
Foto Ibunya
“Saat Anda berdansa dengan Nona Lin, saya kembali ke atas karena cerutu saya tertinggal, saat itu saya melihat adik kedua Ayah Anda melihat sebuah foto?”
“Foto siapa? Apa ada yang aneh dengan foto yang dia lihat?”
“Dia melihat foto Nona!”
“Berhenti!” Askelan berteriak sangat keras hingga Jordan terkejut dan menepikan mobil dengan tergesa-gesa.
“Katakan padaku dengan jelas!” kata Askelan lagi, dia merubah posisi duduknya yang semula bersandar, kini punggungnya tegak dan kedua pahanya dibuka lebar-lebar lalu menggunakannya sebagai tumpuan kedua sikunya, menatap Jordan dari belakang dengan serius.
“Ya, Ketua Kedua melihat sebuah foto yang pernah saya lihat ada di ponsel Nona Lin!” kata Jordan.
“Lanjutkan!”
“Tuan, saya ingat betul saat memeriksa hp dan barang Nona yang tertinggal di testoran pinggiran kota, ada foto yang sama. Saya kira itu foto Ibunya dan kalau saya lihat sekarang, wajah Nona semakin mirin Viana Hims!”
“Belikan dia ponsel baru dan ambil hp termasuk kartu lamanya besok!”
“Baik, Tuan!”
Askelan tiba di rumah, seperti biasa Jordan ikut masuk hanya untuk memastikan keadaan baik-baik saja. Pria itu yang mengedarkan pandangan ke segala arah dan memeriksa seluruh ruang.
Dia menemukan kamera lama yang tadi digunakan Lintani mengambil gambar, di sela-sela menuangkan anggur bagi para Tetua. Tentu saja barang itu tidak luput dari perhatiannya. Kamera usang itu bisa berfungsi dengan baik, walaupun kualitas gambarnya jelek.
Dia melihat fideo yang tidak lengkap serta dua foto dari para Tetua.
“Tuan, untuk apa Nona mengambil gambar ini?”
“Ibuku yang memintanya!”
“Oh.” Jordan mengangguk-angguk. “Mungkin Anda akan tertarik melihat ini!” kata Jordan lagi sambil menunjukkan potongan video yang sepertinya belum selesai di ambil Lintani.
Dalam video itu memperlihatkan Ketua kedua tengah memainkan sebuah foto kecil di tangannya dan matanya yang tak lepas melihat ke arah Lintani.
Jordan dan Askelan tahu persis jika Lintani mengambilnya secara sembunyi-sembunyi.
“Baiklah kalau begitu, kau harus menyelidiki lebih jauh lagi tentang masa lalunya, oke?”
“Saya pikir tidak mungkin ada seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri hanya untuk dijadikan wanita penghibur.”
“Kau pikir begitu? Bukankah ada seorang laki-laki yang tega meninggalkan istrinya padahal sedang hamil? Apa kau pikir perempuan tidak tega melakukannya? Aku tidak setuju, sebab hati laki-laki dan perempuan itu terbuat dari jenis daging yang sama!”
“Tpi, Tuan ... Nona orang yang penting ... dan tinggalkan Haifa, dia sama sekali tidak cocok dengan Anda!”
“Dari mana kau menilaiku bisa melakukan hal semacam itu? Aku bukan orang yang tega menelantarkan wanita, dis hamil anakku!”
“Kalau begitu nikahi saja dia!”
“Aku bukan pria murahan seperti itu!”
‘CK! Dari mana dia bisa berpikir kalau pria menikahi dua wanita itu murahan? Itu menggelikan sekali!’ pikir Jordan dalam diam sambil mengembalikan kamera di tempat semula.
Setelah itu Jordan pulang ke rumahnya sendiri dan Askelan ke kamarnya, walau, percuma sebenarnya di ke kamar karena tidak bisa tidur.
