
Orang Yang Salah
Tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka di kamar itu
“Kakek!” panggil orang yang mendekati mereka dengan suara lantang, lalu, dia berdiri di sisi tempat tidur Aston.
Tatapan mata orang itu seakan menyala, penuh bara api dan kekecewaan sangat jelas terpancar di sana. Dia seolah marah pada Askelan yang duduk di sofa, juga pada Lintani yang duduk di sisi Aston dengan posisi yang cukup akrab. Kemarahannya nyaris tanpa sebab. Padahal, sepasang pria dan wanita tidak bersalah.
“Yasmin?” tanya Lintani dengan raut wajah heran.
Orang itu adalah Yasmin yang segera datang ke sana, setelah mendapat laporan dari para pengawalnya. Ada tamu yang datang di rumah keluarganya atas undangan sang kakek.
Yasmin selalu menerima kabar tentang semua yang terjadi di rumah itu, karena dia adalah penanggung jawab, sekaligus pengurus rumah beserta kakeknya. Semua beban itu dia terima setelah ibunya, tiada, dia adalah anak Aston satu-satunya.
Ayah Yasmin, kini telah menikah dengan wanita lainnya. Walaupun, ayahnya tetap menjadi pemegang saham pada perusahaan Shaw, tapi, rumah dan kekayaan ibunya mutlak menjadi miliknya. Termasuk warisan terbesar keluarga yang perupa tanah dan terdapat emas di dalamnya.
Seandainya tidak ada ahli waris lainnya, maka dialah yang akan menjadi pemilik secara sah. Setelah itu terjadi, maka, dia akan menjadi wanita muda terkaya di Kota Hill. Kekayaan Yasmin akan menyamai Askelan atau bahkan, melebihinya.
Yasmin telah berusaha dengan susah payah meyakinkan Aston, bila ahli waris lain yang dinantikan dan berhak pada tanah itu, sudah tidak ada. Dia memberanikan diri berkata demikian pada kakeknya, setelah memastikan bila Marka, anak dari Mise—sepupu ibunya, sudah tiada.
Beberapa pekan yang lalu, istri Marka mengadukan kehilangan suaminya, pada pihak keamanan kota. Sehari setelahnya, para penyelidik menemukan sebuah kapal yang hangus terbakar di dekat danau Rasevan, dan mereka menduga jika Marka sudah menjadi abu di dalamnya. Lalu, pihak keamanan kota pun menutup kasus hilangnya pemimpin dunia bawah tanah itu, dan menyatakan bahwa Marka sudah tiada.
Dari berita itulah, Yasmin mengambil kesimpulan jika dia tidak lagi memiliki saudara. Begitulah ... dia begitu yakin, karena secara kebetulan semua pewaris dari keturunan keluarga Shaw sudah tiada, bahkan mereka tidak pernah ada di dunia.
“Bagaimana kalian bisa ke mari?” tanya Yasmin kepada Askelan dan Lintani sambil melirik keduanya dengan tatapan tajam, menyiratkan ketidaksukaan.
“Aku yang mengundang mereka kemari!” sahut Aston sambil membuka kertas yang baru saja dia hamparkan di tempat tidur, lebih lebar lagi. Semua orang bisa melihat dengan jelas, itu adalah gambar silsilah keluarga Shaw.
“Apa aku tidak salah dengar? Untuk apa Kakek mengundang mereka ke mari? Kakek sudah mengundang orang yang salah, tidak ada hubungannya Tuan Askel dengan keluarga Shaw!” kata Yasmin lagi.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak mengundang orang yang salah,” kata Aston sambil melirik Lintani yang duduk di sebelahnya dan Askelan yang duduk di sofa tak jauh dari tempat tidurnya. Pria itu sedikit tidak enak dengan tamunya, karena sikap Yasmin yang kurang sopan. Padahal, siapa pun yang diundang di ruangan itu adalah hak Aston sepenuhnya.
“Kakek, aku beri tahu ya, wanita ini adalah seorang wanita bayaran yang sudah di beli oleh Tuan Askel dan sekarang dia menjadi istrinya. Aku tidak tahu bagaimana dia merangkak di tempat tidur hingga pria andalan keluarga Harrad ini bisa tergoda.” Yasmin berkata sambil menunjuk ke arah Lintani.tidurmin! Jaga bicaramu!”
Askelan mencebik mendengar semuanya, sedang kan Aston hanya menggeleng saja.
“Kakek, bahkan dia pernah menjadi pelayan di pesta keluarga Harrad, tidak tahu malunya dia sudah mencium Tuan Askel di depan umum! Aku tidak mungkin menikahi pria murahan seperti dia yang mau saja direndahkan oleh pelayannya!” kata Yasmin lagi.
“Kau salah, akulah yang menciumnya!” sahut Askelan datar.
“Yasmin, siapa pun mereka ... Kau tidak pantas berkata seperti itu, mereka tamuku!” bentak Aston dengan suara paraunya.
Aston sempat terbatuk-batuk beberapa kali, dan spontan Lintani menepuk-nepuk lembut punggungnya sambil berkata, “Kakek, aku akan mengambil minum untukmu!”
