Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 129. Rumah Keluarga Shaw


__ADS_3

Rumah Keluarga Shaw


Sesampainya di sana, kedatangan rombongan kecil Askelan di sambut dengan, serangkaian protokoler kediaman keluarga kalangan atas. Tentu saja bagi Askelan dan Jordan hal seperti itu sudah biasa. Berbeda dengan Lintani yang sedikit risi, tapi, Askelan mendampinginya dengan sabar.


Mereka di persilakan memasuki sebuah ruangan luas yang di hiasi beberapa ornamen unik serta bunga segar. Di sana ada meja makan besar yang sudah terhidang banyak makanan. Askelan berjalan dengan kedua tangan yang saling bertaut mendekati seseorang yang ada di jendela.


Aston sudah menunggu dengan sabar di kursi rodanya. Orang tua itu memaksakan diri untuk pulang setelah di rawat untuk beberapa lama, dia harus melakukan cek up setiap hari di sana. Sejak usianya menginjak 80 tahun, dia selalu menjadi penghuni tetap dari salah satu ruangan VVIP rumah sakit itu.


Saat bertemu dengan Lintani kemarin pun, dia baru selesai dengan tes medicalnya dan diketahui kondisi tubuhnya yang semakin menurun. Dia sangat mengharapkan jika dugaannya benar tentang Lintani. Sedangkan Lintani, merasakan kedekatan walaupun, dia baru saja bertemu. Kemiripan Aston dengan sang Kakek, membuat gadis itu menyetujui permintaannya untuk makan siang bersama.


“Ah, akhirnya kalian datang juga! Aku pikir pasti kecewa kalau kalian tidak datang!” kata pria tua yang kini berpakaian rapi dan terlihat segar, padahal tubuhnya itu tampak begitu lemah kemarin.


“Tuan Aston, Anda terlihat sangat segar!” Askelan berkata sambil menjabat tangannya. Begitu juga Lintani melakukan hal yang sama.


“Panggil aku Kakek saja!” sahut Aseton, sambil menggerakkan kursi roda mendekati meja makan, “Duduklah!”


Askelan dan Lintani pun duduk secara berdampingan. Sementara seorang asisten memindahkan Aston ke kursinya.


“Maaf, aku meminta waktumu, Tuan Askel! Kau pasti sibuk!” kata Aston saat dia sudah dalam keadaan yang nyaman.


Sementara pelayan mulai melayani tamunya, menuangkan air minum, meletakkan beberapa makanan di piring Aston dan mempersilahkan mereka untuk makan.


“Tidak juga, semua karena kemauan istriku, apa pun akan aku lakukan, iya, kan, Sayang!” Askelan berkata sambil mengusap kepala Lintani lalu, memiringkan kepala dan mencium pipinya lembut.


Lintani memundurkan kepalanya, karena sikap Askelan membuatnya gugup. Ah, dia terlalu berlebihan. Aston tersenyum melihatnya.


“Ayo! Makanlah! Aku merasa tersanjung dengan kedatangan orang seperti Anda, Tuan Asekel!”


Mereka mulai menikmati makanan yang mereka ambil di piring, sedikit demi sedikit. Seperti biasa, Askelan akan mengambil makanan untuk Lintani dan menyuapinya seperti bayi.


“Apa kalian selalu melakukan itu setiap makan?” tanya Aston sedikit heran. Namun, dengan melihat hal itu, dia mengangguk cepat, rasanya tidak perlu lagi menguji kekuatan cinta pasangan ini kalau memang benar Lintani adalah cucu asli dari Syahrain.


“Ya!” sahut Askelan dan Lintani secara bersamaan.


“Dia akan muntah kalau tidak makan melalui tanganku!” Askelan menimpali.


“Kakek, apa kau tinggal sendiri di rumah ini?” tanya Lintani di sela-selanya.


“Ya!” kata Aston sambil meletakkan sendok, “Sebenarnya aku punya seorang cucu, aku yakin Tuan Askel pasti tahu siapa yang aku maksud! Tapi, dia tidak mau tinggal di sini.”


