu!”
“Oh, jadi begitu ... apa tanggapannya setelah mendengar ceritamu?”
“Tidak ada, Nona tidak mengatakan apa pun, dia justru pergi dan mengatakan tidak nafsu makan lagi, apa ada sesuatu yang terjadi pada Nona Tuan?”
“Tidak. Dia sedang tidur sekarang untung saja dia tidak mual dan muntah.”
__ADS_1
“Oh syukurlah, apa kau mau makan sekarang aku akan menyiapkannya untukmu!”
“Tidak, aku juga tidak nafsu makan lagi!”
Mo pun menjadi heran mengapa kedua majikannya sama-sama tidak nafsu makan pagi ini, padahal dia memasak makanan khas yang dibuat seorang ibu di pagi hari. Akhirnya makanan itu pun dia nikmati sendiri.
Askelan pergi ke ruang kerja, setelah mengambil salep pereda memar di kotak obatnya. Dia mengoleskan ke dadanya yang memar karena pukulan gagang senjata dari istrinya.
Dia meringis sebentar saat tangannya menyentuh bagian yang memerah dan sedikit bengkak.
Setelah beberapa lama dia hanya duduk di sana, Jordan datang dan langsung masuk ke ruang kerja, sambil membawa dokumen yang mereka kerjakan semalam dan sudah dicetak. Dokumen itu siap ditandatangani oleh Askelan suatu saat nanti.
Jordan heran melihat Askelan yang kacau, biasanya di waktu siang, majikannya itu sudah rapi walaupun tidak akan berangkat bekerja. Namun, yang dilihatnya kali ini sesuatu yang berbeda, rambut dan pakaiannya acak-acakan, wajahnya pucat, bahkan dia melihat beberapa bagian di pundak dan dadanya memar serta bengkak.
“Apa kau baik-baik saja, Tuan?” Jordan bertanya sekedar meyakinkan diri, padahal dia tahu bahwa Askelan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Semua sudah terbongkar, sekarang!”
Jordan mengernyitkan alis dan berpikir, menebak apa yang dimaksud oleh Askelan bahwa kemungkinan, yang dimaksud oleh tuannya adalah tentang masa lalunya yang sudah diketahui oleh Lintani.
Dia mendekat dan menyibakkan kemeja Askelan yang memang sudah terbuka dan berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Astaga ....! Untungnya Nona tidak membunuhmu Tuan!”
CK! Askelan hanya berdecak kesal dan tidak menanggapi komentar Jordan, karena yang dikatakan pria itu benar, dirinya masih beruntung Lintani tidak menembaknya tadi.
“Siapkan apartemenku!”
“Apartemen yang mana? Siapa yang mau menempati apartemen itu, Nona atau Tuan?”
“Kau banyak bertanya, siapkan saja!”
“Baiklah!”
__ADS_1
Bersambung
❤️❤️❤️👍❤️❤️❤️