
Masih Di Kamar Askelan
Lintani berdiri lagi, lalu, mengambil satu buah Magnum dan mengisinya dengan peluru hingga penuh. Dia menghadap ke cermin besar yang ada di sana sambil menghunuskan senjata. Perasaannya saat itu berkecamuk antara luka tapi juga, penuh cinta. Melihat kenyataan pada dirinya dengan perut yang telah membuncit.
“Apa yang akan kau lakukan dengan senjata itu?”
Askelan tiba-tiba muncul di belakang Lintani, dia bangun setelah mendengar suara langkah kaki istrinya memasuki ruang ganti. Ada bunyi khusus yang terdengar, jika laci senjata itu terbuka. Oleh karena itulah Askelan menyusul istrinya. Dia pun mendengar semua ucapan yang diucapkan wanitanya, dengan hati yang sama-sama perih, bagai di iris dengan sebilah belati, serta melihat semua tindakan Lintani.
Lintani bergeming dalam diam, air matanya terus mengalir tanpa bisa di cegah, dan melihat Askelan dari balik kaca di hadapannya dengan tatapan mata yang rumit. Suara berat pria yang sedikit bergetar itu tidak menggoyahkan posisinya.
“Kau—“
“Kau harus cepat menarik pelatuknya sebelum berubah pikiran atau aku yang akan menembakmu!” kata Askelan lagi, dia berdiri tegap di sana dengan bertelanjang dada, hanya celana traning abu-abu yang dipakainya.
“Kau!”
“Ya! Aku yang akan menembakmu kalau kau tidak menembakku sekarang juga!”
Lintani menghapus air mata dengan satu tangan dan tangan lainnya tetap mengarahkan pistol ke arah cermin.
“Kau tahu segalanya dan tetap diam selama ini?”
“Tahu soal apa?”
“Kau tahu bahwa aku adalah wanita yang sudah dituduh membunuhmu!” Lintani berteriak cukup kuat.
“Ya! Aku tahu itu.” Askelan berkata penuh penyesalan.
“Apa alasanmu menyembunyikan kalau kau tahu semua tentang aku?”
Lintani berkata masih dalam posisi yang sama.
“Untuk apa mengatakannya?” Askelan berkata sambil menyelipkan kedua tangan di saku celananya.
“Aku punya banyak rencana kalau tahu siapa ayah Pearl! Dan itu kau, kan? Kau yang sudah menyentuhku di bukit itu?”
“Ya!” kata Askelan sambil menarik napas sejenak, lalu, kembali berkata-kata.
“Aku tahu, rencanamu ... Sayang ... salah satunya adalah kau akan membunuhku ... Sekarang kau sudah tahu! Jadi, lakukanlah agar kau puas!” Askelan memang terkesan ceroboh dengan meminta Lintani membunuhnya, padahal dia yakin, wanita itu tidak akan sanggup melakukannya.
__ADS_1
“Kau!” Lintani berkata dengan air mata yang semakin deras dan tangisannya semakin tidak bisa di tahan.
“Ya! Beteriaklah, kutuk aku, maki aku sepuasmu, lakukan sebelum kau membunuhku!”
Lintani tidak menjawab, dia justru menangis terisak-isak sampai tangannya yang memegang senjata itu gemetar hebat. Ingin rasanya menekan pelatuk dan membunuhnya, tapi, cinta pada pria itu seperti menjebaknya. Ya, dia benar-benar mencintainya. Pria itu sudah banyak melakukan sesuatu di luar kewajaran bagi seorang suami yang mencintai istrinya.
“Kakau kau mau melakukannya, anggap seolah kita tidak saling mengenal dan aku bukanlah Askelan Haarad putra Elliyat yang kau kenal, Lintani Syahrain Shaw dari Rasevan! Ayo! Lakukan!”
Sejanak suasana hening.
Tiba-tiba Lintani berbalik membuat Askelan sedikit terkejut.
“Kau ... teganya kau mengatakan aku pela cur dan murahan, padahal aku bukan wanita seperti itu!”
Askelan diam membiarkan Lintani mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Dia memanjakan mata, bersiap jika istrinya benar-benar akan membunuhnya.
“Teganya kau memaksakan keinginanmu, padahal aku sudah memohon berulang kali untuk menghentikannya! Aku ... aku sangat kesakitan waktu itu ... Askelan, aku kesakitan ... Kau jahat Askelan ... Kau jahat!’
Lintani maju selangkah lebih dekat, masih dengan menangis saat bicara.
“Kau sudah membuatku hamil, dan kau tahu apa yang aku rasakan di penjara?”
“Aku menjadi budak mereka di sana, padahal aku sedang mengandung anakmu! Aku disiksa mereka, ditindas, sering di paksa mencuci dan membersihkan kamar mandi mereka, padahal aku tidak pernah merugikan mereka sedikit pun! Apa salahku padamu ...? Apa salahku pada mereka ....? Apa!”
