Wanita Pilihan Ibunya

Wanita Pilihan Ibunya
Bab 11. Dia Tampan


__ADS_3

Dia Tampan, Kan?


Lintani begitu tercengang ketika memasuki Villa mewah itu, dia melihat seseorang yang tengah duduk di kursi malas sambil menghadap jendela besar di tengah ruangan. Pemandangan yang tersaji di luar adalah taman hijau di antara bunga lili warna warni dan sebuah kolam ikan koi dengan aneka warna pula.


Orang itu membelakangi Lintani, tapi gadis itu dengan cepat mengenal sosok wanita itu, tampak tidak asing, kalau tidak salah dia adalah Ellyat, pikirnya dalam keraguan namun pasti, dia ibu angkatnya selama di penjara.


“Ibu, kau kah itu?” Tanya Lintani dengan ragu-ragu dan seketika itu juga Elliyat menengok. Dia tersenyum lebar saat melihat Lintani berdiri di sana, menatap penuh keraguan pada dirinya.


“Kemaarilah, Lin!” Kata Elliyat seraya merentangkan kedua tangannya. Lintani tak percaya, dia berjalan dengan cepat menghampirinya sambil menitikkan air mata.


“Ternyata ini benar-benar kau, Bu?” Lintani berkata dengan rasa tak percaya apabila saat ini Elliyat benar-benar ada di hadapannya. Bahkan dia dalam keadaan segar dan terlihat cantik, dia begitu anggun tidak seperti di penjara dia terlihat lemah seperti orang yang kekurangan darah dan penyakitan.


Sebelumnya, Lintani sempat berniat untuk mencari Elliyat dan meminta bantuan agar bisa terbebas dari lelaki, yang memaksakan kehendak padanya, serta meminjam uang untuk bertahan hidup sampai mendapatkan pekerjaan. Siapa yang menduga jika mereka bertemu di tempat itu.


“Tentu saja ini aku memangnya kau pikir siapa?” kata Elliyat sambil menepuk lembut kepala Lintani, seperti kebiasaannya ketika mereka berada di penjara.


Seperti itulah mereka yang akan saling menguatkan satu sama lain.


Sementara itu Askelan melihat pemandangan antara Lintani dan Ibunya dengan takjub, dia belum pernah melihat Elliyat tersenyum selebar itu sejak kepulangannya dari penjara. Dia pikir gadis itu benar-benar telah memantrai ibunya yang bisa terlihat begitu bahagia hanya dengan kedatangan Lintani saja.


“Dimana anak bodoh itu?” tanya Elliyat sambil celingukan kepalanya melihat ke segala arah dan memanggil nama seseorang dengan panggilan Askel.


Lintani heran dengan panggilan anak bodoh yang dikeluarkan oleh Elliyat. Lalu, setelah kemunculan Askelan, barulah dia sadar bahwa yang dimaksud anak bodoh adalah pria yang memaksanya. Lebih terkejut lagi, dia adalah putra Elliyat yang dijanjikan akan di nikahkan dengannya setelah bebas dari penjara.


“Kau tahu, Lin? Aku sudah menyuruhnya mendatangi penjara untuk menjemputmu dan menikahimu, tapi dia justru hilang entah ke mana, dasar Bodoh!” Elliyat berkata sambil menepuk lengan Askelan yang berdiri menjulang di sampingnya dengan tatapan mata tidak lepas dari Lintani yang masih berlutut di hadapan Elliyat.


“Ibu, sudahlah, kasihan putramu!” Kata Lintani sambil tersipu malu dan melirik Askelan penuh minat.


“Bagaimana, Lin ... dia tampan, kan?”


Lintani mengangguk masih malu-malu.


“Ah, sudah kuduga kau pasti menyukainya! Kau sudah berjanji, kan, mau manikah dan hidup bahagia dengannya?”


“Tentu, Bu ... tentu!” kata Lintani sambil mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Elliyat, yang membuat wanita paruh baya itu tertawa riang.


Askelan menaikkan alisnya demi mendengar suara tawa keras dari sang ibu yang lagi-lagi belum pernah dilihatnya sejak lama.

__ADS_1


Kesedihan Elliyat sangat dalam sejak kematian ayahnya yang menjadikan mereka hidup bagai kehilangan separuh dunia. Hidup dalam kepayahan karena keluarga Harrad tidak mengakui keberadaan Elliyat dan putranya.


Sebenarnya Askelan adalah anak dan cucu pertama keluarga Harrad, tapi, mereka mengabaikan fakta itu hanya karena Yard—ayahnya, menikahi Elliyat anak dari keluarga miskin yang tinggal di pinggiran kota. Kemudian keluarga Harrad menikahkan Yard dengan Sofia, gadis dari keluarga kaya yang bisa menambah kekuatan perusahaan dan kekayaan keluarga. Sampai saat ini pun keluarga mereka tetap berada di puncak kekuasaan di kota Hill.


Tanpa keluarga Sofia dan perusahaan Retailnya yang menggurita, nyatanya Perusahaan dan bisnis keluarga Harrad tetap baik-baik saja, bahkan lebih maju sejak jatuh ke tangan Askelan dari kekuasaan paman-pamannya. Sekarang, sejak Yard meninggal, Sofia tetap menjadi bagian keluarga Harrad karena nenek Wela menyukainya, dua wanita itu berteman dekat walau Sofia tidak bisa memberinya seorang cucu.


