
Berganti Rupa
“Ibu, apa kau sudah mendapatkan uangnya?” tanya Haifa sambil merias wajahnya sedikit jelek mirip dengan yang dipakaikannya pada Lintani sebelumnya.
“Haifa! Apa yang kau lakukan? Kau sangat menggelikan, Nak!” kata Rauja begitu melihat wajah dan tingkah anaknya.
“Ibu, seharusnya aku yang ada di mobil itu, dan bukannya Lin, sial sekali aku!”
“Apa kau bilang? Lihat, aku sudah mengambil semuanya dari Lin, bahkan kartu apartemen mewah ini!” Rauja berkata sambil menyusun uang yang berantakan dan sangat banyak dari dalam tasnya.
“Benarkah?” Haifa tersenyum miring, seraya mengambil kartu apartemen dari tangan ibunya. Dia punya rencana lebih bagus dan tetap mempertahankan reputasinya sebagai artis tanpa harus merusak harga dirinya di depan Askelan.
Lintani benar-benar tidak tahu jika pria yang dilayaninya itu adalah pria nomor satu di Kota Hill, satu-satunya orang yang bisa menaklukkan puncak tertinggi kekuasaan keluarga Harrad hanya dalam satu malam, di mana dia telah dijebak oleh beberapa saudaranya sendiri.
Keadaan demikian cepat berbalik, dia yang seharusnya tiada dalam keadaan memeluk wanita malam, tapi, justru terlihat begitu segar bahkan, bisa memasukkan beberapa bandit ke dalam penjara serta membuat dalang penjebakan mati seketika ditangannya.
Sementara Haifa masih berpikir dengan rencananya, mobil yang dikendarai Askelan bergerak menuju satu arah, menuju The Southampton Hotel. Gadis itu terus mengikuti sambil menceritakan siapa Askelan pada Rauja, termasuk semua rencananya. Dia akan berganti rupa, menjadi wanita yang telah melayani dengan sepenuh hati.
Sementara itu, Lintani tengah menangis dalam taxi yang membawanya ke pinggiran kota lalu berbelok ke sebuah jalanan yang berkelok-kelok, dia tahu tempat itu. Sebuah kampung kecil dekat pantai yang menjadi sarang para manusia buangan, manusia yang pernah dipenjara, atau manusia bekas para mafia. Di tempat itu pula biasanya para imigran gelap berada.
“Apa kamu benar-benar ingin tinggal di tempat seperti ini?” tanya Simon, sopir taksi yang mengantarkannya dengan bayaran yang cukup tinggi. Lintani mengambil sedikit dari uang yang tadi dia berikan pada Rauja, sekedar untuk bertahan hidup di tempat pengasingan.
“Ya!” Lintani menjawab masih dengan berurai air mata.
__ADS_1
“Maukah kau kutunjukkan tempat di mana kau bisa hidup tenang, dan kau jadi manusia yang lebih baik, bukannya justru jadi lebih jahat.”
“Aku tidak tahu harus apa, aku sudah hancur dan tidak punya siapa-siapa. Keluargaku saja sudah membuangku!” Lintani masih saja menangis sambil memeluk tas kecil, satu-satunya miliknya yang dikembalikan saat ia keluar dari penjara.
“Baiklah, ikut aku!”
Sopir taxi itu membawa Lintani ke tempat yang berbeda, bahkan lebih jauh dari tempat itu, melalui jalan yang lebih sempit dan banyak pepohonan. Lalu, mereka berhenti di sebuah restoran kecil di pinggir jalan itu.
“Turunlah!” Sopir taksi meminta Lintani mengikutinya.
“Di mana, ini?”
“Ini tempat yang lebih aman dari pada tujuanmu tadi. Ayo! Akan aku kenalkan kau pada, Yesa.”
Para pekerja biasanya akan singgah sekedar melepas lelah atau mengisi perut mereka. Tempat itu tidak ramai, hanya saja suasananya sangat akrab hingga antara pelanggan dan pemilik restoran hampir seperti saudara.