“Dan aku harus merasakan semua itu selama delapan tahun! Askelan ... delapan tahun ....!”
Tangisan Lintani semakin menyayat hati.
“Aku sering kesusahan dan tidak bisa bebas bergerak ... bahkan aku harus memasak saat aku kesakitan dan hampir melahirkan anakmu!”
“Dan yang paling menyakitkan, dia mati ... kau tahu itu, kan? Dia pergi ... padahal aku sudah begitu kesulitan mengandung dan melahirkannya. Seolah dia membenciku ... dia pergi ... Dia membenciku ....!”
Lintani berhenti bicara karena tangisannya sendiri semakin kuat. Dia menghapus dengan satu tangan dan tangan satunya lagi, tetap menghunuskan senjata.
Tiba-tiba dia berteriak, “Jangan mendekat!” Saat itu dia melihat Askelan yang mengayunkan langkah.
“Sayang ....!”
Hati Askelan semakin sakit, setelah terasa bagai di iris kini bagai dicabik-cabik.
Kali ini dia menyeringai sinis, dan berkata, “Ya! Aku tahu kenapa Pearl selalu menyuruhku bangun dan saat aku terjaga dari mimpiku ... kau tahu ...? Aku selalu melihatmu!”
__ADS_1
“Apa yang ingin Pearl lakukan padaku?’ tanya Askelan tiba-tiba, dia selangkah lebih maju lagi. Ingin rasanya memeluk dan berlutut lagi di kaki Lintani, berapa kali pun akan dia lakukan asalkan gadis itu bersedia memaafkannya.
Lintani memikirkan mimpinya, setiap kali melihat Pearl dalam tidurnya, anak kecil itu selalu tersenyum, seolah ingin mengajak ibunya untuk memaafkan ayahnya. Tapi kenapa?
“Apa Pearl ingin aku mati?” kata Askelan, sambil berlutut dan kepalanya menunduk, lalu, berkata, “Lakukan, sebelum kau berubah pikiran!”
Sementara Lintani terdiam, dia masih mengingat mimpinya setiap kali Pearl muncul, maka gadis itu tidak memintanya melakukan apa-apa, dia hanya memberitahu bahwa Askelan adalah ayahnya.
Lintani menyentuh rambutnya yang diuntai memanjang seperti biasanya hingga sebatas paha. Terbayang dalam mimpinya, Pearl, bayi mungilnya berubah menjadi anak kecil manis dan lucu, dia berambut sebahu dan mengibaskan rambutnya, lalu pergi hilang entah ke mana.
“Apa dia ingin aku memotong rambutku? Apa hanya itu, apa dia muncul dan meminta agar aku memaafkan ayahnya karena adiknya?” batin Lintani sambil mengusap perutnya.
Saat melihat Askelan yang menunduk, Lintani mendekat lalu, menarik lengan pria itu sambil berkata, “Berdiri kau Tuan Askel! Kau ba ji Ngan!”
Setelah Askelan beridri, tatapan matanya bertemu dengan tatapan Lintani yang tajam dan penuh dendam. Kedua tangan wanita itu berada di dadanya.
Lalu ... tiba-tiba!
Lintani mendorong tubuh kekar suaminya dengan sekuat tenaga, Askelan sudah hampir menyerah tadi, hingga kesadarannya pulih saat Lintani mendorongnya ke arah tembok di belakangnya, dia mengikuti langkah kaki Lintani ke belakang, dengan tetap waspada. Menyeimbangkan tubuh agar tidak sama-sama terjatuh.
“Kau memang bia dap Askelan! Aku benci pria itu, aku benci dia! Dia, yang sudah menyentuhku secara paksa di bukit itu, aku benci!” Lintani berkata setelah tubuh mereka sama-sama terantuk dinding.
Gadis itu memukuli dada dan bahu Askelan dengan senjata sekuat tenaga. Pria itu beberapa kali meringis menahan sakit, karena ujung senjata itu bisa diibaratkan pemukul besi, semacam tongkat baseball yang pendek. Dan, itu sangat menyakitkan, tapi, dia tidak mengeluh sedikit pun.
Lintani terus memukul, sampai sekian lama ... Hingga dia terengah-engah.
“Kenapa itu harus kau Elan? Kenapa! Aku benci orang itu selama bertahun-tahun dan aku ingin meludahi makamnya! Kenapa Elan ... kenapa itu harus kau?”
Akhirnya dia kelelahan sendiri, suaranya semakin lemah, dan dia lemas, lalu terjatuh ke tubuh Askelan. Pria itu secara refleks menahannya agar tidak melorot dan mengambil senjata di tangannya.
Gadis itu terpejam tapi mulutnya masih meracau, menggumamkan kata, kalau dia membenci pria yang sudah merusaknya hingga dia masuk penjara.
Askelan membawa tubuh Lintani ke tempat tidur dan membaringkannya secara perlahan.
Bersambung
👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️👍
__ADS_1