Askelan mengangguk, pasti maksud pembicaraan Aston adalah Yasmin, wanita itu pernah hampir di jodohkan dengannya, semua orang pun tahu soal itu.


“Dia tidak mau menemaniku, mungkin rumah ini terlalu tua baginya,” kata Aston penuh dengan perasaan kecewa. Dia menilai Yasmin tidak akan betah tinggal di rumah yang terlalu banyak aturan. Anak-anak pada masanya akan lebih senang tinggal sendiri, karena bebas dengan keinginannya tanpa interupsi dari orang lain.

__ADS_1


“Mungkin dia sibuk!” kata Lintani, dia tidak tahu siapa cucu yang di maksud Aston, karena Askelan tidak ingin membicarakan apa pun tentang keluarga itu pada Lintani


“Dan, rumah ini pun tidak terlalu tua. Ini rumah yang bagus!” lanjut Lintani, membuat Aston tersenyum.


“Ini rumah peninggalan keluarga Shaw, dulu ada seorang yang bernama Syahrain Shaw tinggal di sini!”


“Benarkah? Namanya mirip dengan Kakekku, tapi tidak ada nama Shaw di belakang namanya!” kata Lintani, dia harus membuktikan kebenaran cerita itu sendiri dan hanya ingin tahu dengan kejujuran.


Sepertinya Askelan sama sekali tidak ingin terlibat. Dia hanya peduli pada sesuatu yang berkaitan dengan kenyamanan Lintani.


Setelah pembicaraan itu, mereka menyelesaikan aktivitas makan siangnya masing-masing. Aston tampak semangat karena Lintani dan Askelan begitu menghargainya sebagai keluarga.


Setelah selesai makan, Aston mencoba pindah ke kursi rodanya seorang diri, tapi dia terjatuh. Askelan yang berada cukup dekat, segera mengangkatnya dan, saat dia hendak meletakkan tubuh lemah itu di kursi roda, Aston menolak.


“Bawa aku ke kamarku. Ada yang akan aku tunjukkan pada istrimu!” kata pria tua itu, masih dalam gendongan Askelan.


“Baiklah!” Askelan membawa Aston ke kamar yang ditunjukkannya, Lintani yang membuka pintu, lalu, membaringkannya di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu Rosewood tua berukiran klasik.


“Terima kasih ...” kata Aston saat Askelan menyelimutinya.


Tiba-tiba Lintani berteriak, “Kakek Rain!” sambil menoleh pada salah satu dinding di kamar itu. Dia melangkah dan jari telunjuknya mengarah pada beberapa foto keturunan keluarga Shaw yang tergantung di sana.


Lintani menoleh kembali pada Aston di tempat tidur.


“Itu Syahrain Shaw! Dia adikku!”


‘Jadi, semua cerita itu benar?’ batin Askelan dan Lintani secara bersamaan.


Walaupun, Lintani sudah pernah sekali mendengar cerita tentang keluarga Shaw, tapi, dia tetap saja sedih melihat foto itu. Dia tidak melihat kakeknya sejak 19 tahun yang lalu, dan saat melihat fotonya ada di rumah orang lain, itu sangat mengharukan.


Lintani mendekati dinding dan mengusap gambar pria tua itu, air matanya semakin deras mengalir, demi membayangkan bagaimana cara kakeknya meninggal, yang begitu menyedihkan. Tubuhnya seketika meluruh ke lantai, Askelan segera mendekati.


“Ayo! Kita pulang saja kalau berada di sini hanya membuatmu sedih!” kata Askelan sambil memeluk istrinya.


Aston yang mendengar ucapan Askelan pun berteriak, “Tunggu!”


Askelan berdiri dengan Lintani dalam pelukannya dan menyahut, “Apa lagi yang akan Anda katakan, Tuan Shaw? Istriku sedang hamil dan aku tidak ingin melihatnya bersedih!”


