Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 141. Semua Orang Berbohong


__ADS_3

Bu, Semua Orang Berbohong Padaku


Sementara Mo yang berdiri di belakang Lintani, melirik ke suatu tempat dengan tatapan kasihan, pada seseorang yang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan yang rumit sekaligus penuh cinta dan kerinduan.


Dia adalah Askelan, kalau Lintani tahu bagaimana usahanya membuat makam itu, mungkin dia akan sangat berterima kasih. Setelah mengetahui tentang anaknya delapan tahun yang lalu, dia mengerahkan beberapa ahli dan saksi untuk mencari letak sesungguhnya bayinya dikubur. Lalu, dia membuat makam kecil itu.


Lintani berjalan mendekat, lalu meminta Mo, untuk membuat lubang dan menanam rambutnya di sana, dia seolah-olah ingin memastikan masa lalunya terkubur bersama rambut serta jasad anaknya. Seandainya dia menaburkan di atas makam orang yang mati, maka itu merupakan penghinaan.


“Apa ada hal lain yang ingin kau lakukan di sini Nona?” Mo bertanya setelah mereka selesai dengan aktivitasnya. Seperti biasa Lintani hanya menggelengkan kepalanya tanpa bicara. Tatapannya masih terpaku pada makam kecil berbentuk bulat dan memiliki batu nisan yang manis itu.


Lintani menghela nafas dalam-dalam sebelum melangkah meninggalkan pemakaman. Suasana di tempat yang terletak di belakang rumah sakit itu terlihat sepi, seolah mendukung seseorang untuk semakin sedih. Tiba-tiba saja sudut hati Lintani mengharapkan kehadiran seseorang untuk melihat makam anak mereka.


Saat Lintani kembali memasuki mobil, sudut matanya menangkap sesosok bayangan dari balik pepohonan, dia sempat berpikir apabila sosok itu adalah Askelan tetapi, dia mencoba menepis pikirannya.


“Bibi, apa kau memberitahu Askelan kalau aku akan berada di tempat ini sekarang?”


“Maafkan saya Nona.”


Lintani duduk sambil mengedarkan pandangannya. Dari ucapan Mo, Lintani tahu jika kemungkinan besar, Askelan memang ada di sana. Dia tidak mengelak jika ada rasa rindu pada suaminya itu, tapi, sekali lagi dia masih belum sanggup untuk bertemu. Dia takut kalau melihatnya akan semakin membencinya.


“Bibi ... Apa kau membawa ponsel?” tanya Lintani, ketika dia menyadari jika ponselnya tertinggal di kamar saat dia pergi tadi.

__ADS_1


“Ya!”


“Katakan padanya apa dia yang membuat makam itu untuk anakku? Aku berterima kasih untuk itu!”


“Baiklah!”


Setelah sampai di jalan raya, Lintani menoleh sekali ke belakang dia masih mengira jika Askelan mengikuti mobilnya. Namun, dia tidak tahu karena tiba-tiba menjadi begitu banyak mobil ada di sekitarnya, sehingga tidak bisa dipastikan apakah Askelan benar-benar mengikutinya atau tidak.


Lintani kemudian, mengarahkan sopir untuk pergi ke makam Elliyat, karena ingin mengunjunginya. Dia sempat tertidur ketika sopir mengerahkan kendaraan mereka ke sana, karena perjalanan yang ditempuh dari pinggiran kota, hingga ke pemakaman Elliyat, terbilang cukup jauh.


Sesampainya di sana, Lintani turun dari mobil dengan membawa seikat bunga lili. Dia terkejut ketika melihat Askelan sedang berlutut di sisi makam ibunya. Seketika dia menjadi serba salah karena tidak mungkin menghindar.


Askelan menoleh dan melihatnya. Lintani tidak mungkin marah di tempat seperti itu, karena biar bagaimanapun juga, itu adalah makam ibunya.


“Apa kabar Bu? Aku harap kau baik-baik saja ... aku pun begitu. Maaf ... aku baru sempet mengunjungimu sekarang, aku hanya ingin memberikan kabar kepadamu bahwa, kau akan segera memiliki cucu.”


Lintani menjeda sejenak, hanya untuk mengambil napas. Perutnya sudah semakin membesar oleh karena itu kebutuhan oksigen dalam darahnya pun semakin besar pula.


“Bu ... aku baru saja menengok Pearl tadi, apa kau tahu Bu? Dia mengirimkan salam untukmu! Dan aku sudah memotong rambutku!”


Berhenti bicara untuk menghapus air mata. Seolah-olah dia mendengar seseorang sedang bicara, dan dia menjawab.

__ADS_1


“Ya! Seperti sumpahku, aku sudah menemukan orangnya, karena itu aku memotongnya!”


Berhenti lagi, sambil mendongak ke langit, seolah menahan air matanya agar tidak terus tumpah.


“Bu, aku kesepian, seandainya kau ada, aku akan menceritakan semuanya. Ternyata, Ibu kandungku tidak pernah menjualku. Aku sudah tersiksa membenci Ibuku sendiri selama bertahun-tahun, kebencian yang tidak beralasan, hanya karena semua orang sudah berbohong padaku. Aku tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan kepalsuan ... lalu, saat aku dewasa pun kembali aku di bohongi seseorang. Kau tahu bagaimana rasanya, Bu? Sakit sekali, Bu. Sakit!”


Saat bicara, Lintani mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Sudah ya, Bu. Maaf aku sudah menangis di hadapanmu!"


Jangan tanya apa yang dirasakan oleh Askelan saat itu. Seluruh tubuhnya gemetar, karena bertahan sekuat tenaga untuk tidak mendekat, memeluk dan juga tidak menghapus air mata di pipi gadis itu. Dia menahan gejolak di hatinya, kalau bisa dia ingin menghilang saja dari sana karena apa yang dilihatnya begitu menyesakkan dada.


Dia menyesal telah memutuskan untuk datang ke tempat itu, hanya karena yakin bahwa Lintani akan pergi ke makam ibunya, dan itu benar.


Askelan pikir dirinya akan kuat, saat melihat Lintani dari dekat. Namun dia tidak menduga apabila reaksi hatinya sedemikian lemah, karena memikirkan apa yang diucapkan oleh Lintani di makam itu.


Tentu saja kata-kata Lintani mempengaruhi hatinya lebih besar dari pemandangan yang ada di hadapannya. Kata-katanya seolah berubah menjadi ribuan pisau yang kemudian tertancap secara bersamaan di dadanya. Sakitnya lebih sakit dari saat tangannya yang terluka.


Cukup lama Lintani menangis dalam keadaan berdiri, dia benar-benar mengabaikan Askelan yang berlutut, dia berada di sisi lain makam namun posisinya tetap saja berhadap-hadapan.


Tiba-tiba dia bertanya, “Apa aku boleh memelukmu, Sayang?” dia masih tetap berlutut seolah sengaja mempertahankan posisi itu untuk, memohon maaf.

__ADS_1


Askelan menunggu jawaban Lintani sambil terus menatapnya penuh pengharapan. Gadis itu menunduk melihatnya, setelah berhasil menghapus air mata dengan i tisu yang diberikan Mo padanya.


Bersambung


__ADS_2