Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 44. Takut Ketahuan


__ADS_3

Takut Ketahuan


Sesampainya di kantor Harrad Tower, Askelan menghubungi Haifa dan betapa senangnya dia menerima panggilan dari sang kekasih.


Namun betapa kecewanya gadis itu setelah mengangkat telepon karena Askelan sama sekali tidak menanyakan kabarnya, apakah dia baik-baik saja setelah pulang dari pesta melainkan bertanya tentang pondok kayu.


“Sayang, apa kau tidak khawatir padaku? Kenapa kau tidak menanyakan kabarku? Aku sedih, Sayang!”


“Apa yang membuatmu sedih?” tanya Askelan.


“Kenapa kau menanyakannya Askel, harusnya kau mengerti, aku kekasihmu, kan? Tentu saja aku sedih, kau mencium seorang pelayan padahal aku ada bersamamu!”


“Aku hanya ingin mempermalukannya!” Askelan terdengar tidak suka.


Saat itu hati Haifa gelisah, dia berpikir tidak akan ada orang yang menolak ciuman pria seperti dirinya, bagaimana mungkin dia mencium Lintani, hanya karena ingin mempermalukannya. Haifa hanya tidak tahu saja apa yang telah Lintani didapatkan, setelah Askelan menciumnya!


“Ah sudahlah, aku tidak ingin membahas itu! Katakan padaku, apa kakimu pernah terluka saat kau berada di rumah bukit itu?” Tanya Askelan lagi.


“Tidak, aku pingsan setelah itu!” Haifa menjawabnya asal sebab dia memang tidak tahu apa yang, terjadi secara pasti di tempat kejadian perkara. Waktu itu, Luxor—ayahnya, hanya menceritakan kejadian sesudahnya, dia harus mengaku pada Askelan apabila dirinya pingsan. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya di sana, karena saat pihak berwenang melakukan penangkapan, Lintani Lintani langsung ditangkap dan tidak pernah keluar lagi dari penjara.


Saat mendengar jawaban Haifa, Askelan mengernyitkan dahi, karena ucapan Haifa tidak sesuai, dengan pelaporan anak buahnya, yang mengatakan jika pisau kecil sebagai satu-satunya barang bukti, terdapat darah orang lain, yang menempel di sana. Itu adalah darah dengan golongan O yang sangat banyak, menandakan kemungkinan wanita itu terluka sangat dalam akibat menginjaknya.


“Oh, begitu. Baiklah aku hanya ingin menanyakan itu. Istirahatlah!”


Askelan menutup dan menyimpan telepon, lalu, mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Dia sedikit menyesal mengapa tidak menanyakan hal ini sejak sebulan yang lalu, saat Haifa mengakui jika dirinya pernah ternoda oleh seseorang di pondok kayu di lereng bukit.


Dari pada terus menyesali, pria itu lebih baik melakukan pekerjaannya menganalisis sebuah kerja sama, yang membawa keuntungan lebih banyak lagi sesuai janjinya.

__ADS_1


Sungguh memerlukan usaha sepenuh jiwa, untuk bisa berada di titik ini. Bukan nyawa taruhannya, tapi harga diri.


Harga diri keluarga Hardo yang di pandang sebelah mata, nyatanya dengan mudah bisa dia naikkan levelnya, walaupun, dengan cucuran keringat sepanjang malam dan siang tanpa istirahat. Dia hanya fokus untuk menemukan cara terbaik mengembangkan bisnis.


Idenya berawal dari keuntungan kecil yang menjadi bagian yang dia dapatkan sebelumnya. Lalu, dia membangun sebuah pusat perbelanjaan, di tempat strategis, bahkan sampai menguras tabungannya sejak kecil. Siapa yang menyangka jika idenya ternyata begitu cemerlang. Dia menjadikan pusat perbelanjaan sebagai bisnis retail waralaba yang menggiurkan. Bahkan seluruh isi dari perbelanjaan itu, merupakan produk dari perusahaan Harrad Tower sendiri.


Wajar saja jika kemudian para Tetua mempercayakan perusahaan Harrad Tower kepadanya. Menurut mereka Askelan bisa dipercaya, dia bisa mengembangkan keuntungan kecil dengan begitu mudah. Lalu sekarang, keuntungan mereka naik berkali-kali lipat setelah Askelan mengepalai semua lini perusahaan.


Sementara itu di rumah Haifa, gadis itu tengah memarahi ayah dan ibunya.


“Apa Ayah tidak mencari tahu pada Lin soal kejadian di dalam gubuk itu? Kenapa?” tanya Haifa sambil berjalan mondar-mandir, rambutnya acak-acakan karena dia jambak sendiri.


