
Cinta Setinggi Pengorbanannya 1
“Lin, apa aku harus menjadi asistenmu juga, untuk bisa tetap bersama dengan dirinya?”
Nazaret bertanya sambil berdiri, dan menatap Lintani dengan penuh harap, air mata yang mengalir membuat alas bedaknya luntur, hingga pipinya yang mengendur pun terlihat.
“Apa Bibi sanggup menjadi asistenku, demi seorang laki-laki?”
Nazaret mengangguk mantap, membuat Lintani tersenyum.
Seperti itulah cinta ia pun memaafkan kesalahan Askelan yang begitu besar di matanya, karena mencintainya. Terlebih lagi dialah laki-laki yang menjadi ayah dari anaknya.
Sementara yang terjadi pada Nazareth saat ini adalah yang disebut dengan mencintai tanpa akal, di mana Nazareth yang memiliki kekayaan, mampu mencintai Pinot yang bukan apa-apa, bahkan bekerja tanpa bayaran.
“Cinta yang sebenar dan setulusnya adalah, ketika seseorang mampu mencintai orang yang telah berbuat salah ... apa aku benar Bibi?”
Nazaret mengangguk.
Sementara Askelan berulang kali menelan ludahnya secara kasar, setiap kali mendengar semua ucapan Lintani. Pembicaraan dua orang wanita yang ada di dekatnya itu, berulang kali menyentil hati dan sikapnya sendiri di masa lalu tetapi, dia pun sudah bertekad untuk menebusnya dengan sikap yang lebih baik. Bahkan, dia sudah memperbaiki hingga di kemudian hari.
Yang berbuat salah dengan Lintani di masa lalu, bukan hanya Nazaret, atau Pinot tetapi, dia juga. Yang sudah berbuat culas dan merendahkan Lintani, bukan hanya Nazaret atau keluarga Harrad lainnya tetapi, dia juga.
“Duduklah Bibi ....”
Nazaret pun duduk kembali, tapi tidak dengan gaya angkuhnya seperti sebelumnya.
“Bibi, aku tidak akan melakukan seperti apa yang kalian lakukan dulu, kalau seandainya aku membalas dendam, berarti aku sama buruknya dengan kalian.”
Ucapan Lintani kembali menyudutkan perasaan Nazaret juga Askelan.
__ADS_1
“Baiklah ... kalau kau tidak bisa memaafkannya, aku bisa memahami itu tapi, mungkin aku hanya meminta izin pada kalian, untuk menemuinya setiap aku merindukannya dan bertemu di villa kalian, apakah itu boleh?”
“Kalau soal itu, terserah denganmu, asal tidak mengganggu tugas yang diberikan padanya!” Askelan berkata dengan perlahan setelah sekian lama, hanya menjadi pendengar.
“Maaf aku sudah mengganggu kalian, sungguh kita tidak tahu apa yang sedang dilakukan takdir di belakang kita, di kemudian hari. Kalau saja aku tahu siapa dirimu sejak awal, mungkin aku tidak akan bersikap begitu buruk padamu, bukan?” kata Nazaret sambil meraih tas mewahnya. Dia bersiap untuk pergi.
“Ya, kalau saja aku tahu siapa aku sebenarnya sejak awal, mungkin aku juga tidak akan pernah bertemu dengan kalian!” kata Lintani datar.
Dia sudah tidak asing lagi dengan permainan takdir hingga saat ini, dan mungkin masih ada kejutan lain di kemudian hari selama dirinya masih hidup. Sungguh tidak ada manusia yang bisa menjamin jika hidupnya akan baik-baik saja.
“Apa Bibi mau pulang?” tanya Lintani saat Nazaret memasukkan kembali ponsel yang tadi dia keluarkan untuk menghubungi Pinot. Dia sudah memberikan banyak fasilitas pada pria itu, secara diam-diam.
Nazaret tidak tahu siapa Pinot sebenarnya, karena laki-laki itu hanya menyebutkan nama dan selalu mengelak saat di tanya latar belakang atau mengapa berjalan dengan pincang. Pria itu tidak pernah menjawab soal pribadinya. Namun, dengan segala kekurangannya, dia memberi ketulusan yang dibutuhkan Nazaret, bagai malaikat penolong yang sengaja di kirim Tuhan padanya.
Tentu saja Nazaret menyukai ketulusan seperti itu, karena di usianya yang sudah lebih dari 40 tahun dan mapan, tidak membutuhkan rayuan atau hal romantis lainnya, hidupnya sudah berkecukupan, dia hanya tidak memiliki kasih sayang.
Semua nasihat yang diberikan Pinot adalah hikmah kehidupannya sendiri, setelah dia mengalami banyak hal besar bahkan menghilangkan banyak nyawa. Lalu, bertemu dengan orang yang luar biasa seperti Lintani, hingga dia dipenuhi oleh rasa syukur masih diberi kesempatan untuk hidup.
“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk laki-laki itu, Bibi!" ujar Lintani.
“Tidak apa, itu hakmu. Aku dan suamiku pun, dulu banyak berbuat salah.”
“Itu cuma masa lalu, tapi, seandainya aku menjadi Ibuku, mungkin dia juga tidak akan memaafkan Pinot dengan mudah. Entah kalau kita sudah dimakan usia nanti!"
“Baiklah, aku mengerti.”
“Begitu pentingnya kasih sayang, bukan, Bi?”
“Ya!”
__ADS_1
“Kau tahu Bibi, aku dulu juga begitu menyayangi Bibi Elle, tidak perduli Elan membenciku, karena Bibi Elle menyayangiku dengan tulus, hingga aku merasakan kasih sayang seorang Ibu darinya. Aku pun tulus mengikuti keinginannya tanpa berniat sedikit pun untuk, mengkhianati pernikahanku dengan putra kesayangannya. Lihatlah dia sekarang begitu mencintaiku, jadi, kurasa cinta adalah setinggi pengorbanannya!"
Saat Lintani bicara, Askelan menoleh pada istrinya itu, dia seolah diingatkan kembali tentang bagaimana sikap Lintani pada ibunya yang, sempat dia kira sebagai akting. Penyesalannya bertambah secara berlipat-berlipat.
"Hmm ... kau benar lagi, Lin. kecuali, untuk orang yang buta dengan pengorbanan orang lain, maka dia tidak akan menghargai pengorbanan itu!" kata Nazaret sambil melangkah, dan pembicaraan mereka pun berakhir.
Setelah Nazaret pergi, Askelan memeluk Lintani, penuh kasih sayang dia berbisik di telinganya dengan lembut.
“Aku dulu pernah merasa bahwa kau berakting dengan Ibuku, apa yang bisa menebus kesalahanku itu sekarang?”
“Tidak ada!”
“Benarkah?”
“Ya! Hanya saja ... kau jangan mendekatiku setelah ini.”
“Apa kau masih sakit? Ayolah, ini sudah lebih dari satu bulan!”
Lintani melihat ke arah Askelan dengan kesal, sambil menggelengkan kepalanya, karena heran, laki-laki itu berharap bisa menebus kesalahannya tapi, ketika diminta menebusnya dengan cara seperti itu dia menolak.
Di saat yang bersamaan, baby boy menangis dari kamarnya. Lintani segera meninggalkan Askelan yang cemberut.
“Baiklah, baiklah, aku akan mengalah demi anak itu!”
“Ceryo, ayo kita bersenang-senang!” Lintani berkata sambil melangkah ke kamar bayinya.
Askelan menoleh ke arah Lintani sekilas, lalu pergi dengan kesal menuju halaman, ke tempat mobilnya menunggu untuk pergi ke kantor.
Bersambung
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️