Keesokan paginya Lintani bangun dengan mata yang sembab. Meskipun begitu, dia melakukan aktivitas seperti biasanya.
__ADS_1
Hari ini Mo datang untuk membersihkan rumah hingga Lintani tidak perlu memasak dan, dalam kesempatan itu, dia menceritakan soal bajunya yang ada di mesin cuci dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Tentu saja dia tidak akan menceritakan apa pun tentang pengalamannya di pesta, apalagi soal ciumannya.
Setelah selesai sarapan, Lintani ke rumah sakit dan menunjukkan hasil rekamannya yang cuma sedikit. Meskipun demikian, dia berjanji kalau suatu saat nanti akan berbuat yang lebih baik untuk Elliyat.
“Ibu, maafkan aku yang tidak seperti harapanmu, kamera ini tiba-tiba rusak hingga aku tidak bisa memenuhi keinginanmu!”
“Tidak, apa, kau sudah berusaha dan aku hargai usahamu.”
“Terima kasih, Bu. Aku akan lebih baik lagi lain waktu.”
“Tentu, aku tahu itu!” kata Elliyat sambil mencolek hidung gadis itu.
Setelah Elliyat selesai makan dan minum obat, Lintani berpamitan lebih cepat, untuk bekerja, dan wanita yang sebenarnya sedang sekarat itu mengizinkannya.
Lintani pergi ke penyewaan kamera sebelum ke toko sayur milik Shane dan dia mendapatkan seseorang sudah membayar semua tagihan termasuk dendanya.
“Siapa yang sudah membayarnya untukku?” tanya Lintani kepada penjaga toko.
“Dia tidak menyebutkan namanya, Nona. Ini tagihan Anda, kan?” kata penjaga toko sambil menunjukkan selembar kertas, bill pelunasan kepada Lintani.
“Ya!”
“Kalau begitu, orang itu tidak salah. Dia bahkan memberi saya tipis!”
“Kalau begitu, baiklah! Aku permisi.”
“Terima kasih, Nona. Semoga hari Anda menyenangkan!”
Lintani heran dengan orang yang sudah membayar tagihannya tapi, dia tidak mau ambil peduli. Lagi pula, jumlah tagihan itu hampir 100 dolar dan dia tidak memiliki uang sebanyak itu. Uang gajinya dari Shane, tentu saja tidak cukup.
“Kita ke mana sekarang, Tuan?” tanya Jordan dari balik kemudi.
“Kita ke Deondra!”
“Untuk apa kita ke sana, apa Anda ingin memesan jas lagi?”
Askelan tidak menjawab, dia melihat sebuah rancangan gaun malam di tangannya. Dia baru sadar saat memeriksa ulang mantel bulunya kemarin, rupanya Mo salah mengira jika rancangan itu adalah miliknya. Jadi, dia menyelipkan di bagian kantung mantel yang terbuka.
Sesampainya di ruangan Deondra, Askelan langsung di sambut oleh pemiliknya bak menyambut seorang raja, bahkan dia duduk di kursi kebesaran perancang itu, sedangkan pemiliknya mengalah, dengan duduk di kursi biasa.
Jordan berdiri di belakang Askelan sambil sesekali melihat layar ponselnya karena di tempat itu tidak ada yang perlu dia kuatirkan.
“Apa yang bisa aku bantu, kali ini, Tuan. Sungguh kehormatan bagiku dikunjungi langsung oleh pria seperti dirimu!” kata Deondra, pria yang hampir mirip wanita.
“Berapa harga yang berani kau bayar untuk rancangan ini?” kata Askelan sambil menyimpan selembar kertas dengan hati-hati di atas meja. Seketika pria setengah wanita itu terbelalak.
Rancangan gaun malam itu menyerupai bulu burung hantu, gelap yang dewasa dan penuh misteri di dalamnya, semua jenis bahan dan ukuran tertulis dengan detail. Termasuk mana bagian yang harus dilipat ke dalam dan bagian yang, dilipat keluar hingga menyerupai kain yang timbul tenggelam. Ada sedikit rumbai di pundak bagian kanan dan kiri tertulis menggunakan bahan satin lembut, untuk membuat kesan benar-benar seperti burung hantu berwarna gelap.
