Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 119. Lupakan Soal Masa Lalu


__ADS_3

Lupakan Soal Masa Lalumu


“Sudah.” Jawab Askelan singkat, tiba-tiba hatinya terasa seperti sedang dirobek dengan kasar dari berbagai sisi.


Dia benci dengan kenyataan, mengapa Dex dulu memilih rumah kayu sebagai eksekusi rencana agar dirinya tidak naik Tahta. Padahal dia sangat menyukai rumah yang bernilai seni tinggi dan menenangkan itu.


Namun, demi Lintani dia menghancurkannya, tepat di saat dia mengetahui semua informasi, tentang gadis itu, yang berhasil dikumpulkan dengan susah payah oleh anak buahnya.


Askelan memiliki rumah itu secara sah melalui surat wasiat yang ditulis oleh ayahnya, hingga dia bisa memiliki hak secara wajar sebagai cucu dari keluarga Harrad. Namun, di rumah itu pula dia mengalami nasib buruk dan hampir dibunuh secara perlahan oleh pamannya sendiri, tepat sebelum penobatannya sebagai CEO perusahaan.


Walaupun, saat itu dia tengah berada di puncak karier karena keberhasilannya membuktikan diri pada para Ketua, tapi, dia juga dalam kondisi terlemahnya secara bersamaan, karena mengalami percobaan pelenyapan saat ibunya masih berada dalam penjara.


“Apa kau ada di kota ini sekitar delapan tahun yang lalu?”


“Aku tidak ingat! Ada apa ...?” Askelan berkata sambil memegang dagu Lintani agar lebih dekat ke arahnya dan mencium bibirnya sekilas.


“Sudahlah ... jangan ingat lagi soal masa lalumu, oke?”


“Apa yang kau tahu soal masa laluku?”


Pertanyaan Lintani itu seperti menyudutkan Askelan dalam posisi yang serba salah, hingga dia tertegun dan melepaskan dagu istrinya dengan cepat karena tangannya tiba-tiba saja gemetar.


“Tidak! Aku tidak tahu!” sahut Askelan datar.

__ADS_1


“Tuan! Kita sudah sampai!” Jordan berkata sambil menghentikan kendaraannya, tepat di sebuah gudang besar dan tua, di sisi lain bukit yang tampak sepi dan cukup jauh dari jalan utama.


“Aku akan menciummu Jode! Kau penyelamatku!” kata Askelan dalam hati.


“Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Tuan!” kata Jordan dalam hati, sambil melirik Askelan dari kaca spion tengah mobil.


Mereka turun dari mobil hampir bersamaan, lalu Askelan berkata sambil berbisik pada Lintani, “Apa pun masa lalumu itu, lupakan saja!”


Mereka kemudian menghampiri sebuah bangunan tua dan kuno yang di jaga ketat beberapa pengawal. Melihat Jordan, Askelan dan Lintani, mereka membukakan pintu.


Lintani masuk sambil menutup hidung, karena tercium aroma yang tidak sedap dari dalam sana. Itu adalah aroma khas dari rendaman karet yang baru disadap dari pohonnya. Getah-getah karet itu akan mengeluarkan aroma khas yang mirip bau busuk dan, aroma khas karet tidak akan hilang sampai pada pengolahan akhir di pabrik-pabrik. Menjadi apa pun nantinya, semua benda yang berbahan karet, akan memiliki aroma yang sama.


Gadis itu melihat seorang pria setengah tua yang terikat dengan kuat di sebuah kursi kayu dengan rantai yang besar di kakinya. Berbagai prasangka muncul di benaknya.


Betapa terkejutnya Lintani setelah mengamati wajah pria itu, yang ternyata memiliki kemiripan dengan sang kakek. Dia tahu tentang Marka dari Pinot, bahwa pria itu adalah keponakan kakeknya sendiri.


Tentunya wajar jiika Marka punya wajah yang agak mirip dengan Syahrain, karena secara garis keturunan keluarga Shaw, dia adalah sepupu ibunya, itu artinya Marka adalah keluarganya.


“Elan! Katakan padaku, siapa laki-laki ini!” tanya Lintani pada Askelan tanpa mengalihkan tatapannya pada pria itu, dia hanya memastikan saja.


Marka yang kini perlahan-lahan membuka mata, mengangkat kepalanya yang miring ke samping, wajahnya pucat, dan bibirnya kering, dia duduk dengan pasrah tanpa alas kaki, pakaiannya tidak terkoyak, tapi jelas dia tampak tidak mandi selama berhari-hari.


Lintani tidak tahu kalau di balik pakaian pria itu, ada banyak sekali bekas luka yang dihasilkan dari penyiksaan para anak buah Askelan. Mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri-sendiri.

__ADS_1


“Dia Marka! Orang yang sudah melenyapkan semua keluargamu!” kata Askelan sambil duduk di kursi kayu tepat di depan Marka, sambil menyilangkan kaki dan bersedekap dada.


Kemarin, Askelan pun sudah puas memukuli Marka, sebelum dibawa ke tempat itu oleh anak buah kepercayaannya. Sekeras apa pun pria itu berteriak, mengatakan sumpah serapahnya dan memberontak, tidak ada yang peduli. Dia orang yang kebal hukum hingga seberat apa pun kejahatannya, tidak akan mengenal yang namanya penjara, membuat beberapa orang yang sudah pernah menjadi korbannya, menaruh dendam.


Semua orang yang menyimpan dendam sekian tahun lamanya pada Marka, pun berpikir jika siksaan yang diberikan padanya masih tergolong wajar, walaupun akibat dari kejahatannya di masa lalu, sangat menyakiti relung paling dalam sisi kemanusiaan manusia.


Marka di sekap di sana, selama beberapa hari lamanya. Selama itu pula dia mendapatkan berbagai macam pelampiasan amarah dari sekian banyak anak buah Askelan, mereka terkumpul dengan dendam yang sama padanya.


Anak buah Marka yang masih selamat dijebloskan ke dalam penjara untuk seumur hidup, oleh Askelan, sedangkan anak buahnya yang tewas sudah dikuburkan di sekitar tepian danau.


“Jadi, dialah orang yang sudah membunuh Kakekku?” tanya Lintani sambil menitikkan air mata, tiba-tiba rasa mual yang tadi sempat muncul, mendadak hilang. Dia menangis karena teringat dan membayangkan bagaimana penderitaan semua keluarga, saat berada dalam penyekapan dan siksaan sebelum kematian mereka.


“Kau! Apa yang kau lakukan pada Kakek dan Kakakku!” Lintani berteriak, sambil menerjang dengan melakukan tendangan secara membabi buta dan, memukuli pria itu sekuat tenaga ke arah kepala dan badan, membuat Marka meringis kesakitan, akibat dari semua luka yang tersembunyi menjadi terbuka kembali oleh pukulan Lintani.


Setelah lelah memukuli, sambil menangis dengan penuh penyesalan, karena mengingat kematian menyakitkan yang harus diterima semua saudaranya, Lintani menoleh ke belakang, di mana Askelan duduk sambil melihat apa yang dilakukan istrinya.


Napasnya terengah-engah saat dia berkata, “Apa kau sudah menyiksanya juga?”


“Tidak! Aku hanya memukulinya saja!” kata Askelan berbohong.


Lintani kembali menatap Marka dan bertanya sesuatu yang sangat ingin diketahuinya.


“Untuk apa kau membunuh saudaraku di celah batu dekat Lintania?”

__ADS_1


Bersambung


❤️ Jangan lupa like, komentar dan hadiah nya. Masalah balas dendam hampir selesai, maaf agak kejam sedikit 🙂🙏❤️


__ADS_2