Sudah berulang kali Askelan membujuk neneknya untuk menyayangi ibunya, karena Elliyat wanita lemah lembut dan penyayang. Namun, hati wanita tua itu seperti tertutup kabut, dia lebih memilih landak dari pada seekor kelinci.


“Askel!” panggil Elliyat tiba-tiba mengagetkan Askelan dan membuyarkan lamunannya.


“Ya!” Askelan menjawab terbata-bata, lalu menunduk sambil melihat ibunya.


“Ambilkan kursi itu untuk Lin, apa kamu tidak melihat dia terus berlutut di hadapanku?”


Askelan mengepalkan kedua tangan menahan geram saat menyadari ibunya lebih memihak Lintani dan membuatnya harus menuruti perintah untuk memudahkan gadis itu. Namun, pria Itu tetap pergi mengambil sebuah kursi untuk diduduki perempuan yang sudah menjadi istrinya.


“Nah, duduklah,” kata Elliyat sambil menunjuk kursi yang didekatkan Askelan padanya.


“Terima kasih Ibu.”


Mendengar ucapan Lintani Askelan cemberut, dan wajah itu sangat dihapal oleh Elliyat jika anak kesayangannya sedang marah.


“Ibu, kami sudah menikah.”


“Ya.”


Betapa senangnya hati Elliyat mengetahui pernikahan mereka.


Lalu, wanita itu meminta Lintani untuk bercerita bagaimana pertemuan dirinya dengan Askelan.


“Ibu, haruskah aku menceritakannya, ini sangat memalukan!”


“Ayolah!” Kata Elliyat memaksa.


“Awalnya, aku tidak percaya kalau Tuan Askel adalah anakmu, Bu. Tapi, dia begitu baik dan sabar menjelaskannya. Ibu, aku sudah jatuh cinta padanya, walaupun aku belum tahu kalau dia adalah anakmu! Aku hampir menamparnya, karena aku pikir dia kurang ajar, tapi, tahukah apa yang dia lakukan?”


“Apa?”

__ADS_1


Lintani kembali membisikkan sesuatu dan sukses membuat Elliyat kembali tergelak.


“Nah, aku tidak salah, kan, kalau anakku luar biasa!”


Ke dua wanita itu kembali tertawa.


“Tapi, Lin ... jangan panggil dia Tuan, panggil saja seperti aku memanggilnya. Askel!”


“Maaf, Ibu, aku belum terbiasa. Tapi, baiklah, aku akan memanggilnya Askel!” setelah berkata demikian, Lintani berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Askelan, lalu, berkata kepadanya dengan jarak yang begitu dekat, “Terima kasih, Askel!”


Ucapan Lintani terdengar begitu tulus di telinga Askelan hingga sudut bibirnya berkedut, menahan senyum tipis yang tidak bisa ditutupi muncul begitu saja.


Lintani tulus mengucapkan kata itu, karena perbuatan Askelan yang memaksanya menikah, membuatnya kembali bertemu dengan Elliyat dan membahagiakannya. Sekarang dia bahkan bisa tertawa bersama seperti dulu, membuat wajah pucat dan muram wanita itu menjadi tampak ceria.


Apalagi wajah Lintani yang bersemu merah dan menggemaskan saat tertawa, membuat Askelan heran, kedua wanita itu terus saja tergelak hanya dengan sedikit candaan kecil saja.


 


*****


Saat malam tiba dan Elliyat sudah tertidur, Askelan membawa Lintani pergi ke apartemen pribadinya. Gadis itu tahu kenapa dia tidak diperkenankan tinggal bersama ibunya. Dia tidak percaya saat suaminya itu berkata bahwa, Villa itu menjadi tempat keluarga besar Harrad berada dan sering mengadakan perjamuan di sana.


Akan tetapi, Lintani tahu jika alasan sebenarnya adalah, agar Askelan bebas memperlakukan dirinya seperti apa yang dia inginkan. Pria itu pasti tidak bebas untuk bersikap kasar padanya, apabila terus berada di dekat Elliyat atau di tengah-tengah keluarganya.


Berbeda dengan ketika mereka berdua tinggal di apartemen secara terpisah, maka ,mereka bebas menjadi diri mereka sendiri dan tidak harus berpura-pura.


Sepanjang perjalanan mereka terus saja diam, tidak satu pun yang berinisiatif untuk bicara atau sekedar meluruskan kebohongan yang diciptakan Lintani di depan Elliyat secara terbuka di depan obyek yang menjadi sumbu kebohongan di buat.


Askelan sadar bahwa Lintani berbohong karena ibunya dan dia memaklumi, tapi, dia kesal sekaligus heran dengan gadis yang begitu pandai bersandiwara. Lintani memang pantas di sebut penjilat dan pandai memanfaatkan kekayaan, pun karena dia pernah menjadi seorang pengemis di tempat para sosialita sering berkumpul, dia akan rela dikerjai mereka demi uang. Dia lebih pandai menjadi artis dari pada istriku! Pikir Askelan sambil mendengus kasar.


Diamnya mereka bahkan berlanjut sampai tiba di dalam apartemen. Lintani masuk lebih dahulu karena Jordan yang membukakan pintu. Setelah Askelan juga berada di dalam, Jordan pun menutup pintunya nyaris tanpa suara.


Askelan masih berbicara di telepon saat dia masuk dan duduk di sofa besar ruang tamu, seolah lupa ada orang lain di dekatnya. Atau sama sekali tidak dia tidak lupa, malainkan menganggap Lintani bukanlah apa-apa.


‘Hai, aku bukan udara!’ kata Lintani di hatinya.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2