
Kau Yang Menghamilinya?
Di dalam mobil, Askelan yang sudah pindah tempat duduk dari kursi roda ke kursi mobilnya sendiri, tidak melepaskan genggaman tangannya dari Lintani. Sebentar-sebentar dia mencium punggung tangan wanita itu, membuat Jordan yang melihatnya menjadi salah tingkah.
“Jode, apa kau baik-baik saja?” tanya Lintani ramah. Dia bertanya karena melihat Jordan yang bertingkah sedikit kaku.
Baru pertama kali ini tuannya itu tampak seperti orang yang hilang ingatan serta, tidak sadar di mana bumi yang dipijaknya
“Baik, Nona! Bagaimana dengan Anda?” Jordan balik bertanya.
“Dia baik, kenapa kau bertanya seperti itu? Selama ada aku, tidak akan kubiarkan dia tidak baik, apa kau mengerti, Jode?”
Askelan yang jawabannya dengan ketus seolah tidak rela istrinya berbincang dengan pria lain.
“Maaf, Tuan! Saya mengerti.” Hanya itu yang bisa Jordan katakan, dia sudah lelah semalaman, dan baru berangkat ke kantor setelah jam sepuluh. Lalu, sekarang dia sudah harus berhadapan dengan tuannya, yang sepertinya tengah kasmaran.
‘’Kenapa aku merasa lebih mudah menghadapi Tuan yang ingin balas dendam, dari pada dia yang sedang kasmaran?’ batin Jode, sambil fokus ke jalanan.
“Apa kau tahu, Jode?” Tanya Askelan.
“Apa, Tuan?” Jordan menjawab tanpa mengalihkan fokusnya mengemudikan mobil, dan hanya melirik tuannya sekilas.
“Istriku hamil!”
Jordan kembali menghela napas panjang, setelah dibuat jadi serba salah, kini dia dibuat tidak tahu apakah harus mengumpat atau menertawakan Askelan.
“Selamat Tuan, Nona!”
Askelan tersenyum dan tampak sedikit mengerikan, mengingat dia jarang sekali tersenyum bahagia seperti itu. Untuk sementara Jordan masih seperti berada dalam alam antara sadar dan tidak.
‘Ah, sesenang itukah Anda sudah membuat seorang wanita hamil? Lalu ke mana saja Anda selama ini, Tuan?’ batin Jordan.
“Oh ya! Bagaimana dengan Haifa, apa dia masih di rumah sakit juga?” tanya Lintani tiba-tiba, lalu, dia kembali berkata, “Maafkan aku! Dia kehilangan bayinya karena aku!” kata Lintani merasa bersalah, karena dia tahu Askelan mengira jika Haifa tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
“Ingat, aku tidak mau membicarakan wanita atau laki-laki lain saat bersamaku.”
“Maaf, tapi ak—“ Tiba-tiba saja ucapan Lintani terhenti karena Askelan sudah menutup mulut perempuan itu dengan menciumi bibirnya.
Semua yang dilakukan dua manusia berbeda jenis di kursi penumpang belakang, tak luput dari penglihatan Jordan dari kaca spion, hingga membuatnya kembali menghela napas panjang.
“Kenapa aku merasa begitu menderita sekarang?” gumamnya pada diri sendiri, sambil menggelengkan kepalanya.
“Dia sudah aku tinggalkan, tidak ada alasan lagi untuk tetap bersamanya, lagi pula aku sudah menikah!” kata Askelan setelah melepaskan ciumannya.
Askelan tengah membelai rambut Lintani yang diikat rapi ke belakang kepala, saat mobil berhenti di depan lobi rumah sakit. Jordan turun lebih dahulu untuk mengambil kursi roda di bagasi, lalu membantu Askelan duduk di sana dengan nyaman, barulah dia memarkirkan mobil di tempat yang semestinya.
Lintani berjalan di samping Askelan yang menjalankan kursi rodanya secara otomatis, sambil berpegangan tangan.
“Askel? Kau kah itu?” tanya seseorang secara tiba-tiba, dari arah koridor yang berbeda. Dia Yasmin, yang berjalan dengan langkah tenang bersama asistennya.