Luxor dan Rauja pun diam, mereka sebelumnya tidak pernah mengira apabila hal ini akan terjadi. Mereka benar-benar menganggap saat itu Askelan sudah tiada dan tak mungkin hidup lagi. Bahkan, siapa yang menyangka apabila Lintani bertemu dengan ibunya dan mereka menjadi teman. bahkan sekarang Askelan memintanya menjadi seorang istri, hanya untuk membahagiakan ibunya sebelum wanita itu wafat.


Semua yang terjadi saat ini, di luar keinginan mereka sehingga Lux tidak menanyakan kejadian di dalam pondok, pada Lintani saat di penjara dan, dia tidak tahu apabila kakinya terluka atau tidak.


“Lalu, kau menjawab apa? Seharusnya kau berpikir lebih dahulu sayang ...” kata Rauja.


“Aku tidak berpikir panjang, Bu, aku tidak berpikir kalau kemungkinan Lintani terluka!”


“Kita lihat saja hari ini, kau harus menemui Askelan dan membujuknya, lalu, tanyakan padanya, kenapa dia ingin tahu tentang kejadian di dalam pondok kayu!” kata Luxor.


“Aku akan mencobanya, tapi, kau juga tahu Ayah ... dia tidak mudah!”


“Justru laki-laki seperti itu yang harus menjadi suamimu, kau akan bahagia seumur hidupmu, kalau dia menjadi milikmu dan kami berdua pun akan tenang!” kata Luxor.


“Ya! Kita tidak perlu lagi hidup kekurangan, tapi, bagaimana kalau Askelan justru curiga?” kata Rauja lagi

__ADS_1


“Kalau begitu cepat hubungi dia minta untuk bertemu!” pinta Luxor.


“Ini tidak mungkin, Ayah ... dia baru menghubungiku satu jam yang lalu, aku tidak mau terlalu agresif, apalagi dia sibuk, kalau aku memaksakan diri tentu dia akan lebih tidak menyukaiku lagi.” Kata Haifa kesal sambil merebahkan dirinya di sofa panjang.


“Baiklah kalau begitu, yang perlu kau lakukan adalah merawat diri, kau perlu ke spa untuk memijat tubuhmu agar kau nanti segar ketika bertemu dengan Askelan, uang masa depan kita!” kata Rauja seraya tersenyum lebar.


Haifa tersenyum ketika ibunya mengajaknya untuk pergi ke spa. Dia segera mengambil tas dan menunjukkan kartu tanpa batas yang diberikan Askelan padanya. Tujuan mereka bukanlah kebahagiaan ataupun kebaikan sesama dan mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, mereka tidak memikirkan apa yang terbaik selanjutnya tetapi apa yang terbaik untuk saat ini.


Sore harinya, Lintani sudah selesai melakukan pekerjaannya. Dia menumpang di kamar mandi Shane untuk mengganti pakaiannya, dia kembali memakai pakaian biasa yang tadi dia gunakan saat pergi ke rumah sakit.


Lintani keluar dari toko dengan perasaan bahagia, dia sangat bersyukur walaupun setiap hari gaji yang dia terima tidak pernah sama. Dia akan menerima uang cukup besar apabila toko sangat ramai atau ikan yang dijualnya habis. Seperti hari ini pemilik toko memberinya 20 dolar karena semua ikan yang dijualnya tak bersisa, hanya ada sayuran seperti kentang, lobak dan kubis itu pun masih bisa dijual kembali esok hari.


Keluarga Shane adalah orang yang baik mereka warga keturunan, yang terpaksa harus hidup mandiri karena tidak memiliki kepala keluarga. Mereka sama-sama harus berjuang hidup bersama seperti dirinya hingga bekerja menjadi sebagian dari keluarga itu, seperti sebuah anugerah bagi Lintani.


Sebuah suara keras mengejutkan Lintani ketika hendak menghentikan bis yang lewat. Akhirnya habis itu berlalu begitu saja karena gadis itu lebih memilih menghargai orang yang sudah memanggilnya. Namun, wajahnya berubah cemberut ketika menyadari orang yang memanggilnya adalah, wanita yang sudah menyiramkan kuah sup ke tubuhnya di pesta.


“Kau?” kata Lintani kesal.


“Bukankah kau gadis murahan itu?” kata wanita itu sambil berkacak pinggang.


“Kau salah orang ...!” kata Lintani berusaha menghindar, dia enggan melayaninya. Dia pergi melalui wanita itu begitu saja tetapi, tiba-tiba tangannya ditarik dengan kuat oleh wanita itu karena dia merasa rendahkan.


Lintani menoleh sambil melepaskan tangannya.


“Apa kita pernah saling kenal?”


“Sombong sekali kamu!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2