Dari pembicaraan itu Lintani tahu siapa Yasmin dan bagaimana kedudukannya, di keluarga Shaw. Dia tersenyum miris, sebab tiba-tiba merasakan seolah dunia terlalu sempit. Dirinya sedikit terkejut setelah menyadari kalau ternyata, Yasmin adalah saudaranya.
Lintani baru saja hendak turun dari tempat tidur saat tangan Aston Tua memegangnya.
“Apa kalian pernah saling mengenal?” tanya Aston pada Yasmin dan Lintani.
Lintani tidak tahu banyak tentang Yasmin kecuali saat dia menjadi pelayan di pesta sebuah keluarga, tapi, dia tetap mengangguk. Pertemuan antara Yasmin dan Lintani tidak pernah baik, mereka selalu bertemu dalam keadaan yang salah.
Aku punya sesuatu yang akan aku tunjukkan pada kalian!” kata Aston sambil menepuk tangan Lintani lembut.
Aston menggerakkan jari telunjuknya, seorang asisten yang sedari tadi hanya menjadi penonton, bahkan saat Aston terjatuh, eae pun mendekat.
Para asisten seperti sengaja membiarkan Askelan melakukan semua kebaikan pada Aston, sebab itu salah satu ujian untuk mengetahui ketulusan sikap seorang suami pada keluarga istrinya. Pria tua itu bisa menilai apakah seseorang tulus mencintai Lintani atau hanya karena harta yang dia miliki.
Seorang Asisten itu masuk sambil membawa sesuatu di belakang bajunya, Askelan melihat gerakan mencurigakan dan dia segera pindah duduk mendekati Lintani. Ekor matanya menelisik keadaan dengan tepat, menangkap dan merasakan kejanggalan, di saat yang bersamaan .... Salah satu dari asisten itu mengayunkan sebilah belati kecil ke arah seseorang, dengan cepat.
__ADS_1
“Aaakh!”
Mendengar suara jeritan seorang wanita yang cukup keras, Jordan dan beberapa pengawal berdatangan dengan cara berlari ke arah kamar Aston.
“Elaan!” pekik Lintani. Sementara Askelan hanya meringis sebentar, lalu melirik tajam pada pelayan yang tiba-tiba saja berlutut di lantai dengan tubuh yang gemetar karena takut.
Askelan tampak memegangi satu tangannya, dengan tangan lainnya, tapi darah segar tetap saja mengalir dari lengan itu. Lintani panik, dan segera mengambil banyak sekali tisu dari dalam tas, lalu menempelkannya pada lengan yang berdarah.
Seorang pelayan yang menghampiri Aston tadi, begitu cepat mengarahkan pisau belati ke perut Lintani. Askelan segera menangkisnya dengan tangan kosong. Akibatnya tangannya pun terluka.
“Apa ini sakit?” Lintani bertanya dengan menitikkan air mata. Dia tidak kuat melihat Askelan, terluka karena dirinya. Tangisan yang tadi saja belum kering karena terharu melihat gambar sang kakek ada di sana. Sekarang, justru melihat suaminya menahan serangan demi melindunginya.
“Tidak, ini tidak sakit!” Askelan berkata dengan datar, tiba-tiba dia teringat bila Lintani pernah merasakan kulitnya distempel dengan besi panas, tanpa obat bius.
Baginya, tusukan belati itu sangat tipis, tidak seperti tusukan seseorang yang berniat membunuh. Tentu saja dia sangat pengalaman dalam hal seperti ini. Seandainya seseorang benar-benar berniat membunuh, maka, tusukan belati sekecil itu tidak akan membuat seseorang mati.
Apa yang dilakukan pelayan tadi, hanya bisa memutuskan satu urat nadi saja, maka seharusnya, seseorang menusuknya lebih dalam. Namun, luka ini sama sekali tidak menghawatirkan, mungkin tiga atau empat hari sudah bisa sembuh.
“Apa kau sedang mengujiku?” tanya Askelan sambil menoleh pada Aston yang masih tercengang. Dia sudah baik-baik saja.
Jordan segera mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan dia belitkan pada lengan Askelan yang terluka, setelah di tetesi antiseptik. Dia belum pernah melihat tuannya memasang badan untuk melindungi seorang wanita selain ibunya. Sungguh Askelan benar-benar sudah jatuh cinta pada istrinya.
“Sudahlah, Elan. Kakek tidak bersalah, pelayan itu yang berusaha membunuhku! Kakek, kau harus memecatnya!” kata Lintani masih dengan berurai air mata.
“Baiklah!” sahut Aston, lalu, menolah pada Askelan, “Tuan Askel, apa kau akan marah kalau aku benar-benar sedang menguji?” tanya Aston.
“Apa maksud semua ini, Kakek?” tanya Yasmin.
“Apa tujuanmu, melakukan semua ini?” tanya Askelan.
__ADS_1
Bersambung
❤️🙏 Terus dukung karyaku ya?🙏❤️