Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 109. Pemakaman Massal


__ADS_3

Pemakaman Massal


 


 


Saat berada kembali di area tengah pulau, Lintani meminta agar Askelan menurunkan dirinya dari gendongan. Dia mengajak Askelan ikut melihat, tempat yang pernah menjadi sebuah pemukiman penduduk, dan juga pemakaman, di mana ayahnya dulu di kuburkan. Lintani berjalan sedikit ke Utara, lalu dia menunjukkan beberapa gundukan tanah yang ditumbuhi semak, dia tersenyum getir melihat tempat itu sudah tidak berbentuk lagi.


“Di sini dulu Ayahku di kuburkan, pohon apelnya juga hilang, mungkin mati karena  ledakan itu juga,” katanya dengan raut wajah sedihnya.


“Apa yang ingin kau lakukan pada makam itu?”


“Aku, melakukan apa, maksudmu?”


“Ya, mungkin kau ingin membangun makam itu lagi, siapa tahu isi di dalamnya tidak hancur karena berada dalam tanah.”


“Hmm ...” Lintani bergumam sambil mengitari tempat itu dengan tatapan kosong.


Askelan memanggil pengawal yang juga seorang ahli dan membicarakan masalah kuburan, dia mengatakan segala kemungkinan jika makan itu tidak rusak, ISIS di dalamnya masih utuh karena tidak terimbas oleh ledakan. Mendengar penjelasan itu, Lintani tiba-tiba tersenyum dan mendekati pengawal.


“Apa kau bisa mengumpulkan semua sisa tulang belulang itu dan menguburkan semua dengan layak?” tanyanya kemudian.


“Tentu saja!” Sahut pengawal antusias.


“Kalau begitu, lakukan sesuatu untukku!” Lintani berkata sambil melambaikan tangannya.


Dia meminta semua orang yang mengikutinya untuk mendekat, meminta mereka bekerja mengumpulkan semua tulang, menggali tanah, dan memakamkan semuanya dengan layak.


Askelan mengabulkan keinginan istrinya, hingga dia meminta satu armada lainnya, ikut membantu agar pekerjaan cepat selesai. Mereka datang dengan cepat, hingga pekerjaan yang semula dianggap tidak mungkin, bisa dilakukan dengan baik.


Tentu saja Lintani heran dengan adanya beberapa orang tambahan yang datang membantu, hingga dia bertanya, “Dari mana mereka, apa kau sudah menyiapkan semua orang ini sebelumnya?”


“Ya!”


Setelah mendapat jawaban singkat itu, Lintani tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Pada akhirnya semua tulang terkumpul dan tanah berhasil digali, cukup dalam, sebagai tempat untuk menyusun kerangka berdasarkan ukuran dan jenis, dari masing-masing bagian. Walaupun tidak lengkap, tapi setidak-tidaknya beberapa tulang bisa membentuk hampir satu tubuh.

__ADS_1


Hari sudah merambah senja saat Lintani  dan semua orang berhasil menyelesaikan semua kerangka secara berjajar, termasuk tulang yang mereka temukan di seberang danau. Gadis itu melihat ada sebuah cincin perak yang sudah menghitam, pada salah satu jari kerangka itu. Cincin menjadi hitam karena sekian tahun lamanya terendah dalam air.


“Ibu ..., kaukah itu?” Lirih Lintani sambil berurai air mata, dia melepaskan cincin perak itu dan menggenggamnya. Dia ingat dulu pernah melihat Viana mencoba melepaskan cincin pernikahannya itu, tapi tidak bisa.


“Kenapa Ibu mau melepaskannya, bukankah itu cincin dari Ayah?” kata Lintani kecil waktu itu.


“Ibu ingin menjualnya!”


“Untuk apa?”


“Kau mau baju baru, bukan? Apalagi kau akan sekolah tahun ini, Sayang, Ibu akan memberikanmu sepatu di kota.”


Lintani berlutut dan kembali menangis mengingatnya sebab  sekeras apa pun ibunya melepaskan, tapi, tidak bisa dan sekarang cincin itu menjadi miliknya. Dia ingat bila kemudian Viana membeli baju dan perlengkapan sekolahnya dengan menggunakan uang pemberian Syahrain.


Berkat kerja sama para anak buah Askelan, area itu secara cepat menjadi tempat yang layak dinamakan pemakaman umum. Batu-batu disingkirkan, rumput dipotong dan sebuah kuburan massal baru saja dibuat. Lintani menulis semua nama yang dia ingat pada sebuah papan, dan para pengawal menancapkan papan itu di tengah-tengah pemakaman.