“Dari mana Anda mendapatkannya?” tanya Jordan dan Deondra hampir bersamaan.
“Itu bukan jawaban yang aku inginkan!” sahut Askelan.
“Aku tidak mau disebut plagiat karena mencuri rancangan orang!”
“Siapa yang memintamu mengakui itu sebagai rancanganmu?” kata Askelan lagi.
__ADS_1
“Lalu, apa maksudmu?”
“Aku hanya bertanya padamu, berapa kau bisa memberi harga rancangan ini?”
Deondra diam sebentar, mengamati rancangan ini, dia tahu ini orisinal dan dia belum pernah melihat orang merancang model gaun malam seperti itu.
“Baik, tunggu sebentar!” pria setengah wanita itu pergi ke kamarnya dan kembali sambil membawa sebuah kotak kecil berisi perhiasannya.
“Ini salah satu benda berharga milikku, sedangkan uang di rekeningku tidak cukup karena aku baru saja memakainya untuk membuka cabang baru,” katanya sambil membuka kotak kalung bertatahkan jamrut biru.
“Apa itu blue sky asli, dari Afrika?” tanya Askelan.
“Ya, aku masih menyimpan surat lelang dan sertifikat keasliannya!”
“Kenapa semahal itu?” tanya Askelan sambil menegakkan punggungnya.
“Seandainya aku sendiri yang merancangnya dan aku wujudkan dalam pakaian, maka tidak akan semahal itu. Tapi, ini rancangan orang, Anda sendiri tidak mengatakan dari mana Anda mencurinya. Jadi, aku butuh jaminan masa depan agar aku tidak di tuduh sebagai plagiat!”
“Hanya itu?”
“Ada lagi, kalau baju malamnya sudah jadi, maka aku akan menjual dengan harga sama dengan mobil sport yang kau gunakan saat ini!”
“Apa kau gila?” Askelan tak percaya
“Tidak!” Deondra bersungguh-sungguh.
“Kalau begitu, bersiaplah kau memiliki saingan baru!” kata Askelan lagi sambil menyambar kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam jasnya.
“Juallah padaku, aku akan membuat surat perjanjiannya sekarang!”
“Tidak akan!”
“Cih! Anda pikir aku tidak bisa menirunya? Semua detail sudah ada di otakku sekarang!”
Askelan yang semula sudah berdiri dan berbalik, kembali menoleh dan berkata, “Kalau kau melakukannya, maka kau akan berhadapan langsung denganku!”
“Lebih baik ajak dia bekerja sama denganku, dia akan lebih mudah terkenal, dari pada berjalan sendiri!”
“Terserah!”
Deandra menarik tangan Jordan dan berkata, “Katakan padaku, siapa wanita itu? Apa Haifa yang sudah merancangnya?”
“Aku tidak tahu!” jawab Jordan sambil mengangkat bahu.
“Dasar kalian membuatku penasaran saja!” Gerutunya sambil melepas syal di lehernya dan melemparkan ke lantai.
Setelah di dalam mobil, Askelan masih saja tersenyum tipis bahkan sampai kendaraannya melaju kencang.
“Apa Nona Lin yang merancangnya, Tuan?” tanya Jordan sambil mengoper gigi pada saat mobil yang dikendarainya tengah melaju.
“Hmm ...”
“Itu, bagus! Kurasa sebuah butik kecil di persimpangan pusat bisnis Houllier sudah cukup untuk Nona!”
“Ya, kupikir juga begitu.”
“Saya akan mempersiapkan kalau begitu!”
__ADS_1
“Bukan sekarang, siapkan saja Jeep, aku akan ke pondok kayu besok!”
Bersambung