Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 6. Dijebak Kembali


__ADS_3

Dijebak Kembali


“Bu, apa kau pikir dia meminum jus itu?” kata Haifa seraya mengerutkan alis, dia menilai jika Lintani menjadi wanita yang berbeda kali ini.


“Kurasa tidak, dia sudah berbohong!” sahut Rauja, wanita paruh baya itu pun merasakan hal yang sama, bila Lintani seperti bukan orang yang sama seperti sebelumnya. Mungkin saja kehidupan di penjara yang membuatnya berubah.


“Jadi, apa rencana untuk seorang pembohong seperti dia?” tanya Haifa.


“Kita lemparkan dia ke jalanan dan membiarkan orang tua gemuk yang mengambilnya!” ucap Rauja penuh semangat, sifat licik dan tamak dia wanita gila harta itu terlihat dengan jelas.


“Baiklah, kita dandani dia seperti badut!” kata Haifa sambil menarik Lintani dengan paksa.


“Baiklah.” Rauja menyahut seraya menarik tangan Lintani yang lain.


“Apa yang akan kalian lakukan!” Lintani berteriak sambil memberontak.


Rauja dan Haifa memaksanya sekuat tenaga untuk minum, tapi Lintani menahan bibirnya sekuat tenaga. Karena tidak berhasil, Akhirnya Rauja mengikat tangan dan kaki Lintani di salah satu kursi ruang makan. Setelah itu merias wajahnya dengan riasan menor dan memang mirip sekali dengan badut.


Setelah selesai merias wajah, dua wanita itu memaksa Lintani memasuki mobil, mereka mengancam dengan menggunakan besi runcing di lehernya bila melawan. Lintani tentu sangat takut mati dalam keadaan ini hingga dia merasa jika lebih baik mengalah, membiarkan dua wanita itu tertawa lepas, menyaksikan penderitaan Lintani yang kembali diam dan tak bisa melawan.


Ternyata mereka membawa Lintani ke sisi jalan Nerisen, jalan di mana para pela cur menunggu pria hidung belang mencari mangsa.


“Turun, kau di sini!” kata Haifa saat ia turun dari mobil, menarik tubuh Lintani keluar dan mendorong dengan kuat hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.


“Diam di sini, kau pela cur!”


“Kalian biadab! Aku bukan wanita seperti itu! Kamu yang murahan Haifa, tidur dengan semua lawan mainmu di semua film drama! Apa kau pikir aku tidak tahu?”


“Cukup! Tutup mulutmu, kamu memang tidak tahu apa-apa soal itu!” bentak Haifa seraya menampar Lintani.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Haifa masuk kembali ke mobil dan Rauja menjalankan kemudi, lalu berhenti tak jauh dari jalan di mana mereka masih bisa melihat dan memperhatikan setiap gerak-gerik Lintani.


*****


Sementara itu, di dalam sebuah Limosin yang melaju kencang ke arah jalan yang sama, di mana Askelan Harrad dan Jordan—asistennya, tengah bercakap-cakap.


“Bertahanlah Tuan, jangan lampiaskan hasrat Anda pada saya!” kata Jordan, pria matang yang usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan bosnya.


“Kau pikir aku pria rendah seperti itu?” sahut Askelan, pria berwajah blasteran dua suku, cukup tampan dan bertubuh atletis. Dia memiliki kulit eksotis antara warna putih dan coklat. Rambutnya hitam tebal selalu rapi disisir ke belakang sangat cocok dengan perawakannya yang tegap, memancarkan aura kuat yang menggentarkan lawan.


Siapa yang menyangka jika pria berwajah lembut seperti itu, bisa membunuh banyak nyawa dan menduduki puncak tertinggi keluarga Harrad dalam satu malam saja. Bahkan ia justru membalik keadaan di saat semua saingannya menjebak akan membunuhnya. Mereka menggunakan cara licik dengan mengumpankan seorang wanita lemah yang membuat pria itu tidak bisa tidur nyenyak, selama delapan tahun lamanya.