“Aku tahu,” kata Aston sambil menunjukkan sesuatu yang dia ambil dari balik pakaiannya, “Kemarilah!” kata Aston sambil melambaikan tangannya mengajak Lintani mendekat padanya. Pria itu menghamparkan sebuah kertas tua yang sedikit lapuk di atas tempat tidur.


Gadis itu duduk di sisi pria tua dan tangan mereka saling menggenggam. Tatapan mereka berada pada kertas yang berisi beberapa gambar yang kabur.


“Kalau orang yang ada di gambar itu adalah Kakekmu, yang bernama Syahrain .... berarti dia adalah keturunan keluarga Shaw, itu artinya kau pun cucu dari keluargaku ... apa kau mengerti?”

__ADS_1


Lintani mengangguk, dan berkata, “Kakek, berarti kau juga Kakekku?”


“Tentu saja!”


Kemudian kedua manusia itu saling berpelukan.


“Sekarang, ceritakan padaku, bagaimana kalian hidup di pulau terpencil itu!”


Lintani menceritakan masa kecilnya dan bagaimana seorang Syahrain Shaw memperlakukan dirinya, dengan penuh semangat. Kenangan bersama keluarga yang sangat singkat itu terasa begitu manis. Walaupun, banyak dari ingatannya yang hilang karena dirinya masih terlalu kecil, tapi, tetap saja yang teringat adalah kenangan paling berbekas dan berkesan, selama hidupnya.


“Apa hanya itu, kenanganmu dengan Syahrain?” tanya Aston setelah Lintani selesai bercerita.


“Ya! Sisanya aku hidup terpisah jauh dari Kakek dan saudaraku yang lain, aku tumbuh besar dan sekolah di kota ini. Ibuku menitipkan aku pada pamanku, Luxor. Sejak saat itu aku tidak pernah kembali ke Rasevan, kecuali setelah aku menikah dengan Elan!”


“Elan? Siapa Elan?”


“Dia, suamiku!” kata Lintani sambil melirik Askelan yang hanya diam, duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya.


“Apa Kakekmu memberimu sesuatu sebagai kenang-kenangan seperti gelang dan stempel yang terbuat dari besi?”


Lintani memikirkan kembali semua cerita Pinot waktu itu, tentang gelang dan stempel dari besi. Selama Hidup dia belum pernah melihat stempel yang dimaksud mereka dan dia hanya memiliki gelang yang diberikan oleh ibunya. Akan tetapi gelang itu ditinggalkan di rumah keluarga Lux, bahkan dia tidak terpikir untuk mengambilnya ke sana. Entah masih ada atau tidak gelang itu, dia tidak tahu.


Lintani tidak memilikinya hingga dia menjawab, “Untuk apa kakek memberiku benda seperti itu? Aku tidak memilikinya, tapi kakek sudah melakukan sesuatu padaku!”


“Apa itu?”


“Kakek memberiku sebuah tanda, ibu yang menceritakannya padaku karena waktu itu aku masih kecil dan aku hanya menangis semalaman. Untung saja aku tidak ingat ... kalau aku ingat rasa sakit itu, mungkin akan selamanya aku membenci Kakek!” kata Lintani sambil tertawa kecil.


Aston mengangguk, sambil berkata, “Apa kau punya foto Ibumu?”


Lintani hampir menggelengkan kepalanya saat Askelan berdiri dan mengambil secarik kertas dari balik saku jasnya.


“Aku punya semua data yang Anda inginkan tentang istriku, Tuan Shaw!” kata Askelan.


Lintani menatap Askelan dan dokumen itu, secara bergantian. Dia heran, bagaimana semua itu bisa berada di tangan suaminya. Dia membaca kertas yang kini berada di tangan Aston, di sana terdapat gambar ibunya yang hilang, juga banyak sekali tulisan di bawahnya.


Tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka di kamar itu.


“Kakek!” panggil orang itu.


Bersambung


❤️🙏 Bantu dukung dengan like, komen dan hadiahnya 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2