Lintani dipertemukan dengan Yesa, wanita gemuk berambut keriting yang ramah. Dia hanya tinggal sebatang kara dan warung makan itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya. Akhirnya di sanalah Lintani tinggal dan bekerja membantu dan mendapatkan gaji dari Yesa.
Dalam hati dia sangat bersyukur telah bertemu dengan orang seperti Simon. Dia berjanji suatu saat nanti jika memiliki uang, dia akan menemui dan memberi sopir taksi itu hadiah sebagai ucapan terima kasih.
Yesa hanya memberi tugas pada Lintani sebagai pelayan dan membersihkan gelas atau piring yang kotor. Selain itu pekerjaan lain dilakukannya sendiri dan seorang seorang pembantunya yang sudah lebih lama bekerja.
Semua pekerjaan yang dibebankan pada Lintani bisa dia kerjakan dengan baik, hingga Yesa tidak terlalu susah mengajarkan padanya soal bagaimana bersikap ramah. Gadis itu sudah mahir melakukannya dikarenakan, pengalamannya menjadi badut pecetak uang bagi keluarga Lux.
__ADS_1
“Aku beruntung bertemu denganmu Lin, andai aku memiliki anak sepertimu tentu aku akan menikahkanmu dengan seorang kaya raya agar hidupmu bahagia,” ujar Yesa ketika melihat pekerjaan Lintani yang begitu sempurna dari hari ke harinya. Bahkan pekerjaannya menjadi semakin mudah berkat kehadiran Lintani bersamanya.
“Bibi, anggap saja aku sebagai anakmu tetapi bagiku kekayaan seseorang tidaklah menjamin kebahagiaannya sempurna.”
“ya seperti itulah selama ini yang aku tahu tapi ternyata kebanyakan orang salah toh buktinya orang-orang miskin tidak hidup baik-baik saja kalau mereka tidak bisa memenuhi kebutuhannya.”
“ya bibi benar tapi tetap saja kekayaan bukanlah segalanya.”
Lintani bisa berkata demikian karena pengalamannya ketika harus menjadi orang yang berpura-pura miskin di kalangan sosialita, menjadi pengemis dengan cara menghibur para orang kaya. Hal itu membuktikan bila orang-orang kaya itu tetap membutuhkan dirinya sebagai penghibur.
Dia hadir untuk menari ataupun menjadi badut agar mereka bisa tertawa. Maka anak kecil yang kemudian menjadi dewasa di penjara itu pun berpikir jika kekayaan yang mereka miliki tidak bisa menjamin mereka bahagia.
Namun sesuatu terjadi beberapa pekan kemudian, Yesa tidak datang ke kedai makanan miliknya, yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Wanita gemuk itu selalu berbaring di tempat tidur karena sakit.
Semenjak Yesa sakit itulah, kemudian seorang laki-laki yang juga bertubuh gemuk datang dan mengaku sebagai anak Yesa. Dia selama ini tidak pernah datang karena Yesa membencinya, dia bukan anak yang berbakti dan sering marah pada ibunya.
Suatu hari, Lintani merasa tidak betah karena anak laki-laki Yesa itu sering mengeluhkan pekerjaan dan kasar padanya. Saat ada pelanggan pun dia tidak segan-segan membentak dan mempermalukan Lintani, hingga semua pelanggan yang kebanyakan pria itu ikut mencibirnya.
Dia bertekad akan pergi karena tidak betah bekerja di sana sebab lebih lelah menghadapi orang sepertinya ketimbang mencuci gelas satu ember penuh. Yesa sudah menyerahkan restoran kecil itu pada anaknya. Jadi, Lintani tidak sudi jika harus terus menerus menjadi pegawai kasar seperti anak Bibi Yesa. Laki-laki itu lebih buruk perangainya dari Luxor.
‘Ah, dua hari lagi aku dapat gajiku dan aku akan segera pergi dari sana’ pikir Lintani saat sedang mencuci gelas yang kotor.
“Hai, Lin, apa saja pekerjaanmu, kau mencuci seperti siput!” bentak pria gemuk itu, tanpa melihat ke arah pelanggan yang datang menggunakan setelan jas rapi dan mengendarai sebuah Bantley hitam saat datang tadi.
__ADS_1
Bersambung