Askelan menoleh dan memberinya senyum tipis, lalu, berkata, “Ya! Aku, ada apa?” sambil menghentikan laju kursinya.
“Kau di sini, dan—bersama dia?” tanyanya tidak percaya, sambil menunjuk Lintani. Dia pikir Askelan sudah mencampakkannya.
Yasmin datang ke rumah sakit karena menengok sang Kakek Aston Shaw yang sudah tua, dia tidak menjawab pertanyaan Askelan tapi, justru tertawa.
“Jangan bilang kau yang sudah menghamilinya!”
“Ya, aku Ayah dari bayinya! Apa itu salah? Aku suaminya.”
Ck!
“Tidak kusangkak, kalian sama-sama murahan. Mau saja dengan orang yang tidak jelas dan bahkan tidak mempunyai kedudukan!”
“Kedudukan seperti apa yang kau maksud. Kau merasa memiliki segalanya ... tapi, bagaimana kalau pewaris Gunung Shaw tiba-tiba datang dan, merebut semuanya darimu?”
Yasmin kembali tertawa.
__ADS_1
“Akulah pewaris satu-satunya! Sudah tidak ada lagi keturunan keluarga Shaw selain aku!”
“Baiklah, kalau begitu, terserah!” Askelan pergi melewati Yasmin begitu saja, meninggalkan wanita yang masih saja tertawa, sambil berjalan menuju arah yang berbeda.
Askelan dan Lintani kembali berjalan, dan memasuki ruang pemeriksaan, sebab sudah mendaftar terlebih dahulu melalui sambungan khusus, sebagai pasien VIP yang dilakukan oleh sang asisten pribadi. Oleh karena itu, mereka bisa langsung memasuki ruangan tanpa harus mengantri setelah di persilakan.
Seorang dokter perempuan ahli kandungan yang sudah cukup umur, menyambut kedatangan Lintani dan Askelan dengan senyum ramah.
Terlebih dahulu, dia membaca berkas Lintani melalui surel, yang sudah di kirim Jordan, di komputernya.
Mereka kini berada dalam sebuah ruang konsultasi dan duduk saling berhadapan dalam satu meja.
Dokter itu bertanya, “Maaf, sebelumnya, Nyonya Lin, Anda perlu mengisi kolom yang ini, agar kami tahu lebih jelas tentang rekam medis Anda.”
“Apa itu?” Lintani balik bertanya, dia melirik Askelan di sebelahnya, yang hanya diam sambil mengusap-usap punggung tangan istrinya.
“Apa Anda sudah pernah hamil dan melahirkan sebelumnya?”
Lintani sedikit terkejut, dia sebenarnya ingin mengubur masa lalunya dalam-dalam, dan tidak ingin seorang pun tahu akan semua kepahitan yang pernah dialaminya di masa itu. Di mana dia mengalami hal yang begitu menyakitkan untuk diungkapkan, hingga dia tidak ingin mengingatnya lagi.
Dia bersyukur saat tahu bila Elliyat tidak pernah menceritakan tentang, dirinya yang pernah memiliki seorang anak, pada siapa pun, termasuk Mo dan Askelan, putranya sendiri.
Namun, kini, dia bimbang apakah dia akan memberitahunya atau tidak.
“Apa itu benar-benar diperlukan?” Lintani balik bertanya.
“Tentu,” sahut dokter masih dengan senyumnya yang ramah, “Wanita yang pernah melahirkan atau belum pernah melahirkan, akan mempunyai kondisi fisik berbeda, oleh karena itu kami perlu mengetahuinya. Nona ... apa pun yang akan kami hadapi ke depan, membutuhkan pertimbangan untuk melakukan sebuah tindakan. Sedangkan kolom ini masih kosong.”
“Ya, aku sudah pernah melahirkan seorang anak!” kata Lintani pada akhirnya.
“Kapan itu terjadi, Nona?”
“Sekitar ... Delapan tahun yang lalu!”
__ADS_1
Kali ini Askelan yang tampak terkejut, dia menegakkan punggung, sambil menoleh pada Lintani dengan keningnya yang berkerut.
Bersambung