Setelah semua proses pemakaman massal selesai, Lintani menoleh pada Askelan yang tidak beranjak dari sisinya. Dia meraih tangan dan menggenggamnya erat, seraya tersenyum. Dia menetap pria itu sambil tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.


“Terima kasih Elan, tanpamu, aku tidak bisa melakukan pemakaman dan penghormatan kepada semua keluargaku secara layak.”


“Tidak masalah, bukankah sudah seharusnya begitu?”


Sementara beberapa anak buah Pit yang tadi digerakkan untuk membantu pemakaman massal, sudah kembali ke posisinya semula. Semua titik yang biasa digunakan untuk menambatkan perahu nelayan, atau tempat yang digunakan untuk keluar masuk pulau tidak boleh diabaikan.


“Apa yang akan kau lakukan pada cincin itu? Kalau kau ingin memakainya, aku bisa memperbaikinya!” kata Askelan sambil memiringkan kepala menatap wanita disebelahnya.


“Benarkah? Kalau begitu, lakukan!” Lintani berkata sambil mengeluarkan benda kecil itu dari sakunya dan menyerahkan pada Askelan.


“Sekarang kau tahu, Ibumu tidak pernah berniat untuk menjual anaknya. Apa kau kesayangannya?”


Lintani meneteskan air mata, karena terharu dengan perhatian suaminya. Kalau bukan karena Askelan, dia tidak akan tahu kalau semua ucapan keluarga Lux adalah kebohongan. Dia pernah merasakan akibat dari kebohongan orang lain yang menggunakan dirinya untuk menipu, memfitnah dengan keji hingga dirinya dicap sebagai seorang pembunuh. Dan, akhirnya harus merasakan hidup di penjara selama delapan tahun.


Jadi, wajar apabila dia sangat membenci orang yang menipu dan melakukan kebohongan.


“Ya, sekarang aku tahu semuanya ... kalau pulang nanti, aku akan bertemu lagi dengan Tuan Lux, apakah kau mau menemaniku pergi ke rumah keluarga itu?”


“Untuk apa lagi kau ke sana, bukankah keluarga itu sudah menghancurkanmu?”

__ADS_1


“Ada dapat berapa barang peninggalan ibuku yang aku tinggal di sana, aku harus mengambilnya kalau mereka belum membuangnya!”


“Apa ada barang yang berharga dari peninggalan Ibumu itu?”


“ya, ada!”


“Baiklah, kita akan ke sana setelah kita pulang nanti, aku sudah meminta Pit untuk memperbaiki mainanmu!”


“Kalian tidak perlu repot-repot! Tapi, terima kasih, beberapa barang kadang sangat berarti bagi seseorang, kan?”


Lintani sendiri masih belum yakin apakah semua barang miliknya masih di simpan di sana atau tidak. Dia berharap jika gelang yang dulu sering dipakai Viana, masih tersimpan rapi dalam lemari kecil di kamarnya.


Dia berpikir sambil menatap Askelan dari samping, melihat takjub, wajah pria itu tampak semakin tampan, karena di sinari matahari sore yang tenggelam secara perlahan. Dia bagai lukisan, seolah mengikuti ketampanan raja-raja yang agung dan berkuasa serta, menjadi pemikat para wanita.


“Apa yang kau pikirkan?” Askelan bertanya tanpa menoleh, “Kakau kau suka melihatku dalam posisi ini, aku tidak akan merubahnya!”


Lintani tersenyum dengan pipi yang merona merah, dia malu karena sudah tertangkap basah tengah mengagumi wajah suaminya sendiri.


“Ah, tidak. Kau boleh merubah posisimu!”


“Oh, aku pikir menyukai ketampananku!”


Lintani bingung harus berkata apa, dia memang menyukainya, tapi bukan berarti dia tidak boleh bergerak.


‘Kau memang tampan, tapi kau terlalu berlebih-lebihan dalam bersikap, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya!’ pikir Lintani.


“Apa yang akan kau pikirkan bila tempat ini menjadi milikmu?” Lintani bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka masih duduk di atas tanah tinggi menghadap ke barat, saling menggenggam tangan.


“Aku akan memberikannya untukmu, terserah kamu mau kau jadikan apa pulau ini nantinya!”


“Apa kau punya uangnya, aku akan membuat sebuah kota di sini dengan nama Ibuku?”


“Tentu saja, gunakan semua harta pribadiku dalam brankas yang kemarin aku tunjukkan padamu!”


“Bagaimana kalau uangmu, habis karena aku, apa kau akan membenciku?”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2