“Tapi aku sudah membawa tiga wanita dan Anda masih muntah juga, kumohon, Tuan, lupakan wanita malam di pondok itu!”


“Jor! Kalau aku bisa, maka aku akan melakukannya. Semua wanita yang kau bawa itu tidak lemah seperti dia! Aku menginginkan wanita lemah itu, sialan!”


“Tapi, Tuan, Anda sekarang dalam pengaruh obat! Anda butuh wanita kuat!”


Sementara Askelan melamun, Jordan melambatkan laju mobil demi melihat seorang wanita yang baru saja dikeluarkan secara paksa dari sebuah mobil dengan dandanan mencolok seperti badut.


Wanita itu ditampar dan menangis di sisi jalan lalu, di tinggalkan begitu saja. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan secara asal, hingga make up di wajahnya luntur, membuat wajah itu semakin buruk saja.


Jordan menghentikan Limosin dengan tiba-tiba, ia berpikir jika wanita lemah dan menor di sisi jalan itu cocok dengan keinginan majikannya. Ia sudah lelah mencari beberapa wanita untuk Askelan, agar pria itu bisa melampiaskan hasrat kelelakiannya. Akan tetapi setiap kali ia membawa seorang wanita, maka, bosnya itu akan menolak mentah-mentah karena tidak cocok.


Apa artinya kecocokan jika dalam pengaruh obat? Apa susahnya hanya mencari lubang dangkal karena terpaksa demi memuntahkan lahar yang membara sekejap saja? Pikir Jordan, tapi otak Askelan tentu saja berbeda.


Jordan pusing mencari wanita, bahkan, yang terakhir dibawanya pun, sudah membuat Askelan mual padahal belum sempat diciumnya.


“Apa kau sudah tidak bisa mengemudi lagi? Jor!” panggil Askelan, saat sadar Jordan menghentikan kendaraan secara mendadak.

__ADS_1


Jordan tidak menanggapi, ia berbalik dan menghadapkan wajahnya pada Askelan.


“Tuan, berjanjilah sekarang akan menurut padaku, Anda harus memakai topeng saat melakukannya, agar wanita itu tidak mengenali siapa Anda! Nama baik sangat penting saat ini dan sampai kapan pun juga!”


“Baiklah, kalau memang wanita itu tidak membuatku mual!”


Jordan tidak menjawab, ia langsung turun, dari kursi kemudi, sedangkan Askelan sudah selesai melepas jas, kemeja dan ikat pinggangnya.


Sementara itu di luar mobil, Jordan mendekati Lintani sambil berkata sopan.


“Nona, ikutlah denganku! Aku bisa memberimu tempat tinggal, dan uang.”


“Benarkah? Siapa kamu?” tanya Lintani.


“Ikut aku dulu, nanti aku akan memperkenalkan diriku padamu,” sahut Jordan dengan senyum ramah.


Lintani menatap pria sopan di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu, mengangguk setuju karena berada pada posisi yang tidak bisa membuat sebuah penawaran.


Ia adalah wanita terbuang yang siap diumpankan kembali pada cacing raksasa di hutan belantara, ia lemah, hancur, tak bermasa depan dan hanya butuh uang untuk bertahan hidup. Lalu, apa bedanya ia dengan pela cur di jalanan?


Ia terpaksa menjadi murahan, walau ia tidak ingin menjadi wanita seperti itu.


“Baiklah, tapi, berikan dulu uangnya!” kata Lintani dan sukses membuat Jordan mengernyitkan dahi karena ia mencium aroma penipuan yang sangat kental dari permintaan Lintani.


Pria itu sudah menganggapnya lemah, tapi ternyata ia sedikit licik, sama saja dengan wanita lainnya!


“Aku tahu kamu akan lari kalau aku memberimu uang!”


“Huh!” Lintani mendengus sambil mengusap hidung dengan punggung tangannya, ia kalah telak.

__ADS_1


“Apa jaminannya kalau kamu tidak akan menipuku seperti mereka?”


Bersambung


__ADS_2